Ekonomi

Harkopnas 2017 : Saatnya Koperasi Indonesia Bangkit Meningkatkan Kualitas

Harkopnas 2017 menjadi momentum emas kebangkitan koperasi Indonesia dalam meningkatkan kualitas — Malam penganugerahan Koperasi Berprestasi dan Bakti Koperasi dalam rangkaian peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-70 di ballroom Condotel Karebosi Makassar begitu semarak (11/7). Lagu Indonesia Raya dan Hymne Koperasi yang dilantunkan oleh ribuan peserta pegiat koperasi membahana. Jujur membuat saya  merinding dengan untaian lirik yang jika dihayati sarat makna mendalam. Begini liriknya :

“Wahai Bangsa  Indonesia
Warisan leluhur kita
Gotong royong berswadaya
Pribadi bangsa kita

“Kita himpun sgala daya
Modal maupun tenaga
Wadah Usaha Bersama
Koperasi Wujudnya.

“Undang-undang Dasar Kita
Laksanakan Bersama
Kita Bangun Koperasi
Mnuju Makmur Bersama

Kuta Bina Setiakawan
Persatuan Nasional
Kekuatan Keahlian
Berdasar Pancasial

Koperasi Kita Bina
Swakerta Swasembada
Koperasi Tuntunan Nyata
Demi Membangun Bangsa

Marilah Satukan Tekad
Bangun Usaha Kita
Koperasi Indonesia
Hiduplah dan Majulah

Terbayang bagaimana Bapak Moh. Hatta, pendiri Koperasi, mengonsep sistem perekonomian kerakyataan pada 70 tahun silam, selang 2 tahun setelah Indonesia merdeka. Sementara saat itu sistem perekonomian komunis  berkembang. Dan, liberalisme mulai menancapkan taringnya. Keduanya berlomba-lomba memikat pikiran sejumlah tokoh Indonesia kala itu. Tanpa terkecuali Mohammad Hatta, ahli ekonomi yang notabene  sangat paham bagaimana kedua sistem tersebut bekerja di sejumlah negara di dunia. Wakil presiden Indonesia yang pertama ini berfikir keras. Indonesia yang baru merdeka harus memiliki pondasi dan sistem perekonomian yang sesuai dengan karakter dan kepribadian bangsa. Kegotongroyongan, kekeluargaan, tepo saliro merupakan sederetan karakter yang harus menjadi jiwa dalam sistem perekonomian yang akan dikembangkan. Hingga lahirlah ide koperasi.

Tujuan awal, Bung Hatta mendirikan koperasi sebenarnya sangat sederhana yaitu untuk memenuhi kebutuhan bersama anggota koperasi. Makanya, koperasi yang dibentuk masa itu pun hanya tiga yaitu Pertama,  Koperasi Konsumsi, melayani kebutuhan kaum buruh dan pegawai. Kedua,  Koperasi Produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak dan nelayan) dan ketiga, koperasi kredit yang melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna memenuhi kebutuhan modal.

Tahun 1947, digelarlah Kongres Koperasi Nasional untuk menyamakan visi, membuat landasan dan mekanisme pengaturan koperasi. Enam tahun kemudian, 1953, Kongres Koperasi kembali digelar. Dan, setelah itu tak terdengar lagi kongres koperasi dilaksanakan. Baru tahun ini, tepatnya 12 Juli 2017, Kongres Koperasi yang disatukan dengan Peringatan Hari Koperasi Nasional digelar. Makassar dipilih sebagai tuan rumah dengan pertimbangan sejumlah prestasi yang diraih Makassar dan komitmen Walikota Danny Pomanto untuk menjadikan Makassar sebagai kota penggerak koperasi di Indonesia. Bukan suatu kebetulan pula, Ketua Dekopin Pusat Nurdin Halid adalah putra daerah.

Presiden Jokowi  pun hadir memperingati  Harkopnas ke-70 yang dipusatkan di Lapangan Kerebosi pada 12 Juli 2017. Sedangkan Kongres Koperasinya sendiri berlangung  hingga 16 Juli 2017 di Grand Clarion Hotel & Convention. Kongres ini dihadiri ribuan pengurus koperasi, dinas koperasi dari sejumlah daerah di Indonesia.

