Berbagi Kasih Sayang

Latifah Anum Siregar, Pejuang HAM di Tanah Papua

latifah anum siregar

Sebagai seorang Muslim dan non Papua, banyak yang mempertanyakan alasannya membantu orang Papua dan Nasrani. Pertanyaan itu menunjukkan masih banyak orang yang belum mengerti bahwa memperjuangkan keadilan sejatinya tidak memandang agama, suku, maupun budaya.

Dialah Latifah Anum Siregar, lulusan Fakultas Hukum Universitas Cendrawasih yang hingga saat ini tak kenal lelah bergiat di komunitas, yang bermisi melakukan kodifikasi hukum adat di Demta, Kabupaten Jayapura. Sempat bekerja di bank, Anum kemudian mendirikan Aliansi Demokrasi untuk Papua (ALDP) pada 2000. Dan, sampai sekarang ia masih bergular dalam persoalan advokasi demokrasi dan keadilan terkait isu HAM.

“Seorang aktivis jika tidak bekerja di komunitas akan kehilangan kesadaran dasar kemanusiaan,” kata Anum.

Berperan sekaligus sebagai direktur ALDP, Anum tak pernah berhenti mengadakan pendidikan hukum dan demokrasi di komunitas, pendampingan di pengadilan, hingga perdamaian lintas etnis. “Saya merasakan pendekatan kekerasan dan stigma terhadap orang Papua itu tidak pernah hilang. Ini hal yang belum selesai,” tutur Anum, penerima The 2015 Gwangju Prize for Human Rights.

Menurut Anum, masalah di Papua adalah ketidakadilan hukum, sosial, dan politik, bukan masalah suku maupun agama.

Pasalnya di Papua terdapat pluralisme agama dalam suku, demikian sebaliknya. Masyarakat harus tahu bahwa Papua adalah daerah yang terbuka. Masalah yang muncul, tidak pakai lama akan menjadi masalah semua orang di Papua.“Ketika ada orang Papua yang ditangkap atau ditembak secara tidak langsung berdampak besar pada kehidupan masyarakat Papua. Yang mengakibatkan aksi penutupan jalan, anak dilarang sekolah dan sebagainya,” ujar Anum.

Latifah Anum Siregar saat menerima The 2015 Gwangju Prize for Human Rights

Latifah Anum Siregar saat menerima The 2015 Gwangju Prize for Human Rights

Dengan demikian masyarakat harus mencari solusi terhadap masalah itu supaya hidup nyaman di Papua. Semua praktik diskriminasi antarsuku harus dihentikan. Tidak juga mencap semua pendatang tidak baik, karena ada sebagian di antara mereka yang bekerja membangun Papua, menciptakan kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain, ada juga orang Papua yang memperalat masyarakatnya sendiri. “Maka jangan dipandang sebatas persoalan Papua dan non Papua,” kata Anum, peraih Woman Peacemaker tahun 2007 dari Institue Peace and Justice Joan B. Kroch Universitas San Diego, Amerika Serikat.

Anum berpandangan, keterlibatannya bersama teman-teman lain yang bukan orang Papua secara biologis seharusnya membangun kesadaran dan kekuatan bersama bahwa persoalan di Papua adalah persoalan ketidakadilan.

orang papua

Suatu saat, ketika kapal merapat,warga Suku Asmat begitu bersemangat menerima tamu dengan tarian adat, sebagai penanda rasa hormat dan bersahabat. Tamu yang beradab tentunya berkunjung dengan menjunjung adat-istiadat setempat. Bersama menjaga harmoni…. (Cerita dari Agats, Asmat, Papua). Sumber foto dan pesan : Agung Firmansyah

Orang yang secara biologis pendatang, lahir dan besar di Papua diakui atau tidak adalah bagian dari orang Papua. Ada sejarah yang membuat keterikatan mereka tidak bisa dibatasi dan tidak bisa diabaikan atau dihilangkan.

Orang Papua mengenal orang Indonesia melalui sejarah buruk sehingga mereka melihat pendatang sebagai bagian dari pemerintah Indonesia yang menjajah. Stigma ini harus diubah. Sama halnya dengan mengubah stigma bahwa orang Papua itu separatis.

Jaringan Damai Papua yang didirikan Ketua Tim Kajian Papua LIPI, Muridan S. Widjojo (Alm) dan rohaniwan Katolik, Neles Tebay melibatkan para pendatang karena konflik di Papua berimplikasi kepada mereka. “Ini masalah ketidakadilan, siapa saja bisa menjadi korban,” tutur Anum.

Suka atau tidak suka, tidak ada pendekatan yang lebih tepat selain pendekatan dialog. Maka pemerintah dan masyarakat harus bersinergi. Dialog adalah jalan untuk merumuskan masalah dan solusi bersama-sama. Solusi yang dihasilkan mengakomodir masalah-masalah yang dihadapi pihak-pihak di Papua dan pemerintah Indonesia.

“Dialog sudah menjadi kata kunci. Orang selalu menawarkan dialog ketika ada masalah. Dialog harus bergerak dan membuka ganjalan. Sekarang bagaimana memperbesar ruang untuk berdialog,” ujar Anum.

Anum menjelaskan pendekatan kekerasan dan stigma yang selama ini melatarbelakangi kasus-kasus di Papua  harus diadvokasi bersama. Pasalnya kasus tersebut  direspon secara reaktif, tidak melibatkan hati, dan tidak mendesain satu pendekatan kemanusiaan yang jauh dari kekerasan. Terkait kondisi tersebut, bagaimana memperluas konstituen sehingga lebih banyak orang berjuang bersama dan mengedepankan dialog.

Ke depan Anum berharap perempuan lebih terlibat maksimal dalam dialog. “Kita coba angkat isu perempuan yang menjadi bagian penting dari kampanye dialog,” tutur Anum.

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Apa sih tujuanmu menggunakan sosial media? Sekadar pengen narsis dan eksiskah? Nope, jangan gunakan sosmedmu hanya untuk popularitas semata guys, manfaatkan sosmedmu untuk memberikan pengaruh yang baik/positif untuk orang lain
.
#indoblognet #mbcommunication #sosialmedia #viral #trending #impact #eksis

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top