Indo Blog Net

blog

Fakta Perilaku Pembaca Artikel Online dan Cara Menyiasatinya

Fakta Perilaku Pembaca Artikel Online dan Bagaimana Menyiasatinya dengan Konten yang Berkualitas

Perilaku pembaca artikel online itu sangat spesifik. Dengan mengamati beberapa fakta perilaku mereka, apa yang bisa kita lakukan untuk menyiasatinya?

Bagikan Jika Bermanfaat

Apa yang terlintas di benak teman-teman, jika ada fakta yang menyebutkan, bahwa rata-rata pembaca artikel online hanya “mau” membaca 20% bagian saja dari keseluruhan konten kita? Yes, jadi jika kita menulis artikel 1000 kata, maka mereka hanya akan membaca di 200 kata saja.

Selebihnya? Entah. Entah mereka cabut lagi, entah skimming.

Fakta ini disampaikan oleh Go-gulf, sebuah perusahaan web development berbasis di Dubai, UAE sana. Miris ya? Iya. Ini saja di Dubai ya, yang bukan negara-yang-minat-bacanya-hanya-1-dibanding-1000-orang. Apa kabar Indonesia? Entahlah. Belum ada survei sepertinya. Atau, saya yang belum nemu.

Dan, itu hanya salah satu fakta perilaku pembaca artikel online yang terasa “mengejutkan”. Masih ada beberapa lagi–yang akan segera saya sampaikan di bawah ini. Tapi sebelum itu, seperti juga hal-hal lainnya, fakta buruk itu sebenarnya selalu ada sisi yang bisa dimanfaatkan juga.

Dalam kasus ini, fakta-fakta “buruk” pembaca artikel online ini sebenarnya bisa kok kita atasi dan manfaatkan agar kita bisa membuat konten yang kuat.

Nah, pertinyiinnyi adalah … bagaimana caranya? Mari kita lihat sekalian yah.

Infografis Perilaku Pembaca Artikel Online Menurut Go-gulf

Mari kita lihat satu per satu:

  1. Pembaca artikel online rata-rata hanya bisa benar-benar fokus pada konten sebuah situs selama 8 detik saja. Ini sangat jauh menurun dari rata-rata attention span di tahun 2000, yaitu 12 detik. Padahal ya, untuk membaca artikel sepanjang 500 kata saja, kita butuh rata-rata waktu 3 menit. Ini terlepas dari konten itu bisa dipahami dengan mudah atau enggak ya.
  2. 55% dari keseluruhan pageview adalah visitor yang hanya mau tinggal sampai maksimal 15 detik. So, misalnya kita punya PV 1000/hari, maka 550 pengunjung paling cuma tinggal selama 0 – 15 detik.
  3. Sebanyak 69% pembaca artikel online hanya bisa fokus pada sisi sebelah kiri dari halaman situs atau blog. Sedangkan 30% di antaranya, mau ngelihat sampai sisi sebelah kanan. Artinya, sebenarnya nggak banyak orang memperhatikan sidebar itu. Hehehe.
  4. Hanya 20% orang mau scrolling laman situs atau blog kita. Dalam struktur desain antarmuka sebuah situs ada yang disebut dengan above the fold dan below the fold. Above the fold adalah bagian situs yang bisa kita lihat langsung begitu terbuka.Begitu kita scroll satu kali, maka bagian yang kita lihat berikutnya adalah below the fold. 80% pengunjung biasanya akan menaruh perhatian mereka pada above the fold saja. 20%-nya mau scroll sampai bawah.
  5. Pengunjung yang mau tinggal selama minimal 3 menit di situs kita akan berpeluang 2 kali lebih besar untuk kembali lagi. Ya, ini sih logis. Kalau sampai seseorang mau membaca sampai 3 menit (padahal attention span rerata adalah 8 detik), maka sudah pasti dikarenakan si pembaca sangat tertarik dengan konten kita.
  6. Hanya 10-20% pembaca rata-rata yang mau menyelesaikan membaca konten sampai habis. Ya, ini ada kaitannya dengan fakta no. 4 di atas itu sih.
  7. Pembaca yang mau membaca konten kita minimal selama 15 detik, cenderung akan dapat mengingat nama blog kita. Ini kaitannya dengan branding.
  8. Artikel storytelling yang dibaca selama 123 detik (sekitar 2 menit) akan mendapatkan engagement lebih banyak.
  9. Returning visitor rata-rata mau membaca selama 277 detik (mendekati 5 menit).
  10. Judul akan dibaca oleh 97% pembaca,, subjudul akan dibaca oleh 98%-nya, 60% akan cenderung skimming (fast reading), dan 91% akan membaca caption image.

