Entrepreneur

Dekranas, Harumkan Nusa Bangsa!

Maju terus pantang menyerah perajin seni budaya. Lestarikan warisan leluhur kita. Wujudkan jati diri bangsa. Bersama rakyat membangun negeri tercinta. Dekranas harumkan nusa bangsa.

Demikian petikan Mars Dekranas yang menggema di SMESCO Convention Center. Pada 17 Mei 2016 lalu Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional dan Pameran HUT ke-36 Dekranas. Tema acara tersebut adalah  ‘Perajin Kreatif di Era Digital’. Pameran berlangsung  pada 17-20 Mei 2016. Pada kesempatan terebut  hadir Pembina Dekranas Iriana Joko Widodo, Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Perindustrian Saleh Husin, ketua Dekranasda kabupaten/kota seluruh Indonesia, delegasi Dekranasda kabupaten/kota, anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE), sesepuh Dekranas, duta besar perwakilan negara sahabat, serta undangan.

Rapat Kerja Nasional Dekranas diikuti pengurus Dekranasda kabupaten/kota yang berjumlah 650 orang.

Rapat Kerja Nasional Dekranas diikuti pengurus Dekranasda kabupaten/kota yang berjumlah 650 orang.

Ketua Panitia Pelaksana Acara Trianna Rudiantara dalam kata sambutannya menyampaikan berbagai kegiatan telah digelar dalam rangka HUT Dekranas ke-36, antara lain syukuran Dekranas pada  3 Maret 2016 di Rumah Kriya Asri yang merupakan kantor sekretariat Dekranas serta penandatangan kerja sama antara Dekranas dengan PT XL Axiata dan Elevenia pada  Oktober 2015  dalam pemanfaatan layanan internet dan digital sebagai sarana promosi strategis bagi produk kerajinan nasional.

Kerja sama ini dipandang perlu agar kerajinan nasional lebih dikenal masyarakat Indonesia maupun global dengan memanfaatkan internet dan mobile technology. Realisasinya adalah pelatihan 30 perajin di Kabupaten Garut yang bergerak di bidang kerajinan kulit, batik, akar wangi, dan batu alam pada 2 Februari 2016. Program ini diharapkan dapat membantu pemasaran  produk mereka hingga ke mancanegara.

Selain itu Dekranas mengadakan lomba desain cendera mata bagi siswa  SMA dan SMK dan menggelar Dekranas Award sebagai bentuk apresiasi Dekranas dengan kategori produk kriya terbaik  dan pembina teladan. Dekranas juga berpartisipasi dalam berbagai pameran di dalam dan luar negeri, diantaranya pameran di Festival SMESCO pada Oktober 2015 dan bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan mengikuti  Hongkong Gift and Premium Fair pada 27-30 April 2016.

Trianna menjelaskan gelar produk yang merupakan bagian dari perayaan HUT ke-36 Dekranas adalah  media pembelajaran bagi pelaku industri kerajinan dalam bidang kreativitas dan teknologi.  Dekranas sebagai elemen penggerak kerajinan Indonesia membina, melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan keragaman budaya Indonesia yang memiliki potensi dan daya saing ekonomi tinggi di pasar industri kerajinan khususnya di Asia Tenggara.

Di usia ke-36 ini Dekranas memberikan perhatian dan motivasi serta memfasilitasi dan memperjuangkan kepentingan perajin. Selain itu  mendorong semangat kewirausahaan dengan berbagai pelatihan, pameran, promosi,  dan kegiatan lain yang mendukung. Dekranas berkomitmen sebagai mitra perajin agar mereka menjadi perajin yang tangguh.

Pemanfaatan Aplikasi

Selanjutnya sambutan dari Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla. Beliau menyampaikan  tujuan Dekranas adalah menyelaraskan, mensinkronkan, dan mensinergikan program dan kegiatan Dekranas dan Dekranasda dalam mengembangkan sumber daya perajin melalui regenerasi perajin. Selain itu  meningkatkan daya saing produk  kerajinan dan  meningkatkan kualitas kerajinan yang semakin unggul.

Pemotongan tumpeng bersama sesepuh Dekranas, Ibu Umar Wirahadikusumah, Ibu Tri Sutrisno, dan Ibu Herawati Budiono.

Pemotongan tumpeng bersama sesepuh Dekranas, Ibu Umar Wirahadikusumah, Ibu Tri Sutrisno, dan Ibu Herawati Budiono.

