Kuliner

Kuliner Nusa Tenggara Timur, Obat Rindu Kampung Halaman

Lahir dan besar di Jakarta tak membuat saya melupakan asal. Oleh-oleh mengekalkan ingatan akan kampung halaman dalam benak dan hati.

Food is not just fuel. Food is about family, food is about community, food is about identity. And we nourish all those things when we eat well (Makanan tidak hanya bahan bakar. Makanan terkait dengan keluarga, komunitas, dan identitas. Semua hal itu terpelihara saat kita makan dengan baik). Quote dari Michael Pollan itu membuka memori saya akan tanah leluhur di  Nusa Tenggara Timur (NTT). Bapak berasal dari Larantuka, ibukota kabupaten Flores Timur yang dapat ditempuh dengan pesawat kecil selama satu jam dari Kupang, ibukota Provinsi NTT. Sementara mama berasal dari Adonara yang dapat dicapai dengan menggunakan kapal motor selama satu jam dari Larantuka.

Flores, bunga di balik tandusnya alam NTT

Flores, bunga di balik tandusnya alam NTT

Bapak dan mama merantau ke Jakarta pada 1980. Kami empat bersaudara tak selalu pulang menengok keluarga di kampung mengingat biaya yang cukup mahal.  Hanya tiga kali kami menginjakkan kaki. Sementara bapak dan mama setiap dua tahun rutin pulang kampung. Hal itu tak lantas memudarkan identitas dalam diri. Sebab sekembali dari kampung, bapak atau mama selalu membawa oleh-oleh yang sayang untuk dilewatkan. Jagung titi, kue rambut,  dan sambal Flores. Untuk yang terakhir hanya saya, bapak, dan mama yang menyukainya. Sementara tiga saudara saya tidak menggemari rasa pedas.

Jagung titi dengan rasanya yang selalu lekat dalam ingatan. Sumber: http://btpn2015.fotokita.net

Jagung titi dengan rasanya yang selalu lekat dalam ingatan. Sumber: http://btpn2015.fotokita.net

Ada tradisi yang masih berlangsung hingga kini yaitu, bila kerabat yang tinggal di kampung datang ke Jakarta atau kerabat yang  pulang berlibur dari kampung tak lupa membagikan kepada saudara yang lain. Walaupun sedikit tidak menjadi masalah. Jika beruntung, bapak mendapatkan tuak, minuman dari pohon lontar yang rasanya pahit. Acara keluarga atau pesta tak lupa menghadirkan tuak yang dihidangkan dalam gelas kecil. Masing-masing pria minum tuak dari gelas yang sama. Obrolan semakin riuh dengan tuak yang sedikit memabukkan. Tuak menjadi pengikat persaudaraan terutama sesama perantau.

Lidah kami berempat tak asing dengan makanan khas Flores. Termasuk keponakan saya yang selalu menanyakan jagung titi setiap berkunjung ke rumah. Sejak usia dua tahun ia sudah menggemarinya. Hal itu pula yang terjadi pada kami berempat saat kecil. Oleh-oleh menjadi alat identifikasi bahwa kami adalah orang Flores, menikmatinya seakan melemparkan kami yang lahir di Tanah Jawa pada kenangan akan alam, budaya, dan keluarga di kampung halaman. Apalagi setiap dua bulan selalu ada kumpul keluarga yang menghadirkan masakan khas Flores seperti sayur rumpu rampe (daun pepaya, daun singkong, dan jantung pisang yang ditumis).

Oleh-oleh lainnya adalah ikan belelang, ikan kering, dan madu hutan. Ikan belelang adalah ikan hiu yang dalam proses pengolahannya  diberi garam dan dijemur sampai kering. Sebelum ditumis dengan cabai, ikan itu disuwir-suwir. Siap disantap bersama nasi panas. Sementara ikan kering adalah ikan teri yang proses proses pengolahannya sama dengan ikan belelang. Cukup digoreng garing dan disajikan bersama nasi panas. Madu hutan biasanya kami peroleh dari tante yang berdomisili di Kupang. Madu itu ketika disentuhkan dengan api menjadi  terbakar sebab kadar airnya tidak tinggi. Itulah yang membedakan madu hutan khas Kupang dengan madu pada umumnya.

