Agama

Hati-hati dengan Sedekah yang Kita Berikan

Para undangan sedang asyik menikmati hidangan buka puasa ketika tiba-tiba Rayloro maju dan langsung menyambar mic. “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mohon maaf, sambil meneruskan santap malam bersama, izinkanlah saya meminta waktu sebentar. Dalam Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah ini saya ingin sedikit berbagi kasih kepada para undangan dan anak-anak yatim piatu yang hadir pada acara berbuka puasa ini. Saya hadiahkan busana muslim dan seperangkat alat sholat ini kepada seluruh undangan, panitia, dan segenap perangkat desa agar pada saat Sholat Idul Fitri nanti kita bisa sowan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pakaian yang layak dan pantas. Untuk itu mohon kepada Bapak Kepala Desa Awangga Jaya berkenan maju ke depan untuk mewakili para undangan secara simbolis menerima hadiah dari saya sekeluarga. Bagi hadirin yang ingin mengabadikan momen ini saya persilakan”.

Terdengar suara bergumam dari para undangan. Karnodi Pekso, Kepala Desa Awangga Jaya, menengok sejenak ke arah Ketua Panitia yang duduk di sebelahnya. Asto Prakosa, sang Ketua Panitia, mengangkat bahunya lalu memberi tanda agar Kepala Desa maju. Rayloro menyerahkan bingkisan kepada Kepala Desa sambil mengajak pak Kades berpose untuk foto bersama. “Para undangan dan anak-anak yatim piatu beserta pengasuhnya silakan mengambil hadiah yang sudah saya siapkan di meja sebelah sana,” ujar Rayloro dengan lantang. “Panitia mohon bantuan untuk mengatur”. Meskipun ditambahi dengan kata ‘mohon’ namun sebagian panitia merasa ucapan Rayloro itu sebagai sebuah instruksi.

Hadiah Lebaran

Tak ayal acara yang sudah disusun rapi oleh Panitia itu menjadi agak ribet-ribut. Ketua Panitia tak bisa berbuat apa-apa selain geleng-geleng kepala. Lagak lagu Rayloro, peternak ikan lele yang lagi naik daun itu memang suka over dosis. Hartanya banyak, agak dermawan, namun sifat jumawa dan suka pamernya tak pernah berkurang.

***

Allah memang telah berjanji akan memberikan pahala yang banyak dan juga membukakan pintu rezeki bagi hamba-Nya yang bersedekah. Namun demikian kita harus berhati-hati agar pahala sedekah kita tidak hilang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir“. (QS.Al Baqarah:264)

Ketika kita memberi uang kepada peminta-minta tak perlu mengiringinya dengan kata atau kalimat yang kurang enak didengar: “Kamu masih muda bisanya merepotkan orang lain saja. Gunakan donk badanmu yang segeda gajah itu untuk bekerja, menjadi kuli panggul kek, dorong gerobak kek, narik becak kek. Dasar pemalas saja kamu”. Kalimat seperti itu bisa menyakitkan hatinya. Mungkin tak sebanding dengan uang dua ribu rupiah yang kita berikan kepadanya. Jika peminta-minta itu agak sableng dan emosi bisa saja dia melemparkan uang ke wajah kita sambil berkata: ”Ambil nih uang busukmu. Ngasih dua ribu saja pakai pidato segala”.  Nah bisa ribut kan jadinya.

Menyebut-nyebut sedekah yang sudah diberikan juga perlu dihindari. “Si Jaim itu belagu banget sekarang. Nggak ingat riwayatnya dulu. Mana mungkin dia menjadi pejabat jika setiap bulan tidak saya sumbang uang kuliahnya”. Kalimat seperti itu sama dengan mengungkit-ungkit pemberian. Ada juga orang yang secara tidak sadar memberitahukan sedekahnya. “Pak Ustadz, agar tidak riya maka saya sering sekali menyelipkan uang melalui bawah pintu beberapa panti asuhan yang ada di Surabaya. Yaa nggak banyak sih, sejuta dua juta saya kira bisa membantu anak-anak yatim itu”. Kata Raymoe saat mendengarkan tausiah dari seorang ustadz. Pak ustadz hanya tersenyum, sementara peserta pengajian langsung memalingkan muka. Ada juga yang berkomentar lirih: ”Lha itu!”

Jika ada orang yang secara diam-diam mengganti karpet masjid atau mushola pada pukul 02.00 itu baik-baik saja. Mungkin dimaksudkan agar tak ada yang mengetahui siapa gerangan si dermawan itu. Setelah itu diamlah. Jangan pula terpeleset lidah: “Cak Marpikun, Alhamdulillah semalam saya diam-diam mengganti karpet mushola yang sudah usang itu dengan karpet baru. Mudah-mudahan nggak ada yang tahu. Jangan bilang-bilang loh ya”.

Bagaimana sedekah yang diliput oleh radio atau televisi dan disiarkan secara luas sehingga banyak yang mengetahuinya. Semua kembali kepada niatnya. Mungkin tujuannya untuk syiar agar semakin banyak orang yang mengikuti gerakannya. Tetapi jika tujuannya untuk pamer maka dikhawatirkan masuk kategori riya.

Perlu juga dicermati penyampaian sedekah kepada khalayak ramai yang dikumpulkan di suatu tempat. Mengatur 10 orang saja kadang repot apalagi jika jumlahnya sudah ratusan atau ribuan orang. Sedekah uang atau barang yang semula diniatkan sebagai ibadah itu bisa berubah menjadi malapetaka jika tidak diatur dengan baik. Antrian yang panjang, cuaca panas terik, dan berdiri terlalu lama bisa menjadikan orang kehilangan kesabaran. Antrian yang semula tertib bisa berubah menjadi kacau. Para pengantri saling mendorong karena semua segera ingin mendapatkan sedekah. Anak kecil dan kaum lansia pun akhirnya tidak tahan sampai ada yang pingsan. Lebih tragis lagi jika ada ada yang meninggal dunia sebelum sedekah itu dalam genggamannya. Lebih bijak jika para dermawan minta bantuan beberapa sukarelawan untuk mengantar sedekah itu langsung ke rumah calon penerimanya. Agak repot memang, tapi mudah-mudahan lebih bisa dikendalikan. Sang dermawan dan yang mengantar insya Allah mendapat pahala dan yang menerima juga merasa ‘diuwongke’ sehingga martabatnya tetap terjaga.

Pemberi sedekah sebaiknya mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allâh akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allâh Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Baqarah 271) Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seseorang yang bershadaqah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya”. (HR.Imam Ahmad dan al-Bukhâri)

Soal riya ini memang menjadi perhatian serius dan juga dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor”. Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya“. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad)

Kita selayaknya berhati-hati ketika akan sedekah. Niat yang lurus hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala insya Allah akan menjadikan kita ikhlas melakukannya. Sebaliknya jika kita bersedekah dengan niat ingin dipuji oleh orang lain bisa menjadikan kita kecewa manakala pujian yang diharapkan tidak muncul.

Semoga kita dapat melakukan sedekah dengan ikhlas dan benar agar tak terjebak dalam riya.

Image source: pixabay.com

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan [email protected]

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Sebagian besar konsumen yang merasa kecewa dengan sebuah produk memilih untuk diam (tidak komplen terhadap pemilik produk), dan akhirnya beralih pada produk lain
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #product #business #selling #consumer #customer

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top