Agama

Jangan Jadikan Puasa Hanya Sekadar Ritual Tahunan

Ramadhan telah berjalan beberapa hari. Bulan istimewa ini memang menjadi saat yang dinanti umat Islam seluruh dunia. Bulan berlimpah ampunan, pahala dan segala kebaikan dinilai Allah dengan ganjaran berlipat ganda. Bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa bahkan anak kecil yang belum baligh pun mulai diajarkan untuk berpuasa agar terbiasa dan tidak merasa tersiksa jika kelak kewajiban berpuasa datang kepadanya. Kita mengajarkan anak berpuasa, tetapi apakah kita benar-benar telah berpuasa?

Berpuasa ditinjau dari segi bahasa berarti mencegah diri, menahan diri atau menjauhkan diri dari sesuatu. Dalam bahasa Arab puasa disebut sebagai shaum atau shiyam. Jika dilihat menurut kajian fiqih, berpuasa adalah bentuk ibadah yang berupa tindakan menjauhkan diri dari makan, minum dan hubungan suami-istri mulai dari terbit fajar shodiq (waktu Subuh) hingga saat matahari terbenam (saat Maghrib) yang dilakukan dengan niat dan mencari tujuan tertentu. Ditelaah dari mazhab manapun ulama sepakat bahwa inti dari berpuasa secara fiqih adalah menahan diri dari tiga hal tersebut.

Namun dikaji dari segi hakekat puasa itu sendiri, banyak hal yang selayaknya dikaji kembali. Seperti makna puasa sebenarnya: menahan, budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun mengemukakan bahwa puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan. Puasa bisa disebut sebagai langkah pengendalian di tengah tradisi melampiaskan. Duniawi yang dikuasai industri, ekonomi dan sifat konsumtif menggoda manusia untuk melampiaskan, sedangkan puasa dalam agama mengajak manusia untuk menahan sekaligus mengendalikan. Jika kita berpikir kembali, sebenarnya berpuasa itu tidak hanya ibadah umat Islam. Umat-umat agama lainnya pun mengenal ritual berpuasa untuk mengendalikan diri.

Ulasan Cak Nun ini membuat saya berpikir kembali. Benarkah kita sudah benar-benar berpuasa? Benarlah jika ketika saat Subuh hingga Maghrib kita menahan hawa nafsu demi kewajiban sesuai fiqih, tetapi sudahkah kita memahami hakekat puasa ketika melampiaskan secara gila-gilaan apa yang tertahan saat datang waktu berbuka? Contoh paling nyata saat berpuasa kita (atau saya?) biasa bingung memutar otak menyiapkan menu berbuka. “Ih pengen makan puding nanti pas berbuka”, “pisang goreng hangat dan segelas es teh pas banget buat menu pembuka”, “cap cay atau penyetan nih cocok jadi menu utamanya.” Pikiran-pikiran semacam itu tak terasa menyita sebagian waktu. Maka adegan lapar mata pun dimulai dengan mengumpulkan menu takjil dari A sampai Z. Belum lagi “pasukan” saya di rumah seringnya makan lagi usai Sholat Tarawih. Saya khawatir bahwa pada akhirnya berpuasa hanya sekedar menggeser waktu jam makan. Seperti cuplikan puisi KH Mustofa Bisri:

Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat,
tanpa menggeser acara buat syahwat,
ketika datang lapar atau haus,
Kita pun manggut manggut ..oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.

Memang tidak ada larangan untuk melampiaskan yang ditahan selama waktu berbuka. Namun jika pelampiasannya berlebihan, maka hakikat berpuasa itu sendiri hilang tak berbekas. Puasa Ramadhan seolah tinggal ritual tahunan: menahan hawa nafsu, perbanyak ibadah lalu mendapat ampunan dari Sang Maha Kuasa. Yakinkah ampunan dosa tersebut berhak kita dapatkan dengan segala perilaku dan amalan kita selama Ramadhan? Bukankah masuk surga atau tidaknya seseorang pun tergantung pada ridha Allah, Sang Pemilik Kehidupan?

Pixabay
Gambar dari: https://pixabay.com

Rasulullah pernah bersabda:

Tidaklah seorang anak Adam mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya sendiri, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya, jikapun ingin berbuat lebih, maka sepertiga untuk makanan dan sepertiga untuk minum dan sepertiga lagi untuk nafasnya.
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Karena puasa pada hakikatnya adalah menahan maka sudah selayaknya ketika berbuka kita pun tetap mengikuti sunnah Rasulullah untuk tidak makan dan minum berlebihan. Insya Allah dengan memahami hakikat berpuasa maka akan terbawa pada perilaku kita sehari-hari selepas Ramadhan, termasuk perilaku berbelanja kebutuhan hidup sehari-hari. Tak ada salahnya mereview kembali perilaku puasa kita dalam beberapa hari ini agar kita tidak gagal dalam menjalankan puasa Ramadhan sesuai yang Allah inginkan.

 

 

Editor: Indoblognet

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hellooo, sahabat Indoblognet πŸ˜‰ Kamis manis nih, yuk perbanyak optimis 😍
.
Bagi seorang pebisnis atau penjual, memiliki banyak konsumen tentunya adalah hal yang sangat penting, ya 😁 Masalahnya konsumen gak akan datang sendiri tanpa dijemput, artinya penjual perlu melakukan berbagai cara untuk menarik konsumen πŸ˜„
.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh penjual adalah dengan menerapkan konten marketing. Dengan konten marketing, kamu menarik perhatian konsumen dengan konten-konten berkualitas, menarik, dan disukai konsumen 😍
.
#instagram #indoblognet #mbcommunication #thursday #instadaily #followme #business #tips #viral

Follow Me

Copyright Β© 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top