Gaya Hidup

Makan ‘Berangas’ di The Holy Crab Gunawarman

The Holy Crab beroperasi pertama kali pada awal tahun 2014. Kakak dan keponakan-keponakan sudah berulangkali makan di sana, dan saya yang senang berpetualang kuliner justru belum sempat merasakan sensasi makan di restoran yang sesuai namanya mengunggulkan kepiting sebagai makanan utamanya. Padahal saya seafood lover garis keras loh! Beberapa kali keluarga mengirim text WA disertai foto sedang makan di sana dan menawarkan untuk menyusul mereka. Ah, nggak seru kalau makan susulan, apalagi ada sensasi berbeda yang ingin saya dapatkan pada saat berpetualang kuliner di The Holy Crab. Harus dari awal datang dong!

Tibalah rezeki itu, tanggal 17 September 2016 (Sabtu) saat masih terlena tidur, keponakan menelpon meminta saya dan Ibu  untuk bersiap-siap untuk dijemput dan diajak makan. Saya tidak bertanya lebih lanjut mau diajak kemana, karena mata masih keriyep-keriyep , dilanjut melangkah ke kamar mandi. Matahari telah terik bernasis ria di atas sana. Hohoho,,,di era digital sudah nggak berlaku lagi yach ucapan orang tua,”Jangan bangun siang, supaya rezeki nggak di patok ayam!” . Era digital berbalik karena yang masih tidur justru memberitahukan orang tua yang sudah bangun dari sebelum Shubuh tentang rezeki yang datang. Hehehe…kidding, gak usah dimasukin hati nih!

Setelah muncul di hadapan kami keponakan memberitahukan bahwa akan mengajak ke The Holy Crab. Entah mengapa saya mendengarnya akan diajak ke d’Crepes. Setelah mengulang jawabannya, kembali saya menjawab,”Oh The Holy Crab…tadi aku dengernya d’Crepes. Jiaah, nggak mungkin juga khan yach kamu ngajak cuma ke d’Crepes?” . Wkwkwkwk…karena ucapan ini bentar lagi gue dikutuk sm keponakan jadi istri Yuyu kangkang deh.

Sampailah kami di Jln Gunawarman no 55 Jakarta Selatan, The Holy Crab bangunan berlantai 2 dengan fisherman warehouse style. Kami beruntung  mudah menemukan parkir, pas di depan mobil kakak yang sudah terlebih dahulu datang. Parkirannya tidak terlalu luas, tetapi pelayanannya ramah dengan petugas yang mengenakan pakaian hitam semi safari. Mereka turut membantu membukakan pintu mobil. Masuk ke resto langsung menuju ke meja yang telah ditempati kakak, dan tampaknya sambil menunggu ia telah mengemil 1 bucket Crispy Soft Shell dan Lemonade. Dengan pesanan tersebut meja masih terlihat bersih. Atmosfir ruangan resto seperti rumah makan yang berada di dekat laut khas Lousiana (Kalau belum pernah ke Lousiana bisa di lihat di televisi or film yach!) .Petugas resto dengan sigap mengambil pesanan, termasuk informatif menjelaskan menu makanan dan minuman yang ada. Walaupun sebenarnya keponakan saya sudah mengerti karena beberapa kali makan disini, tetapi petugas resto termasuk tepat memberi penjelasannya.

Pakai celemek plus 2 "obeng" utk memecah cangkang kepiting

Pakai celemek plus 2 “obeng” utk memecah cangkang kepiting

“Ritual” berikutnya petugas resto menggelar kertas putih hingga menutupi meja dan meletakkan 2 obeng di atasnya. Hah, Obeng?! Yup, serta memberi beberapa lembar plastik yang ternyata celemek atau apron (bahasa Inggris). Obeng yang diberikan itu adalah shellfish cracker shell opener alias alat bantu untuk membuka cangkang kepiting yang akan kita makan. Konsep cara makan yang diberikan oleh resto ini sangat unik, Lousiana Style. Kami makan tanpa peralatan makan, seperti piring, sendok, garpu atau pisau. Sumpit? Apalagi…emangnya di resto Asia! Masih mending loh minuman dikasih gelas plastik. Kebayang kalau minuman nggak dikasih gelas? Nasi disajikan dengan menggunakan cup kertas ala mie instan gelas yang mau nggak mau kita tumplekin juga di atas meja. Menu utama di hantar ke tamu tanpa menggunakan nampan, hanya menggunakan plastik trasparan dan menuangkan di atas meja  seperti nelayan membuka dan menuangkan makanan ke pasir. Eh syeet dah, ini pasti nyeleksi petugas resto-nya dari lulusan hospitality yang nilai mata pelajaran/kuliah Table Manner-nya jelek deh! Wkwkwkwk….

Petugas Resto menabur makanan ke atas meja dengan plastik transparan.

Petugas Resto menabur makanan ke atas meja dengan plastik transparan.

