Inspirasi

Furniture Indonesia dan Mozaik Indonesia, Etalase Produk Indonesia Mendunia

gate mozaik indonesia

“Banyak orang bilang Indonesia adalah pasar yang potensial, tetapi kita tidak boleh seperti itu. Di era MEA, kita harus berbuat sesuatu untuk bangsa.  Sekarang zamannya kompetisi. Kita harus berani berkompetisi. Karya kreasi kita bagus-bagus. Kita harus bangga. Saya yakin, khusus untuk industri furniture dan kerajinan serta desain interior, kita mampu bersaing. Saya berharap furniture bisa menjadi leading sector ekspor non migas,” tegas Ernst K Ramboen, Presiden Direktur Traya Eksibisi Indonesia, penyelenggara Furniture Indonessia dan Mozaik Indonesia, yang ditemui di sela-sela pameran.


 

 

erns k ramboen, presiden direktur traya indonesia

Ernst K Ramboen, Presiden Direktur Traya Eksibisi Internasional, penyelenggara Furniture Indonesia dan Mozaik Indonesia.

Itulah salah satu alasan kuat Traya Eksibisi International berkolaborasi dengan Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menggelar pameran Business to Business (B to B) di Jakarta Convention Centre (10-13 Maret 2016). Traya ingin memberikan ruang seluas-luasnya bagi karya kreatif industri furniture yang dikawinkan dengan trend desain kekinian anak muda kreatif dalam Mozaik Indonesia.

Pameran Furniture Indonesia merupakan transformasi dari Indonesia International Furniture and Craft Fair (IFFINA) yang telah diselenggarakan sejak tahun 2008 hingga tahun 2015. Pameran Furniture Indonesia kali ini  diikuti  kurang lebih 200 exhibitor dari dalam dan luar negeri dan menghadirkan buyer lebih dari 1900 buyer dari 87 negara.

 

Exhibitor dari dalam dan luar negeri berpartisipasi dalam pameran Furniture Indonesia dan Mozaik Indonesia

 

Baik Furniture Indonesia maupun Mozaik Indonesia merupakan pameran business to business yang memiliki konsep berbeda. Mozaik Indonesia menghadirkan rangkaian desain interior, lighting, tableware, keramik, hingga home textile yang diikuti 100 desainer terbaik. Sedangkan Furniture Indonesia diikuti oleh ratusan produsen furniture dan dekorasi yang berkualitas ekspor. Furniture Indonesia adalah satu-satunya pameran furnitur di Indonesia yang diakui oleh Council of Asia Furniture Association (CAFA). Pameran ini menjadi  salah satu rangkaian pameran ASEAN Furniture Industry Council dan telah masuk dalam deretan agenda rutin tahunan.

Simak yuk beberapa exhibitor yang menarik perhatian saya di pameran kala itu :

 

Medium lukisan yang tidak biasa, kardus dan kursi

Medium lukisan yang tidak biasa, kardus dan kursi

 

Exhibit designer, writer, speaker dan lecturer visual artist Agus Iswahyudi adalah salah satu peserta pameran Mozaik Indonesia. Saat  mendatangi standnya, saya diterima oleh mahasiswanya di Bina Nusantara, Dian Victorious. Pada waktu bersamaan, kebetulan Agus sedang tidak berada di tempat.

Menurut Dian,  Agus lebih banyak mengajar di Universitas Tarumanagara. Agus mencurahkan isi hatinya kepada seni dalam bentuk  lukisan. Semua benda dijadikan media melukis, seperti yang dipamerkan di Mozaik Indonesia yakni lukisan di kursi dan kardus. Sungguh menarik.  “Memang sudah soul dia,” kata Dian saat ditanya alasan Agus melukis di medium yang tidak biasa.

 

Beragam karya Agus Iswahyudi

Beragam karya Agus Iswahyudi

 

Selama menjadi mahasiswa Agus, dia diajarkan  menggambar dengan  hati. Ketika diperhatikan,  karya seni Agus cenderung beraliran street. Partisipasi Agus dalam pameran Mozaik Indonesia sebagaimana yang disampaikan Dian, bertujuan memperlihatkan lukisan dan karakternya. Selama ini, produk lukisan Agus banyak dijual  dijual secara online, dan diminati pembeli tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Karakter Agus memang begitu kuat. Ketika orang melihat produknya, sudah tampak karakternya. Iniah eksotisme sebuah karya lukis,” tutur Dian.