Kelangkaan

Jagung titi adalah pipilan jagung yang  disangrai lalu dipipihkan dengan alu (penumbuk). Dahulu setiap rumah tangga di Flores membuat sendiri jagung titi. Sebab jagung adalah makanan pokok di NTT. Seiring dengan perkembangan jaman yang mendesak kaum muda merantau ke Jakarta, Batam, atau Sabah, Malaysia menyebabkan semakin sedikit rumah tangga yang membuat jagung titi. Kini beras menjadi makanan utama.

Kue rambut yang semakin langka. Sumber: https://ismiwardatun.wordpress.com

Kue rambut yang semakin langka. Sumber: https://ismiwardatun.wordpress.com

Hal yang sama terjadi jika ingin makan kue rambut. Kue rambut yang terbuat dari tepung beras ini cukup renyah dan terasa sedikit manis. Saat memakannya perlu berhati-hati sebab remahannya bisa mengotori baju. Biasanya bapak dan mama mencampurkan  jagung titi dengan sedikit air sehingga terasa lunak saat dikunyah bersama sayur dan lauk. Harus berhati-hati mengingat usia mereka memasuki 60 tahun. Jika tidak akan membuat gigi sakit. Pasalnya jagung titi ini agak keras ketika dimakan.

Saya dan saudara yang lain biasanya menyangrai jagung titi atau memasukkannya  dalam teh panas. Berbeda dengan orangtua, kami tidak mengonsumsi jagung titi bersama sayur dan lauk. Kami menjadikannya sebagai camilan. Tak jarang saya mengemas jagung titi dalam kotak makan sebagai bekal. Namun rasanya yang tawar tak menarik perhatian teman yang ditawari. Menurut mereka jagung titi ini terasa aneh di lidah.

Sambal Flores, pedas menggigit. Sumber: http://kupang.tribunnews.com

Sambal Flores, pedas menggigit. Sumber: http://kupang.tribunnews.com

Flores memiliki cabai yang bentuknya kecil dan sangat pedas. Memakan satu cabai bersama tahu misalnya akan meninggalkan jejak pedas yang luar biasa.  Berbeda jika memakan cabai  Jakarta  dengan tempe mendoan misalnya. Dua cabai rawit tidak menyisakan sedikitpun rasa pedas. Cabai Flores ditumbuk bersama garam dan dikucuri jeruk limau. Pedas, asin, dan asam bercampur menjadi satu. Sambal Flores dikemas dalam botol plastik dan bertahan hingga tiga bulan dalam kulkas. Menghemat uang belanja terlebih saat harga cabai melambung.

Menginjakkan kaki kembali di kampung halaman pada 2013 lalu

Menginjakkan kaki kembali di kampung halaman pada 2013 lalu

Pada 2013 lalu saya dan keluarga pulang ke kampung halaman. Selama ini saya mengira jagung titi dan kue rambut dibuat oleh kerabat. Nyatanya, sebagaimana yang dikisahkan sepupu saya, mereka membeli di pasar. Jika belum panen jagung, menurut mereka jagung titi sulit diperoleh. Tak jarang saya mendapatkan oleh-oleh jagung titi yang warnanya sedikit kusam, tidak putih kekuningan seperti sewajarnya. Penyebabnya masyarakat menggunakan jagung yang masih belum matang. Sangat disayangkan. Kehidupan modern terutama dengan kehadiran para pendatang ke Flores membuat masyarakat lokal seakan lupa dengan warisan leluhur.

Oleh-oleh membuat kami selalu rindu kembali ke tanah leluhur

Oleh-oleh membuat kami selalu rindu kembali ke tanah leluhur

Ketika pulang ke kampung halaman saat berusia 10 tahun, saya melihat kerabat masih membuat jagung titi untuk konsumsi sendiri. Jika ada kelebihan akan disimpan untuk bulan-bulan mendatang. Ironi mendapati jagung titi sedikit tergeser. Semoga jagung titi dan oleh-oleh  khas Flores lainnya tidak tenggelam  pada dekade-dekade berikutnya. Karena oleh-oleh itu yang selalu mendorong kami bekerja keras mengumpulkan uang untuk  menengok keluarga di tanah leluhur.

 

 

 

 

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Ini Video Versi Layanan Masyarakat untuk Anti Drugs Campaign. Supported BNN dan MB Communication

Kalau temen-temen punya cerita, ide seru dan bikin video masih bisa ikutan lombanya yah. Cek hastag
 #IniCaraGueCegahNarkoba
Teman-teman bisa Minta Tolong Subscribe, Share dan komen yah.

Share boleh di Instagram, twitter dan FB
Linknya :

https://youtu.be/zOCgnf66Hik

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top