Film

Film My Generation, Jembatan Komunikasi Antargenerasi

Kehidupan sudah berubah. Era digital melahirkan generasi millenial dengan karakter yang unik, salah satunya cenderung kritis. Mereka lebih mudah melakukan apapun yang diinginkan. Dampaknya, timbul gap antara orangtua dan anak.

Demikian pemaparan Upi dalam film terbaru yang disutradarainya, My Generation pada 10 Oktober 2017. Dalam peluncuran official trailer dan poster film tersebut di Qubicle Center Upi menyampaikan, film My Generation mengetengahkan hubungan orangtua dan anak. Point of view anak melihat orangtua dan sebaliknya. Permasalahan kompleks yang menarik untuk diangkat. My Generation menceritakan persahabatan empat siswa SMU, Zeke (diperankan Bryan Langelo), Konji (Arya Vasco), Suki (Lutesha), dan Orly (Alexandra Kosasie). Diawali dengan viralnya video mereka yang memprotes guru, sekolah, dan orangtua. Sebagai hukumannya mereka dilarang berlibur. Kegagalan tersebut justru membawa mereka kepada petualangan sarat pelajaran kehidupan. Karakteristik empat sahabat yang berbeda itu memunculkan konflik tersendiri.

Orly digambarkan sebagai sosok yang kritis. Ia berusaha mendobrak label negatif yang sering diarahkan kepada perempuan. Berbeda halnya dengan Suki yang memiliki krisis kepercayaan diri karena orangtua yang selalu berpikiran negatif tentangnya. Sementara itu Zeke adalah pemuda rebellious yang loyal pada sahabat-sahabatnya. Lain halnya dengan Konji yang polos dan tengah mengalami dilema dengan masa pubertasnya terlebih orangtuanya yang over protective.

Untuk semua karakter tersebut Upi melakukan riset secara intensif selama dua tahun. Pengerjaan filmnya sendiri memakan waktu satu tahun. Menurutnya kenakalan jaman sekarang sebenarnya sama saja dengan jaman dahulu. Hanya caranya yang berbeda. Di film My Generation percintaan yang selama ini identik dengan kehidupan remaja tidak menjadi main topic. Bila Upi memanggil remaja untuk diwawancara tentu mereka tidak jujur atau menutupi. Untuk itu Upi mengamati semua social media, yakni Facebook, Twitter, Instagram, hingga Youtube. Ia baca semua komentar mereka terkait permasalahan dengan orangtua, guru, sampai kehidupan. “Sebagian besar percakapan dalam film ini didapat dari apa yang saya lihat di social media. Termasuk dialog bahasa Inggris campur bahasa Indonesia. Realitanya saat ini seperti itu. Film ini sesuai dengan gaya bahasa dan tren anak muda jaman sekarang,” ujar Upi yang juga bertindak sebagai penulis dalam film My Generation.

Pemain Baru

Harus memakai pemain baru, salah satu syarat yang diutarakan Upi kepada Produser IFI Sinema Adi Sumarjono. IFI Sinema telah berkecimpung di industri perfilman Indonesia sejak 2007 melalui film-filmnya, antara lain Radit dan Jani (2008) dan Pertaruhan (2017). Dengan kata lain anak muda yang sesuai umurnya, bukan orang yang sudah tua tapi terlihat seperti anak muda. Demi memenuhi keinginannya mendapatkan pemain yang masih fresh, Upi melakukan casting yang cukup lama sampai ke Bali dan beberapa daerah. Bryan, Vasco, Lutesha, dan Alexandra terpilih sebab aktingnya natural, menjadi diri mereka sendiri, dan sangat percaya diri. Mereka tidak pernah menonton sinetron atau film, tidak punya acuan akting tertentu. Modal dasar pemain baru itu cukup untuk diasah. Mereka menunjukkan kemampuan akting di luar dugaan. Di tangan mereka nantinya kualitas akting pemain film Indonesia akan semakin berbobot. Munculnya wajah baru dalam industri perfilman tanah air tersebut sesuai dengan karakter remaja millenial yang ingin diangkat. Selain itu memberikan warna berbeda dan regenerasi pemain film. “Ini pertama kalinya mereka bertemu dengan media,” tutur Adi yang memiliki pengalaman panjang di bidang hukum.

Tentu butuh effort lebih besar saat melibatkan pendatang baru yang belum bermain film. Namun hal tersebut dilihat sebagai sebuah tantangan oleh Upi. Sebagai seorang pembosan, ia senang menjalaninya, membuatnya semakin excited.  Proses reading dipandang Upi sebagai wadah memahami karakter tokoh yang akan diperankan dan membiasakan pendatang baru itu untuk berakting. Awalnya mereka panik. Seiring berjalannya waktu menjadi terbiasa. “Biarkan penonton yang menilai. So far mereka itu amazing. Saya melihat suatu hal yang beda, baru,” kata Upi yang memulai kariernya sebagai sutradara dalam film 30 Hari Mencari Cinta.

