Fashion

Interview With Lenny Agustin: “Designer dan Dress Maker itu beda,lho..”

 

Sore itu, tepatnya dua bulan lalu, disebuah kafe di kawasan Jakarta Pusat, gue bertemu dengan seorang designer Indonesia, Lenny Agustin. Pertemuan dengan perempuan bertubuh mungil ini ternyata cukup seru. Selain ramah dan murah senyum, dia juga senang bercerita tanpa basa-basi. Meski baru bertemu, dia mau menceritakan hal-hal yang seharusnya tidak gue faham akhirnya menjadi faham.

Seperti menjamurnya artis-artis yang berubah haluan menjadi designer. Sementara dikalangan designer menganggap artiis-artis yang ngaku-ngaku sebagai designer itu adalah “bukan” seorang designer. juga tentang ide sketsa ranjangannya yang hampir sama dengan rancangan seorangd esigner kelas dunia. Intinya, sore itu obrolan santai kami cukup seru dan sangat personal.

Obrolan dimulai dengan secara tiba-tiba Lenny menunjukkan beberapa foto sebuah sketsa ide rancangan terbarunya dari smartphonenya. Ide tersebut akan diperagakan di Jakarta Fashion Week (baru-baru ini). Sketsa bergambarkan “kuda lumping” merupakan ide terbaru untuk rancangan bajunya yang ter gress. Tapi, yang membuat Lenny dilematis adalah, ternyata ide tersebut hampir mirip dengan ide rancangan seorang perancang kelas dunia yaitu Valentino.

“Lihat ini mas, kok bisa ya, ide rancanganku dan ide rancangan Valentino hampir sama. Aku takut nanti dikira orang aku menciplak ide dia. Padahal, ide ini sudah lama ada jauh sebelum Valentino mengeluarkan rancangan terbarunya.” tutur ibu 3 anak ini gelisah. Kegelisahan itu masuk diakal. Karena di dunia perancang sendiri banyak yang menciplak atau meniru ide rancangan designer lain. Sehingga sering menjadi bahan gunjingan dikalangan designer.

Meski tidak sama persis, karena Valentino terinsipirasi dari seekor Macan, sedangkan Lenny terinspirasi dari Kuda lumping. Hanya saja, bentuknya hampir sama persis yaitu mengambil bagian badan ke bagian kepala. Setelah diberi keyakinan kalau rancangannya tidak sama persis, akhirnya Lenny pun sedikit lega. Dan Hasil rancangannya Anda bisa lihat pada gambar-gambar yang terlampir. Rancangan tersebut baru saja di keluarkan pada ajang JFW 2016 ini. Seperti ciri khas setiap rancangan Lenny yang selalu colourful dan berani tampil beda. Dan, semua berbahan dasar batik.

screen-shot-2016-10-26-at-1-06-16-pm

Puas curcol tentang sketsa rancangannya yang “kembar”, obrolan kami pun beralih ke masalah menjamurnya artis-artis menjadi designer. Tapi, ternyata, bagi kalangan designer sendiri, mereka itu belum layak disebut sebagai designer melainkan dress maker.

“Mereka kok bangga ya menyebut dirinya designer. Sementara untuk menjadi seorang designer itu tidak gampang lho. butuh waktu dan dedikasi serta perjuangan yang cukup berat untuk diakui sebagai seorang designer.” ucap Lenny sambil menyerut kopi panas yang baru disuguhkan di meja kami. “Aku saja, untuk menjadi designer butuh waktu yang cukup lama. Butuh sekolah, belajar membuat ide, membuat pola, membuat macam-macam deh. Jadi jangan mentang-mentang bisa gambar baju langsung disebut designer. Tidak!” lanjutnya.

screen-shot-2016-10-26-at-1-04-17-pm

Kalau bukan designer, mereka masuk ke dalam kategori apa dong? Tanya gue. “Mereka masih masuk ke dalam kategori dress maker. Karena mereka bisa membuat baju tapi mereka belum bisa disebut designer. Karena dress maker dan designer itu beda lho.”terangnya. Hmmm… gue baru ngeh! kalau designer itu tidak sama dengan dress maker. Bahkan, seorang designer berbadan besar dengan ciri khas “ngondek”-nya itu pun dianggap para designer Indonesia bukan seorang designer.

