Agama

Ke Tanah Suci Selagi Dini

Berkunjung ke tanah suci selagi dini? Pasti nikmat rasanya. Ukuran usia dini memang relatif, tetapi saya menuliskan pada postingan kali ini mengambil kriteria usia dibawah 30 tahun. Kriteria ini berdasarkan rata – rata jamaah yang berkunjung ke tanah suci di era tahun 80- 90an adalah kalangan usia diatas 40 tahun.

Kini, era 2000-an mulai terjadi peningkatan jumlah jamaah berusia muda, dibawah 40 tahun. Bagaimana dan cerita apa yang saya dapat ketika diberi kesempatan ke tanah suci di usia masih 20an? Berdasarkan pengalaman pribadi , berkunjung ke tanah suci bukan hanya “sekedar” ke Mekkah dan Madinah. Mendapatkan keberuntungan dari-NYA untuk melengkapi kunjungan ke tanah suci….yaaa langsung saya tangkap keberuntungan tersebut. Keberuntungan untuk melengkapi kunjungan ke tanah suci tersebut adalah berkunjung ke Yerusalem yang justru merupakan tanah suci bagi 3 umat. Bukankah Rasul pernah mengatakan,”Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada 3 mesjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa.”

Sayangnya kini untuk mendapatkan giliran menunaikan ibadah haji regular diperlukan waktu hingga mencapai 17 tahun di wilayah Jakarta, bahkan Aceh masa tunggunya hingga 21 tahun. Sedangkan haji plus yang biayanya dapat mencapai 100 juta-an memiliki masa tunggu 3 – 7 tahun. Ya Allah, untuk menggapai gelar sarjana dari sebuah universitas ternyata lebih singkat dari pada menggapai gelar haji di masa sekarang. Namun kita harus selalu optimis loh, bahkan yang patut kita ingat bahwa menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban, bagian dari Rukun Islam yang “hanya” 5. Yang mengherankan banyak kalangan muda yang justru “mengutamakan” merayakan pernikahan gemebyar dengan biaya yang melampaui ongkos naik haji. Sungguh, beribadah suci di usia dini adalah keberuntungan dan kebahagiaan yang tiada menandingi. Semoga Sahabat Muslim/Muslimah mendapatkan keberuntungan nan luar biasa ini disaat kesehatan masih baik, terutama selagi belia.

Baiklah, saya akan berbagi cerita  sebagai mahasiswi (ketika itu) yang mendapatkan kehormatan menjadi tamu-NYA di tanah suci.

Cerita Tentang Hajar Aswad (Thawaf) :

Walaupun bukan suatu kewajiban, namun ada keinginan yang kuat di hati  untuk mencium Hajar Aswad. Apalagi yang pernah saya dengar, walaupun bukan kewajiban namun salah satu keutamaan Hajar Aswad adalah batu itu akan memberikan kesaksian bagi orang – orang yang pernah mencium atau menyalaminya dengan benar. Keinginan mencium Hajar Aswad muncul ketika pertama kali melaksanakan ibadah umrah. Awalnya  ikutan berjejal diantara jamaah yang bergerombol rebutan mencium Hajar Aswad. Strategis cerdas sama sekali tidak digunakan ketika itu, yang penting saya bisa mencium Hajar Aswad bagaimanapun caranya. Hal yang sama sekali tidak patut untuk ditiru! Hasilnya???! Dengan sukses ada seorang lelaki Arab yang menarik saya dengan mudahnya. Lah badan saya termasuk imut dibandingkan mereka. Dasar bandel, saya menerabas kerumunan tersebut dan….wajah ini akhirnya berhasil menempel di batu hitam tersebut. Haaarruuummm….leeemmmbbuuuttt…liiicciiiinnnn….bahkan setelah menciumnya saya sempat mengelus dengan tangan, terasa liiicciiin, mengalahkan kelicinan marmer termahal yang pernah saya sentuh.

Apakah setelah berhasil mencium Hajar Aswad lantas keinginan untuk mencium kembali batu hitam itu terpenuhi? Ternyata tidak. Saya semakin berkeinginan mencium Hajar Aswad tersebut. Laksana menikmati sensasi yang menggoda begitu pertama kali berhasil mencium Hajar Aswad. Dan itu menyebabkan saya semakin ingin dan ingin menciumnya. Seakan mencium sesuatu yang kita kasihi. Ah terlalu tinggi jika kita membandingkan ciuman antara sesuatu yang kita kasihi di dunia dengan ‘Satu’ yang kita cintai abadi.

