Fashion

Ketika Perempuan Menjadi Komoditi Barang Branded

Pagi itu, gue sedang menikmati hidangan breakfast di hotel berbintang 5 di kawasan Ubud. Gue tahu orang yang duduk di sebelah gue bukan orang sembarangan. Namun penampilannya cukup sederhana. Hanya mengenakan pakaian casual (kaos dan jeans). Di sebelahnya teronggok tas yang kalau dilihat dari luriknya sudah jelas bermerek Louis Vuitton Karena logo LV bertaburan hampir diseluruh penjuru body pas. Kemudian, obrolan kami pun berlanjut entah kemana juntrungnya. Hampir semua topik kami bahas di meja breakfast. Mulai dari bisnis, tokoh politik, artis, sosialita, tempat wisata, kuliner dan sebagainya….

Sampai akhirnya, perempuan tersebut berkisah tentang pengalamannya saat diperlakukan dengan tidak “bijak” oleh pelayan di sebuah outlet tas brand ternama. Ya, sebut saja HER**S. Perempuan itu berterus terang kalau dia bukan penggila apalagi kolektor tas-tas bermerk dengan harga fantastis. Mungkin, kalau dia ingin, dia bisa kok memilikinya. Wong sejak lahir dia sudah ditakdirkan memiliki orangtua yang kaya raya, serta punya suami yang juga tajir melintir.

“Tapi, buat apa gue beli tas mahal-mahal sampai ratusan hingga milyaran? Untungnya dimana? Nggak ada kan? Mending uang segitu gue jadiin modal bisnis gue.” ucapnya bijak.

Ketika masuk ke outlet tas branded tersebut, petugas yang berjaga-jaga sama sekali tidak menyambutnya dengan ramah. Meski dia sudah bersikap ramah dan dari segi penampilan juga dia tidak terlihat kere. Namun tetap saja tidak diladeni. Mungkin karena saat datang dia tidak mengenakan brand yang tengah dia masuki. Petugas lebih melayani tamu yang datang dengan menenteng tas atau apa pun yang ber atribut HER**S di badannya. 

“Gila, gue dicuekin begitu saja. Bahkan tegur juga kagak.” kenangnya. Berbeda dengan teman-temannya yang menenteng tas Her**s. mereka di sambut bak teman yang sudah lama berkenalan.  

“Gue, benar-benar dicuekin booo..!!” umpatnya kesal.

Lalu temannya membisikan sebait kalimat,”Mending lu beli salah satu barang yang ada disini. Tas, dompet, syall atau apa kek. Lalu pake dan pasti mereka melayani kamu.” 

Bukannya membeli, perempuan itu memilih ke luar dari tempat itu. Bagi perempuan itu, sikap “diskriminatif” seperti itu tidak selayaknya diberlakukan pada siapa pun yang masuk ke outlet tersebut. 

Lalu…

Perempuan itu pun berkisah, meski dia memiliki beberapa tas branded, namun dia membatasi “harga” untuk tas yang dimilikinya. Rata-rata harga tas yang dimilikinya  di bawah Rp. 100 juta (Ya, meski bagi gue uang 100 juta itu tetep gede cuy!). Dan, menurut perempuan itu, dia membeli tas berdasarkan kebutuhan bukan karena GENGSI atau pun karena ingin DIAKUI oleh banyak orang dan komunitas-komunitas sosialita, bahwa kita dianggap MAMPU membeli barang mewah. 

“Sebenarnya, perempuan itu alat komoditi paling manjur bagi para pelakon barang-barang branded” ucapnya. “Karena, perempuan tuh paling gampang dibujuk rayu dan tidak mau kalah dengan rekan-rekannya. Sehingga saat dibujuk dia langsung mau beli. Mereka cenderung suka bangga dan suka pamer kalau sudah membeli salah satu barang dengan merek ternama.” lanjutnya. 

Menurut perempuan itu, rasa “loyal” yang telah diberikan perempuan-perempuan penggila barang-barang  bermerek, tidak setimpal dengan apa yang telah diberikan oleh brand itu sendiri. 

