Menulis Yuk

Ketika Pedagang Mengusik Liburan Saya di Pantai Carita

Akhir Maret kemarin kebetulan tanggal merah alias long weekend, saya beserta mama memutuskan untuk berlibur ketempat yang lumayan murah. Setelah berdiskusi akhirnya kami sepakat mengunjungi pantai carita. Pantai ini berada di Banten, tepatnya di kota pandeglang, 5 jam perjalanan menggunakan angkutan umum.

20151124_135737[1]

Berangkat pagi pagi dengan Bus Patas dengan harapan siang nanti sudah bisa selonjoran di pantai, menikmati deburan ombak dan matahari siang yang terik dibawah rindang pohon. Tapi nyatanya hayalan itu menguap seiring panjangnya mobil yang parkir di tengah jalan (read : macet). Hehehe, ada untungnya juga kena macet, ternyata sampa pantai siang menjelang sore, angin pantai sudah bertiup membawa segarnya aroma laut yang asin.

Untuk masuk pantai carita kami dikenakan karcis sepuluh ribu per orang, berhubung abhi masih termasuk bayi jadi cuma saya dan mama yang dihitung. Begitu masuk kami disambut pedagang makanan yang berjejer, ada bakso, mi ayam, dan pedagang minuman. Perut sudah agak keroncongan, tapi belum berminat mencicipi makanan karna kata mama nanti saja makannya, banyak  yang lagi jualan. Akhirnya, kami   putuskan berjalan hingga kepinggir pantai.

Baru beberapa detik meletakkan tas di pasir, seorang ibu menghampiri kami, menawarkan sewa tikar seharga sepuluh ribu, mama menolaknya halus dengan bahasa sunda. Menurut mama duduk di pasir pun ga akan mengotori baju, saya setuju. Si ibu penjaja sewa tikar kemudian pergi menawarkannya pada pengunjung lain yang kelihatannya juga baru datang. Saya kira sudah selesai, saya bisa duduk sebentar, eh ternyata si ibu balik lagi, merayu dan terus merayu hingga saya sewa juga tikarnya, “Gak papa mah, bisa buat tiduran” ujarku pada mama.

20151124_140019[1]

Berbantal tas dan berkasurkan pasir yang dialas tikar saya memejamkan mata. Baru memanjakan tubuh, tiba-tiba aroma amis membangunkan saya. Dekat sekali, seolah ada di depan hidung.  Saya langsung terkesiap ketika seorang nenek tua duduk hanya beberapa jengkal saja sambil membawa bakul ikan asin. Melihat saya bangun, si nenek  malah nyengir dan ramah menawarkan ikan asin  dalam bakulannya, “Buat oleh oleh Neng, asli dari pantai sini, 5000 aja,’” ujarnya sambil menyodorkan satu plastik ikan asin. Entah jenis apa yang jelas ikannya tak terlihat menggoda untuk dibeli. Saya menolak dan si nenek terus memaksa. Saya rada kesal juga, dan tak  menghiraukan keberadaannya, hingga sang nenek ngeloyor pergi.

ikan asin oleh oleh carita

ikan asin oleh oleh carita

Sayangnya selepas kepergian nenek penjual ikan asin saya tak jua bisa menikmati suasana pantai karna pedagang otak otak, pedagang kelomang, pedangan mainan anak, semua silih berganti menghampiri dan menjajakan dagangannya dengan setengah memaksa. Hmm..saya berhasil juga akhirnya membeli otak-otak, lantaran pedagangnya   tak beranjak dari samping saya dan terus bercerita tentang berbagai macam hal dalam bahasa sunda. Saya jadi rada bete. Bukannya kenapa kenapa, saya kesulitan mencerna kalimatnya karna meski ibu saya orang sunda tapi saya gak terlalu fasih :(.
Akhirnya saya memutuskan  beranjak dari pantai, menyusuri jalanan sambil berfikir bahwa pantai carita memiliki potensi wisata yang baik, apalagi kalau didukung dengan usaha usaha rakyat yang dikelola dengan profesional. Sebagian orang pasti senang kalau bisa menemukan pedagang yang menjajakan dagangannya sebagai oleh oleh di tempat wisata, itu artinya mereka tidak perlu kesulitan mencari tahu apa oleh oleh dari tempat tersebut dan tidak perlu juga mencari dimana tempat pusat oleh oleh berada. Sayangnya,  masyarakat Carita terutamanya pedagang belum memahami hal ini. Mereka membutuhkan edukasi bagaimana memanfaatkan potensi wisata dengan baik untuk meningkatkan sumber penghasilan mereka. Kalaulah, ingin berjualan, berjualan yang baik, tidak mengganggu kenyamanan pengunjung dengan cara memaksa untuk membeli, mengemas dagangannya agar menarik dan layak, menjaga kebersihan makanan, dan sebagainya.

20151124_132928[1]

Saking seriusnya saya berpikir hingga gak sadar sudah berdiri pada sebuah toko oleh oleh. Gak besar sih, tapi rapi dan bersih. Ketika saya melangkah ke dalam, langsung disambut sapaan dan senyum ramah pelayannya dan bertanya, “Cari apa ? Saya yang tadinya gak niat belanja malah akhirnya nyomot sebuah baju bertuliskan Carita untuk Abhi. Kebetulan murah, hanya  Rp 35 ribu. Baju biru itu pun masuk dengan mudahnya ke kresek yang saya bawa pulang. Nah, kan gini enak. Semoga pemerintah bisa menyediakan edukasi pada para pedagang di pantai tadi, sehingga nantinya mereka dapat keuntungan yang baik dengan penjualan yang baik juga. Semoga saja!

Windah Saputro

Saya ibu rumah tangga dengan seorang anak yang tinggal di Tangerang. Suka menulis dan hobi memperkaya pengetahuan dengan datang di forum atau seminar, selalu rindu untuk menantang diri dalam berbagai kompetisi.

Latest posts by Windah Saputro (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Ini Video Versi Layanan Masyarakat untuk Anti Drugs Campaign. Supported BNN dan MB Communication

Kalau temen-temen punya cerita, ide seru dan bikin video masih bisa ikutan lombanya yah. Cek hastag
 #IniCaraGueCegahNarkoba
Teman-teman bisa Minta Tolong Subscribe, Share dan komen yah.

Share boleh di Instagram, twitter dan FB
Linknya :

https://youtu.be/zOCgnf66Hik

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top