Berbagi Kasih Sayang

Ketika Aku “Tertipu” dengan Sedekah

keajaiban sedekah

TERNYATA SAYA SALAH, NIKMAT SEDEKAH TAK MELULU SOAL RUPIAH! “Kok malah begini? Saya sudah sedekah, bahkan cukup besar menurut ukuran saya. Tetapi, kenapa Allah memberi saya cobaan yang luar biasa beratnya?” cetus seorang teman ketika kami berjumpa.

Saya tersenyum, bukan untuk mengejeknya. Tetapi, karena saya pernah mengalaminya. Bermula beberapa tahun silam ketika saya berjanji ,”Jika saya punya uang banyak saya ingin sedekah dan membantu banyak orang.” Tetapi tahun berlalu dan saya tak pernah punya uang sebanyak yang saya impikan. Bahkan empat tahun terakhir ini saya harus berjuang bagaimana caranya agar tetap bisa menulis dengan nyaman meskipun kondisi keuangan pas-pasan.

Ya, sejak tahun 2012 saya memutuskan untuk tidak lagi bekerja kantoran. Saya memilih bekerja sebagai penulis yang gajinya tidak menentu karena ingin hidup tenang. Tidak diburu-buru untuk melakoni berbagai macam kebohongan yang katanya kecil menurut pimpinan. Tentu saja keputusan itu disayangkan banyak orang. Bagaimana tidak? Pengalaman saya sebagai penulis tak ada seujung kuku jari! Tetapi, saya tak peduli.

Tanpa hirau kanan-kiri saya terjun bebas sebagai penulis lepas. Hasilnya luar biasa! Rejeki saya yang semula jelas, jadi “rog-rog asem” kata orang Jawa. Artinya kadang ada, kadang tidak—berkat naskah yang banyak ditolak. Di lain pihak tabungan saya menurun dengan cepat. Fyuh, tiap kali melongok buku tabungan saya sering mengelap keringat. Saking cemas karena jarang sekali melihat nominalnya bertambah. Bah! Susah bener ya hidup saya?

keajaiban rejeki

sumber : bahasa.aquila-style.com

 

Lha, kalau begitu kapan bisa melaksanakan janji saya, sedekah dan membantu banyak orang? Sampai di titik itu saya menangis pada Tuhan. Saya tidak mengerti kenapa niat baik untuk mendapat rejeki halal rintangannya besar. Saking sebalnya saya sempat bilang ,”Kalau Kau  bikin aku tak punya uang terus macam ini, kapan janjiku bisa kupenuhi?”

Dalam kemarahan itu terngiang pesan guru ngaji saya, Pak Munir. Beliau pernah berkata ,”Sedekah itu tak perlu menunggu kaya. Tersenyum, mendoakan orang diam-diam, atau menyingkirkan duri di jalan juga sedekah. Jadi, mau nunggu apa? Jangan tunda-tunda. Lakukan hal baik sekarang juga.” Kalimat itu melecut saya. Saya jadi terpacu untuk bersedekah sesuai janji saya. Terlebih ketika saya membaca banyak keajaiban sedekah. Pikir saya ,”Semoga dengan sedekah ini hidup saya berubah.” Tapi, tentu saja sekedar tersenyum atau mendoakan orang tak memuaskan saya. Saya ingin menyedekahkan harta saya. Beruntung, dengan kemampuan merajut saya bisa menghasilkan uang.

Dari sana saya mulai menyisihkan sedikit uang yang kemudian saya sedekahkan. Satu hari, saya mampu bersedekah cukup besar. Kurang lebih dua ratus ribu kala itu. Saya girang ketika menyerahkan uang itu kepada yang berhak. Harapan saya melambung tinggi, semoga saja setelah ini rejeki yang mengalir ke kantong saya turun sederas hujan.

Ternyata yang terjadi sebaliknya. Bukan rejeki melimpah, melainkan susah. Rejeki yang saya harapkan tak kunjung datang, bahkan sepertinya semakin jauh dari jangkauan. Sama seperti teman saya, hanya kecewa yang saya rasakan. Saya tidak mengerti kenapa balasan Allah demikian. Bukankah harusnya kalau saya rajin sedekah, rejeki saya kian berlimpah.

