Hobi

Ingin Menerbitkan Buku? Mulailah dengan Menulis Diary

Selama dinas di lingkungan militer, saya sudah mengunjungi 21 negara yang terletak di 5 benua. Jika perjalanan itu saya tulis mungkin akan menjadi buku traveling yang cukup tebal, menarik, dan bermanfaat. Sayangnya saya tidak mempunyai catatan yang rinci tentang kegiatan tersebut. Ketika berkunjung ke Roma misalnya, saya tak mencatat nama tempat saat saya dan Mas Heru melempar koin di sebuah kolam yang ada patungnya. Demikian pula ketika saya mengunjungi museum club sepakbola Barcelona. Saya dan teman hanya asyik potret-memotret tanpa mencatat nama tempat dan alam rincinya. Maklum kala itu saya belum menjadi blogger.

Sesungguhnya saya menyesal tidak mempunyai diary dan mengisinya dengan catatan harian tentang apa yang saya lihat, dengar, dan saya alami. Karena kealpaan itulah maka semua kegiatan dan peristiwa masa lalu hanya tinggal kenangan yang samar-samar. Coba jika sejak saya mulai bisa membaca dan menulis sudah memiliki diary tentu keadaannya akan menjadi lain. Saya tentu sudah bisa menulis dan menerbitkan puluhan atau bahkan ratusan buku. Paling tidak saya bisa menabung  honor dari hasil mengirimkan artikel ke berbagai media.

Saya memang sudah mengenal diary atau buku harian sejak duduk di SMP. Beberapa teman sebaya tampaknya juga ada yang sudah menulis catatan harian di diary. Saya pun pernah memilikinya, namun tak konsisten mengisi kegiatan harian karena bosan. Duh, inilah penyakit yang menghinggapi manusia, yaitu malas dan bosan. Padahal, kita menyadari bahwa manusia tak pernah sepi dari salah dan lupa. Apa yang kita ingat hari ini belum tentu kita ingat pada esok atau lusa. Password untuk login saja jika jarang dipakai bisa lupa jika tidak dicatat, bukan.

Pada tahun 1970-an saya sering membaca artikel di sebuah majalah bulanan tentang perjalanan yang ditulis oleh H.O.K Tanzil. Membaca artikel beliau saya serasa ikut satu mobil bersamanya. Tergambar jelas dalam tulisan tersebut tentang siapa, apa, bilamana, di mana, bagaimana, dan mengapanya. Siapa yang ditemui beliau sepanjang perjalanan, makanan apa yang disantap, di restoran mana, dan dengan menu apa diuraikan oleh beliau dengan teliti. Bahasa yang digunakan juga sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Ini semua tentu berkat catatan yang dibuat oleh beliau selama melakukan aktivitasnya.

Pada tahun 1989 saya bertugas menjadi anggota Kontingen Garuda sebagai bagian dari pasukan pemelihara perdamaian di Namibia. Saya bersama 49 perwira Indonesia tergabung dalam misi UNTAG (United Nations Transition Assistance Group) bertugas selama 9 bulan. Itu adalah pengalaman yang menarik dan sangat mengesankan karena saya ikut ambil bagian dalam sejarah sebuah bangsa yang ingin merdeka.

Saya memang membuat catatan dan banyak memotret situasi di negeri tersebut. Sayangnya catatan yang saya buat tidak rinci dan kontinyu hari demi hari sehingga tidak bisa menggambarkan secara utuh apa yang saya dengar, lihat, dan alami saat itu. Yup, ini juga sangat saya sesalkan karena saya tidak memiliki dan menulis diary. Seandainya saya rajin mencatat tentu saya sudah bisa menerbitkan buku tentang pengalaman bertugas di benua Afrika tersebut. Foto memang bisa berbicara banyak, tetapi tentu akan lebih bagus jika disertai penjelasan yang lebih lengkap.

Kembali ke soal diary. Konon, sebuah diary juga bisa menyelamatkan diri dari hal-hal yang kurang mengenakkan. Misalnya, ini misalnya lho ya. Anda tiba-tiba dipanggil oleh aparat kepolisian karena ada seseorang yang melaporkan bahwa Anda telah melakukan penganiyaan di Cafe Enjoy Aja. Pelapor yang didukung oleh beberapa saksi menyatakan bahwa pada hari Sabtu, tanggal  27 Juni 2016 jam 20.45 Anda telah menganiaya pelapor dengan cara melempar gelas ke wajahnya. Anda bisa membantah laporan dimaksud dengan menyatakan bahwa pada hari, tanggal, dan jam tersebut Anda sedang mengikuti dinner dengan saya di Rumah Makan Bu Cokro Surabaya. Kisah makan ikan bakar itu Anda tulis secara rinci dalam sebuah buku harian. Nah, berkat buku harian yang Anda tulis itu Anda mempunyai alibi sehingga dapat mematahkan keterangan pelapor dan para saksi.

Berdasarkan pengalaman tersebut saya ingin menyarankan kepada Anda untuk rajin membuat catatan tentang apa yang dilihat, didengar, dirasa, dan dialami. Tak harus membeli diary yang harganya mahal. Cukuplah membeli buku tulis biasa, yang penting rajin update setiap hari. Jika tidak rajin menulis lama-lama diary itu akan terlupakan dan akhirnya teronggok di tempat sampah. Dari catatan tersebut Anda bisa menuangkannya di blog atau ditulis menjadi naskah buku.

Seorang Ibu yang mempunyai baby juga bisa membuat catatan harian perkembangan putra-putrinya sejak dalam kandungan sampai umur tertentu. Selain mencatat apa yang dialami dan dikerjakan juga bisa dicantumkan suasana hati sang Ibu saat ini. Ini akan menjadi bahan yang menarik saat ada keinginan untuk membuat blog tentang parenting menulis buku tentang hal yang sama.

“Hai diaryku, terima kasih ya telah setia menemaniku, muah 23x...” Hahaha…, ya bolehlah menulis kalimat seperti itu dalam diary sekadar untuk selingan. Tapi, tulislah hal-hal yang penting dan bermanfaat saja sebagai isi utama diary.

Diary adalah bahan untuk menulis artikel atau naskah buku yang kelak bisa memperkaya Anda. Ajarkan dan anjurkan kepada putra-putri Anda untuk menulis diary. Semakin rinci isinya akan semakin baik sehingga gambaran tentang sebuah kegaiatan atau kejadian cukup kumplit. Namun sebaiknya tetap dijaga agar diary tidak terlalu lebay.

So, jika Anda ingin menulis buku sebaiknya rajin menulis buku harian atau diary.

 

 

Image source: pixabay.com

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Assalamu'alaikum sahabat Indoblognet 😀
.
Selamat tahun baru Islam, 1 Muharram 1439 H ❤❤❤
.
Semoga di tahun ini kita bisa menjadi manusia yang lebih baik, lebih banyak memperoleh keberkahan, dan kesuksesan, Aamiin Ya Allah Ya Rabbal'alamin
.
#indoblognet #mbcommunication #islamicnewyear #muharram1439 #menjadibaik

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top