Berbagi Kasih Sayang

Ketika Sedang Sengsara, Kita Hanya Perlu Membuka Jendela

Jangankan gedung gubukpun aku tak punya
Jangankan permata uangpun aku tiada
Aku merasa orang termiskin di dunia
Yang penuh derita bermandikan airmata”

Pernah mendengar lagu ini? atau pernah merasa menjadi orang paling malang, paling miskin. Saya pernah merasa kondisi saya mirip syair lagu  yang terdengar dari radio tetangga ketika kondisi keluarga sedang dalam masa susah, terhimpit kesulitan finansial saat suami masih mencari kerja pasca PHK dan penghasilan saya sebagai penulis freelance belum mampu membantu sebesar gaji kala masih jadi pegawai dulu.

Tetapi ketika menjemput anak sekolah berbekal sepeda kayuh, saya seperti tertampar oleh pemandangan: seorang ibu dengan sepeda lebih butut dari yang sedang saya kendarai, membonceng satu anak sambil menggeondong bayi, menunggu anaknya keluar dari sekolah yang sama. Seolah Tuhan sedang berbisik mesra “jika kau mengira sudah sangat menderita, yang kau lakukan hanyalah membuka jendela”

Sejak saat itu saya berusaha bersikap realistis. Sedih, susah, nestapa adalah bagian dari kehidupan manusia. Cara menghibur diri paling efektif agar tidak larut dalam kesedihan terlalu lebay adalah dengan melihat ke bawah, membuka jendela jiwa agar mata hati terbuka bahwa pasti masih banyak yang lebih susah daripada kita. Belajar mengasah nurani dan memupuk kepedulian terhadap sesama bukanlah hal mudah. Apalagi jika hati diliputi nestapa yang semakin mendera. Maka salah satu keuntungan rajin mengikuti majelis taklim dan aktif dalam kegiatan sosialnya adalah melatih nurani lebih tanggap terhadap kesusahan orang lain.

Dua tahun saya bergabung dengan Majelis Taklim Mar’atus Shalihah di Perumahan Permata Sukodono Raya. Banyak hal berharga yang saya pelajari. Saya tak hanya mendapatkan ilmu syariat tentang beribadah langsung kepada Allah tetapi juga memacu saya untuk lebih memiliki jiwa sosial. Padahal sebelumnya saya orang yang paling malas kalau harus kumpul-kumpul banyak orang. Selain pengajian rutin setiap Kamis malam, majelis taklim kami setiap tahun mengadakan bakti sosial kecil-kecilan. Meski hanya sekedar memberikan santunan yang dananya berasal dari infaq mingguan dan bantuan donatur kami berharap yang kami berikan dapat bermanfaat bagi umat.

Hanyalah sebuah kebetulan jika majelis taklim kami memutuskan tanggal 14 Februari lalu sebagai hari dilakukan bakti sosial. Bukan karena hari itu diperingati sebagai hari valentine tetapi kebanyakan ibu-ibu anggota pengajian lebih fleksibel di hari Minggu. Kegiatannya sederhana saja, menyalurkan infaq kepada anak yatim, kaum dhuafa dan janda-janda tua yang tinggal di kampung di sekitar perumahan kami. Biasanya bisa terkumpul hingga 20 orang namun satu persatu mereka yang berhak menerima santunan telah meninggal dunia sehingga tersisa hanya sekitar 10 orang.

8

Mendengarkan tausyiah singkat dan menyaksikan mata berbinar dari anak-anak yatim serta janda-janda tua itu membuat saya tersadar bahwa ketika sedang sengsara, kita hanya perlu membuka jendela dan melihat bahwa masih banyak yang jauh lebih menderita.

3

Saya masih ingat salah satu dari anak-anak yatim itu adalah teman sekolah anak sulung saya. Ketika acara pengambilan raport ibunya sempat berurai air mata karena diwajibkan membayar tunggakan uang buku. Sedangkan saya meski tidak dalam kondisi berlebihan masih dapat membayar tagihan.