Komitmen pemerintah untuk membangun koperasi yang berkualitas memang terlihat nyata. Disadari, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan untuk merapikan sistem manajemen perkoperasian. Aturan dan kebijakan yang diberlakukan belum sepenuhnya bisa mengangkat ruh koperasi yang ditandaskan oleh Bung Hatta. Apalagi dinamika yang terjadi di masyarakat bergerak cepat, seperti munculnya bank-bank dan lembaga keuangan yang memberikan pinjaman kepada masyarakat dengan embel-embel “menyenangkan” di bibir. Belum lagi, kemajuan teknologi infomasi yang makin menuntut koperasi Go Digital. Namun, apapun itu, tanpa sistem yang bisa menjamin dan mengontrol pelaksanaan koperasi secara tepat, akan tetap sulit dalam pelaksanaannya.

Sistem yang berlalu hingga saat ini di koperasi, faktor moralitas dan integritas pengurus sangat mutlak. Koperasi yang eksis dan sukses rata-rata didalam manajemen pengurus yang jujur dan menegakkan etika moralitas kemanusiaan yang benar-benar ingin memajukan dan menyejahterakan anggotanya. Aturan yang mengikat koperasi masih sangat longgar. Rapat Aggota sebagai kekuatan tertinggi nyatanya belum mampu mengakomodir “permainan” di lapangan. Terlebih kemampuan manajemen bisnis yang belum mumpuni.

Pak Ibrahim berkacamata di tengah, sedangkan di sampingnya Pak Muh. Jakub, berbatik merah.

 

Ini diakui oleh Muh. Ibrahim, MSi, ketua KPRI Universitas Negeri Makassar (UNM) yang saya temui usai menerima penghargaan sebagai salah satu pengurus koperasi berprestasi dari Menteri Koperasi dan UKM, AAGN Puspayoga. Menurutnya, kejujuran dan moral pengurus sangat penting. Banyak celah dan peluang yang umumnya dicurangi dan bisa dimanipulasi pengurus jika mau. Apalagi pengawasan dari anggota kurang. Rapat anggota tidak berjalan optimal.

Sejak 2013, ia menjabat sebagai ketua Koperasi, dirasakan memang berat godaannya.  Terlebih koperasi yang dipimpinnya dan berumur 34 tahun ini memiliki omset bisnis mencapai hampir  Rp 8 miliar per tahun, dengan aset sebesar Rp 80 yang berasal dari simpanan anggota, modal, SHU kegiatan toko, gedung, dan sebagainya. “Kita komit terhadap anggota akan melaksanakan amanah dengan penuh tanggung jawab. Alhamdulillah koperasi kami bisa berkembang sampai sekarang,” ujar Ibrahim, pensiunan Dosen Psikologi UNM.

Keberhasilan koperasi KPRI UNM memang sudah banyak mendapatkan pujian dari berbagai kalangan. Pak Ibrahim sendiri kerap menjadi narasumber koperasi di berbagai tempat, baik di Makassar maupun di luar daerah. Belum lama, UNM juga meraih penghargaan dari Menkop, lantaran keberhasilannya mengelola tiga koperasi sekaligus. Ketiga koperasi itu adalah  Ketiga koperasi itu adalah Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI), Koperasi Mahasiswa, dan Koperasi Syariah. Ketiga koperasi ini mengelola dana lebih dari Rp300 miliar. Khusus yang dikontribusikan dari  KPRI UNM yang dipimpin oleh Ibrahim sebesar Rp 80 miliar. Tiap tahun, menurut Ibrahim jumlahnya terus meningkat. Di awal kepemimpinannya 2013, sudah mecapai Rp 50 miliar. Dan, tahun 2016, penghasilan bersih KPRI tercatat 3,7 miliar.

KPRI memiliki 6 ruko yang terletak di Jalan Raya  Pendidikan Makassar. Omsetnya  per tahun mencapai Rp 5 miliar. Dikelola oleh 30 karyawan yang digaji sesuai UMR Makassar. Bahkan seluruh karyawan mendapatkan fasilitas kredit cicilan rumah sebesar 190 juta untuk tipe 45 dengan masa cicilan selama 15 tahun. Itu belum termasuk SHU, dan berbagai tunjangan lainnya.