Setelah ciuman pertama itu saya memasang strategi sebaik – baiknya agar dapat memperoleh kesempatan untuk mencium berikutnya. Kali ini saya penuhi rasa cinta di hati, kerinduan seorang hamba yang merindukan dan ingin mengecup sesuatu dari surga yang juga pernah dikecup oleh rasul-Nya dan di rumah-Nya.

Berikutnya saya tak ikut saling menyikut dan menyerobot, bahkan ketika sedang memandang kerumunan jamaah yang bergerombol berebutan mencium Hajar Aswad, penjaga Hajar Aswad itu memanggil . Saya sempat terpana hingga petugas/askar itu memanggil saya berulangkali. Perlahan saya melangkah, tiba – tiba askar tersebut menahan orang – orang yang berebutan mencium Hajar Aswad, kemudian tangan dan pandangannya mempersilakan saya mencium batu hitam tersebut dengan leluasa. Ya Fattaah – Ya Qoobidh – Ya Baasith….Puji syukur kepadamu karena telah Engkau perkenankan hamba mencium Hajar Aswad di rumah-Mu dengan kemudahan.

Dengan aneka strategi yang jauh lebih cerdas dibandingkan ciuman pertama kalinya, Alhamdulillah saya dapat mencium Hajar Aswad sebanyak sembilan kali selama saya melaksanakan ibadah umrah.

Nah karena sudah berhasil mencium-nya saat melaksanakan ibadah umrah itu-lah maka ketika saya pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji keinginan mencium Hajar Aswad tidak terlalu menggebu. Saya berpikir lebih baik memberikan kesempatan kepada orang lain yang belum pernah merasakan bibirnya disentuh oleh keharuman dan kelembutan Hajar Aswad. Apalagi bila musim menjelang atau setelah bulan haji. Pasti jamaah membludak berkali – kali lipat, ditambah lagi wukuf di Arafah-nya jatuh pada hari Jum’at. Untuk thawaf saja perlu perjuangan yang tidak mudah, apalagi mencium Hajar Aswad.

Lucunya, ketika saya sedang thawaf tengah malam di Masjidil Haram ada seorang pria asal Indonesia yang menawari bantuan agar saya dapat mencium Hajar Aswad. Saya menolaknya secara halus. Memang menurut kabar di sekitar Masjidil Haram banyak “calo” yang akan membantu kita untuk mencium Hajar Aswad, setelah berhasil para jamaah membayar ke orang yang telah membukakan jalan hingga berhasil mencium batu tersebut. Ada – ada saja….

Cerita Tentang Antara Syafa dan Marwah (Sa’i)

Makanan favorit saya diantaranya adalah ice cream dan mie bakso (terutama bakso “kampung” khas Indonesia yang dijual di warung atau gerobak dorong). Sejak keberangkatan saya mendengar desas desus ada warung bakso yang sangat terkenal di Mekkah, bahkan warung bakso ini pernah diliput oleh beberapa media di tanah air. Menurut informasi letak warung bakso ini dekat dengan Masjidil Haram. Terkenal dengan nama : “Bakso Mang Udin”.

Ketika melaksanakan ibadah umrah saya belum mengetahui keberadaan warung bakso Mang Udin ini. Ternyata memang warung ini buka hanya di bulan – bulan tertentu, yakni ketika para jamaah Indonesia membludak alias saat musim haji tiba.

Begitu mendengar mengenai keberadaan warung bakso Mang Udin ini saya sudah berencana untuk makan disana apabila waktu makan siang tiba. Alhamdulillah, suatu keberuntungan bahwa saya termasuk orang yang tidak mewajibkan nasi sebagai makanan pokok. Berbeda dengan orang Indonesia lainnya yang merasa belum makan kalau belum makan dengan nasi. Sedangkan saya adalah orang yang senantiasa ingin tertawa melihat kebiasaan orang Indonesia yang memakan mie – seperti soto Mie atau Mie Bakso dicampur dengan nasi.

