Agama

Mari Kita Berlomba Menebar Kebaikan

Mbah Muslim sedang asyik membaca buku tentang puasa Ramadhan ketika Kromo Dingklik sahabatnya datang dengan wajah tak sedap.

“Assalamu’alaikum, Slim”.

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Pagi-pagi datang dengan wajah sengak begitu pasti kantong lagi kosong”. Mbah Muslim memang seneng banget bercanda dengan sohib karibnya sejak SD itu.

“Ah kamu, bawaannya curiga melulu. Saya memang lagi bokek tapi itu bukan alasan satu-satunya”. Kromo Dingklik langsung duduk dekat Mbah Muslim.

“So, apa yang terjadi dengan dirimu sampai bermuram durja begitu?”

“Begini ceritanya. Saya kemarin ngasih oleh-oleh sorban kepada Pak RT. Eh, istrinya langsung menuduh bahwa sorban itu saya beli di pasar Jombang. Apa nggak sakit hati ini, Slim”.

Mbah Muslim tersenyum: “Tapi tuduhan itu benar, kan?” Kromo Dingklik melengos, memalingkan muka.

“Kamu kayaknya setali tiga uang dengan istri Pak RT, deh. Sumpah, sorban itu saya beli di tanah suci ketika saya umrah minggu lalu, Slim.”

“Ya, sudah nggak perlu dipikir lagi. Jika pemberian sorban itu kamu lakukan dengan ikhlas dan benar maka akan tetap dicatat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai suatu kebaikan. Allah tak pernah menyia-nyiakan sebuah kebaikan sepanjang niatnya lurus dan dilakukan dengan baik”. Mbah Muslim mulai melancarkan kultumnya. Kromo Dingklik mengangguk-angguk mahfum. Ketika hendak pulang, Kromo Dingklik menyerahkan sehelai sorban dan kopiah putih kepada Mbah Muslim. “Ini juga saya beli di Makkah, Slim”, ujarnya sambil berpamitan.

***

Melakukan kebaikan dalam bentuk apapun tentu bermanfaat, bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Dengan kebaikan yang kita lakukan mungkin ada saja yang mencibir. Itu biasa dalam hidup dan kehidupan manusia. Ketika seseorang memberikan nasihat kepada temannya bukan ucapan terima kasih yang didapat tetapi malah kena damprat. ”Kamu nggak usah sok baik deh, saya nggak butuh nasihatmu”. Seorang wanita yang dengan ikhlas membagikan oleh-oleh dari tanah suci kepada kerabatnya malah digunjingkan: ”Sajadah kayak gini sih paling dibeli di Tanah Abang”. Nah loch, ada saja kan kebaikan yang dinilai negatif oleh orang lain. Hal semacam itu tak perlu dirisaukan. Sepanjang niat kita baik dan ikhlas, Insya Allah akan baik pula pada akhirnya.

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskannya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan”. [HR. al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahih mereka]

Masya Allah, begitu baiknya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Baru berniat akan melakukan kebaikan saja sudah dicatat sebagai satu kebaikan. Apalagi jika niat baik tersebut dijalankan. Allah akan membalas berlipat ganda. Bahkan jika ada orang yang sudah mempunyai niat buruk tetapi tidak dilaksanakan sudah dicatat pula sebagai satu kebaikan. Katakanlah seorang preman akan menjambret kalung yang dipakai oleh seorang wanita yang sedang hamil. Tiba-tiba timbul kesadaran preman tersebut dan akhirnya tidak jadi melaksanakan niat buruknya. Allah mencatat sebagai satu kebaikan.

Melakukan kebaikan juga lebih mudah daripada sebaliknya. Bukankah memberi uang Rp.5.000 kepada peminta-minta tak perlu pertimbangan masak-masak. Tinggal mengulurkan uang itu kepada mereka. Lain halnya dengan seorang penjambret yang akan mengambil tas seorang manula yang sedang berjalan di trotoar. Mata penjambret itu harus awas guna menjamin tindakannya tak diketahui orang lain. Setelah berhasil menggaet tas maka penjambret harus berlari kencang lalu memilih tempat bersembunyi. Hatinya juga akan was-was setiap mendengar bunyi sirene atau melihat polisi sedang berpatroli. Bukankah melakukan kejahatan itu lebih ribet daripada melakukan kebaikan.

Orang lebih menyukai sahabat atau kerabatnya yang baik dalam ucapan, sikap, dan tingkah lakunya. Murid yang rajin belajar akan lebih beruntung daripada temannya yang hobi kluyuran, main kebut-kebutan, atau dugem setiap malam. Seorang pembalap profesional juga lebih dikagumi daripada anggota geng motor yang perilakunya menakutkan dan suka membuat onar. Masih banyak contoh yang menunjukkan bahwa melakukan kebaikan selalu lebih bagus nilainya daripada melakukan kejahatan atau keburukan.

Anjuran untuk berbuat baik bukan hanya kepada manusia saja tetapi juga kepada makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Memberi makan kepada kucing, ayam, kambing, atau sapi juga termasuk kebaikan. Demikian juga menjaga dan memelihara lingkungan di sekitar kita. Jika manusia membuat kerusakan di muka bumi maka akibatnya juga akan dirasakan, cepat atau lambat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan manusia sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al Israa ayat 7 yang artinya: ”Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” Seorang muslim selayaknya memperhatikan benar hal ini agar hidup dan kehidupannya sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia.

Bagi Allah, tak ada kebaikan yang sia-sia. Marilah kita senantiasa berusaha berbuat baik dengan niat untuk ibadah agar barokah dan kita tetap berada di koridor yang benar.

Yuk, berlomba-lomba menebar kebaikan agar semakin banyak orang yang berbuat baik dan dunia menjadi semakin baik. Menebar kebaikan juga sebagai aklimatisasi menjelang Ramadhan agar ucapan, sikap, dan tingkahlaku kita serasi dan selaras dengan tujuan puasa Ramadhan.

Editor: Indoblognet

 

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan [email protected]

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • YouTube saat ini bisa jadi lahan yang mendatangkan penghasilan lumayan, lho. Makanya makin banyak nih para YouTuber yang bermunculan. YouTube juga bisa jadi sarana promosi yang kekinian bagi para marketer 😀
.
#indoblognet #mbcommunication #youtube #youtuber #marketer #socialmedia #promotion

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top