Inspirasi

Hidup Menuju Kematian

 

Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian.
Melainkan yang beriman dan beramal saleh.

Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian.
Melainkan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran.

Gunakan kesempatan yang masih diberi.
Moga kita takkan menyesal.
Masa usia kita jangan disiakan.
Kerna ia takkan kembali.

Ingat lima perkara, sebelum lima perkara.
Sihat sebelum sakit.
Muda sebelum tua.

Kaya sebelum miskin.

Lapang sebelum sempit.

Hidup sebelum mati.

Tahun telah berganti. 2016 telah lewat dan kini 2017 telah menapaki hari-harinya. Kabar suka dan duka berseliweran di linimasa media sosial kita. Kabar tentang banyak sahabat atau saudara yang menghabiskan masa liburannya dengan rekreasi bersama keluarga. Atau kegembiraan seseorang yang kita kenal saat mengenalkan pasangan barunya di tahun yang baru.

Sementara itu, berita duka membuka lembaran tahun 2017 datang dari Jakarta. Kapal wisata KM. Zahro yang terbakar di perairan Muara Angke (1/1) kemarin. Puluhan korban meninggal dalam kondisi mengenasakan. Sementara belasan korban yang masih belum ditemukan. Ribuan petugas penyelamat dan pencari dikerahkan untuk memperoleh hasil yang optimal.

Sayang seribu sayang, di sisi lain ada sikap yang sangat tak terpuji dilakukan oleh sang nahkoda. Di saat para penumpang sedang berjibaku untuk menyelamatkan diri, justru nahkoda menyelamatkan diri lebih dulu. Tak lagi indahkan kode etik profesi, bahwa sebenarnya dialah orang seharusnya orang terakhir yang meninggalkan kapal. Sungguh, menyia-nyiakan ratusan nyawa demi ego pribadinya.

Syair lagi “Demi Masa” dari grup nasyid Raihan terasa benar-benar menampar kesadaran kita. Syair yang terilhami oleh TQS Al-‘Asr[3]:1-3. Bergantinya tahun, bergantinya bulan, bergantinya hari, bahkan bergantinya detik adalah sebuah proses menuju kematian. Oleh karena itu, tak akan ada suka berlebihan atau duka yang berlebihan bila kita mau belajar dari peristiwa pergantian tersebut.

Kematian yang menjadi rahasia untuk Allah Ta’ala semata. Kematian yang menjadi janji indah bagi siapa saja yang telah mengumpulkan bekal sepanjang waktu yang telah dilewatinya. Karena kematian tak akan memberitahu kita. Karena kematian tak akan memberi tanda-tanda khusus kepada kita. Hingga pada satu titik, kita tak mampu berbuat apapun atas nafas dan jiwa kita.

Banyak resolusi-resolusi yang kita baca dari para sahabat atau saudara kita. Tentang pencapaian duniawi yang harus diraih untuk tahun berikutnya. Namun pernahkah kita tuliskan resolusi untuk diri kita sendiri bila ajal menjemput kita nanti? Membulatkan tekad untuk memperbaiki diri pada pergantian masa dengan peningkatan keimanan dan amal salih. Saling mewasiatkan terhadap kebenaran dan kesabaran?

Astaghfirullah, ternyata diri ini seringkali lalai. Merasa pongah jika mendapatkan satu keberuntungan. Merasa terpinggirkan jika mendapatkan satu musibah. Bermuram durja saat ujian berat ditimpakan oleh Sang Azali Syahdah. Bergembira ria saat kemenangan demi kemenangan berhasil kita raih.

Berapa ratus atau ribu jam kita diberikan kesehatan olehNya? Namun saat ditimpa sakit, kita kabarkan kepada dunia tentang kedukaan kita. Berapa belas atau puluh tahun usia yang telah kita lewatkan? Berapa belas atau puluh tahun usia yang kita isi dengan kebaikan dan amal salih. Saling menasihatkan pada jalan kebenaran dan saling menguatkan diri dalam kesebaran setelah kita ditolak untuk menasihat kebenaran tersebut.

Berapa rupiah uang yang telah kita kantongi? Berapa rupiah pula uang yang telah kita sedekahkan di jalan kebaikan? Sebab tanpa sadar. Kita merasakan diri sebagai orang yang serba ‘kekurangan’. Meski berjibun harta yang telah kita kumpulkan. Hingga kadang melalaikan diri untuk melakukan korupsi dan kolusi demi mendapatkan harta yang masih ‘kurang’ tadi.

Kelapangan waktu, kesempatan, dan harta seringkali melenakan kita. Hingga datang kesempitan yang membuat kita mengeluh, bahkan mengumpat atas ‘ketidakadilan’ yang menimpa diri kita. Kelapangan yang telah kita nikmati seolah-olah tiada pernah kita nikmati. Tsumma ‘auzubillah.

Begitu juga tentang rahasia besar manusia, kehidupan. Konsep kehidupan yang begitu jelas digambarkan oleh Allah Ta’ala seringkali kita abai dengannya. Kita gambarkan sendiri kehidupan kita dengan cara kita yang seringkali malah bertentangan denganNya. Kita buat sendiri ‘versi baik’ menurut kita. Sebab perintahNya kadang tak pas dengan cara pemikiran kita. Ketika kehidupan sudah kita patri dengan dalil akal kita, maka kematian pun seolah menjadi dongeng masa lalu.

Tak perlu persiapan yang serius untuk mati (?)

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hellooo, sahabat Indoblognet 😉 Kamis manis nih, yuk perbanyak optimis 😍
.
Bagi seorang pebisnis atau penjual, memiliki banyak konsumen tentunya adalah hal yang sangat penting, ya 😁 Masalahnya konsumen gak akan datang sendiri tanpa dijemput, artinya penjual perlu melakukan berbagai cara untuk menarik konsumen 😄
.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh penjual adalah dengan menerapkan konten marketing. Dengan konten marketing, kamu menarik perhatian konsumen dengan konten-konten berkualitas, menarik, dan disukai konsumen 😍
.
#instagram #indoblognet #mbcommunication #thursday #instadaily #followme #business #tips #viral

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top