Karena itulah berhari-hari saya marah. Sebegitu marahnya saya jadi malas berdoa. Sampai Allah mengirimkan serangkaian kejadian yang membuat mata saya terbuka bahwa nikmat sedekah itu tak hanya rupiah. Tetapi, juga pelajaran-pelajaran berharga yang ujung-ujungnya membentuk seseorang jadi lebih baik dari sebelumnya, seperti berikut ini :

Pelajaran pertama, bersyukur.

Hari itu kekesalan saya memuncak, buntut dari kekecewaan saya pada Allah sebelumnya. Karena kekesalan itu pula, uang sepuluh ribu rupiah yang tinggal satu-satunya di dompet saya berikan kepada seorang Nenek. Bukan karena ikhlas, tapi karena putus asa dan marah pada Allah. Usai menjejalkan uang itu ke tangan renta sang Nenek, saya beranjak pulang. Tetapi, wanita itu mencegah saya. Tangannya yang keriput memegang tangan saya sementara ia mengucap terima kasih sambil berdoa. Serangkaian doa panjang yang intinya memohon limpahan rizki, kesehatan, dan hal-hal baik lainnya.

bersyukur

Saya tertegun dan berkaca-kaca. Betapa tidak? Sedekah saya tak seberapa. Itupun diberikan dengan marah pula. Tetapi, saya menerima ucapan terima kasih dan doa luar biasa. Betapa saya tak pantas menerimanya. Setiba di rumah saya merenung dalam keheningan. Ucapan terima kasih dan rangkaian doa wanita tadi menohok saya. Mengingatkan betapa selama ini saya pelit pada sang Pencipta. Sepanjang hidup saya telah banyak menerima anugerah dari-Nya, tetapi ucapan syukur kerap lupa saya lontarkan. Saya merasa anugerah itu sudah seharusnya saya terima, lupa kalau tanpa-Nya semua itu takkan ada.

Seandainya Tuhan marah kerena kejumawaan saya dan mencabut semua anugerahnya, saya bisa apa? Bukankah semesta ini miliknya? Ya, hari itu Allah bukan tidak membalas saya. Ia membalas tetapi bukan dengan limpahan harta, melainkan pelajaran tentang rasa syukur yang saya lupa.

Pelajaran kedua, tidak berputus asa.

Dengan sedikit uang yang saya taruh di amplop saya mendatangi rumah Ibu Ayu (Ayu nama anaknya, nama aslinya kurang saya kenal). Wanita itu adalah janda beranak tiga. Ketika suaminya meninggal karena sengatan listrik, ia tak meninggalkan apa-apa kecuali kemiskinan. Tetapi kenyataan itu tak membuatnya putus harapan. Ia percaya Allah pasti takkan membiarkannya begitu saja. Pasti ada saja rejeki dari Allah untuk ia dan ketiga anaknya. Memang benar, ternyata ada saja orang yang menawarinya pekerjaan. Dari sana akhirnya ia berlabuh di sebuah laundry. Di tempat itulah ia bekerja sebagai buruh cuci dan setrika dengan gaji sekitar tujuh ratus ribu sebulan. Kecil sekali bukan? Tetapi, sekali lagi dengan uang yang kecil itu ia percaya, Allah akan mencukupkannya. Entah bagaimana ada saja bantuan, sehingga ia dan ketiga putrinya tidak kelaparan.

never give up

Ketika hidup mulai tertata, cobaan datang. Tanah tempatnya mendirikan bangunan diminta yang punya tempat di bulan ramadhan. Kata empunya kalau bisa setelah lebaran mereka harus hengkang. Terkejut, pusing, sedih, bingung, dan beragam campuran perasaan lain campur aduk. Kemana harus pergi? Ia tak memiliki sepeser uang pun untuk mencari rumah sewaan, bahkan yang paling buruk sekalipun.

Di tengah kebingungan itu, ia tetap yakin bahwa Allah takkan tinggal diam. Allah pasti akan menunjukkan jalan. Ia benar. Begitu mengetahui kondisinya, semua warga disekitar tempat tinggalnya justru bergotong royong memberi bantuan. Ada yang menyediakan tanah untuk tempatnya mendirikan rumah, sementara lainnya bergantian secara sukarela membangun tempat tinggal dari batako untuknya.