Sooo … mengamati beberapa fakta pembaca artikel online di atas, lalu apa yang bisa kita lakukan nih untuk menyiasatinya? Kita kan harus berupaya supaya pengunjung blog kita “terpaksa” tinggal lama di blog kan? Mereka harus mau baca artikel kita sampai selesai kan? Kalau perlu, mereka juga harus mau berkunjung dan membaca artikel-artikel kita yang lain kan?

Iya dong! Memangnya ngeblog profesional mau buat apa lagi kalau enggak buat gituan?

(((gituan)))

Makanya, kita harus mengupayakan sesuatu nih. Apa aja? Well, sebagian sih sudah diuraikan di artikel Cara Menulis Artikel Blog Berkualitas.

Tapi, mari kita lihat dari beberapa cara praktisnya. Yaitu, sebagai berikut.

Menyiasati Perilaku Pembaca Artikel Online yang Agak Nggak Jelas

1. Judul, featured image, dan opening memegang peranan penting

Berapa lama pengunjung blog akan fokus saat pertama kali mereka datang ke blog kita? 8 detik.
Bagian mana yang paling mereka perhatikan saat pertama kali mereka datang ke blog kita? Bagian above the fold.

Jadi, bagian above the fold harus mau nggak mau bisa menarik perhatian mereka sedemikian rupa, sehingga mereka mau melanjutkan untuk scrolling ke bawah, menuju below the fold.

Dan, apa yang biasanya ada di above the fold? Yes, judul, featured image, dan opening. Dan, coba amati, di bagian opening pun, kadang hanya bisa terlihat beberapa kalimat, bukan? Mungkin hanya satu atau dua kalimat saja.

Jadi, di situlah “nasib” artikel kita ditentukan. Karena itu, hati-hatilah dalam membuat judul, pilih featured image dengan saksama, dan beri opening yang bisa hook pembaca.

2. Langsunglah pada inti permasalahan

Berapa lama orang mau tinggal dan membaca blog kita? Yes, 15 detik. Apa yang bisa kita buat supaya dalam 15 detik itu, orang mau memperpanjang waktu tinggalnya di blog?

Yes, langsung pada pokok permasalahan–pokok dari informasi yang pengin mereka dapatkan. Jadi topik tulisan kita sudah harus muncul, saat orang sedang tinggal selama 15 detik itu. Langsung ikat pembaca pada 15 detik pertama.

Itu bukan waktu yang cukup lama, tapi sangat cukup untuk membuat mereka penasaran dan ingin tahu lebih banyak.

Kalau mau itung-itungan matematis nih–secara teoretis–kalau 500 kata itu bisa dibaca selama 3 menit (180 detik), maka dalam 15 detik orang itu (seharusnya) bisa membaca sekitar 40 kata pertama.

Jadi kesimpulannya? Lagi-lagi opening menjadi hal terpenting dari tulisan kita.

3. Sidebar di sebelah kanan

Kalau di ilmu SEO, sidebar kiri tidak dianjurkan karena robot perayap Google membaca konten kita dari kiri ke kanan. Lalu, sekarang Go-Gulf–sebuah perusahaan di UAE–memberikan fakta bahwa orang cenderung lebih mudah menangkap elemen dari kiri ke kanan. Padahal orang UAE–CMIIW–membaca huruf Arab kan ya? Yang harus dibaca dari kanan ke kiri.

Logikanya sih, Go-Gulf akan memberikan fakta berdasar pengalaman dan juga riset. Saya kira perilaku lebih mudah menangkap elemen dari kiri ke kanan ini akan tidak berlaku bagi mereka yang terbiasa membaca huruf Arab. Tapi ternyata enggak ya? 😆 Tanpa maksud rasis lo, ini. Hanya melogika berdasarkan perilaku. Tapi, logika saya salah ternyata.

So, nggak cuma robot perayap Google yang membaca konten kita dari kiri ke kanan, orang pun akan lebih mudah menangkap elemen dari kiri ke kanan. Jadi, tempatkan konten kita di sebelah kiri. Kanannya diisi apa? Ya, sidebar bolehlah. Dengan mengacu pada fakta ini, sebenarnya bisa saja sidebar nggak usah kita isi apa-apa juga. Karena jarang juga ada yang mau lihat. 😆

Ya, ini gambaran kasarnya. Tentu saja teman-teman boleh “menghias” sidebar. Hanya saja, pastikan jangan sampai memperlambat loading blog.

