Film

Film ‘Sully’: Antara Kapten Chesley Sullenberger & Kapten Abdul Rozaq

Liburan Idul Adha – 12 September 2016 saya beserta 6 anggota keluarga menyaksikan film “Sully” yang ditayangkan perdana pada tanggal 9 September 2016. Film yang diangkat dari kisah nyata dan diangkat langsung dari buku yang ditulis oleh Sully  berjudul Highest Duty: My Search for What Really Matter (2009). Film digarap oleh Clint Eastwood dengan pemeran utama Tom Hanks. Tentunya kedua nama ini sudah tidak dapat diragukan lagi kwalitasnya di catur perfilman international (Bukan sekedar Hollywood…walaupun saya menyaksikan film ini di Hollywood XXI Jakarta 😀 ) . Film Sully diputar perdana di Indonesia tanggal 9 September 2016.

15  Januari 2009  Kapten Chesley ‘Sully’ Sullenberger (Diperankan Tom Hanks) membawa pesawat US Airways 1549 dari airport LaGuardia menuju Charlotte, North Carolina (Saat kakak saya memastikan dimana lokasi Charlotte saya langsung menjawab yakin ‘North Carolina’…salah satu gebetan saya dulu kuliah di sini..hihihiihi). Pesawat tersebut menerbangkan 155 penumpang, termasuk First Officer Jeff Skiles dan 3 pramugari bernama Sheila Dail, Donna Dent dan Doreen Walsh. Ketika US Airways 1549 belum terlalu lama take off, pesawat menabrak gerombolan burung yang berakibat 2 mesin kanan kiri pesawat mengalami kerusakan serius sehingga tidak berfungsi. Tentunya sebagai seorang kapten Sully harus memutuskan tindakan yang harus dilakukan demi keselamatan para penumpang dan semua awak yang telah panik.

Kapten Sully memutuskan mendaratkan pesawat yang dikemudikannya di air sungai Hudson dengan penuh resiko (Istilahnya dalam dunia penerbangan adalah ditching), daripada memilih kembali ke airport LaGuardia atau mengambil arah ke airport Teterboro New Jersey yang diinstruksikan oleh ATC (Airport Traffic Control). Seluruh penumpang selamat karena keputusan tersebut. Spoiler??! Hee, ini kisah nyata 😀 . Setelah kejadian ini Kapten Sully belum dapat bernafas lega walaupun dianggap sebagai pahlawan oleh para penumpangnya, media dan public. National Transportation Safety Board (NTSB) justru seolah menuntut Kapten Sully karena tidak mengikuti instruksi dari ATC agar pendaratan tidak mengalami resiko seperti badan pesawat rusak karena air. Nah, disini silakan saksikan sendiri bagaimana sidang dan simulasi yang dilakukan NTSB yang seakan mencari kesalahan Kapten Sully.

Antara Kapten Sully dan Kapten Abdul Rozaq

Kapten Sully dan keluarga (Sumber : Twitter Sully Movie)

Kapten Sully dan keluarga (Sumber : Twitter Sully Movie)

Menyaksikan film ‘Sully’ membuat saya teringat kepada Kapten Abdul Rozaq yang mengadakan pendaratan darurat  di Bengawan Solo Jawa Tengah. Berbeda dengan Kapten Sully yang sempat  dianggap bersalah oleh NTSB, maka Kapten Abdul Rozaq justru diberi penghargaan oleh Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnopoetri. Komentar yang disampaikan Ibu Megawati saat memberikan penghargaan kepada Abdul Rozaq dan Crew di Istana Merdeka,”Abdul Rozaq beserta crew Garuda telah melakukan tindakan yang berorientasi pada keselamatan penumpang.”

Bersyukur saya telah bertemu langsung serta mendengarkan kisah pendaratan darurat di Anak Sungai Bengawan Solo  Desa Serenan ,Kecamatan Juwiring , Kabupaten Klaten Jawa Tengah yang terjadi pada tanggal 16 Januari 2002 (What coincidence, perbedaan tanggalnya hanya 1 hari dengan kejadian  yang dialami Kapten Sully).

