Indo Blog Net

Kuliner

Kerupuk Melarat yang Tidak Melarat

kerupuk melarat

Kalau ke Cirebon pastilah akan menemukan banyak penjual kerupuk khas Cirebon yang terkenal itu. Kerupuk Melarat. Padahal nama kerupuk melarat ini bukan nama pertama yang diberikan pada kerupuk ini. Dulu namanya kerupuk Mares. Menurut ahli sejarah mares itu berasal dari kata lemah yang artinya tanah dan ngeres yang artinya pasir kasar.

Sekitar tahun 1980 kerupuk ini berubah nama jadi kerupuk melarat. Nama ini diberikan orang kota karena identik dengan simbol orang miskin.

Sejarah Kerupuk Melarat

Kenapa simbolnya orang miskin, karena cara menggorengnya. Menggorengnya dengan cara menggunakan pasir bukan minyak goreng. Dan saat itu kerupuk melarat adalah camilan yang terbuang. Sebetulnya awal ada kerupuk melarat adalah karena imbas dari depresi ekonomi tahun 1920 yang melanda dunia termasuk Indonesia.

Akibatnya masyarakat kesulitan mendapatkan minyak goreng untuk menggoreng kerupuk, dan masyarakat yang kreatif akhirnya mengoreng dengan pasir, ternyata hasilnya jauh lebih enak. Biasanya kerupuk ini dimakan bersama sambal asam atau sambal dage/oncom.

Untuk pasir yang digunakan untuk memasak bukan sembarang pasir loh. Pasir yang digunakan adalah pasir yang berasal dari pegunungan dan sudah melalui proses pengayakan.  Kemudian akan dijemur dalam sinar matahari sehingga menghasilkan pasir yang bersih dan kering.

Barulah dapat digunakan sebagai minyak goreng. Jadi kerupuk ini disangrai dengan pasir sampai matang. Dan kerupuknya diberi warna warni seperti kuning dan merah. Kerupuk ini terbuat dari tepung tapioka. Kerupuk ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masarakat Cirebon. Bahkan kaum pendatang pun sudah sangat dekat dengan kerupuk ini.

Filosofi Kerupuk Melarat

Kerupuk melarat banyak hubungannya dengan filosofi dari kearifan lokal yang ada di sana. Kerupuk melarat digoreng dengan pasir/tanah bukan dengan minyak karena pasir ini menjadi elemen penting. Seperti yang disebutkan “Manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah.”

Ada juga dalam surat Hijr yang berbunyi “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.

Ini artinya secara filosofi manusia Cirebon dan kerupuk melarat loroloroning atunggal. Kemanunggalan lir lemah kalawan susah. Ekspresi sepi ketika kemiskinan dijadikan tunggangan kuda sembrani menuju surga. Itu pula sebabnya, wong Cerbon tiap kali menimbun kerupuk melarat selalu saja ada rintihan megatruh Cerbon Pegot:

”Sun besuk mariya eman/Yen wonten grananing sasi/Srengenge kembar lelima/Lintang alit gumilar sing/Sawiji tan hana urip/Mung sira kelawan isun/Matiya mungging suwarga/Naraka bareng ngleboni/Akir jaman benjang belah kelawan sira.

(Esok, ketika diriku dihentikan kasih sayang/saat gerhana bulan/matahari kembar lima/terhampar bintang bercahaya/tak satupun ada yang hidup/hanya kamu dan aku/wafat menaiki langit-langit surga/andaipun kita masuk neraka/di akhir jaman kelak kita akan saling membelah rasa).

Hal ini akan mengingatkan kita kalau kita juga kelak akan bau tanah. Kalau sudah bau tanah tentu ibadah harus ditingkatkan dengan solat 5 waktu yang rajin, sering merefleksikan diri, merenungi ciptaan Allah. Pada saat menggoreng kerupuk melarat juga punya arti tersendiri dimana mengaduk-aduk kerupuk berlawanan dengan arah jarum jam seperti pada tawaf. Sama seperti umat silam tawafi Kabbah.

Dari kerupuk melarat ini kita banyak belajar. Menjadi diri sendiri bukan di hal yang mewah tapi dari timbunan tanah yang panas dan welas asih Allah. Manusia hanya tetes nista dibanding keberadaan Allah walau manusia sebagai mahkota di alam ini. Akhirnya manusia tak lebih dari kerupuk melarat yang nanti akan dimasuki kantung mayat atau kain kafan dan ditimbun dalam tanah.

Filsofinya dalam banget ya dari kerupuk melarat ini. Banyak pelajaran yang bisa didapat dari kerupuk melarat yang sederhana ini tapi penuh filosofi. Jadi mampirlah  ke kota Cirebon dan nikmati kerupuk melarat sambil merenungkan kembali falsafah yang ada di kerupuk melarat ini.

Sumber gambar: idntimes.com

Hastira

Seorang pengajar penyuka aksara. Suka merangkai kata dalam bentuk puisi dan fiksi. Dan suka dengan dunia anak-anak dengan banyak membuat cerita anak

Latest posts by Hastira (see all)

Bagikan Jika Bermanfaat

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

Instagram has returned invalid data.

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top