Gaya Hidup

Jangan Takut Polisi!

Usai sholat Subuh Mbah Muslim duduk sejenak di teras mushola. Seperti biasa, Kromo Dingklik dan Cak Ngaderi ikut menemani. Ada saja topik yang mereka obrolkan sambil menunggu datangnya Sang Surya. Yang tidak biasa pagi ini adalah hadirnya Inspektur Palguna, seorang perwira polisi yang baru pindah ke kampung Mbah Muslim. Kabarnya dia akan bertugas di Polsek.

“Tadi pagi keponakan saya nyruduk pohon, Mbah. Sepeda motornya ringsek. Untung keponakan saya selamat,” Cak Ngaderi membuka percakapan dengan berita laka lalin tunggal.

“Keponakanmu pasti ngebut,” timpal Kromo Dingklik.

“Kok tahu?”

“Buah kan nggak jatuh jauh dari pohonnya. Kelakuan keponakan pasti nyaris sama dengan Pakliknya”. Kromo Dingklik memang hobi ber-negatif thinking. Sering nyletuk sembarangan tanpa memikirkan perasaan orang lain.

“Jangan nuduh donk. Keponakan saya memang mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan agak tinggi, tapi tidak ngebut”. Mbah Muslim tersenyum mendengar jurus ngeyel Cak Ngaderi.

“Memang keponakanmu sedang mengejar apa, Ri?”

“Keponakan saya takut polisi yang sedang mengadakan sweeping di jalan raya. Rasa takutnya itu menyebabkan dia sembrono”.

“Lho, ada polisi sweeping saja kok takut”.

“Lha iyalah, Mbah. Keponakan saya kebetulan tidak memakai helm pengaman. Daripada berurusan dengan polisi maka dia memilih berbalik arah dengan cepat. Eh, lepas dari tangan polisi malah diterima pohon”.

“Nah itu dia. Orang yang takut kepada polisi biasanya karena ada masalah dengan dirinya,” Kromo Dingklik malah manas-manasi sahabatnya. Inspektur Palguna tersenyum. “Pengendara sepeda motor yang tidak disiplin memang lebih takut kepada polisi daripada takut kepalanya cedera karena tidak memakai helm pengaman,” ujarnya. “Itulah sebabnya di jalan raya kami pasang banner, berbunyi: “Taati peraturan lalu lintas tanpa kehadiran petugas”.

“Apa yang dikatakan Inspektur Palguna itu benar adanya,” kata Mbah Muslim sambil melepas kopiahnya. “Saya sering melihat siaran televisi yang memperlihatkan pengemudi dan pengendara kendaraan bermotor yang tidak disiplin. Ada beberapa ABG yang justru mengendarai sepeda motor tanpa helm sambil tertawa-tawa. Lucunya, tertawa mereka berganti menjadi tangisan setelah diberhentikan oleh polisi lalu lintas yang sedang melakukan operasi di jalan raya. Tampaknya mereka ketakutan, takut jika ditilang dan dilaporkan kepada orangtuanya”.

“Mengendarai sepeda motor di jalan raya tanpa memakai helm pengaman merupakan pelanggaran yang didemonstrasikan,” sahut Kromo Dingklik.

“Maksudnya?” tanya Cak Ngaderi.

“Kalau kamu nggak bawa SIM atau STNK kan nggak ada orang yang tahu. Setelah dilakukan oleh pemeriksaan oleh polantas baru ketahuan. Tetapi kalau nggak pakai helm pasti semua mata melihatnya. Itu kan sama saja ngenyek polisi”. Tumben Kromo Dingklik agak tajam analisisnya.

“Orang yang merasa dirinya salah memang dibayang-bayangi rasa was-was dan takut. Seorang pencuri misalnya akan segera bersembunyi jika mendengar suara sirene. Dia mengira yang lewat adalah patroli polisi. Padahal itu mobil ambulans yang akan mengantar orang sakit”. Kromo Dingklik tertawa ngakak. “Masyarakat tak perlu takut kepada polisi. Walau ada satu peleton polantas melakukan razia, tetapi jika surat-surat lengkap dan kendaraan memenuhi syarat maka dia seharusnya tenang-tenang saja,” lanjut Inspektur Palguna. “Yang kami harapkan seluruh anggota masyarakat justru bisa bersahabat dengan polisi. Bukankah tugas polisi adalah melayani dan mengayomi warga. Nah dalam rangka menjalankan tugasnya itu polisi memerlukan bantuan dari warga”.

“Istilah kerennya, masyarakat hendaknya bisa menjadi mata dan telinga polisi,” jelas Mbah Muslim. “Apa yang dilihat dan didengar tentang situasi kamtibmas bisa diinformasikan kepada petugas. Ibarat kata, polisi dan rakyat itu seperti ikan dengan air”.

“Betul, Mbah. Jumlah personil polisi kan masih belum sebanding dengan jumlah penduduk. Oleh karena itu kami mengharapkan uluran tangan dari masyarakat”. Kromo Dingklik dan Cak Ngaderi manggut-manggut, mulai memahami betapa pentingnya peran serta anggota masyarakat.

“Apakah itu berarti kami harus ikut patroli polisi dan menangani penjahat?” tanya Cak Ngaderi yang pernah gagal mengikuti ujian masuk Secaba Polri.

“Tidak selalu harus begitu. Jika warga melihat suatu peristiwa kejahatan, maka mereka bisa segera memberitahukan kepada aparat kepolisian terdekat. Warga memang boleh langsung melakukan penangkapan kepada tersangka, tetapi harus secepatnya menyerahkan pelakunya kepada polisi. Jangan malah main hakim sendiri”.

“Apalagi sarana komunikasi juga sudah bagus sehingga warga dapat menginformasikan situasi di lingkungan masing-masing melalui sms, telepon, atau sharing di media sosial,” tambah Mbah Muslim.

“Benar sekali. Kini juga ada netizen yang bisa menyuarakan aspirasi, pendapat, atau opininya melalui internet. Dikaitkan dengan tugas polisi, maka netizen bisa membantu polisi dalam melakukan pencegahan kejahatan”. Inspektur Palguna mengacungkan dua jempolnya.

“Saya juga beberapa kali menginformasikan melalui Twitter tentang terjadinya peristiwa kebakaran. Informasi itu kemudian di retweet oleh teman-teman yang lain. Dalam waktu sekejap aparat kepolisian dan satuan pemadam kebakaran sudah meluncur ke TKP”.

“D mobil polisi sekarang juga sudah dicantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi warga, Mbah. Jika terjadi sesuatu yang menimpa dirinya atau orang lain maka warga bisa telepon ke nomor tersebut. Bisa juga call ke nomor darurat polisi yaitu 110. Namun jangan menggunakan nomor darurat ini bercanda atau main-main”.

“Kayaknya kita harus mengakhiri obrolan nih. Mbah Muslim berdiri sambil menyalami Inspektur Palguna. “Selamat merayakan Hari Bhayangkara, Inspektur. Semoga Polri semakin profesional, berdisiplin tinggi, dan dicintai rakyat. Aamiin”.

“Aamiin, terima kasih, Mbah. Kami mohon bantuannya agar rakyat tidak takut kepada polisi tetapi sebaliknya memberikan dukungan positif kepada kami”.

Image source: pixabay.com

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan [email protected]

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top