 

Karya seni sebagai penyampai pesan

Karya seni sebagai penyampai pesan

 

Sampah Jadi Berkah

Siapa yang menyangka sampah seperti kemasan pewangi atau sabun cair hingga billboard bekas yang selama ini dipandang tak berguna dapat disulap menjadi sesuatu yang memiliki nilai pakai dan nilai jual ? ‘Trash transformed, lives changed’, semangat yang diusung XS Project dalam menjalankan social entrepreneurship sejak 10 tahun lalu.

Sales Representative  XS Project Trisnur Ade menjelaskan, beragam produk yang telah dibuat dari “limbah” plastik ini, diantaranya,  basket dari kemasan pewangi pakaian, tas dari  billboard bekas, pencil case dari cover jok mobil, sampai shopping bag dari bendera bekas. “Kami melihat  semakin banyak sampah yang menumpuk. Untuk itu kami manfaatkan  supaya sampah tidak terlalu penuh dan menimbulkan banjir di mana-mana,” ujar Trisnur.

 

Sales Representative XS Project Trisnur Ade

Sales Representative XS Project Trisnur Ade

 

Trisnur memaparkan, XS Project membeli sampah dari pemulung di Cirendeu. Sampah setengah bersih itu selanjutnya dibersihkan lagi sampai higienis. Ada sembilan orang yang mengerjakan produk daur ulang di  workshop yang berlokasi di Cilandak ini.

Produk yang selesai dibuat lalu dijual. Selama ini XS Project menjual produk di bazaar internasional yang diadakan oleh American Women Association (AWA), Women International Club (WIC), Australian and New Zealand Association (ANZA), hingga Jakarta International School (JIS). Sebagian dana yang terkumpul dari produk yang terjual didonasikan untuk pendidikan dan kesehatan 60 anak pemulung yang bersekolah di tingkat playgroup sampai SMU. “Kami membantu pemulung supaya hidup layak,” tutur Trisnur.

 

Siapa yang menduga tas ini terbuat dari bilboard bekas

Siapa yang menduga tas ini terbuat dari bilboard bekas

 

Selain di dalam negeri, XS Project juga menjual produk daur ulang ini ke luar negeri, seperti Singapura. Metode pemasarannya adalah dari mulut ke mulut. Selain itu ke Amerika Serikat karena pendiri XS Project, Ann Wizer bermukim di sana.

Di pameran Mozaik Indonesia, Biansa Home yang menjual produk home decor menggandeng XS Project. Trisnur menyatakan baru pertama kami ikut pameran sekelas  B to B. Selama ini, seringnya  ikut bazaar. Menurutnya, orang asing tidak masalah dengan harga yang ditawarkan sebab mereka menghargai produk yang dibuat dari  sampah. “Berbeda dengan orang Indonesia, mereka bilang bagus dan suka dengan produk kami,  tapi soal harga selalu dibilang  mahal. Kalau diskon mereka baru beli,” kata Trisnur.

 

Pemanfaatan kemasan pewangi menjadi basket

Pemanfaatan kemasan pewangi menjadi basket

 

Harga yang ditawarkan bergantung jenis produk, seperti  tas  Rp 85 ribu atau basket Rp 175 ribu. Luggage tag adalah produk yang paling banyak dibeli. Selain menjual secara offline, ia juga merambahi pasar online di http://xsproject-id.org dan Facebook XS Jakarta.

Trisnur berharap keikutsertaan XS Project dalam pameran Mozaik Indonesia, masyarakat Indonesia jadi makin peduli pada produk hasil pengolahan limbah ini. Apalagi sesuai dengan konteks yang ramai dibicarakan, yaitu plastik berbayar yang mulai diberlakukan pemerintah  sejak 21 Februari 2016. Tak hanya itu, Trisnur juga  ingin produk dari XS Project lebih dikenal masyarakat. Targetnya, pameran Mozaik Indonesia mendatangkan hasil yang bagus untuk penjualan produk XS Project. “Setidaknya kartu nama kami tersebar, sehingga kalau ada yang mencari produk daur ulang bisa ke kami,” tutur Trisnur.

