Inspirasi

Kekuatan Percaya Meruntuhkan Ketidakmungkinan

Bulik Tin (bukan nama sebenarnya) sudah menikah lebih dari tujuh belas tahun ketika suaminya meninggal dunia. Wanita yang sehari-hari bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga itu jelas berduka. Bagaimana tidak? Bila perkawinan itu ibarat burung, maka ia dan suaminya adalah sayap-sayapnya. Jika salah satu sayap tak ada bagaimana si burung bisa mengangkasa?

Bu Tin limbung menghadapi kenyataan bahwa ia harus hidup seorang diri sekarang. Tanpa pekerjaan dan uang ia harus menghidupi anak-anaknya. Memang si sulung kini tak lagi menjadi tanggunannya. Ia sudah menikah dan tinggal dengan suaminya. Tetapi kedua adiknya? Mereka masih kecil-kecil dan masih butuh perlindungannya.

Dalam kalutnya Bu Tin berusaha tegar. Di setiap doanya ia meminta agar diberi kekuatan melampaui cobaan Tuhan. Bukankah Tuhan tidak akan mencoba ia melebihi kemampuainnya? Begitu pikirnya.

Benar saja meski tertatih-tatih ia bisa menghadapi masalah hidupnya. Dimulai ketika ia mendapatkan pekerjaan di sebuah laundry. Gajinya berkisar Rp 15.000,00-Rp 20.000,00 sehari, tergantung banyak sedikitnya cucian yang masuk ke laundry. Diatas kertas gaji itu tak mencukupi untuk biaya makan, sekolah, dan tetek-bengek lainnya. Tetapi Allah yang kaya mengirimkan bantuan untuknya. Ditempatnya tinggal banyak ternyata anak-anak yatim amat diperhatikan. Sehingga anak-anak Bulik Tin tidak terlantar berkat santunan masyarakat sekitar.

Tetapi ketika kapalnya mulai tenang berlayar di laut kehidupan, badai datang. Di bulan puasa tahun 2013, empunya tanah tempatnya tinggal memintanya untuk segera hengkang. Selambat-lambatnya setelah hari raya. Sebab ia akan membangun rumah diatas tanah tersebut. Bisa dibayangkan betapa sedihnya dan kecewanya Bulik Tin. Ia hampir tak bisa berkata apa-apa selain enggih pada orang tersebut. Baru ketika tiba dirumah ia berani menitikkan air mata.

“Kemana aku harus membawa anak-anakku serta?” ia bertanya-tanya dalam kalutnya.

Meski begitu Bulik Tin tak pernah menceritakan hal itu kepada anak-anaknya. Ia tidak mau menyusahkan mereka. Pikirnya, mereka masih kecil-kecil dan belum waktunya tahu masalah besar yang dihadapi orang tuanya. Tetapi entah bagaimana anak-anak itu tahu juga. Si kecil Bella menangis mengetahui rumah mereka akan digusur. Begitu juga kakaknya.

Ditengah kesedihan itu Bulik Tin justru bersikap menyuruh mereka untuk tegar. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Pasti ada jalan keluar untuk masalah pelik mereka. Tuhan Maha Adil, begitu Bulik Tin meyakini.

Benar saja, ternyata warga disana justru memberi dukungan padanya. Mereka meminta Bulik Tin tak pindah dari sana. Salah seorang warga bahkan memberinya tempat di lahan miliknya. Meski letaknya tepi sungai dan bersebelahan dengan kandang kambing pula. Tak hanya itu, empunya tanah rupanya setuju memberi batas toleransi baru kapan mereka pindah. Jika sebelumnya ia ingin Bulik Tin pergi setelah hari raya Idul Fitri kini berubah. Bulik Tin bisa pindah setelah hari Raya Idul Adha.

Kini dua masalah terpecahkan. Tetapi masalah terbesar masih menggantung di langit-langit hidup Bulik Tin dan anak-anaknya. Untuk membangun rumah di tempat baru butuh biaya. Sedangkan seperserpun ia tak punya. Bulik Tin bingung harus bagaimana. Di saat sepelik ini Pak RT dan seluruh tetangganya bergerak memberi bantuan. Mereka meyakinkan agar Bulik Tin tenang saja. Tak usah memikirkan soal biayanya. Biarlah mereka yang memikirkan semua itu.

Akhir Agustus, Bulik Tin pindah dari rumah yang telah dihuninya sejak lama. Ia menumpang di emperan rumah tetangga sementara sementara rumah baru disiapkan. Disanalah dibangun tempat perlindungan sementara berdinding terpal. Tempatnya berteduh dari dingin dan hujan bulan September. Dalam ceritanya Bulik Tin mengisahkan, tak jarang hujan yang tak diundang itu masuk ke tempat mereka. Membuat basah tempat tidur dan tikarnya. Memang tidak menyenangkan, tapi itu lebih baik ketimbang terlunta-lunta di jalan.

Sekitar dua bulan rumah itu jadi juga. Rumah yang kokoh dengan dinding batako dan berlantai semen halus. Bukannya dari gedeg dan berlantai tanah seperti sebelumnya. Menurut pengakuan Bulik Tin, ia tak mengeluarkan serupiah pun untuk pembangunannya. Semua murni gotong-royong warga. Tak hanya uang tapi juga tenaga mereka sumbangkan untuk Bulik Tin. Sesuatu yang tak mungkin Bulik Tin ganti dengan bermilyar-milyar uang.

Bulik Tin berkata, jika bukan karena Tuhan tak mungkin masalah tersebut terselesaikan. Ia-lah yang mengirimkan pertolongan melewati tangan-tangan para tetangga yang peduli akan nasibnya. “Hanya Tuhan, tempat kita berpaling saat kita tak tahu harus kemana,” ucapnya mengakhiri cerita.

Image source : https://pixabay.com/

 

afin yulia

Afin Yulia
Blogger, crafter, writer
Penulis novel Sweet Sour Love, From Spring to Winter

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Ini Video Versi Layanan Masyarakat untuk Anti Drugs Campaign. Supported BNN dan MB Communication

Kalau temen-temen punya cerita, ide seru dan bikin video masih bisa ikutan lombanya yah. Cek hastag
 #IniCaraGueCegahNarkoba
Teman-teman bisa Minta Tolong Subscribe, Share dan komen yah.

Share boleh di Instagram, twitter dan FB
Linknya :

https://youtu.be/zOCgnf66Hik

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top