Ketika saya bertemu dan berkomunikasi dengan Kapten Abdul Rozaq dan Kapten Setiya Budi saya mengutarakan kepada mereka agar mengadakan simulasi kejadian ditching di Bengawan Solo , dan simulasi tersebut semoga dapat menjadi ‘feel experience’ bagi kami agar lebih mendekatkan diri kepada Maha Pemilik Hidup. Kebayang nggak sih jika kita mengalami kondisi pesawat yang kita tumpangi atau kendalikan mesinnya tidak berfungsi? Sedangkan saya yang pernah beberapa kali mengalami turbulensi keras saja mendengar jeritan penumpang lain sudah bikin mulut ini komat kamit serasa ingin mengkhatamkan kitab suci (Berasa hafal aja deh loe,An! :p ) . Beberapa  kronologis dunia penerbangan dijelaskan ketika itu, dan saya tidak hanya manggut-manggut mengerti karena saya terus bertanya mengenai kondisi cuaca dan instrumen panel yang ada pada pesawat . Pertanyaan inilah yang akhirnya memilih saya sebagai “Pertanyaan Terbaik” dan “Peserta dengan Pertanyaan Terinspiratif” dari kedua kapten tersebut.

Tidak terkira pertanyaan dan inspirasi saya ini tervisual dalam film ‘Sully’. Belasan simulasi yang dilakukan oleh NTSB adalah hal yang saya ajukan pada saat talkshow di bulan November 2009. Perbedaannya adalah saya ingin simulasi tersebut sebagai ‘perjalanan rohani’, agar kita mengukur seberapa dekat persiapan kita dengan maut.

Kisah Kapten Sully telah berhasil di film-kan oleh pekerja kreatif sekelas Clint Eastwood dan diperankan oleh Tom Hanks dengan ciamik. Mengapa kisah Kapten Abdul Rozaq tidak difilmkan juga oleh sineas berkwalitas Indonesia? Setidaknya memberi warna dan keragaman thema di dunia perfilman tanah air, serta memberi wawasan anak-anak dan kaum muda Indonesia mengenai dunia penerbang (Pilot) yang merupakan cita-cita idaman sejak saya kecil. Kapten Sully telah menuliskan bukunya dengan kejadian yang dikenal  ‘Miracle of Hudson’ dan Kapten Abdul Rozaq kisahnya telah dibukukan oleh Penerbit Pena Multi Media dengan judul ‘Miracle of Flight’ (Penulis : Ahmad Bahar tahun 2009), juga kumpulan kisah ‘9 Pilot Mencari Tuhan’ .

Peristiwa yang dialami keduanya merupakan pendaratan darurat terbaik di dunia! Jenis pesawatnnya berbeda, jika Kapten Abdul Rozaq mengemudikan Boeing, maka Kapten Sully mengemudikan Airbus. Secara kasat mata apabila di film-kan akan terlihat di kemudi yang kendalikan di film. So hati-hati nih kalau ada yang ingin memfilm-kan kisah Kapten Abdul Rozaq. Jangan sampai menggunakan Boeing di film. Bisa diprotes pecinta dunia penerbangan loh… 🙂

Beberapa goresan tentang buku 9 Pilot Mencari Tuhan  dan acara talkshow saya tuliskan dibawah ini.

Pertemuan Dengan Kapten Abdul Rozak

Buku yang ditandatangani 2 Kapten Untuk Saya

Buku yang ditandangani oleh 2 Kapten Untuk Saya

Tahun 2008 berlangsung Temu Alumni International ESQ 165  di Makassar. Pertemuan terbesar dan pertama, alumni ESQ 165 dari seluruh dunia berkumpul.  Saya niatkan untuk bersilaturahim ke  ESQ Makassar ketika bulan November 2009 ke kota itu, dan saat melihat kantor sekretariat ESQ 165 di Panakkukang….huaaa, ternyata tgl 7 – 8 November diadakan training MCB (Mission Character Building) 165 dengan Bpk Ary Ginanjar.Ya Allaaahh, saya  serasa “diingatkan” untuk mencharge pengetahuan dan pengalaman religi!