Jumlah anggota KPRI saat ini tercatat sebanyak 1482 orang, terdiri para guru besar, dosen, karyawan UNM berbagai golongan. Simpanan anggota bervariasi tergantung golongan, mulai dari Rp 25 ribu hingga 200 ribu untuk level Guru Besar. Setiap anggota bisa mendapatkan pinjaman hingga maksimal 30 juta, dengan bagi hasil per bulan sebesar 1 persen. Sekilas memang tampak lebih tinggi dari bank yang sebagian menawarkan bunga pinjaman di bawah 1 persen. Tetapi jika ditelaah lagi, Ibrahim merinci sejumlah kelebihan yang diterima anggota, seperti SHU, hadiah lebaran, tunjangan pensiun dan sebagainya.

Tak berbeda jauh dengan koperasi Sukma yang dipimpin oleh Muh Jakub Dalle di Kabupaten Pinran, Sulawesi Selatan. Koperasi Sukma yang didirikan sejak tahun 1986, juga mengelola simpanan anggotanya yang terdiri dari kalangan guru-guru SD, pensiunan guru, penilik sekolahan dan sebagainya di satu kecamatan. Dari jumlahnya memamg tidak sebesar KPRI, tetapi hasilnya sangat dirasakan anggotanya. “Tahu sendiri penghasilan guru berapa. Jika tak pandai mengelola dan tak ikutan koperasi, kesejahteraan mereka sangat kurang. Dengan bantuan koperasi, mereka bisa meminjam untuk keperluan anak sekolah, pendidikan dan konsumsi sehari-hari.” tutur Jakob yang juga menerima penghargaan sebagai koperasi berprestasi. Setiap anggota bisa meminjam hingga 30 juta dengan tingkat pengembalian disesuaikan dengan kemampuan mereka. Tetapi meski begitu, menurut Jakob tetap ada seleksi ketat. Minimal dari gaji per bulan dan tanggungan atau kewajiban di luar koperasi yang harus dibayar per bulannya.

Penganugerahan koperasi berprestasi

Dalam rangkaian acara peringatan HUT Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-70, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga memberikan penganugerahan kepada koperasi berprestasi dan bakti koperasi 2017 kepada 134 orang pegiat koperasi dari seluruh Indonesia. Gubernur Sulsel Sahrul Yasin Limpo, Ketua Umum Dekopin Nurdin Halid, dan seluruh jajaran pejabat Kementrian Koperasi dan UKM turut menyaksikan.

Penerima penghargaan tersebut terdiri dari Bupati/Walikota 20 orang, pejabat daerah dua orang, Kepala Dinas Provinsi 18 orang, Kepala Dinas Kabupaten/Kota sembilan orang, tokoh masyarakat 48 orang, dan Koperasi Berprestasi  37 orang pengurus koperasi.

Ke-20 Bupati/Walikota itu adalah Bupati Deli Serdang (Sumut), Bupati Dharmasraya (Sumbar), Bupati Kerinci (Jambi), Bupati Garut (Jabar), Bupati Kuningan (Jabar), Bupati Tasikmalaya (Jabar), Bupati Kudus (Jateng), Bupati Sintang (Kalbar), Bupati Kapuas Hulu (Kalbar), Bupati Tanah Laut (Kalsel), Walikota Tangerang, Walikota Kediri (Jatim), Walikota Pasuruan (Jatim), Walikota Manado (Sulut), Walikota Gorontalo, Walikota Bitung (Sulut), Walikota Makassar (Sulsel), Walikota Ternate (Maluku Utara), Wakil  Walikota Bandung (Jabar), dan Wakil Walikota Mataram (NTB).

Menkop Puspayoga sangat mengapresiasi kinerja dari koperasi-koperasi yang berprestasi, termasuk tentunya para pejabat daerah yang senantiasa mendukung kemajuan koperasi. Reformasi koperasi harus dilakukan secepatnya. Program-program untuk upaya peningkatan mutu koperasi tengah dikembangkan, berdasarkan dari masalah yang kerap muncul di lapangan, dan tantangan di depan. “Koperasi berkualitas sudah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), Kewirausahaan dan Bisnis e-Commerce”, tegas Puspayoga.