Selama rumah dibangun, ia numpang di emperan rumah tetangga dengan terpal sebagai sekat penahan dingin dan tempias air hujan. Tak jarang air turut masuk ketika hujan teramat lebat, seperti tercurah dari langit. Tetapi, Ibu Ayu tetap bersabar. Bahkan ketika anak-anaknya mengeluh atas keadaan yang mereka alami kala itu.

Kesabarannya berbuah manis. Tepat di bulan Haji, ia pindah ke rumah baru. Mendengar kisah tersebut, saya menghela napas. Ada rasa malu menelusup di hati saya. Saya terlampau sering berputus asa, bahkan untuk cobaan-cobaan biasa. Betapa lemahnya saya!

Pelajaran ketiga, Allah takkan mencoba manusia di luar kemampuannya.

Hari itu saya berkeinginan menemui Ti, teman saya, sembari membawa amplop berisi uang. Isinya seperti bentuk amplopnya—kecil, tidak berarti banyak. Sama seperti sedekah sebelumnya yang pernah saya berikan pada Ti, yang notabene mualaf. Ya, teman saya ini memeluk agama Islam setelah menikah dengan suaminya. Malang, suami yang diharapkan bisa menjadi imam malah membawa keburukan. Tabiat buruk—gemar memukul, marah-marah, dan berkata kasar—kerap diperlihatkan terutama semenjak usahanya jatuh.

Sebegitu buruk perlakuan suami, Ti pun tidak tahan. Agar terbebas dari penderitaan, ia memutuskan  mengakhiri hidup. Syukurlah Allah sangat sayang, ia selalu selamat meski berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Terakhir kali, seseorang penolongnya berkata “Allah takkan mencoba manusia diluar kemampuannya”. Kalimat itu mengubah Ti. Ti bangkit, menyongsong hari-harinya dengan optimisme.

cobaan hidup

Pekerjaan kecil sebagai penjual kue keliling turut menyumbang kebaikan bagi dirinya. Merasa bisa menghasilkan sedikit uang dan membantu suami mencari nafkah membuatnya percaya diri. Meski begitu hidup Ti tak lantas membaik seketika. Hidup masih begitu berat untuknya. Suami masih sama sikapnya. Sementara perekonomian keluarga masih jalan di tempat. Padahal anak-anaknya butuh makan, butuh sekolah, butuh jajan, dan sebagainya. Sementara gaji suaminya sebagai buruh serabutan tak bisa diharapkan.

Banyak orang menawarkan bantuan, hanya masalahnya ia harus kembali ke agama lama. Itu yang ia tak bisa. Ti bersikukuh dengan keputusannya. Baginya agama bukan mainan, bisa ditukar-tukar dengan uang atau barang jika perutnya lapar. Demi agama ini ia telah menempuh beragam cobaan, masa demi kenyamanan hidup ia harus melepaskan begitu saja? Ti, dengan segala keterbatasannya tetap bertahan. Ia percaya, setiap orang yang hendak naik kelas pasti harus melewati cobaan. Karena keyakinan itu ia terus berusaha.

Setelah menjajakan kue ia menjadi tukang cuci baju, cuci piring, tukang pijit, apapun yang disuruh orang agar bisa mendapat uang tambahan. Ia tak peduli meski bagi orang pekerjaannya itu dianggap hina, sepele, atau rendah. Yang penting anak-anak bisa sekolah dan makan dengan tenang. Tak jarang saya harus menahan diri untuk tak menangis mendengar kisahnya. Saya tahu, tidak akan sanggup bila bertukar posisi dengan Ti. Bahkan jika ia menyampaikan dengan gaya bercanda, seperti hari itu.

Hari ketika saya selipkan amplop ditangannya. Ketika saya hendak pergi, tiba-tiba dia menyorongkan mie dan nasi goreng jualannya. “Buatmu,” katanya. Saya menolak, tapi ia memaksa. Setiba di rumah rasa trenyuh muncul waktu memakannya. Bagi saya itu mie dan nasgor paling mahal, karena bersamanya Allah mengajari saya pelajaran paling berharga—betapa saya harus yakin bahwa cobaan-Nya takkan melebihi kemampuan sang hamba. Segala kesulitan yang saya alami sesungguhnya bentuk cinta Allah pada hamba-Nya, seperti kata Ti pada saya.