Diharapkan pada gilirannya dapat mendorong semangat kewirausahaan dalam mendukung ekspor kerajinan yang semakin meningkat. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut diperlukan keberpihakan dan fasilitasi dari pemerintah kepada pihak terkait lainnya. Kerajinan sebaiknya dimasukkan dalam kurikulum atau ekstrakurikuler. Membuat kerajinan unggulan setempat dengan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.

Pembina Dekranas Iriana Joko Widodo, Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan sesepuh Dekranas berfoto bersama anggota OASE.

Pembina Dekranas Iriana Joko Widodo, Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan sesepuh Dekranas berfoto bersama anggota OASE.

Mufidah mencontohkan dirinya yang mempelajari sulam kristik sejak SD. Saat itu sekolah dan keluarga mengharuskannya. Sampai sekarang beliau tidak lupa. Mufidah mengimbau Dekranas, Dekranasda,  gubernur, bupati, dan walikota  melalui satuan kerja pemerintah daerah  membantu masyarakat dalam pembudidayaan, pelatihan, dan pendampingan tanaman alam yang sesuai dengan iklim dan kondisi masing-masing daerah. Dengan demikian mengurangi ketergantungan akan benang impor, misalnya  pemeliharaan ulat sutra dan budidaya kapas.

Selain itu memberi bimbingan dan pelatihan pengolahan tanaman   menjadi serat alam yang bisa menjadi bahan baku tekstil dan kerajinan lainnya. Hal ini tentu dapat membuka lapangan kerja yang sangat besar. Merujuk kepada arahan Iriana yang menekankan agar Dekranas menjadi lembaga yang kredibel dan andal dengan produk kerajinan yang menguasai pasar dunia bersama pemangku kepentingan lainnya di bidang seni kerajinan. Untuk mencapai hal tersebut Dekranas telah melakukan kerjasama dan kemitraan dengan beberapa pihak dalam memanfaatkan jasa teknologi dan telekomunikasi.

Di samping itu sebagai sarana komunikasi dan edukasi dalam meningkatkan daya saing produk serta sarana komunikasi ekonomi dengan memanfaatkan website Dekranas, www.dekranas.id. Perajin dapat belajar membuat poduk yang berdaya saing tinggi melalui tutorial sehingga  dapat menembus pasar dunia. Kini telah tersedia aplikasi Kriya yang dapat diunduh melalui Google Play Store dengan berbagai keuntungan, yaitu  mempertemukan perajin dari seluruh Indonesia dengan pembeli potensial, mengunggah foto produk, membuat peta konsentrasi produk daerah, melindungi data perajin dengan sistem kata sandi, serta mencatat data perajin,  lokasi dan trend secara berkala.

Menteri Perindustrian Saleh Husin yang ditemui saat berkeliling pameran memandang produk yang dipamerkan di  SMESCO patut diapresiasi. Ada tempat untuk memasarkan produk. Selama ini  pembinaan kepada perajin di berbagai daerah telah dilakukan. Tentunya  mereka  mendapat bimbingan mengenai pembuatan produk bermutu dengan desain yang baik. “Saya kira kalau hal ini terus dilakukan dengan membuat di beberapa daerah, industri kerajinan kita akan tumbuh pesat. Apalagi saat ini pemasaran melalui aplikasi sangat luar biasa,” ujar Saleh.

Saleh melihat  ke depannya teknologi yang semakin modern didukung dengan  pembinaan kepada perajin akan menghasilkan  produk yang  mempunyai nilai yang tinggi dengan mutu yang baik. Tentunya dengan teknik pewarnaan alam dan desain yang  enak dipandang. “Dengan demikian mampu bersaing dengan produk dari negara-negara lain,” kata Saleh.

Potensi Pasar

Salah satu peserta pameran, Galeri Batik Jawa memproduksi batik dengan pewarnaan alam. Warna biru indigo dari daun pohon nila atau warna coklat hingga kekuningan dari kulit pohon soga tingi. Workshop Galeri Batik Jawa berlokasi di Yogyakarta. Pemasaran masih lokal, yakni di Yogyakarta dan Jakarta. Sementara pameran yang diikuti antara lain di  Jepang, Hongkong, Barcelona, dan London. Biasanya bekerja sama dengan  Kementerian Perdagangan atau undangan dari Konsulat Jenderal RI. “Kami sedang menjajaki pasar ekspor. Ketika pameran di Hongkong ada beberapa negara yang tertarik dengan produk kami. Namun sebatas  aksesoris atau boneka,” ujar Ajeng.

Galeri Batik Jawa yang menggunakan pewarna alam.

Galeri Batik Jawa yang menggunakan pewarna alam.

