Berbagi Kasih Sayang

Ketika Berbagi Malah Berujung Sesal

 

Berbagi itu membahagiakan. Tidak hanya bagi yang menerima, tetapi juga bagi yang memberi. Tetapi, tidak selamanya bahagia itu hadir sebagai kompensasi berbagi. Ada kalanya, berbagi justru menimbulkan sesal.

Ya. Aku mengalaminya lebih kurang selama enam tahun, semenjak SMP hingga SMA. Kala itu, aku berbagi demi solidaritas. Aku muak disebut “pelit” terus-menerus. Kesal diteror untuk diminta berbagi. Akhirnya, lepas 1 semester aku duduk di bangku MTs (sepantaran dengan SMP), aku mulai ringan untuk berbagi. Benar, persis aku berbagi pada yang lain, teman-teman menyambutku dengan girang. Mengacungkan jempol, memuji-muji kebaikan hatiku. Tidak ada lagi teror atau julukan “pilik” (pelit-red) untukku.

Memang tidak selalu aku berbagi. Hanya ketika ada permintaan. Kehadiranku disambut baik oleh teman-teman. Mereka amat menghargaiku. Menjelang ujian, request teman-teman semakin banyak. Mereka memintaku untuk mendengar seruan mereka. Karena aku telah berbaik hati untuk berbagi, gantinya mereka juga bersedia berbagi untukku. Semakin sering berbagi, pertemananku dengan yang lain semakin baik. Tidak ada yang mencemoohku dengan julukan yang memuakkan itu, kecuali julukan “tower” saking tingginya badanku saat itu.

Yups, itulah hukum dasar berbagi atau memberi. Kau beri, kau diberi dan kau dihargai. Kau tidak memberi, seluruhnya akan menatap benci.

Pun ketika SMA. Aku terus berbagi. Meskipun lubuk hatiku terdalam tidak rela dan tidak setuju, aku lebih memedulikan respon teman-teman, lebih mengkhawatirkan nasib pertemanan jika enggan berbagi. Karena peringkatku di kelas bagus, berkisar antara ranking 1 dan 2, otomatis aku kerap menjadi sorotan. Menjadi tumpuan.

Namun, suatu ketika, aku mulai tidak nyaman untuk berbagi. Ada beban berat yang menghimpit ketika aku melakukan ataupun menerimanya. Pernah sekali aku menolak untuk berbagi, julukan yang mengenaskan itu tersemat begitu cepat. Teman-teman memandangku sinis. Aku sungguh tidak sanggup. Teringat olehku nasib seorang temanku yang keukeh mempertahankan prinsipnya. Tidak akan berbagi. Sontak, seluruh kelas mengenalnya “pelit”, “kikir”. Tidak ada yang bersedia dengan senang hati menjadi teman sebangkunya. Ia menjadi buah perbincangan yang tidak menyenangkan. Sekali lag, aku tidak sanggup diperlakukan seperti itu. Aku menyerah. Kembali pada pribadi yang sebelumnya. Pribadi yang tidak sungkan berbagi dan peduli dengan sesama. Menjunjung tinggi solidaritas.

Tapi, pada akhirnya Allah membukakan mataku, menyentak kesadaran. Awal-awalnya kebahagiaan memang meliputiku. Aku bahagia karena telah berjasa membantu yang lain. Tetapi, di penghujung masa putih abu-abu, aku mulai sadar bahwa aku keliru. Tidak ada balasan istimewa seperti yang dijanjikan dalam firman-Nya bagi orang yang suka berbagi. Aku malah rugi. Peringkatku di kelas terlempar jauh. Ranking 18. Semestinya, aku sadar diri, kala itu aku memang mulai malas belajar, kelas unggul pula, dan dalam kondisi seperti itu, aku masih rutin berbagi. Teman-teman? Sikap mereka hanya baik ketika ujian saja. Memang, mereka tidak jahat juga ketika di luar ujian, tetapi tidak ada yang spesial dari mereka untukku. Aku hanya dianggap teman biasa, yang akan dilirik ketika ujian. Untuk membantu mereka kala darurat atau sekadar menyamakan jawaban. Selebihnya, mereka lebih senang dengan geng masing-masing. Ketika aku tidak hadir, tidak ada yang hendak menanyakan kabar kecuali teman sebangkuku yang padanya disematkan julukan “pelit”. Ya, bisa dibilang aku sesungguhnya hanyalah butiran debu.

Sesal. Ya, aku sangat menyesal. Pahit, tentu saja. Mulai detik itu, saat keluarnya pengumuman UN, aku memutuskan untuk berhenti berbagi.