Makan di warung bakso Mang Udin juga terasa lebih praktis karena saya tidak perlu kembali ke maktab untuk makan siang atau istirahat. Jadi jadwal selama di Mekkah adalah selesai shalat Subuh di Masjidil Haram kami kembali ke maktab, saya mengambil pakaian di laundry service, membeli makanan Indonesia murah meriah di para TKW asal Indonesia yang sudah menanti kami untuk makan pagi di depan maktab. Setelah makan pagi dan mandi pagi saya kembali ke Masjidil Haram untuk shalat Dhuha – sementara jamaah lain memasak, mencuci pakaian dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Ini saya anggap juga sebagai “nilai tambah” karena saya tak perlu memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya untuk suami, mayoritas para jamaah adalah pasangan suami istri. Setelah shalat Dhuha saya melakukan apa saja yang bisa dilakukan di Masjidil Haram, seperti thawaf sunah, shalat Hajat dan membaca atau “nongkrong” di lantai atas Masjidil Haram sambil memandangi orang – orang yang sedang thawaf.

Hal tersebut dilakukan sambil menanti shalat Dzuhur. Usai melaksanakan shalat Dzuhur saya langsung kabur ke Warung Bakso Mang Udin yang terletak di dekat Bukit Marwah. Pokoknya tiada hari tanpa ke warung Bakso Mang Udin, bahkan ketika datang bulan saya tetap ikutan teman – teman se-maktab jika mereka ingin menunaikan ibadah di Masjidil Haram, mereka ke Masjidil Haram dan saya ‘nyangkut’  di warung bakso tersebut. Waktu shalat di Masjidil Haram maka seluruh aktifitas selain shalat harus berhenti, termasuk aktifitas niaga sehingga toko – toko dan warung sekitarnya harus tutup, dan saat warung  bakso Mang Udin tutup saya tetap berada di dalamnya. Mirip anak sekolahan yang kabur dari pelajaran kelas dan nongkrong di  kantin…hehehe…

Salah satu teman sekamar  sampai pernah bergurau,”An, jangan – jangan kalau kamu Sa’i di atas bukit Marwah kamu takbirnya nyebutin Mang Udin….” Aduuuh, nggak segitunyaaa kaallii….Emangnya niat ke tanah suci-nya apa? hehehe…

Di Mekkah tongkrongan makan favorit saya adalah warung Mang Udin, sedangkan kalau di Madinah bagi saya tiada hari tanpa ke Baskin Robbins. Kali ini kedai es krim terkenal asal California USA yang dikembangkan oleh Irvine “Irv” Robbins menjadi sasaran  usai shalat Dhuha di Masjid Nabawi. Saya seringkali diingatkan minum susu untuk menjaga stamina, dan berhubung tak jauh dari Masjid Nabawi ada kedai es krim yang merupakan perusahaan es krim terbesar di dunia…jadilah saya mencari praktisnya. Tunjuk beberapa rasa dan menikmati es krim di sekitar Masjid Nabawi. Sensasinya berbeda sekali antara menikmati es krim ber-merk sama di mall terkenal di Jakarta dengan menikmati es krim ini di bumi Rasulullah. Rasa boleh sama tetapi sensasi jauuuuh berbeda. Ah, tetapi semuanya itu pasti lebih dahsyat menikmati es krim dan susu di surga-Nya.

Masih beragam kisah dari pengalaman menunaikan ibadah umrah dan haji ke tanah suci. Akan saya lanjutkan pada postingan berikutnya jika diizinkan. Bernostalgia tentang Tanah Suci di bulan Dzulhijah, sungguh kenikmatan tiada tara.

Image source: pixabay.com

Anna R Nawaning S

http://odysseygemini.blogspot.com(Kuliner)
http://odysseygemini.blogspot.com (Wisata Indonesia)
http://57odysseygemini.blogspot.com (Lifestyle)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai, haaai smart people 😍 Asyikkk ya weekend! Have fun ya, guys 😄
.
Guys, tau gak sih kamuuu, lebih dari 3,8 milyar orang di seluruh dunia menggunakan internet, dimana jumlahnya meningkat 38 juta orang sejak Januari 2017 😁
.
Kenaikan ini menandakan bahwa penetrasi internet di seluruh dunia mencapai 51%, atau bisa dibilang orang yang pakai internet udah lebih banyak daripada orang yang nggak pakai internet, hihi.. Memang sih, tahun 2017 ini sebenarnya peningkatan jumlah pengguna internet jauh lebih lambat daripada tahun 2016 😆
.
Daaan, dari 3,8 milyar orang pengguna internet di seluruh dunia, 2,9 milyarnya aktif menggunakan media sosial, lho! Wawww 😋 Pastinya kamu termasuk di dalamnya dong, heheee
.
Sumber: youthmanual.com
.
#indoblognet #mbcommunication #internet #survey #sosialmedia #socialnetworking #weekend #saturday #viral

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top