 

Laundry basket dari kertas koran yang dibuat oleh komunitas di Kalimantan

Laundry basket dari kertas koran yang dibuat oleh komunitas di Kalimantan

 

Trisnur menyampaikan, komentar dari para pembeli jika dibandingkan dengan produk sejenis, produk XS Project ini dijahit lebih rapi dan  desainnya bagus. “Kami selalu membuat desain terbaru dan inovatis sehingga konsumen tidak bosan. Begitu datang, selalu ada yang baru.”

Trisnur mengisahkan, ada customer yang selalu membeli produk XS Project sampai pada tahap mengoleksi. Hingga ketika bertransaksi, yang ditanya adalah apakah ada desain terbaru ?. Untuk menarik pembeli, biasanya Trisnur mengatakan produk XS Project tidak hanya  dipakai untuk diri sendiri, bagus juga dijadikan kado.  “Seperti laundry basket yang dibuat  dari kertas koran oleh komunitas di Kalimantan, kami bantu jualkan karena mereka tidak tahu mau jual ke mana.”

 

Di pameran Mozaik Indonesia, Biansa Home yang menjual produk home decor menggandeng XS Project

Di pameran Mozaik Indonesia, Biansa Home yang menjual produk home decor menggandeng XS Project

 

XS Project sebenarnya menjual produk ke  semua segmen. Namun kenyataan menunjukkan pembeli didominasi oleh kaum ibu. Bedanya dengan orang asing, mereka menyukai produk XS Project. Trisnur mencontohkan, XS Project pernah mengerjakan tas laptop yang dipesan oleh siswa Jakarta Intenational School (JIS)

Besarnya tantangan yang dihadapi tak menyurutkan langkah XS Project untuk terus berproduksi. Orang Indonesia masih kurang menghargai produk sampah ini, tetapi kalau produk dari luar negeri, semahal apapun pasti dibeli. “Kalau dipersentasekan, pembeli kami 80 persen orang asing dan 20 persen  orang Indonesia. Orang Indonesia lebih banyak membeli tas dari billboard karena unsur sampahnya tidak terlihat,” ujar Trisnur.

Inovasi Bambu

Berawal dari riset di kampus pada 2011,  Harry Mawardi membentuk  brand Amygdala Bamboo tiga tahun kemudian (2014). Kini  pangsa pasarnya telah menembus  hingga   Australia, Korea, China, dan  Jepang walaupun masih berskala kecil. Harry, owner dan designer Amygdala Bamboo terbilang cukup aktif berpameran. Ia pernah ikut   Inacraft, Crafina, dan Bravacasa. Selain itu, ia juga aktif mengikuti pameran serupa di luar negeri, salah satunya  World Bamboo Fair di Korea dan Bangkok Desain Festival. “Di luar negeri responnya cukup bagus tapi  mereka  melihat bambu ini sebagai material yang rapuh atau murahan jadi masih banyak yang bertanya. Ada juga sih yang beli,” kata Harry.

 

Harry Mawardi, owner sekaligus designer Amygdala Bamboo

Harry Mawardi, owner sekaligus designer Amygdala Bamboo

 

Penjualan produknya mulai ramai dalam dua tahun belakangan ini. Tepatnya kita ia memulai merambahi dunia online. Menurut Harry, apresiasi orang baik di dalam maupun luar negeri sebenarnya sama saja. Pembedanya adalah daya beli orang luar negeri lebih besar. Menurut Harry, banyak stand yang menarik di pameran Mozaik Indonesia. Selain itu acara  dikemas dengan baik. “Kami berharap bisa terkoneksi dengan beberapa buyer baru yang mampu menguatkan pasar kami,” tutur Harry.

 

Produk Amygdala Bamboo menjangkau pasar dalam dan luar negeri

Produk Amygdala Bamboo menjangkau pasar dalam dan luar negeri

 

Dari pameran, ia mendapatkan customer coffee shop dari  Makassar, Yogyakarta, dan Bali . Pameran di luar negeri juga membuahkan hasil, meski pemesananan masih eceran.  Di satu sisi memang diakui,  kapasitas produksi Amygdala Bamboo masih minim. Saat ini Amygdala Bamboo didukung delapan pengrajin. Jika ada pesanan dalam jumlah besar, Harry memberdayakan satu desa dengan 150 orang.  Sementara  penanaman bambu dilakukan oleh petani  di Selaawi, Garut.