“Bayangin saja, kurang loyal apa perempuan-perempuan penggila merek? Mereka membeli tas sampe ratusan juga. Kemudian dengan bangga memamerkan tas tersebut kemana pun dia pergi. Arisan, jalan-jalan, nongkrong dan dengan bangga juga memoto tas tersebut  lalu dipajang di sosmed  (fb,twitter, path,instagram dll) lengkap dengan bungkus dan harganya.” Ucapnya berapi-api. Kemudian, lanjutnya, “Lalu diikuti dengan hesteg merek tersebut. Lihat, betapa bangganya brand tesebut dipromosikan secara gratis. Dan lihat, betapa boodhnya si pembeli dengan suka rela mempromosikan barang tersebut tanpa dibayar sepeserpun.”

Benar juga sih…
Kurang loyal apa coba para penggila brand-brand bermerek itu? Mereka rajin belanja brand-brand tersebut meski rela ngutang. Mereka rajin pamerin ke teman-temannya. Rajin pamer di sosmed.  Rajin hesteg dengan mencantumkan brand tersebut. Rajin ngemis-ngemis pada suami (atau suami orang lain) agar direlakan ngutang pake kartu kredit asal bisa beli tas  bermerek lagi. Atau juga Rajin ngelirik pria-pria tajir  melintir dan memasnag radar pengintas untuk mencari mangsa pria kaya meski ditiduri semalam agar impian punya tas bermerek kesampean. 
Lalu…

Mereka dapat apa dari si brand yang disanjung-sanjung bak dewa itu?

Dapat diskon?  Yaellaaa..itu mah taktik para dagang untuk mengikat pembeli. 

Dapat kartu members? Yaelaaa, itu sama aja nyuruh elo belanja lagi dan belanja lagi ke tempat mereka.  atau dapat undangan private untuk peluncuran seri terbaru mereka?  Ya sama aja cuy. Lu disuruh harus belanja barang mereka juga, geblekkk!

Trus dapat apa dong?

Ya, paling juga dapat makan gratis dan minum wine gratis sampe mabok saat ngeluncurin produk baru. Keesokan harinya, Tagihan kartu kredit sudah menghantui hari-hari Anda.

Masih loyal menjadi komoditi para barang branded?

Image source: pixabay.com

 

Very Barus

Seorang penulis buku, blogger, fotografer dan Videografer. Menyukai dunia traveling dan adventure. Telah menjelajahi beberapa daerah dan negara di Asia. Mendaki beberapa gunung di indonesia Dan sangat menyayangi dan melindungi binatang dan tangan-tangan jahil manusia.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • #Repost @anisa.dee (@get_repost)
・・・
Pagi 😆😆😆 Mobil apa yang dimiliki saat ini? Saya baru punya Toyota Kijang, meski sudah 15 tahun usianya tp masih mampu dibawa jalan jarak jauh loh.

Ada yg sudah kenal dengan K-LINK Engine Power apa belum?

Saya baru kenal 1 bulan terakhir ini, di kotaknya dijelaskan K-LINK Engine Power merupakan Oil Additive yang bisa membersihkan seluruh ruang mesin hingga ke celah-celah terkecil, mengikat kotoran dalam ruang mesin, dan selanjutnya kotoran mesin dibuang melalui gas buang kendaraan.

Hasilnya akan meningkatnya performa mesin serta menghasilkan penggunaan bahan bakar minyak yang semakin minim/irit.

K-LINK Engine Power memiliki 7 Keunggulan yaitu:
1. Membuat BBM irit 10% – 50%
2. Membuat umur oli lebih panjang 50%
3. Meningkatkan performa mesin
4. Menjadikan mesin halus dan ringan
5. Menjaga suhu mesin tetap stabil
6. Menurunkan emisi gas buang
7. Menjadikan mesin bersih dan terawat

Mengetahui keunggulannya, tanpa ragu saya pakai dong untuk mesin mobil saya, cara pakainya: 10ml K-LINK Engine Power dapat digunakan untuk 1 liter oli 
K-LINK Engine Power ini dapat digunakan untuk SEMUA JENIS oli mesin, bensin maupun diesel, transmisi manual maupun matik.

Kondisi mobil saya lebih prima dan lebih awet dalam penggunaan BBM saat ini loh.

@klink_indonesia_official
@Indoblognet
#Klinksolusihidupmu
#Klinkmember15olusi

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top