Produk yang dihasilkan diantaranya  kain, selendang, hingga ready to wear dengan kisaran harga  Rp 295 ribu sampai Rp 5 juta. Batik dengan warna alam kini menjadi trend karena eco friendly. Dengan demikian memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan Indonesia di pasar global. Pada 2014 Galeri Batik Jawa memperoleh Award of Excellence for Handicrafts South East Asia Programme dari World Craft Council

Peserta pameran lainnya, CV Daun Agel. Usaha yang dirintis pada 2013 tersebut berlokasi di Bangkalan, Madura. Bahan yang digunakan adalah serat daun palem yang tumbuh di sekitar rumah tanpa memandang musim hujan atau kemarau. Perajin berjumlah 60 orang yang merupakan warga satu kampung. Mereka sebagian besar adalah petani. Namun jika pesanan meningkat perajin bertambah menjadi 80 orang. “Orang Madura identik dengan perantau. Menahan masyarakat supaya tidak keluar dari daerahnya dengan menciptakan lapangan kerja,” tutur Mamat, adik dari pemilik usaha.

CV Daun Agel tak takut menghadapi pesaing.

CV Daun Agel tak takut menghadapi pesaing.

Pewarnaan juga alami, warna merah dari pohon jati atau warna biru dari pandan. Proses pembuatannya mencapai  tujuh hari sebab dikerjakan satu per satu menggunakan tangan, kecuali pemasangan furing dengan mesin jahit. Mamat menyampaikan, sejak awal pemasaran berorientasi ekspor, yakni Jepang, Filipina, Kanada, dan Amerika. Saat itu CV Daun Agel mengikuti pameran di Jepang. Seorang buyer tertarik. Ia datang ke Bangkalan untuk melihat prosesnya.  “Orang luar itu  suka produk handmade dengan warna natural. Mereka tidak mau produk mesin. Berbeda dengan orang Indonesia,” ujar Mamat.

CV Daun Agel juga berpartisipasi dalam pameran di dalam negeri, seperti Batam, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Kisaran harga yang ditawarkan Rp  50 ribu sampai Rp 600 ribu. Produk yang dihasilkan, yaitu topi, tas, sampai dompet. Ke depan Mamat berencana mendatangkan buyer dari Swiss atau  Paris. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya permodalan mengikuti pameran. Oleh karena itu CV Daun Agel terbantu dengan dukungan pemerintah provinsi Jawa Timur saat pameran di Jepang, Guangzhou, dan Swiss. “Karena saat ini  trendnya online kami ada rencana membuat website,” tutur Mamat.

Richa yang ditemui di stand Dekranasda DI Yogyakarta membagikan kisah mengenai usaha yang dirintis ayahnya. Usaha tersebut berbasis  di Sleman. Mulanya  pada  1996 orang   Australia mendatangi ayah Richa. Ia meminta beliau  membuat wadah bedak bayi dari batang kelapa. Ayah Richa yang sebelumnya  merupakan pelaku usaha di bidang alat peraga TK menyanggupi permintaan itu. Awalnya usaha tersebut dikontrak. Produk yang dihasilkan dipasarkan di Australia. Namun krisis moneter pada 1998 dan bom Bali 2002 membuat usaha tersebut harus mandiri. “Selanjutnya kami  memasarkan produk melalui  pameran dan internet,” kata Richa.

Kerajinan kayu kelapa yang unik dan alami.

Kerajinan kayu kelapa yang unik dan alami.

Keunggulan kayu kelapa adalah  serat alami dan warna alami. Bahan baku  diperoleh dari Tasikmalaya dan Lampung. Saat ini terdapat lima perajin. Produk  yang dihasilkan adalah perkakas rumah tangga seperti piring, mangkok, hingga  nampan. Harga berkisar Rp 5.000 sampai Rp 2 juta. Produk 60 persen dijual di dalam negeri, antara lain  Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan Lombok. Sementara 40 persen produk dipasarkan di luar negeri, seperti Australia, Belanda, Jepang, Amerika, Inggris, dan Belgia. Baik pembeli dalam dan luar negeri melihat produk tersebut  unik dan natural. Di Yogyakarta maupun kota lain pesaing cukup banyak. “Cara menyiasatinya, kami selalu menciptakan produk baru. Kualitas kami beda apalagi untuk ekspor ada standar sendiri,” ujar Richa.

Selama ini pameran yang diikuti difasilitasi  Dekranasda DI Yogyakarta dan Disperindagkop. Richa menilai mereka  sangat membantu pengembangan UKM. Bentuk dukungan tersebut diantaranya memasarkan dan mempromosikan produk. Selain itu tamu  diantar ke workshop. Rencananya dilakukan pengembangan produk, kombinasi kayu kelapa dengan  kaca atau aluminium. “Saya berharap Dekranasda mengadakan pelatihan teknologi karena teknologi terus berkembang,” kata Richa.