Shubuh , 14 November 2009 –  saya berangkat naik taksi bersama seorang teman dari Hotel Santika Makassar menuju Hassanudin Airport . Penerbangan kami berselang 2 jam, saya pukul 07 WITA terbang ke Jakarta, sedangkan teman saya terbang ke Surabaya pukul 09 WITA. Dalam penerbangan saya kembali  “membaca”  bagaimana pilot membawa pesawatnya. Sentimentil banget, rasanya masih mau berada di Makassar untuk beberapa saat. Nangis2 bombay deh tuh di pesawat (tanpa sadar)…hehehe…baper PMS!

Sesampai di Jakarta saya meletakkan travel bag di Pasar Minggu dan langsung berangkat ke Menara 165 TB Simatupang. Ternyata tepat  ada training executive yang dibawakan oleh  Pak Ary Ginanjar. Waktunya bersamaan dengan acara  talkshow dari Kapten Abdul Rozak tentang ‘Miracle of Flight’. Kapten Abdul Rozak adalah pilot yang pesawatnya mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo tahun 2002. Akhirnya saya  mengikuti talkshow -nya.

Huhuhu…huks…air mata saya berlinang mendengar penuturannya. Itu bisa dirasakan bagi orang yang ngerti . Tak lama kemudian ada  peserta Executive Training ESQ 165  yang “diculik”  ke ruangan talkshow untuk sharing, ternyata Kapten Didik – kapten dari Lion Air. Setelah sharing mereka berdua berpelukan. Huuuaaaa….ASLI saya ikutan nangis, nangis karena cinta-NYA.  Ternyata Kapten Setya Budi juga berada di ruang talkshow dan dipanggil untuk turut bercerita. Beliau adalah Kapten penerbangan Garuda Indonesia yang juga penyusun buku “9 Pilot Mencari Tuhan” – Penerbit Arga Publishing (ESQ Group). Tentunya Kapten Setya Budi bercerita mengenai dunia penerbangan, fenomena dan bagaimana profesi ini sebenarnya membuat kita lebih dekat dengan Allah! Yang diceritakannya mengenai pengalaman rohani adalah : Pengalaman beliau ketika akan take off dari Makassar!!! Yup, beliau bercerita tentang keadaan kondisi take off dari airport Hasanuddin, dimana posisi take off hanya memiliki 2 pilihan sulit, yakni : ke arah laut atau gunung. Saat penerbangan delay selama 2 jam di Makassar karena kondisi angin yang buruk , sampai akhirnya beliau mendarat darurat di Biak Papua.

Tak lama alumni dipersilakan untuk sharing atau bertanya. Tentu saya tidak melewatkan kesempatan . Ketika  kami tengah berdiskusi Pak Ary Ginanjar tiba-tiba masuk ke ruangan kami…Alhamdulillah akhirnya saya bisa berbicara “personal” dengan beliau.”Seru”-nya hari itu saya terpilih jadi “Peserta dengan Pertanyaan Terinspiratif” dari Kapten Abdul Rozak, dan ketika Kapten Setiya Budi diminta panitia untuk memilih “Pertanyaan Terbaik” saya terpilih lagi!!! Ibu – ibu disekeliling berkomentar,”Wah, besok dapat kulkas nih.”Ada yang nyahutin,”Iya nih,Mbak, besok bisa dapat mesin cuci samaq mobil deh”…hihihi,Aamiin. Saya diminta berbicara di depan peserta talkshow oleh Kapten Abdul Rozak…hehehe…kalimat pertama yang aku ucapkan adalah “Alhamdulillah …….”. Bukan sekedar hadiah buku-nya yang mereka berikan, bahkan buku ‘9 Pilot Mencari Tuhan’ sudah pernah saya ulas , tetapi pertemuan dengan mereka di saat saya baru saja menempuh jarak lebih dari 1000 km, melintasi lautan menambah aura cinta  kepada Sang Pencipta. Baru pagi hari tadi saya mereka-reka tentang kondisi runway take off Makassar, ternyata selang beberapa jam kemudian saya mendapat jawaban detail dari Kapten Setya Budi. Baru memikirkan keadaan “kecelakaan” penerbangan, ternyata siangnya mendapat kesempatan sharing dengan orang yang langsung pernah mengalaminya.