(kiri ke kanan) Lutesha, Arya Vasco, dan Bryan Langelo, tiga dari empat pendatang baru dalam film My Generation. (Sumber foto: Mira Utami)

Lutesha mengaku keterlibatannya dalam film My Generation merupakan pengalaman baru. Proses reading selama tiga hingga empat bulan membuatnya siap dan lancar saat menjalani shooting. Sementara itu Joko Anwar yang selama ini dikenal sebagai sutradara turut menjadi salah satu pemeran dalam film My Generation. Upi adalah filmmaker favoritnya. Keinginan Joko terlibat dalam film tersebut disetujui Upi dengan terlebih dahulu mengikuti casting. Joko mengaku tidak mengalami kesulitan sebab Upi adalah sutradara yang sangat hands on dengan anak buahnya. Menurut Joko, script My Generation luar biasa bagus. Film ini tidak hanya menghibur dan menarik, juga sangat penting untuk generasi sekarang dan generasi sebelumnya. Film My Generation menjadi jembatan antargenerasi untuk berkomunikasi. “Saya melihat empat pemain baru ini jago akting, bintang baru telah lahir melalui film ini,” kata Joko yang dikenal lewat karya A Copy of My Mind.

(kiri ke kanan) Joko Anwar, Surya Saputra, Aida Nurmala, Arya Vasco, Upi, Lutesha, dan Bryan Langelo, sebagian pemeran film My Generation. (Sumber foto: Mira Utami)

Pemain senior yang memerankan orangtua telah ditentukan oleh Upi, seperti Aida Nurmala yang pernah bermain di film Upi sebelumnya. Melalui film My Generation, Aida memandang keinginan orangtua tidak selamanya sama dengan anak. Sebagai seorang ibu, ia merasakan sekali hal itu. Pemain senior lainnya adalah Surya Saputra yang mengaku jatuh cinta pada script My Generation yang bagus. Ia berharap sekali berpartisipasi dalam film tersebut. Terlebih Upi menilai karakter orangtua tepat diperankan oleh Surya. Pemain senior yang turut andil, diantaranya Ira Wibowo, Tyo Pakusadewo, hingga Indah Kalalo. Pemain senior yang beradu akting dengan pemain muda menjadi ajang pembuktian kualitas akting mereka yang tidak luntur oleh waktu. “Film ini harus ditonton oleh semua orang di Indonesia,” tutur Surya yang berperan sebagai ayah Suki.

Film Keluarga

Dalam pandangan Upi, film My Generation tidak mengandung hal yang aneh atau menakutkan. Semua yang dipaparkan dalam film tersebut nyata, segala hal yang dihadapi sehari-hari bersama anak. Adi menyampaikan film My Generation telah menjalani presensor oleh Lembaga Sensor Film. Artinya film tersebut direkomendasikan dan layak ditayangkan. Tidak ada hal-hal yang kontroversial. Boleh dikatakan My Generation adalah film keluarga. Adi yang telah bekerja sama dengan Upi untuk ketiga kalinya mengaku tidak membatasi kreativitas sutradara. Upi menganggap Adi adalah produser ideal sebab ia tidak pernah ikut campur dalam urusan kreatif. Semua dipercayakan kepada Upi. Menurut Adi, budget itu relatif. Berapapun budgetnya diterima asalkan bagus. “Budget film ini cukup besar tapi kita cukup puas dengan apa yang dihasilkan,” tutur Adi yang pernah memproduseri film Coklat Stroberi.

Upi berpesan, film My Generation yang tayang pada 9 November mendatang diperuntukkan bagi remaja dan orangtua. Mereka bisa belajar bersama. Penting untuk menyaksikan bersama kehidupan generasi millenial yang sesungguhnya, potret yang sangat real. “Film ini aman dan harus ditonton remaja dan orangtua,” tutur Surya yang pernah bermain di film Untuk Rena.

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Happy beautiful Sunday, everyone 😍 Ngaku nih, siapa yang pagi ini udah nontonin videooo? Hihi 😆😄
.
Tau gak sih guys, Penelitian Nielsen Consumer Media View 2017, menunjukkan bahwa minat menonton video online terus meningkat, lho. Penetrasi internet kian meroket sehingga perilaku penggunanya juga bergeser, deh 😀
.
Berdasarkan survey Nielsen Cross-Platform 2017, terjadi peningkatan akses internet hampir di semua tempat. Akses internet meningkat di kendaraan umum sebesar 53 persen, kafe atau restoran 51 persen, bahkan di lokasi konser juga bertambah 24 persen dibandingkan dua tahun lalu 😎
.
Data juga menunjukkan frekuensi menonton konten video melalui internet meningkat hampir di semua usia. Saat ini Youtube masih menjadi raja sebagai penyedia konten video online. Selain mengonsumsi online video sebagai hiburan, konsumen juga cenderung mencari berita online video di beberapa laman media massa 📰
.
Sumber: m.republika.co.id
.
#indoblognet #mbcommunication #sundayfunday #weekend #onlinevideo #survey #content #internet #youtube

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top