Merujuk rilis Humas Kemenkop UKM, kontribusi koperasi sebagai suatu lembaga terhadap PDB Nasional pada tahun 2013 sebesar 1,71 persen. Pada era Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Jokowi-JK, telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan hingga pada tahun 2016 mencapai sebesar 3,99 persen.

Apabila kontribusi koperasi tersebut diperhitungkan berdasarkan kontribusi anggota yang merupakan pemilik dan  sekaligus pengguna, diperoleh perkiraan kontribusi anggota koperasi pada PDB Nasional pada tahun 2013 mencapai sebesar 13,56 persen. Dengan demikian,  kontribusi total koperasi sebagai suatu lembaga beserta anggotanya pada tahun 2013 mencapai sebesar 15,27 persen. Pada tahun 2016, diperkirakan kontribusi anggota koperasi terhadap PDB Nasional sebesar 20,71 persen.

Dengan demikian, kontribusi total koperasi sebagai suatu lembaga beserta anggotanya pada tahun 2016 mencapai sebesar 24,70 persen. “Capaian tersebut tidak terlepas dari  komitmen pemerintahan Jokowi-JK untuk  terus mengembangkan koperasi sebagai  sokoguru perekonomian nasional yang sehat, kuat, mandiri dan tangguh,” kata Puspayoga.

Tak hanya PDB, capaian positif juga terjadi di program kewirausahaan nasional.  Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah sudah menjalankan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Puspayoga mengatakan, GKN  adalah gerakan yang tumbuh dari bawah, sehingga memiliki pondasi yang kuat untuk berkembang.

Rasio tingkat aktivitas kewirausahaan Indonesia pada tahun 2013 yang semula sebesar 1,55  persen saat ini telah mengalami  peningkatan menjadi sebesar 3,01 persen. Peningkatan ini menunjukan adanya peningkatan ratio tingkat aktivitas  kewirausahaan sebesar 1,46 persen dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.

Komitmen Sulsel untuk Gerakan Percepatan Pembangunan Koperasi

Dalam kesempatan malam itu,  Gubernur Sulsel Sahrul Yasin Limpo menyampaikan komitmennya terhada gerakan percepatan pembangunan melalui koperasi. Ia mengingatkan kepada insan perkoperasian  tantangan yang semakin berat di era sekarang.
“Saat ini, koperasi harus kuat juga secara IT. Itu sudah menjadi tuntutan zaman bila ingin mampu bersaing. Lihat saja, sekarang orang tak perlu lagi repot-repot buka toko, urus perijinan sampai berbulan-bulan. Cukup memiliki akses online, maka produk yang dihasilkan sudah bisa menembus pasar”, kata Gubernur Sulsel.

Menurut Yasin Limpo, koperasi harus memiliki peran yang besar dalan perekonomian bangsa. “Indonesia itu kaya raya, semua kita punya. Maka, semua itu harus mampu disiapkan oleh kekuatan kita sendiri. Yang pas untuk itu adalah koperasi, yang merupakan simbol nyata dari bentuk ekonomi kerakyatan berasas gotong royong dan kebersamaan”, imbuh Gubernur Sulsel lagi.

Yasin Limpo berharap sumbu ekonomi bangsa jangan bebas tanpa kendali. Karena, ekonomi rakyat bisa mati karena kekuatan pemodal besar. “Di Sulsel kita sudah memiliki beberapa Perda dan Pergub yang melindungi eksistensi koperasi dan UMKM. Salah satunya adalah setiap kecamatan dibentuk satu koperasi unggulan, di setiap kabupaten/kota dibentuk koperasi utama sebagai distributor besar. Koperasi berkualitas seperti ini yang akan terus kita bangun”, pungkas dia.

 

 

 

 

 

 

 

kartina Ika Sari

kartina Ika Sari

writerpreneur, founder MB Communication, Indoblognet.com & jelajahiindonesiamu.com
kartina Ika Sari

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Ini Video Versi Layanan Masyarakat untuk Anti Drugs Campaign. Supported BNN dan MB Communication

Kalau temen-temen punya cerita, ide seru dan bikin video masih bisa ikutan lombanya yah. Cek hastag
 #IniCaraGueCegahNarkoba
Teman-teman bisa Minta Tolong Subscribe, Share dan komen yah.

Share boleh di Instagram, twitter dan FB
Linknya :

https://youtu.be/zOCgnf66Hik

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top