Ulasan Buku 9 PILOT MENCARI TUHAN

“We Cannot Change The Wind But We Can Change The Wings”. Sebab  angin memang diciptakan oleh-Nya, dan segala ‘jalan’ angin telah ditentukan oleh Sang Pencipta tanpa bisa diatur oleh kita makhluk nan lemah ini. Tetapi manusia diciptakan oleh-Nya menjadi makhluk yang terkuat dimuka bumi, kita diperkenankan oleh-Nya untuk bertahan dan ‘mengatur’ kemana kita akan berjalan tanpa harus menyerah andai angin mengombang – ambing kehidupan kita.

Buku ini berisikan kisah spiritual 9 pilot alumni ESQ. Sebagai alumni ESQ mereka telah ‘menemukan’ Tuhannya. Proses mereka dari makhluk yang sekedar makhluk yang hanya mengikuti kemana angin berhembus hingga akhirnya mereka dapat mengatur sayap mereka sehingga dapat ‘menakhlukkan’ angin.

Menjadi seorang pilot memang merupakan karunia tersendiri. Mereka merupakan manusia pilihan yang harus tangguh menghadapi kehidupan di ‘dunia’, daratan dan udara. Seorang musafir merupakan makhluk yang mendapatkan karunia dari-Nya. Lantas dapat dibayangkan pula makhluk yang membantu/mengantar para musafir tersebut berkelana mengarungi dunia ciptaan-Nya yang maha luas.

Iqra….Mereka tidak hanya harus membaca tulisan atau keadaan di kehidupan lingkungan , karena mereka juga harus mampu membaca angin. Angin ketika mereka mengendalikan pesawat terbang yang mengangkut jasad bernyawa (bahkan ratusan nyawa), hingga angin yang menerpa kehidupan mereka di daratan. Semuanya dapat mengalir dengan indah selama mereka telah menemukan Tuhan-nya.

Diantara mereka yang kisahnya berada dalam buku ini, terdapat kisah Kapten Abdul Rozak (Terbang Melintasi Kemustahilan) yang pesawatnya mengalami kecelakaan hingga mendarat darurat di Bengawan Solo. Kejadian yang sempat menjadi berita utama di aneka koran terbitan negeri tercinta, Indonesia. Kejadian tanggal 16 Januari 2002, dengan pesawat Boeing 737-300 no.flight GA 421 rute Selaparang, Lombok menuju Adi Sucipto, Yogyakarta. Di atas kota Blora (Ketinggian sudah mencapai 31.000 kaki) pesawat memasuk ke dalam awan Cumulunimbus, sejenis awan yang berbahaya disertai hujan deras. Hingga pada ketinggian 23.000 kaki mesin pesawat terbang mati…pesawat terus meluncur hingga 8000 kaki dalam keadaan gelap gulita. Seluruh penumpang pesawat dirasakan merupakan amanah bagi beliau. Dan kecelakaan ini merupakan hidayah bagi beliau.

Kisah lain perjalanan spiritual para pilot ini dapat dibaca di buku ini. Saya merasa menikmati setiap kata yang tertulis dalam buku hardcover bergambar instrument panel pesawat terbang.

Anna R Nawaning S

http://odysseygemini.blogspot.com(Kuliner)
http://odysseygemini.blogspot.com (Wisata Indonesia)
http://57odysseygemini.blogspot.com (Lifestyle)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Cara termudah untuk menghasilkan konten visual yang bagus adalah: buat konten yang memiliki keterikatan dengan audiens, mengandung unsur emosional, dan juga orisinal .
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #trendingpost #popularpost #viralpost #content #brandingcontent

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top