 

Kacamata unik dari bambu

Kacamata unik dari bambu

 

Selama dua tahun perjalanan usahanya, Harry menjelaskan tantangan ada pada bambu yang notabene material  alam. Selalu ada  kasus baru. Misalnya, ketika ada project, dari 100 produk yang dihasilkan dengan bahan, finishing, dan pengawetan yang sama ternyata ada saja beberapa produk yang terkena rayap. Harry khawatir jika produk yang cacat itu terselip dalam pengiriman dalam jumlah besar khususnya ke luar negeri.  Makanya, harus jeli sekali memeriksanya. “Alhamdulillah pengrajin kami pintar-pintar,” tutur Harry.

 

Aplikasi produk Amygdala Bamboo pada jam dinding

Aplikasi produk Amygdala Bamboo pada jam dinding

 

Untuk kesiapan stok bahan baku, Harry memiliki kebun bambu sendiri. Dengan demikian dapat dilakukan kontrol terhadap pertumbuhan, penebangan, dan penyimpanan bambu. Tentu,kualitasnya pun paripurna.

Harry memaparkan, keunikan Amygdala Bamboo dibanding produk lainnya  adalah teknik coiling.  Sebenarnya teknik ini  sudah lama digunakan oleh Vietnam. Namun mereka fokus di pembuatan mangkuk, piring dan wadah. “Kami coba elevate teknik tersebut ke lampu, jam dinding, dan furniture. Kami  mencari segmentasi tambahan dari sana karena  warga desa itu sendiri  adalah pembuat sangkar burung dari bambu,” jelas Harry.

 

Teknik coiling digunakan Amygdala Bamboo pada beragam produk

Teknik coiling digunakan Amygdala Bamboo pada beragam produk

 

Ketika ditanya kemungkinan produk Amygdala Bamboo ditiru, Harry menjawab pihaknya cukup percaya diri sebab produknya  tidak bisa dibuat dengan mesin. Aplikasi  produk Amygdala Bamboo, antara lain  living, furniture, home decor, sampai tableware. Namun melihat pasar online, Harry menilai  produk fashion masih menguasai pasar.  Amygdala Bamboo menangkap peluang itu dengan  merambah ke aksesori fashion seperti kalung dan kacamata.

 

Pemenang I Best of The Best Wirausaha Muda Mandiri 2015

Pemenang I Best of The Best Wirausaha Muda Mandiri 2015

 

Tahun 2015 Amygdala Bamboo meraih pemenang I Best of The Best pada Wirausaha Muda Mandiri 2015. Harry memandang, penghargaan tersebut adalah tanggung jawab yang harus dibuktikan dengan keberlanjutan usaha. Harry ingin menginspirasi anak-anak muda untuk menggeluti bisnis bambu. Sebab  produk bambu masih terbatas di beberapa brand di Indonesia. “Kalau kami punya kebun bambu sendiri keuntungannya berlipat. Satu batang bambu itu Rp 15 ribu-Rp 20 ribu tapi bisa dibuat kalung dan kami jual seharga Rp 700 ribu. Sementara  satu bambu bisa menghasilkan  5-10 kalung. Jadi peningkatannya sangat tinggi,” jelas Harry.

 

Bambu pun mewujud dalam produk fashion

Bambu pun mewujud dalam produk fashion

 

Kisaran harga produk Amygdala Bamboo Rp 80 ribu-Rp 4 juta. Penjualannya paling tinggi adalah cangkir dan kacamata. Harry mengisahkan, banyak pemesanan ketika foto rangka kacamata ditampilkan di Instagram. Agak kerepotan karena ada part yang harus dibeli dari luar negeri. Saat ini prosesnya masih berjalan.