Regenerasi

Dijumpai di stand Dekranasda Jawa Barat, Asep Syarifudin Ashya dari bagian pameran dan kerja sama luar negeri memaparkan, pelaku usaha yang sering ditemuinya mengalami sindrom sukses. Merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Mindset itu diubah dengan membentuk inkubator bisnis berbasis produk kerajinan Jawa Barat sejak dua tahun lalu. Tujuannya adalah regenerasi dan pengembangan produk. Program itu diadakan Dekranasda bersama Kadin Kota Bandung. “Saya alumni inkubator angkatan pertama di Kadin tahun 2007. Ilmu yang  saya dapatkan kemudian diterapkan tapi dengan pola yang diubah,” ujar Asep, wirausaha merchandise dan kebutuhan anak usia 4-6 tahun.

Asep Syarifudin Ashya dari Dekranasda Jawa Barat dengan salah satu peserta pameran.

Asep Syarifudin Ashya dari Dekranasda Jawa Barat dengan salah satu peserta pameran.

Asep menyampaikan semua peserta di stand Dekranasda Jawa Barat adalah peserta  inkubator. Saya ingin di  setiap pameran tidak bertemu orang yang sama. Ingin ada  penyegaran. Asep mencontohkan peserta pameran yang dahulu memproduksi tas sintetis. Namun setahun belakangan ia memproduksi tas kulit berbekal informasi dari peserta inkubator yang berasal dari Garut. Garut sendiri terkenal dengan kulitnya. Harga  bahan sintetis dan kulit tidak jauh berbeda. Ternyata responnya bagus dari segi omset. “Ini yang saya sebut irisan bisnis. Masing-masing peserta tidak bersaing,” tutur Asep.

Contoh lainnya adalah peserta pameran yang berasal dari Tasikmalaya. Awalnya ia memproduksi tikar dengan harga  murah. Selanjutnya dikembangkan menjadi tas dengan bantuan anggota Dekranasda yang berlatar belakang  desain. Saat pameran wirausaha itu berhalangan  hadir karena mengikuti pameran di China didukung Dekranasda  Jawa Barat. Perajinnya sengaja didatangkan untuk mengenal pasar. Produk lain yang dipamerkan di China adalah gerabah dari Purwakarta dan  batik dari Bandung.

Selepas inkubator dilakukan  pembinaan dan pengembangan usaha. Diharapkan peserta mampu menduplikasi diri. Selain itu peserta dimagangkan bersama wirausaha sukses dengan produk sejenis  untuk memotivasi mereka. Selama sembilan bulan Asep berkeliling dari satu kota ke kota lain di Jawa Barat. Setiap peserta saling bersinergi. Latar belakang usaha yang berbeda membuat mereka bisa memberikan masukan kepada yang lain. “Saat dipertemukan itu mereka menunjukkan kelebihan dan kekurangan produk temannya, saling mengkritisi,” kata Asep.

Pembina Dekranas Iriana Joko Widodo dan Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla berkunjung ke salah satu stand peserta pameran.

Pembina Dekranas Iriana Joko Widodo dan Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla berkunjung ke salah satu stand peserta pameran.

Peserta inkubator sebelumnya menjalani proses seleksi, yakni psikotes, administrasi, hingga verifikasi. Asep berpendapat jika ingin output yang bagus, maka inputnya harus bagus. Dekranasda Jawa Barat meminta tujuh sampai sepuluh orang dari masing-masing kota/kabupaten. Namun dalam perjalanannya hanya satu orang yang lolos. Bahkan ada kabupaten/kota yang  sama sekali tidak mengirimkan perwakilannya. “Kami  ingin ada yang dipertanggungjawabkan, tidak sekadar  pelatihan,” tutur Asep yang berwirausaha sejak 2007.

Dekranasda Jawa Barat menyediakan showroom, Jabar Craft Center (JCC)  yang dapat digunakan UKM  memasarkan produknya secara gratis. Peserta inkubator mendapatkan prioritas menggunakan layanan yang berlokasi di Dago, Bandung tersebut. Di showroom dua lantai tersebut ada 26 anjungan dari kota/kabupaten se-Jawa Barat. Asep berharap akan ada gelombang kedua yang mengikuti program inkubator.  Asalkan peserta gelombang pertama sudah bisa dilepas. Mereka disebut berhasil jika mampu mewarnai daerahnya. Pengukurannya dari omset dan manfaat kepada  lingkungan misalnya  membuka lapangan kerja atau peluang usaha.