4. Pergunakan struktur konten dan bahasa yang mudah dipahami

Berapa banyak orang yang mau membaca dengan saksama begitu mereka membuka artikel blog kita? Rata-rata hanya 40%. Yang 60%? Skimming, alias fast reading. Mereka cuma scanning aja gitu, scroll sambil matanya menandai apa-apa yang penting saja bagi mereka.

Saat mereka skimming, mereka akan sembari menimbang. Apakah kontennya cukup memenuhi syarat pencarian informasi mereka? Kalau iya, maka mereka akan balik lagi ke atas, baru deh membaca dengan lebih saksama.

Jadi? Gimana nih? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, terkait perilaku ini:

  • Gunakan bahasa yang mudah dipahami. Selama skimming, kalau mereka menemukan kalimat-kalimat mbulet, kata-kata asing, istilah-istilah yang tak bisa dipahami oleh manusia, maka ya, bhay.
  • Gunakan subheadings. Subheading memisahkan antara bagian satu dengan bagian lain dalam sebuah konten, sehingga akan memudahkan orang “menangkap” sesuatu yang lebih penting daripada yang lain.
  • Gunakan huruf tebal sesuai porsi, karena huruf tebal itu fungsinya adalah menandai sesuatu yang penting. Kalau ada yang nggak penting, tapi ditebalkan, itu semacam “pembohongan publik”, “penistaan konten”, “penyalahgunaan fungsi” … halah. Istilahnya … 😆 Bercanda lo ya. Jangan terlalu serius.

5. Pergunakan standar panjang artikel dengan bijak

Saya pernah membahas mengenai seberapa panjang sih idealnya sebuah artikel blog itu? Dan, jawabannya, masing-masing standar panjang artikel itu ada fungsinya sendiri-sendiri, ada tujuannya masing-masing.

Jadi, jika Go-Gulf menyebutkan bahwa artikel panjang akan lebih banyak menjaring engagement, itu nggak salah sama sekali. Artikel panjang biasanya akan membahas secara lebih mendalam, in-depth. Sehingga mampu mengupas masalah sampai tuntas.

Tapi, artikel pendek pun ada tujuannya sendiri juga.

Seberapa pintarnya kita menyesuaikan tujuan dan kebutuhan, maka manfaatnya pasti akan berkali lipat.

Seperti halnya artikel ini, nggak terasa sudah 1300 kata aja. 😆 Jadi, semoga sedikit analisis dan ulasan ini bisa memberi manfaat untuk teman-teman yang ingin menulis konten yang kuat. Terutama sih menyesuaikan dengan perilaku pembaca artikel online yang agak nganu di atas.

Selamat memasak konten!

Meet me

CarolinaRatri

Content & Copywriter. Sketcher. Editor. Visual Communicator. Graphic designer. Mood swinger. INFJ-T Sagittarian. Sarcasm speaker.
Meet me
Bagikan Jika Bermanfaat

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • The Best BUSINESS MINDSET For Success Every Entrepreneur Should Have In 2019 💰💸
.
Guuuys, you should know that it takes a couple more mindset or perspectives to become a SUCCESSFUL entrepreneur this year 🎉
.
1⃣ Self-Belief
.
The first person you need to BELIEVE in is yourself. You have to believe that you have the skills and resources to make the business work, and you will 😍
.
2⃣ Step out of the Box
.
Don’t be afraid to be different, to go beyond the usual. Entrepreneurs who know they have something UNIQUE to offer have a significant advantage over their competitors
.
3⃣ The Growth Mindset
.
The Growth Mindset is all about THINKING that there’s more than you can do.  If you want to be successful, you should look at success as a journey rather than a destination 💪💪
.
4⃣ Get Cozy with the Uncomfortable
.
If you are engulfed by fear and it holds you back, you’ll never have a way to test your capabilities. Don’t be afraid to try out newer, bolder, more challenging things
.
5⃣ There’s Solution A-Z
.
Like most things in life, not everything in your business will run according to plan. Remember, if plan A doesn’t work, you have plan B, C until Z, haha 😜
.
6⃣ Laugh at Yourself
.
Business is a serious matter, but what have you got to lose if you try to be silly once in a while? If something goes awry, solve it and then laugh at it
.
Not everything in your business has to be perfect to a tee, but you can always LEARN FROM your FAILURES and laugh at your mistakes. Spread positivity with your smiles and laughter ❤
.
Credit: 3stepsright.com
.
#mbcsosmedcontent #mbcommunication #indoblognet #brandingagency #digitalagency #marketingagency #digitalpromotion #jasaseo #seocoaching

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top