Memang butuh  kesabaran tinggi untuk menghasilkan produk dari bambu yang notabene  tingkat kesulitannya tinggi. Prosesnya pun panjang, harus menunggu bambu setengah kering, setengah basah, kering, sampai  direndam. Terkadang orang tidak sabar menjalani proses itu. “Untuk membuat satu produk bergantung pembahanannya. Kalau cepat, sehari beres. Kalau bahannya belum siap, harus tunggu sampai dua minggu. Ke depan kita mulai stock barang sehingga pelanggan tidak perlu menunggu,” ujar Harry.

Kardus Fungsional

Dus Duk Duk dimulai tahun 2013 oleh Angger D. Wiranata dan dua temannya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Awalnya mereka memproduksi furniture dari kardus lalu merambah ke  elemen interior, mainan, dan merchandise.  Pemasaran yang dilakukan secara online berbuah penjualan ke  beberapa kota, seperti Bali, Mataram, dan Makassar. Sementara pemasaran ke luar negeri masih direncanakan.  Segmentasi pasar produk Dus Duk Duk adalah semua kalangan.  “Penerimaan respon pasar itu sebenarnya gampang-gampang susah karena masih banyak yang belum familiar dengan bahan kardus,” kata Angger.

 

 Angger D. Wiranata dan dua temannya, pencipta Dus Duk Duk

Angger D. Wiranata dan dua temannya, pencipta Dus Duk Duk

 

Meyakinkan masyarakat bahwa kardus bisa menjadi bahan alternatif untuk kursi atau  pajangan terbilang sulit. Namun hal itu tidak menjadi halangan bagi Dus Duk Duk, melainkan pengalaman yang menyenangkan. Pasalnya mereka harus mampu mengedukasi masyarakat bahwa ada bahan lain yang bisa dijadikan produk seperti lemari atau meja. Bahkan ada kursi dari kardus yang mampu menampung beban hingga seberat 180 kg. Sebelum meluncurkan produk, tim Dus Duk Duk melakukan riset hingga ditemukan struktur yang tepat.

 

Angger D. Wiranata melayani pertanyaan pengunjung yang heran dan kagum terhadap produk Dus Duk Duk

Angger D. Wiranata melayani pertanyaan pengunjung yang heran dan kagum terhadap produk Dus Duk Duk

 

Angger mengakui belum ada usaha  sejenis.  Karena itu  potensi pasar yang bisa digarap masih besar. Namun  tantangannya adalah  meyakinkan masyarakat. Kemungkinan ditiru juga cukup besar karena kardus sebenarnya mudah diolah. Namun kembali kepada  cinta dan ketekunan. Banyak orang tidak bertahan karena kurang sabar. Saat ini Dus Duk Duk didukung empat pekerja dengan bantuan mesin. Sebelum serius menggeluti bisnis ini, Angger dan teman-teman memakai kardus bekas. Kini mereka melakukan request pemesanan kardus agar kualitas terjaga.

 

Kardus yang selama ini dianggap sampah mampu diolah menjadi produk fungsional

Kardus yang selama ini dianggap sampah mampu diolah menjadi produk fungsional

 

Mozaik Indonesia adalah pameran pertama di Jakarta yang diikuti Dus Duk Duk. Targetnya membuka pasar baru di Jakarta. Pameran sebelumnya lebih banyak di Surabaya. Penjualan di  Surabaya didominasi  merchandise atau mainan. Sementara  apresiasi untuk pameran cukup besar karena Dus Duk Duk tergolong aneh. Hal itu berpengaruh pada fasilitas stand yang diberikan secara free. Angger berharap,  pameran Mozaik Indonesia ini menjadi wadah memperkenalkan produk. Tak hanya  itu, mengedukasi masyarakat bahwa kardus selain sebagai packaging juga dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif.

 

Kardus yang rapuh dapat diolah menjadi beragam produk

Kardus yang rapuh dapat diolah menjadi beragam produk

 

Berbagai penghargaan diraih Dus Duk Duk, antara lain  Best Product Audit 2014 dan Young Marketers Of The Year 2014. Tidak hanya penjualan produk, tim Dus Duk Duk juga menjalin kerjasama dengan  artist kardus dari Belanda.