5

Hati saya kembali teriris sembilu ketika mengantarkan infaq ke dua rumah warga yang tak mampu berjalan ke mushola sebagai tempat pembagian santunan. Salah satu dari mereka sudah cukup sepuh. Kakinya yang sedikit cacat tak mampu melangkah sejak kecelakaan terjatuh di rumah kerabat yang ia tumpangi. Si Mbah ini sebatang kara, ia hanya menumpang di rumah keponakannya.

Sejak kecelakaan si Mbah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggeserkan pantat alias ngesot. Bisa terbayang kan betapa susahnya beraktivitas ke kamar mandi, mencuci atau sekedar melihat udara segar dengan ngesot kesana kemari? Salah seorang pengurus mushola berbisik bahwa sang keponakan hanya bisa menyediakan tempat tinggal, tetapi untuk makan sehari-hari si Mbah menggantungkan dari pemberian tetangga dan para dermawan yang berkenan.

Si Mbah dengan wajah sendu menumpahkan isi hatinya “dospundi, pun mboten gadhah sinten-sinten kok nggih diparingi musibah kados ngeten” (bagaimana nasib saya ini, sudah hidup sebatang kara malah tertimpa musibah seperti ini). Bu Lina sebagai ketua majelis taklim menghibur beliau “Sabar ya Mbah, anggaplah sakit ini sebagai penggugur dosa, banyakin menyebut nama Allah, masih tetap bersyukur ada kerabat yang mau menampung. Di luar sana mungkin banyak yang sakit dan hidup menggelandang”

6

Pengalaman mengikuti bakti sosial kali ini memberi saya pelajaran bahwa yang sedang memberilah yang tengah menerima. Sebagai pemberi santunan sekilas seolah kami sedang memberikan sesuatu untuk mereka namun sesungguhnya kami mendapatkan banyak pelajaran tentang kehidupan. Membuka mata batin untuk lebih mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan oleh Sang Pemberi Kehidupan. Ketika sedang sengsara, kita hanya perlu membuka jendela.

Semua foto adalah dokumen pribadi, hasil jepretan saya sebagai fotografer amatiran 🙂

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Bagikan Jika Bermanfaat

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Tips for Taking Beautiful FLAT LAY PHOTOGRAPHY ❤
.
Flat lay photos are great for all kinds of subjects – books, planners, art, food, jewelry, etc!
.
The basic idea behind flay lay photography is simply taking a picture from straight up above with no angle at all. But naturally, there is more to it than that. Here’s THE TIPS for getting started, guys!! 😋
.
1⃣ USE NATURAL LIGHT
.
Brightly lit photos are almost always better than dark ones, and the flash on your camera ain’t gonna cut it. Find a window or simply go outside to get those delicious natural rays 😍
.
2⃣ PLAY WITH COLOR
.
Play around with color themes in your flat lay photo. It’s a great rule of thumb to have a general color theme for your whole feed for consistency
.
After all, you want your Instagram followers to be able to recognize your style in a second, don't you? 😁
.
3⃣ USE TEXTURE
.
Try different texture elements to add character to a flat lay photography. Fur, cloth, metal, glass, wood, stone…. there are tons of options! 😜
.
4⃣ UTILIZE PLANTS
.
If you have any small potted plants, they make for great flat lay photography props
.
5⃣ CREATE CONTRAST
.
The contrast can be with any element: colors, sizes, shapes, textures, lighting, etc
.
Mixing delicate props like acorns, crystals, and paperclips with bigger elements like plants, candles, and boxes can add tons of interest to flat lay photography 🙈
.
6⃣ ACHIEVE BALANCE
.
Try not to load lots of big items on only one side of the photo. Create balance by keeping the mass fairly equal throughout a page, okay!
.
7⃣ EDITING
.
Take a little time to edit your flat lay photos, you can really impress your Instagram followers with a polished feed 😎
.
Credit: littlecoffeefox.com
.
#mbcsosmedcontent #mbcommunication #indoblognet #brandingagency #digitalagency #marketingagency #digitalpromotion #jasaseo #seocoaching

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top