“Dia itu bukan designer lho. Dia dress maker. Dia bisa membuat baju atau gaun yang indah dan bagus. Tapi, ingat, dia bukan designer.” jelasnya lagi. Bahkan di “designer” itu sendiri mengakui kalau dirinya dress maker. Hanya saja khalayak ramai terlanjur menyebutnya sebagai designer. Ya sudahlah.. kebablasan.

Selain itu, Lenny juga ragu dengan menjamurnya para “designer” karbitan yang begitu banyak bermunculan. “aku khawatir saja kalau mereka hijrah ke dunia fashion hanya sebagai pelarian saja. Ya, mungkin saja lagi sepi job sebagai bintang sinetron sehingga mereka berlomba-lomba menjadi perancang baju.” katanya lagi. “Biasanya orang yang suka berubah-ubah profesi bakalan tidak pernal long lasting. Karena mereka menekuni profesi barunya tidak sepenuh hati. Ntar kalau sepi ya bisa saja mereka alih profesi lagi.” lanjutnya.

Bahkan Lenny yakin, sering berjalannya waktu, para “designer” karbitan itu akan tumbang satu persatu. “Karena persaingan di dunia designer itu berat lho. KAlau tidak siap mental dan modal ya siap-siap saja tumbang.” tegasnya.

“Kita lihat saja nanti.” kata Lenny smabil mengakhiri obrolan.

Thank you for the time, Lenny and I’m so happy talk to you. Karena banyak cerita-cerita yang selama ini tidak gue fahami akhirnya menjadi faham. Hmm.. ternyata dunia fashion itu sama seperti dunia politik lho. Saling sikut dan persaingannya begitu kencang. Kalau tidak siap mental ya siap-siap angkat kaki lagi.

Very Barus

Seorang penulis buku, blogger, fotografer dan Videografer. Menyukai dunia traveling dan adventure. Telah menjelajahi beberapa daerah dan negara di Asia. Mendaki beberapa gunung di indonesia Dan sangat menyayangi dan melindungi binatang dan tangan-tangan jahil manusia.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • @Regrann from @scoty_and -  Alhamdulillah dapat cashback 1 juta dari @cgv.id
@ifisinema
Dan @mygenerationfilm salah satu dari 50 orang loh. --------.
Memang salut dengan mbak @upirocks sebagai sutradara, semua pandangan negatif orang - orang mulai dari cover hingga trailer film terbantahkan dengan menonton langsung @mygenerationfilm
.
Film besutan @ifisinema dan ditayangkan @CGV.ID Transmart Pekanbaru ini memang layak ditonton. Semua yg diungkapkan melalui film ini..
nyata. Potret kehidupan, tingkah laku anak muda zaman now memang berbeda dari zaman saya dulu. Lebih kompleks lebih hati - hati.
.
Selain itu film ini juga mengajarkan orang tua untuk lebih memperhatikan anak anaknya. Orang tua yang terlalu sibuk bekerja, terlalu memaksakan kehendak pada anak hingga kecurigaan yg tak ada habisnya. Semua di rangkum dalam film ini.

Bahkan di film ini, sisi persahabatannya lebih erat. Lebih lekat..
Pesan moral yg tentu saja sangat baik. Semua ada sebab dan akibat.
.
Walau saya belum memiliki momongan, namun film ini mampu memberikan pencerahan dalam menyingkapi membesarkan dan mendidik anak nanti. Sehingga bisa lebih baik dan lebih bahagia. Yap.. mencegah lebih baik dari pada mengobati.
.
Jadi saya sarankan kamu nonton film #mygenerationfilm ini agar setidaknya kamu bisa paham bahwa seorang anak juga ingin didengar pendapatnya. Btw film ini ada bagian lucunya jg haha, dan yg lebih lucu.. saya sendiri kayanya yg berumur diatas 30 di studio tadi. Lainnya anak muda semua.

#MyGenerationCGV50juta #SeruBarengCGV #yuknontonsatusekolah #cgvtransmartpekanbaru  #myGeneration #cgvpekanbaru

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top