Pada tahun ini mereka berkolaborasi dalam sebuah workshop. Dalam pandangan Angger,  di luar negeri pertumbuhan produk dari kardus jauh lebih pesat. Hal itu disebabkan para artist sudah lama memulai dan bahan kardus yang diolah berbeda. “Level kardus di Indonesia  hanya sampai C, sementara di Eropa sudah sampai F yang lebih keras dari C,” tutur Angger yang di sela-sela wawancara melayani pertanyaan pengunjung yang menunjukkan raut kekaguman dan keheranan akan produk Dus Duk Duk.

 

Dus Duk Duk menciptakan mainan yang mulai diproduksi secara massal

Dus Duk Duk menciptakan mainan yang mulai diproduksi secara massal

 

Keunggulan lain yang ditawarkan tim Dus Duk Duk adalah menambah varian, seperti  mainan yang saat ini mulai diproduksi secara massal. Sebelumnya Dus Duk Duk memproduksi barang berdasarkan pesanan pembeli. Harga mainan mulai  Rp 100 ribu dan  furniture mulai Rp 300 ribu. Ketahanan produk adalah dua tahun. Angger bermimpi mengadakan festival kardus dan  workshop tentang kardus di sekolah-sekolah.

Produk Indonesia Mendunia

Dilatarbelakangi produk rotan sintetis yang membanjiri pasar dan menyebabkan penurunan penjualan, Sentana Art Wood mencari alternatif. Perusahaan yang didirikan pada 2012 itu tidak ingin memasarkan produk yang sama dengan perusahaan mebel lain. Mereka mencari yang lain daripada yang lain. Akhirnya dari eksperimen yang dilakukan terciptalah meja resin. Meja itu berhiaskan akar pohon yang tidak dipakai ditambah resin. “Kami memanfaatkan limbah. Tidak harus pakai kayu utuh, bisa dengan kayu separuh kemudian kita susun pakai resin,” kata Ina Musthofa yang ditemui di pameran Furniture Indonesia.

 

Sentana Art Wood, produk Indonesia yang sukses menembus pasar ekspor (Foto diambil dari katalog Sentana Art Wood)

Sentana Art Wood, produk Indonesia yang sukses menembus pasar ekspor (Foto diambil dari katalog Sentana Art Wood)

 

Ina dari bagian marketing Sentana Art Wood menyampaikan, resin adalah cairan kental yang mengeras menjadi padatan transparan. Resin  yang dicampur dan dipanaskan  menjadi kering seperti agar-agar. Selain akar pohon, material lain yang dipadukan dengan resin  adalah  pecahan kaca berwarna kuning, merah, dan hijau yang juga merupakan limbah. Sejak awal pendiriannya, Sentana Art Word mengekspor produk ke sejumlah negara, diantaranya China, Belgia, Turki, Belanda, hingga Yunani.

Pembeli diperoleh  melalui berbagai pameran, seperti dari Jerman, Shanghai, dan Jakarta. Kisah sukses dari pameran di luar negeri adalah pesanan dari perusahaan Zuo Mod di Amerika Serikat. Tak hanya itu, pesanan lima kontainer dari pameran di Jerman tahun 2016. Di Jakarta sendiri pameran yang pernah diikuti diantaranya IFFINA dan Indonesia International Furniture Expo (IFEX). “Stand pameran biasanya kami dibantu pemerintah. Namun untuk transportasi ke luar negeri dari kantong sendiri. Meski demikian, sudah sangat membantu. Namun di pameran Furniture Indonesia ini kami biaya mandiri,” ujar Ina.

Beragam produk dihasilkan Sentana Art Wood, sebagai berikut resin dining table, set table, stool (kursi berbentuk bulat tanpa sandaran) baik resin maupun aluminium, sofa resin, armchair resin, teak block coffee table, sampai natural decoration. Ina memaparkan, permintaan dari luar negeri didominasi project, misalnya meja  dan stool untuk kafe. Selain itu permintaan paling banyak adalah meja resin yang dinilai unik oleh pembeli. “Pecahan kaca itu mereka anggap diamond,” tutur Ina.

