Gaya Hidup

Lebaran Tahun 2016 adalah Lebaran ke 66 Bagi Saya

Kue Lebaran

Lebaran tahun 2016 merupakan lebaran ke 66 bagi saya. Itu jika dihitung sejak saya lahir ke dunia, tahun 1950. Situasi lebaran yang saya alami berbeda-beda, tergantung usia dan di mana saya melaksanakannya. Sebagian besar saya berlebaran bersama dengan orangtua.

Lebaran Masa Kanak-kanak

Tak ada yang saya ingat bagaimana suasana lebaran saat saya masih dalam usia bawah lima tahun. Mungkin Emak juga membelikan saya pakaian baru yang unyu dan lucu-lucu. Emak pasti juga membuat kue lebaran. Opak, jepit (kue semprong), jenang madumongso, krecek, adalah kue tradisional yang hampir selalu hadir di ruang tamu. Sebagai anak tunggal hidup, saya pasti diajak halal-bihalal dengan mengunjungi rumah kerabat dan tetangga. Jangan-jangan mereka gemes melihat saya yang ganteng dan imut ya. Saya tidak tahu apakah ada famili atau tetangga yang iseng nyiwel pipi saya sambil berkata: ” Iiiiiih…lutuna,” hehehehe.

Lebaran Usia Sekolah Pasti dengan Pakaian Baru

Menjelang lebaran saya sudah mulai merengek minta kepada Emak agar saya dibelikan pakaian baru. Ini terjadi setelah saya sudah sekolah. Kala itu Emak sudah berpisah dengan Bapak. Emak dan Bapak masing-masing sudah menikah lagi. Mereka  masih tinggal satu kampung karena memang di desa Sumber Agung lah mereka lahir dan menetap. Dengan demikian maka saya punya Bapak dua dan Emak juga dua. Asyiknya saya mendapat pakaian baru dari Emak dan Bapak. Oke banget rasanya.

Saat saya duduk di bangku SD dan SMP saya dan beberapa teman menjadi anak ‘langgaran.’ Kami umumnya lebih banyak tidur di langgar atau mushola. Demikian pula saat bulan Ramadhan. Usai sholat tarawih kami langsung tidur di mushola.

Puasa saya semasa sekolah bertingkat dan berlanjut. Saat SD kami biasanya berpuasa hingga sholat dhuhur saja. Istilahnya ‘puasa mbeduk.’ Begitu terdengar bunyi beduk maka kami sudah bisa berbuka puasa. Pada saat kelas 5 dan kelas 6 kami biasanya sudah berpuasa sampai Maghrib. Kami kadang masih suka bercanda ketika sholat tarawih. Namanya juga masih anak-anak. Ternyata bercanda gaya anak-anak seperti itu juga masih berlangsung sampai sekarang, hampir merata, di mushola maupun di masjid.

Begitu menjelang lebaran kami sudah mulai bermain petasan. Jarang di antara kami yang membeli petasan jadi yang banyak dijual di pasaran. Maklum kami tinggal di daerah pedesaan yang jarang ada penjual petasan. Jika Emak belanja ke kota paling banter kami dibelikan kembang api.

Kami membuat petasan sendiri yang bahannya dibuat dari batang bambu. Setelah diisi bensin maka kami sulut dengan api pada lubang yang tersedia. Bunyinya lumayan keras. Selain itu kami juga membuat petasan pendam. Bentuknya mirip lubang kuburan tetapi lebih dangkal, dan tidak selebar liang lahat. Setelah kami tutup dengan papan maka kami masuki kaleng berisi karbit. Lubang yang ada pada papan kami sulut maka meledaklah petasan pendam tersebut. Bunyinya sangat keras, kadang sampai papan penutupnya bergetar.

Ketika lebaran tiba kami ramai-ramai berkunjung ke rumah tetangga. Kadang  kami berkunjung ke rumah Pak Lurah segala loch. Kami sudah heran dan senang sekali ketika Pak Lurah menyuguhi kami minuman limun. Zaman itu minum limun sudah sangat waaaah. Ada juga tetangga yang dermawan. Anak-anak yang datang berkunjung diberi uang. Alhasil, ada saja yang mencoba bolak-balik berkunjung untuk mendapatkan koin sebanyak mungkin hahahaha..namanya juga anak-anak.

Lebaran Masa Berseragam

Setelah lulus STM saya masuk AKABRI DARAT, tahun 1971. Tentu setelah lulus dari serangkaian tes. Kehidupan saya berubah total dari alam kehidupan sipil ke lingkungan militer. Sejak bangun tidur sampai berangkat tidur tertata dengan baik dalam ikatan disiplin yang cukup kuat. Gema sangkakala dan aba-aba ikut mewarnai. Bangun tidur ditandai dengan tiupan sangkakala yang bertalu-talu sementara saat jam tidur malam tiba terdengar suara sangkakala yang mendayu-dayu.

Puasa Ramadhan juga masih bergaya militer heheheh. Berangkat ke ruang makan untuk makan sahur dengan pakaian dinas , bersepatu olahraga. Kami berbaris dengan rapi pada sepertiga malam terakhir itu. Tak ada lari dan tak ada nyanyi. Pada sore hari, kami menuju ruang makan lagi. Sepatu olahraga seudah diganti dengan sepatu lars. Tetap tak ada lari atau menyanyi.

Bagaimana dengan suasana lebaran? Yup, kami pulang kampung karena mendapat cuti lebaran yang lamanya sekitar seminggu. Lebaran bersama orangtua memang sesuatu yang menggembirakan. Saya sudah tidak memikirkan baju baru dan kue lebaran lagi.