Pelajaan keempat, tangguh.

Tak setiap bulan saya bisa memberi sedekah pada Venti, sepupu kecil saya. Hanya kala-kala sewaktu rejeki saya agak berlebih. Itupun nominalnya tidak besar, jika dikurs-kan ke dollar Amerika tak sampai satu dollar. Berbeda dari gadis-gadis kecil lainnya, Venti sudah ditempa dengan hidup yang keras. Ibunya janda yang menumpukan hidup sebagai buruh tani di sawah dengan bayaran kurang dari tiga puluh ribu sehari. Dengan gaji sebesar itu ia membiayai dua orang anak—Venti dan kakaknya, selain seorang Nenek. Diatas kertas uang sebanyak itu tak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Karenanya sang ibu harus bekerja keras mencari tambahan agar semua itu terpenuhi.

semut yang kuat

Sebab itulah Venti tak mau berdiam diri. Ia membantu sebisanya agar tidak terlalu membebani ibu. Sepulang sekolah ia bekerja menjadi tukang bungkus permen. Tidak seberapa, satu kresek satu kilo paling dihargai dua ratus perak. Tetapi, dari rejeki sekecil itu Venti bisa membeli baju sendiri di hari Raya. Jika bajunya seharga seratus ribu, bayangkan betapa banyak jam yang ia habiskan untuk bisa mendapat uang sejumlah itu.

Saat industri permen asam rumahan berhenti berproduksi, Venti beralih jadi pemecah batu di tepi sungai Setail. Di bawah rumah-rumahan bambu beratap rendah, Venti kecil mengayunkan martil besar untuk memecah batu-batu kali sebesar kepalan tangan. Saya pernah mencobanya sekali. Tetapi tidak sanggup setelah ayunan yang pertama. Sungguh, dibutuhkan usaha keras agar seluruh tumpukan batu di belakang punggungnya pecah semua. Bila memecah batu saja sudah berat, proses mencari batu di sungai tak kalah beratnya.

Ia harus rela berbasah-basah di tengah sungai untuk mencari batu hitam. Lalu membawanya ke daratan setelah menaiki tanjakan berjarak lima puluh meter dari bibir sungai. Dan itu dilakukan berulang-ulang hingga batu yang terkumpul cukup. Capai, payah, lelah…apapun nama yang disematkan untuk menggambarkan kondisinya, Venti tak pernah lupa sekolah. Ia selalu punya cara agar tetap bisa belajar di tengah kesibukannya bekerja. Tak main-main gadis kecil itu selalu menduduki peringkat utama di sekolahnya. Benar-benar ia luar biasa. Tangguh, tidak mudah menyerah, apalagi patah walau cobaan berat menghadang.

Berbeda dengan saya. Baru sedikit dicoba sudah mengeluh kecapekan. Bukannya berusaha agar keluar dari kesulitan. Ya, ya…pada akhirnya semua pelajaran itu membuat saya menyadari betapa salah pola pikir saya soal sedekah.

Sedekah bukanlah matematika, yang jawabannya pasti seperti hitungan satu tambah satu sama dengan dua. Sedekah itu juga bukan hubungan antara pembeli dan pedagang, dimana saya bisa semena-mena mengatur Allah untuk mengabulkan seluruh permintaan jika saya “membeli” dengan harga yang pantas. Yaitu dengan banyak-banyak bersedekah. Tetapi, sedekah sesungguhnya itu bentuk syukur pada Allah. Terlepas bagaimana Ia membalasnya.

Jadi teruslah berbagi, apapun caranya. Sebab berbagi dengan cara apa saja—harta, senyuman, perbuatan baik pada orang—itu sesungguhnya membahagiakan. Memberimu rasa penting dan berguna, yang berujung pada munculnya optimisme menghadapi beragam kesulitan di dunia

afin yulia

Afin Yulia
Blogger, crafter, writer
Penulis novel Sweet Sour Love, From Spring to Winter

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Desain website yang menarik memang bikin pengunjung web jadi lebih betah sih, ya 😁 Makanya sebagian orang memilih untuk "bye-bye" saat berkunjung ke web yang desainnya "malesin" alias gak bikin pengunjung nyaman. Kalian gimana? 😀
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #desainweb #layout #website

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top