Edutainment

Asep menilai tahun-tahun sebelumnya JCC sepi. Masyarakat lebih memilih mall. Untuk itu ia menggagas field trip supaya JCC ramai. Sosialisasinya diadakan saat  seminar tentang parenting dengan pembicara psikolog. Seminar yang diadakan di JCC itu mengundang kepala sekolah. Setelah seminar tersebut mereka dapat menceritakannya kepada guru dan murid. Dalam seminar itu Asep tidak membicarakan craft, melainkan  cara membangun motorik halus dan kasar pada anak serta membangun kerjasama. Program yang diselenggarakan adalah  melukis dengan media  talenan yang diikuti anak-anak. Jika peserta field trip berjumlah  90 anak maka  dibagi dua kelas. “Dalam satu kali kunjungan bisa menghabiskan 100-200 talenan,” tutur Asep.

Perajin  talenan di Majalengka diuntungkan karena produknya laku, sementara anak-anak punya media baru untuk bermain. Asep membeli talenan dengan harga Rp 4.500. Jika dijual di toko harganya menjadi Rp 20 ribu dan dibayar satu sampai dua bulan. Berbeda jika dijual ke Dekranasda, perajin menerima uangnya saat itu juga. “Kita harus pesan banyak karena jarak Majalengka-Bandung tiga jam,” tutur Asep.

Suasana pameran HUT ke-36 Dekranas di SMESCO Convention Center

Suasana pameran HUT ke-36 Dekranas di SMESCO Convention Center

Kegiatan lainnya adalah acara dua tahunan, Pekan Kerajinan Jawa Barat yang diisi dengan bazaar dan lomba. Biasanya diadakan saat long weekend, 24-27 Desember. Diharapkan pengunjung bisa berbelanja lebih banyak. Saat ibu belanja, anak mengikuti berbagai lomba. Selain itu Weekend Fair setiap tiga bulan pada Sabtu dan Minggu serta Ramadhan Fair saat bulan puasa. “Agak berat bagi kami, ramai hanya tiga bulan sekali. Lantas kami buat field trip,” kata Asep.

Konsep yang diusung JCC adalah edutainment, belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Asep menekankan pengunjung yang mendatangi JCC tidak dikenakan biaya. Ada ruang baca dilengkapi  free wifi. Tak hanya itu, disediakan kafe di samping bangunan. Asep menilai belum banyak orang mengetahui  JCC. Ada potensi mendapatkan tambahan penghasilan yang bisa dimanfaatkan guru. Mereka bisa membuat craft lalu produknya dititipkan di Dekranasda.  “JCC ini dimiliki masyarakat Jawa Barat, untuk kepentingan mereka,” kata Asep.

PON XIX 2016 di Jawa Barat akan diadakan pada 22 September 2016 dengan 19 ribu atlet dan official yang datang ke Jawa Barat. PON akan diselenggarakan di 15 kabupaten/kota di Jawa Barat. Asep memandang hal itu adalah peluang yang luar biasa untuk bisnis. Mengutip perkataan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, sukses PON itu meliputi  sukses prestasi, sukses penyelenggaraan, sukses ekonomi, dan sukses administrasi. Sukses ekonomi itu  yang ingin dirasakan masyarakat Jawa Barat terutama pelaku usaha. “Semula  daerah itu sepi, mengapa  tidak diperkenalkan, misalnya  kunjungan ke sentra produksi. Siapa tahu setelah PON mereka  ingat kalau beli jaket kulit ke Garut atau beli hiasan keramik ke Cirebon,” ujar Asep.

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai, haaai smart people 😍 Asyikkk ya weekend! Have fun ya, guys 😄
.
Guys, tau gak sih kamuuu, lebih dari 3,8 milyar orang di seluruh dunia menggunakan internet, dimana jumlahnya meningkat 38 juta orang sejak Januari 2017 😁
.
Kenaikan ini menandakan bahwa penetrasi internet di seluruh dunia mencapai 51%, atau bisa dibilang orang yang pakai internet udah lebih banyak daripada orang yang nggak pakai internet, hihi.. Memang sih, tahun 2017 ini sebenarnya peningkatan jumlah pengguna internet jauh lebih lambat daripada tahun 2016 😆
.
Daaan, dari 3,8 milyar orang pengguna internet di seluruh dunia, 2,9 milyarnya aktif menggunakan media sosial, lho! Wawww 😋 Pastinya kamu termasuk di dalamnya dong, heheee
.
Sumber: youthmanual.com
.
#indoblognet #mbcommunication #internet #survey #sosialmedia #socialnetworking #weekend #saturday #viral

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top