Lebaran di Luar Pulau

Setelah lulus dari Akabri Darat dan juga selesai mengikuti pendidikan kecabangan polisi militer saya ditugaskan di luar pulau Jawa. Pos pertama saya adalah kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Lebih dari 10 tahun saya bertugas di kota minyak ini. Sebagian besar lebaran saya laksanakan di sini. Saya dan isteri amat jarang pulang kampung. Orangtua juga sangat memahaminya. Mudik lebaran memang menjadi dambaan tetapi juga banyak yang harus dipertimbangkan terutama waktu dan ongkosnya.

Saat itu saya sudah ‘menjadi orang’ karena sudah beristeri dan mempunyai anak. Saat lebaran kami juga berkunjung ke rumah para senior yang pangkatnya lebih tinggi dari saya. Sebaliknya para staf atau anakbuah dan beberapa teman juga berkunjung ke rumah saya. Itulah sebabnya saya dan isteri sudah mulai menyiapkan hidangan di rumah untuk menjamu tamu. Ada pula acara halal bihalal yang diselenggarakan oleh komunitas Jombang yang saya ikuti.

Situasinya hampir sama ketika saya pindah tugas ke pulau lain yaitu Sumatera. Saya bertugas di Palembang selama 6 tahun. Selain berkunjung ke rumah panglima dan para asisten kodam saya juga menjamu staf, anggota, dan para sahabat di rumah. Boleh dibilang saya mengadakan acara ‘open house’ kecil-kecilan. Selain aneka kue juga kami siapkan lontong opor ayam, hehehe.

Oh iya, kala itu menerima parsel belum dilarang. Kami hepi-hepi saja menerima parsel dari para relasi. Rezeki mosok ditolak. Tentu saja aneka kue dan minuman kaleng itu saya hidangkan lagi kepada tamu yang berkunjung ke rumah. Kala itu saya yang sudah mempunyai anakbuah mulai memikirkan bingkisan lebaran juga. Bingkisan sederhana itu berisi gula, sirup, minyak goreng, teh, kacang, dan kue kaleng.

Lebaran di Luar Negeri

Alhamdulillah, saya dua kali berlebaran di mancanegara. Pertama lebaran tahun 1983. Saat itu saya sedang mengikuti pendidikan di Fort Huachuca, Arizona, Amerika Serikat. Saya dan beberapa siswa mancanagara juga berpuasa yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Selain sholat tarawih di kamar kami juga pernah sholat tarawih di Islamic Center yang ada di Tucson yang jaraknya sekitar 75 mil dari kampus kami. Captain Thomas Vogeley, class sponsor saya yang berbaik hati mengantar kami ke sana. Thank you, Capt.

Lebaran yang lain  saat saya mengikuti pendidikan Army Staff College di DSCC (Defence Services Staff College) Wellington, Tamil Nadu, India. Situasinya hampir sama. Ada perwira India yang mengajak saya sholat Id di sebuah masjid. Alhamdulillah.

Lebaran di mancanegara lebih simpel. Saya tak harus membeli baju baru atau menyiapkan kue. Maklum tak ada yang dikunjungi atau mengunjungi. Isteri juga tak ada di samping saya saat ini. Dia lebih suka berlebaran bersama anak-anak di Indonesia. Tak apalah, yang paling penting ibadah puasa sudah saya jalani dengan baik.

Saatnya Berlebaran dengan Orangtua dan Anak Cucu

Setelah pensiun dari dinas militer saya sudah memantapkan diri untuk lebaran bersama Emak dan anak cucu. Walaupun saya berdomisili di Surabaya namun saya tetap enjoy berlebaran di Jombang. Sejak lahir hingga sekarang Emak tetap tinggal di Jombang. Kami lah yang berdatangan ke kampung dan rame-rame lebaran di sana.

Lebaran tahun 2016 adalah lebaran ke-66 bagi saya. Pada kesempatan ini sungguh sangat membahagiakan. Saya bisa sungkem dan mohon maaf kepada orangtua, sahabat, dan tetangga. Anak cucu juga rame-rame mudik ke Jombang untuk berlebaran dengan Eyang Buyut, Mbahkung, Mbah Uti. Alhamdulillah.

Semoga saya sekeluarga senantiasa diberi kesehatan, kesempatan, dan kelapangan rezeki sehingga bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1438 H dan tahun-tahun berikutnya. Aamiin.

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Happy beautiful Sunday, everyone 😍 Ngaku nih, siapa yang pagi ini udah nontonin videooo? Hihi 😆😄
.
Tau gak sih guys, Penelitian Nielsen Consumer Media View 2017, menunjukkan bahwa minat menonton video online terus meningkat, lho. Penetrasi internet kian meroket sehingga perilaku penggunanya juga bergeser, deh 😀
.
Berdasarkan survey Nielsen Cross-Platform 2017, terjadi peningkatan akses internet hampir di semua tempat. Akses internet meningkat di kendaraan umum sebesar 53 persen, kafe atau restoran 51 persen, bahkan di lokasi konser juga bertambah 24 persen dibandingkan dua tahun lalu 😎
.
Data juga menunjukkan frekuensi menonton konten video melalui internet meningkat hampir di semua usia. Saat ini Youtube masih menjadi raja sebagai penyedia konten video online. Selain mengonsumsi online video sebagai hiburan, konsumen juga cenderung mencari berita online video di beberapa laman media massa 📰
.
Sumber: m.republika.co.id
.
#indoblognet #mbcommunication #sundayfunday #weekend #onlinevideo #survey #content #internet #youtube

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top