Sebenarnya teknologi resin yang dilakukan oleh Sentana Art Wood ini sudah ada sejak 15 tahun lalu. Di Jepara, dimotori oleh PT Epos Moderen. Di Bali, ada CV Payangan, CV Bunga Indah, PT Oliqus dalan sebagainya. Kehadiran Sentana Art Wood yang berbasis di Sukoharjo ini semakin memeriahkan pasar bisnis furniture inovasi resnin.  Saat ini, Sentana Art Wood masih berpromosi lewat pameran, tidak online.

 

Tahun 2016 ini Sentana Art Wood akan mengembangkan pasar dalam negeri (Foto diambil dari katalog Sentana Art Wood)

Tahun 2016 ini Sentana Art Wood akan mengembangkan pasar dalam negeri (Foto diambil dari katalog Sentana Art Wood)

 

Didukung   40-an karyawan,  tahun ini Sentana Art Wood berencana membuka pasar lokal karena banyaknya permintaan dari teman-teman.  Selain itu,  pangsa pasarnya juga sangat besar, misalnya  hotel.  Sebenarnya

“Kita juga menjaga kalau pasar di luar negeri goncang,” tutur Ina yang bergabung di Sentana Art Wood pada 2016.

Tujuan mengikuti pameran Furniture Indonesia adalah memperkenalkan sekaligus launching produk untuk pasar lokal. Ina berharap bisa mendapatkan  project di hotel, apartemen, atau restoran di Jakarta dan Bali. Menurut Ina, pesanan untuk project lebih menguntungkan dibandingkan  retail karena jumlahnya  banyak. “Karena kami  buka pasar lokal jadi  harus melayani retail juga,” kata Ina yang ditugaskan fokus menggarap pasar lokal.

Sentana Art Wood merencanakan membuka showroom di Jakarta dan Bali. Namun Ina  belum memastikan waktunya. Pemain yang belum banyak bagi Sentana Art Wood merupakan tantangan sekaligus peluang pasar. Terlebih pasar jenuh dengan produk furniture yang sudah ada saat ini. Di Indonesia sudah ada  beberapa perusahaan dari Jepara dan Bali yang membuat produk sejenis tapi dengan harga yang jauh lebih tinggi. Sementara Sentana Art Wood menawarkan harga yang terjangkau. “Kisaran harga di pasar lokal untuk meja resin Rp 9 juta dan kursi Rp 1 jutaan,” kata Ina.

Kontak:

1. Agus Iswahyudi

Mobile: +6281290055559

Email: [email protected]

Facebook page: Agus Iswahyudi

2. XS Project

Trisnur Ade

Mobile: +6282233082163

Email: [email protected]

www.xsproject-id.org

Facebook: XS Project Indonesia

Twitter: @xsprojectid

Alamat: Jl. Kaimun Jaya No. 28, Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430

3. Amygdala Bamboo

Harry Mawardi

Mobile: +6287821824369

Email: [email protected], [email protected]amygdalabamboo.com

www.amygdalabamboo.com

Facebook: Amygdala Bamboo

Instagram: @amygdala_bamboo

4. Dus Duk Duk

Angger D. Wiranata

Mobile: +6285648835357

Email: [email protected]

www.dusdukduk.com

Facebook: dus duk duk

Twitter: @dusdukduk

Instagram: @dusdukduk

Alamat: Jl. Semolowaru Indah II S-14, Surabaya 60119

5. Sentana Art Wood

Wahid Musthofa

Mobile: +6281231310123, +6281231323231

Email: [email protected]

Alamat: Dk. Gesingan RT 01 / RW 09

Ds. Luwang, Kec. Gatak, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah

 

Editor : kartina ika sari

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Good morniiing, beautiful people 😍 Pagi ini cerah banget, lho.. masa kamu enggak? Hihi. Semangat supaya aktivitasmu juga maksimal ya, guys 😁
.
Kamu termasuk yang suka buka video di Facebook gak, sih? Berdasarkan survey nih guys, sebagian besar orang menonton video di Facebook tanpa suara alias di silent mode 😆 Kira-kira kenapa yaaa? Apa karena nontonnya pas jam kerja, jadi di silent supaya gak ketauan bos 😂 hehe.. *bisa jadi bisa jadi 😋 Kamu punya alasan lain? Share dong sini..
.
#indoblognet #mbcommunication #socialmedia #survey #video #trending #viral #contentvideo #popular

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top