Gaya Hidup

Indahnya Toleransi Dalam Rumah Tangga

Sikap toleran selayaknya ditumbuh-suburkan dalam sebuah rumah tangga. Secara umum, toleran artinya memahami pendapat, sikap, perilaku, dan tindakan orang lain yang berbeda atau kurang disukai. Namun demikian toleran harus dilakukan secara proporsional dan tidak membabi buta. Toleran juga jangan diterapkan dalam segala hal, waktu, dan keadaan serta dengan mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul.

Kondisi fisik antara suami dan istri jelas berbeda. Secara umum, laki-laki fisiknya lebih kuat daripada istri. Seorang suami jangan memaksa istri untuk berjalan cepat mengikuti langkah suami. Apalagi jika istri sedang memakai kain jarit, berkonde, dan berselop model high heels.  ”Cepat, Ma.  Nanti kita terlambat mengikuti upacara”.  Memaksa istri yang busananya membuat dia tak bisa berjalan cepat tentu kurang layak.  Jika tak ingin datang terlambat tiba di tempat acara penting ya berangkatlah agak dini.

Dalam rumah tangga muslim, seorang istri wajib mematuhi suami.  Namun suami jangan memakai dalil ini untuk memaksakan kehendaknya. Jika melihat istri sedang tidur berselimut dan ada dua lembar koyok tertempel di kedua sisi pelipisnya maka suami harus mahfum. Tak elok jika istri sedang berbaring karena terserang flu sang suami masih tega menyuruh istri menyiapkan pakaian kerjanya. Suami sebaiknya toleran. Setrika baju dan celana adalah pekerjaan ringan yang bisa dilakukan sendiri, bukan?

Demikian pula sebaliknya.  Jika nafas suami masih ngos-ngosan karena baru saja pulang dari tempat kerja berikan waktu untuk istirahat dan menikmati makan siang. Rasanya kurang manusiawi jika istri langsung menugasi suami untuk melakukan sesuatu yang keringatnya belum lagi kering. “Pa, tolong antar ibu ke pasar sebentar donk.  Beliau mau beli oleh-oleh nih. Kan besok mau pulang.” Ceileeeee, beli oleh-olehnya kan masih bisa ditunda karena ibu mertua pulangnya baru besok pagi. Istri harus toleran terhadap suami yang mungkin masih lelah setelah bekerja mencari nafkah. Suasananya menjadi semakin kurang bagus jika si ibu mertua juga ikut menimpali: “Hooh, makan siangnya kan bisa nanti-nanti. Banyak nih oleh-oleh yang mau dibeli”.

Toleransi harus diarahkan untuk kebaikan bersama. Tak elok seorang istri memaksakan kehendak dengan dalih toleransi. “Toleran donk, agar baunya kompak. Papa juga harus makan rendang jengkol yang saya masak. Saya dan anak-anak kan menikmatinya. Masa Papa nggak mau.  Kalau kamar mandi baunya kurang sip entar Papa marah lagi”. Jika suami memang tidak suka dan tidak biasa makan jengkol ya tidak perlu memaksakan diri ikut-ikutan mereka. Entar kalau mabuk kan malah jadi urusan. Menghadapi sikap istri seperti itu suami jangan langsung meradang. Suami tak perlu ragu untuk menolak dengan halus. ”Mama kan tahu kalau saya belum pernah makan jengkol, entar kalau ketagihan kan menyusahkan kalian”. Jawaban seperti itu sudah cukup sebagai isyarat bahwa suami menolak ajakannya. Saya yakin pasangan yang baik pasti memahami sikap tersebut.

Orang tidak boleh menggunakan kata: demi pertemanan, demi cinta, demi solidaritas, dan demi toleransi secara membabi buta. “Ma, sekali ini saja. Izinkan saya minum bir. Saat toast nanti bos dan kolega pada minum bir. Nggak enak rasanya jika saya tidak join dengan mereka”. Istri secara bijak bisa mengarahkan agar suami tidak melakukannya. “Jangan, Pa. Ambil saja orange jus. Saya rasa mereka akan memakluminya. Papa kan tahu bir itu tidak boleh Papa konsumsi”. Sikap istri seperti itu sungguh sangat tepat karena bisa mencegah suami dari toleransi buta dan solidaritas sempit.

Toleran tidak selalu harus bersikap permisif dalam segala medan dan cuaca. Toleran juga tidak bisa dibenarkan jika sudah menyangkut akidah atau keimanan. Pelanggaran terhadap perintah dan larangan Tuhan tak selayaknya ditelolerir dalam sebuah rumah tangga. Suami dan istri wajib mengingatkan satu sama lain jika pasangannya salah dalam bertindak.

Sikap toleran juga tidak boleh dilakukan jika pasangan mengetahui atau menyadari bahwa sikap tersebut akan berdampak kurang baik.

“Pa, Alby minta dibelikan sepeda motor.  Kasihan juga tuh anak setiap pagi naik sepeda onthel kalau sekolah. Mama juga melihat banyak kok, anak SMP yang naik sepeda motor.  Boleh ya, Pa. Please”.

“Jangan dulu lah, Ma. Secara fisik Alby memang sudah besar dan bisa mengendarai motor. Tapi mentalnya masih labil. Dia tak akan bisa menguasai diri manakala terjadi sesuatu di jalan raya.  Lagian, Alby juga belum mempunyai SIM. Nanti malah bolak-balik kena tilang deh”.

Suami yang bijak tidak akan memberikan toleransi kepada istri atau anaknya jika dia tahu dampak buruknya. Tanpa mengurangi rasa cinta dan kasih sayang, orangtua tak selalu harus memenuhi keinginan anak-anaknya. Ini harus dikomunikasikan dengan baik agar tak menimbulkan salah pengertian.

Toleransi antara suami-istri selayaknya ditumbuh suburkan agar tercipta keharmonisan dalam rumah tangga. Namun demikian toleransi tak boleh melanggar akidah, hukum, peraturan,  dan norma yang berlaku.

Source image: pixabay.com

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan [email protected]

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top