Agama

Jadikan Kerja Kerasmu Mencari Nafkah Sebagai Penghapus Dosa

Pedagang sayur

Beberapa hari yang lalu saya menonton sinetron di sebuah stasiun televisi. Di sana dikisahkan seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya. Karena laki-laki tersebut tidak bekerja, maka dia bersama dua anaknya tinggal bersama ibunya yang janda. Sang ibu akhirnya kewalahan menghidupi anak dan cucunya. Setiap ibunya minta uang belanja, laki-laki itu tidak bisa memberikannya karena memang dia pengangguran. Akhirnya laki-laki itu menikahi seorang wanita. Bukan untuk membina mahligai yang bahagia, namun dengan tujuan agar ada yang merawatnya bersama kedua anaknya. Endingnya bisa diduga, perempuan itu memutuskan bercerai dari laki-laki yang tetap tidak mau bekerja itu.

Mencari nafkah pada umumnya dilakukan oleh kaum pria. Pekerjaan itu dilakukan untuk keperluannya sendiri, membantu menafkahi orangtua atau untuk mencukupi kebutuhan keluarga apabila dia sudah menikah. Dalam perkembangannya, bekerja untuk mencari nafkah juga dilakukan oleh kaum wanita. Ini juga dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sendiri, membantu orangtua atau suami tercinta. Sah-sah saja kaum wanita ikut meringankan beban keluarga.

Suami memang bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga yaitu istri dan anak-anaknya. Dalam Islam, bekerja keras mencari nafkah ini termasuk bagian dari jihad. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: ”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang di jalan Allah ‘Azza Wa Jalla”. [HR. Ahmad]

Mencari nafkah tentu harus dilakukan dengan baik dan benar. Menjemput rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tak boleh menabrak larangan-Nya. Tak akan barokah jika memberi makan kepada anak istri dari hasil perbuatan yang melanggar hukum Allah. Tak pantas seorang kepala keluarga mengaliri darah keluarganya dengan barang yang diperoleh secara tidak halal. “Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rezeki yang halal”. Demikian sabda Rasulullah shallalhu alaihi wassalam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Dailami.

Penghapus dosa

Bekerja keras untuk mencari nafkah yang halal juga bisa menghapus dosa manusia. Mari kita simak hadits berikut ini.

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah” [HR. Bukhari]

Allah subhanahu wa Ta’ala juga akan mengampuni hamba-Nya yang bekerja keras di waktu sore maupun malam. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang artinya, “Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. [HR. Thabrani dan lbnu Abbas]. Pada hadits yang lainnya beliau bersabda: “Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rezeki yang halal, malam itu ia diampuni”. [HR. Ibnu Asakir dari Anas].

Sejak saya mengenalnya, tetangga saya adalah seorang pekerja keras. Sebagai petani dia tahu benar bahwa agar sawahnya menghasilkan padi yang bagus maka dia harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Dia sudah berangkat ke sawah pada pagi hari, setelah sholat Dzuhur , makan, dan istirahat sejenak maka dia kembali lagi ke sawah pada sore hari. Menyiapkan sawah, bibit, menanam, menyiangi rumput, dan memupuk serta mengairi sawah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tentu dibantu oleh para petani penggarap yaitu tetangga kiri dan kanan rumahnya. Dengan kesungguhannya itu hasil sawahnya sangat menggembirakan. Untuk memberi makan keluarga, membeli pakaian, dan membiayai pendidikan anak-anaknya dia hanya mengandalkan hasil sawahnya.

Kaum muslimin mungkin banyak yang membaca kisah seorang pekerja keras yang badannya menjadi hitam karena bekerja di tengah panas terik matahari. Tangannya juga menjadi kasar. Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  baru tiba dari perang Tabuk, Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar”.

Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’. Demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengapresiasi laki-laki yang bekerja keras untuk menafkahi keluarganya.

Bagaimana dengan mereka yang mencari nafkah dengan jalan meminta-minta? Tak dapat dipungkiri bahwa tak sedikit muslimin yang kerjanya minta-minta di jalanan. Sayangnya, mereka ini bukan hanya dari golongan orang yang lemah, catat tubuh atau tua renta. Laki-laki atau perempuan yang masih muda dan sehat badannya juga seringkali dijumpai di jalan raya.

Dalam ajaran islam memang ada golongan tertentu yang diperbolehkan meminta-minta. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Sahabat Qabishah bin Mukhariq al-Hilali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Qabiishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”. [Shahîh. HR Muslim (no. 1044), Abu Dâwud (no. 1640), Ahmad (III/477, V/60), an-Nasâ`i]

Mencari nafkah dengan bekerja keras memang lebih utama daripada mengemis atau meminta-minta. Beberapa dalil menyebutkan bahwa meminta-minta itu tidak baik dan tidak bermartabat. “Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”.[Muttafaqun ‘alaihi. HR al-Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103))]

Zaman sekarang minta-minta juga ada yang sampai menggunakan tipu daya misalnya pura-pura kakinya buntung untuk memperoleh belas kasihan dari orang lain. Na’udzubilahi min dzalik.

Dalam bekerja untuk mencari nafkah juga dilarang melakukan kecurangan, riba, dan perbuatan negatif lainnya. Mendapatkan uang dengan cara mencopet, menjambret, merampok, mencuri, melacurkan diri, dan korupsi selain bertentangan dengan hukum positif yag dikeluarkan oleh negara, juga akan mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pendek kata, lebih baik menjual martabak untuk mendapatkan martabat daripada menjual martabat untuk mendapatkan martabak.

Editor : Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan [email protected]

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Nahhh, buat para Mommy nih ya, si kecil sekarang udah pinter main internet, pinter ber-sosmed, pinter minta beliin hape model terbaru, hehe. Ya kaaan? Ya, inilah efek dari semakin canggihnya teknologi. Tapi..selama para orangtua punya kontrol dan pemberian edukasi yang baik untuk anak mengenai internet, don't worry kok 😀😀😀
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #internet #edukasiinternet #teknologi #trendingpost #popularpost #brandingcontent #consultantbranding #creativeorganizer #bloggerempowering

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top