Menu seafood yang kami pesanpun bertebaran di meja tanpa tertata rapih. Sedangkan untuk menu snack-nya di sajikan dalam keranjang besi mini dengan desain seperti alat untuk menggorengnya langsung di dalam minyak. Kali ini saya memotretnya juga asal jepret, apalagi ada Ibu yang terkadang nyomot makanan yang sudah saya tata dengan super stylist agar apik di foto. Seringkali kami ke resto, dan saya yang suka memotret makanan (demi kepentingan blog atau media nih, bukan untuk  pamer :p) terpaksa harus nyengir bebek karena makanan yang sudah saya tata sedemikan rupa untuk estetika foto langsung di comot dipindahkan ke piring Ibu. Kalau kita ngomel khan ntar dikutuk jadi pecel lele….hiiiii, masih bagusan Malin Kundang deh yang dikutuk jadi batu justru bisa menginspirasi banyak anak-anak agar tidak durhaka ke orang tua 😀

Petunjuk cara makan kepiting yang terdapat di dinding.

Petunjuk cara makan kepiting yang terdapat di dinding.

Kami langsung melahap menu pesanan. Di dinding ruangan terdapat semacam mural yang menjelaskan teknik memakan kepiting dengan baik dan benar walaupun berbeda dengan yang diajarkan saat training table manner ala fine dining. Lupakanlah table manner di The Holy Crab! Kami mendapatkan ekstra menu birthday karena tanggal 14 September keponakan saya berulang tahun, yakni Shrimps 250 gram berbumbu garlic pepper. Awalnya kami telah memesan Shrimps sebanyak 500 gram berbumbu original cajun. Udah ngerti bumbu CAJUN khan? Ini bumbu racikan rempah-rempah khas Lousiana.

Makanan yang berserakan di atas meja

Makanan yang berserakan di atas meja

Menu lainnya yang  kami pesan : Mud Crab, Crawfish (lobster air tawar) , Deep Fried Calamari, Onion Rings, Mantau. Seno, keponakan saya adalah cowok yang takut kotor sehingga dia tetap makan nasi menggunakan cup dan minta sendok garpu ke pelayannya. Yang dia makan juga hanya Deep Fried Calamari dan Onion Rings. Sempat mencicipi beberapa ekor  Shrimps, itu-pun karena Sekar sang kakak yang menyisihkan kulit , ekor dan kepalanya terlebih dahulu. Saya dengan anteng memakan makanan yang terhidang dengan mencocol saos yang disediakan di cup. Sepertinya pecinta pedas hanya saya deh di keluarga sehingga saya merasa saos cocolan yang dihidangkan tidak senendang saos Padang. Ya mungkin karena kakak  memesan saus dan bumbu yang tingkat kepedasannya tidak terlalu tinggi. Mud Crab dan Shrimps terasa segar, walaupun saya merasa bumbu Cajun/Garlic Pepper-nya tidak terlalu meresap ke dagingnya. Tetapi masih oke-lah!

Harga yang harus dibayar sebagai ganti rugi  ‘keberangasan’ kami berenam adalah Rp 1,380.311 (Satu juta tiga ratus delapan puluh ribu tiga ratus sebelas rupiah). Harga segini jika makannya di seafood kaki lima sih tentunya sudah termasuk ganti rugi memecahkan banyak piring. Lah disini dipinjemin piring aja nggak. Saya berbisik ke Seno,”Nih kalau kita gak mampu bayar berarti nggak bisa nawarin diri bayar pakek cuci piring dong ya?” Hahaha…Harga mencapai sekian oke-oke aja untuk suatu petualangan kuliner berikut kwalitas seafood import beserta hiegenis pengolahan dan resto-nya. Tetapi untuk rasa saya merasa masih standard. Masalah selera masing-masing deh yach. Toch saya lebih memilih tempat makan yang bersih hiegenis daripada tempat makan yang makanannya enak tetapi diolah dan tempatnya tidak hiegenis. Di The Holy Crab makan acak-acakan, tetapi hiegenis. Oh ya, kalau bisa kasih masukan sih saya akan menyarankan gelas yang untuk penyajiannya jangan dari plastik. Nggak baik untuk lingkungan 😀

Bill makanan yang harus dibayarkan

Bill makanan yang harus dibayarkan

Ada niat balik lagi, An? Oh tentu…asalkan ada promo dan/atau diskon gede. Saya masih mau mencoba Dungeness Crab yang seekornya bisa mencapai Rp 800.000 dan menjadi unggulan The Holy Crab. Atau kamu mau ntraktir saya? Hehehe…

Anna R Nawaning S

http://odysseygemini.blogspot.com(Kuliner)
http://odysseygemini.blogspot.com (Wisata Indonesia)
http://57odysseygemini.blogspot.com (Lifestyle)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • YouTube saat ini bisa jadi lahan yang mendatangkan penghasilan lumayan, lho. Makanya makin banyak nih para YouTuber yang bermunculan. YouTube juga bisa jadi sarana promosi yang kekinian bagi para marketer 😀
.
#indoblognet #mbcommunication #youtube #youtuber #marketer #socialmedia #promotion

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top