Film

Kedigdayaan Wanita dalam Dominasi Patriarki di Film Marlina Drama Empat Babak

Menonton film setaraf kelas festival, artinya untuk diperlombakan di ajang festival-festival film sebenarnya bukan hal baru. Namun, baru kali ini saya menonton film sekelas festival yang membuat jantung saya berdetak kencang sejak film dimulai. Terlebih lagi, ini film Indonesia yang digarap oleh sutradara Indonesia dengan semua pemain orang Indonesia.

Deg-degan karena saya penasaran kejadian apa yang sebenarnya dialami Marlina sebagai perempuan Indonesia yang dikira tidak berdaya, namun justru menjadi digdaya dalam dominasi kaum laki-laki. Saya katakan demikian, karena ia memenggal kepala sang ketua kawanan perampok yang menjarah rumahnya bahkan merenggut kehormatannya. Padahal ia seorang diri, melawan lima orang laki-laki. Bukankah itu sikap paling pengecut dari seorang laki-laki? Dan, sosok Marlina menjadi antitesis dari citra yang melekat pada perempuan dengan kisah-kisah serupa.

Selain itu, saya penasaran nasib apa yang akan menimpa Marlina karena nekad memenggal kepala sang perampok dan menenteng-nentengnya di sepanjang jalan menuju kantor polisi. Padahal ia seorang janda cantik sendirian yang berada di tengah kerasnya rimba padang rumput Sumba yang digambarkan kering dan tandus. Begitulah setidaknya yang saya baca dari berbagai ulasan, lalu saya saksikan sendiri dalam film berdurasi satu setengah jam tersebut.

Dialog-dialog antara Novi dan Marlina yang terkesan lugu namun kocak dan ironis. Jangan harap melihat adegan drama penuh tangisan di film ini. (foto: UniFrance Films)

Sosok Marlina lainnya muncul dalam tokoh Novi, tetangga jauh Marlina yang bunting besar, namun juga tanpa sikap manja dan tanpa rasa takut melintasi padang rumput Sumba seorang diri demi mencari sang suami. Dalam pencariannya itulah ia bertemu Marlina, dan terjadi percakapan yang, jangan dikira, bakal dipenuhi isak tangis. Sebaliknya, para penonton dibuat tertawa dengan lontaran kata-kata yang terdengar polos dari mulut Novi, namun terkesan bahwa perempuan ini sama digdayanya seperti Marlina.

Muncul satu lagi sosok lainnya, seorang nenek yang berpenampilan menor karena hendak menghadiri resepsi pernikahan keponakannya bertemu keduanya dalam perjalanan menuju tempat pesta. Terjadilah dialog-dialog yang membuat tawa penonton semakin meledak, menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan ini justru sebenarnya sangat mandiri dan kuat, malahan cenderung menertawakan kedunguan kaum laki-laki yang tidak bisa lepas dari urusan syahwat.

Marlina, Novi dan sang nenek merupakan sosok-sosok alpha female yang menunjukkan keberdayaan kaum wanita di tengah-tengah derasnya pemberitaan di masyarakat akan hal sebaliknya. KDRT, korban pelecehan, perenggutan kehormatan wanita… berita-berita yang sayangnya justru menjadi santapan masyarakat sehari-hari bagai kudapan yang menggoyangkan lidah, jika tidak ada kudapan tersebut hidup terasa garing.

Film berjudul Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak pun mendapat apresiasi di Festival Film Cannes pada bulan Mei 2017 yang lalu. Sang sutradara, Mouly Surya, juga saya anggap seorang alpha female karena selalu menggambarkan karakter wanita yang kuat dalam setiap film yang dibuatnya. Masih jelas di ingatan saya bagaimana sosok Fitri dan Diana dalam keterbatasannya sebagai penyandang tuna netra di film What They Don’t Talk When They Talk About Love (2013), justru berekspresi secara kreatif melalui imajinasi dan gerak-gerik mereka dalam mengungkapkan rasa sayang kepada laki-laki yang mereka taksir.

Film yang dibintangi Marsha Timothy sebagai pemeran utama, Rita Matu Mona sebagai nenek, dan Dea Panendra sebagai Novi layak menjadi bahan renungan setiap insan perempuan maupun laki-laki di Indonesia. Sudahkah kita menghargai martabat perempuan selayaknya? Dan bagi kaum perempuan, sadarkah bahwa ada kekuatan dalam diri kalian, seburuk-buruknya nasib yang menimpa, namun tetap teguh berjuang dan yakin ada kekuatan Maha Dahsyat di luar sana yang pasti akan membantu? ***

Judul Film: Marlina, The Murderer in Four Acts

Durasi: 1 jam 30 menit

Sutradara: Mouly Surya

Ide Cerita : Garin Nugroho

Tahun rilis: 2017

Pemeran: Marsha Timothy, Dea Panendra, Rita Matu Mona, Egi Fedly, Yoga Pratama

 

 

 

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai Mitra Blogger dan netizen Bandung,

Yang tertarik belajar Food Styling dan Smarthphone Photography bersama Polytron Prime 7 dan food Blogger @foodaffair, jangan lewatkan kesempatan ini 
Gratis acaranya!  plus dapat makan siang dan kesempatan ikutan lomba blog berhadiah uang tunai. 
Buruan daftar ya sobat... Kesempatan terbatas !

Daftar >> http://bit.ly/PolytronBandung

#Breakresistant #Prime7 #ARSC #worskhopfotografi #belajarfoto

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top