Kini, nyaris tiga tahun aku menyetop rutinitas berbagiku kala ujian. Memang, pertemananku tidak seenak dulu. Teman-teman di kampus tidak begitu menyorotku untuk menjadi tumpuan mereka. Aku tidak dipanggil, tidak menjadi harapan mereka untuk duduk di sebelah mereka. Tidak mengapa, aku justru lebih bahagia karena berhasil mempertahankan prinsip.

Karena, sejatinya, berbagi yang membahagiakan adalah berbagi pada mereka yang membutuhkan. Berbagi yang tidak mendustakan nurani. Berbagi yang meskipun awalnya hati tidak merestui, tetapi setelah itu tidak ada yang disesali.

Ketika mentraktir adik kelas makan enak di lesehan, membiayai kegiatan outbond dan mentraktir puluhan adik-adik rohis makan siang dengan uang hadiah kemenanganku. Membeli lima kantong tebu (meskipun aku kurang menyukainya) yang dijual seorang nenek renta yang berkeliling menjajakan tebu di atas kepalanya. Senang hati membantu menyetrika pakaian adik wisma yang terancam telat kuliah. Memberikan air minumku pada penghuni wisma meskipun aku menyimpannya untuk hari esok. Memberikan tempat dudukku pada ibu-ibu di kendaraan umum. Menyilakan teman-teman mencicipi dan bersama menghabisi makananku. Memberikan separuh lauk yang kubeli (meskipun sebetulnya masih ingin menambah) pada teman yang belum makan. Menyelamatkan kucing yang terkapar–tubuhnya berulat dan terancam terlindas di tengah jalan. Kegiatan itu dan kegiatan berbagi lainnya, itulah yang sesungguhnya memberikan kepuasan, menimbulkan kebahagiaan, dan tidak ada kata penyesalan.

Kegiatan berbagi yang dapat menumbuhkan, mempererat, dan menyuburkan tali kasih sayang.

Pernah ketika aku agak sungkan untuk berbagi, karena kondisi yang dirasa tidak memungkinkan, suasana hati yang tidak mendukung atau merasa juga membutuhkan, tetapi, ujung-ujungnya malah apa yang aku pertahankan itu, tidak termanfaatkan. Saat itu, aku tengah persiapan olimpiade kimia tingkat provinsi. Salah seorang teman datang untuk meminjam buku, tapi  kutolak dengan halus, Bilang bahwa aku juga membutuhkannya nanti (padahal aku tengah berkutat dengan buku lain). Hasilnya? Hingga pagi hari menjelang olimpiade dimulai, buku yang ingin dipinjam temanku itu belum aku sentuh!

Oh ya, mengenai kasih sayang, tahukah kawan, betapa dahsyatnya kekuatan kasih sayang itu?

Ia mampu menghancurkan prasangka, menyembuhkan luka, dan menyatukan hati.

Ketika seorang ibu menerapkan hukuman pada anak, memanggil anaknya dengan sebutan yang menyakitkan, mengkritik habis-habisan, dan memandang anak dengan pandangan yang menyeramkan, bagaimanakah respon anak?

Ada yang takut, benci, marah, kesal, dan bisa jadi tidak mengakui ibunya, enggan pulang, mencari sumber kasih sayang lain di luar.

Sebaliknya, ketika seorang ibu memberikan perhatian penuh pada anak, memanggil anaknya dengan panggilan sayang, mengatakan hal yang melegakan dan membangkitkan semangat, dan memandang anak dengan pandangan yang menenteramkan, bagaimanakah respon anak?

Merasa bahagia dan beruntung, bukan?

Tidak hanya berlaku antara ibu dan anak, bahkan, pada orang yang awalnya tidak dikenal sekalipun!

Hingga saat ini memoriku masih segar, ketika aku berlari-lari ke gedung jurusan, terancam telat, orang yang tidak kukenal, menawarkan tumpangan. Mataku berbinar, sungguh amat terbantu.

Kelihatannya sederhana, tetapi begitu bermakna. Itulah berbagi..

Sumber gambar: stocksnap.io

Latest posts by Resi Rekha (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Kemajemukan  adalah anugerah dan takdir terindah dari Tuhan untuk bangsa Indonesia. Ini harus kita kelola dengan baik dalam komitmen yang sama sebagai bangsa merdeka untuk kemajuan negeri ini.

Founder Kader Bangsa Fellowship Program @kaderbangsafellowship Dimas Oky Nugroho Ph.D  @dimas_okynugroho mengajak generasi muda Indonesia untuk  turun tangan, ambil bagian  membangun kemajemukan untuk kesejahteraan dengan kerja sama, gotong royong dan kolaborasi. Merdeka !

Dirgahayu Indonesia Merdeka 72 tahun !

Mari sebarkan pesan cinta Indonesia yang majemuk !

#mudakolaborasimerdeka #mudabersatumerdeka #mudakreatifmerdeka #mudakerenmerdeka #hutri72 #indonesiamerdeka72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top