Fiksi

Darni, Wanita Malam yang Rindu Pulang

Darni, wanita tua berhijab hitam itu matanya berkaca-kaca  ketika menatap belasan anak buah yang mengelilinginya.

“Sudah 50 tahun saya menghuni kompleks ini, dari penghuni biasa sampai menjadi mami kalian. Pada bulan penuh barokah dan maghfiroh ini saya akan kembali ke kampung dan menjalani kehidupan normal. Ragaku telah renta sementara jiwaku terasa pekat berlumur dosa”. Airmata Darni tak terbendung.

“Kami harus bagaimana, Mam?” Tanya Konsos yang baru 6 bulan menjadi penghuni Wisma Red Diamond.

“Ayo ikut aku kembali ke jalan yang benar sebelum ajal tiba. Semoga Tuhan menerima taubat kita semua.”

“Wah, sorry Mam. Masyarakat mana yang mau menerima kami. Mereka sudah menempelkan aneka label pada diri kami dari yang manis seperti Pramu Nikmat, Wanita Harapan atau PSK, sampai julukan yang menyakitkan. Kami sering disebut wanita jalang, lonte, balon, pelacur, atau wanita penggoda”. Wanita berumur 30 tahun yang hobi pakai rok mini dan tangtop itu memang suka bicara blak-blakan.

“Insya Allah aku ikut, Mi”. Pipih yang sering dipanggil dengan sebutan Rimba Hijau mengacungkan jari telunjuknya. “Penyakit yang belum ada obatnya ini semakin lama semakin menggerogoti tubuhku. Sebelum badanku terbujur kaku aku ingin mengakhiri petualangan laknat ini”. Mendengar ucapan Pipih beberapa sahabatnya tampak meneteskan airmata.

***

Jarum jam di kamar menunjukkan pukul 2 dini hari. Darni belum juga bisa memejamkan mata. Ucapan laki-laki bejat  perenggut miliknya yang paling berharga terngiang kembali di telinga. Birwo, tetangga sekampung yang berjanji akan menolong mencarikan pekerjaan telah menipunya. Belum juga Darni menikmati gaji ratusan ribu rupiah dari perusahaan sepatu tempatnya bekerja, Birwo justru memaksa minta imbalan jasa. Ini memang kesalahan Darni yang masih lugu. Karena tak ada uang untuk kos Darni terpaksa mau diajak tinggal bersama di kos Birwo.

“Wah, jangan Cak. Bagaimana nanti omongan tetangga kalau saya tinggal bersama sampeyan”. Tolak Darni pada awalnya.

“Soal itu nggak usah dipikir. Saya akan lapor ke pak RT bahwa kita suami istri. Banyak kok mereka yang tinggal serumah”.

Begitulah, malam itu Birwo dengan ganas berhasil memaksa Darni untuk melayani nafsu bejatnya. Ketika Darni menangis, Birwo dengan enteng berkata: ”Nggak usah menangis segala. Nanti kamu juga akan ketagihan”. Sejak saat itu Darni menjadi budak nafsu Birwo. Tuntutan Darni agar Birwo segera menikah tak kunjung dipenuhi.

“Kalau Cak Birwo tak segera menikahiku akan saya laporkan ke Pak RT. Juga akan saya sampaikan kepada Kepala Desa di kampung kita”. Ancam Darni pada suatu malam.

“Atas dasar apa kamu melaporkan saya? Bukankah perbuatan ini kita lakukan suka sama suka. Kalau kamu mau membuka aib sendiri silakan”. Birwo merasa di atas angin.

Keinginan Darni untuk menjadi istri Birwo tak pernah terwujud. Laki-laki yang menjadi mandor di perusahaan itu mengalami kecelakaan. Sepeda motor yang dikendarai Birwo ditabrak oleh sebuah truk gandeng. Nyawa Birwo tak bisa diselamatkan karena luka-luka yang cukup parah pada sekujur tubuhnya.

Darni limbung tak punya pegangan. Ingin kembali ke kampung merasa malu karena belum menghasilkan apa-apa. Jangankan membeli perhiasan, belanja pakaian saja belum tentu sebulan sekali. Upah kerja di perusahaan hanya cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan lainnya.

Keadaan Darni berubah seratus delapan puluh derajat ketika wanita itu bertemu dengan Kismi, sahabatnya sewaktu SMP. Pertemuan di pasar yang hanya sekejap itu ternyata mampu menyeret Darni ke suatu tempat yang belum pernah dibayangkan. Darni yang tengah galau dan sakit hati akibat perlakuan Birwo akhirnya menerima ajakan Kismi untuk bekerja di ruang remang-remang. Pekerjaan yang merenggut harga dirinya, merontokkan tulang-tulangnya tetapi mampu menggelembungkan dompetnya itu dilakoninya dengan penuh kepasrahan. Berbagai perangai laki-laki dihadapi dengan biasa-biasa saja. Tak jarang ada laki-laki yang ingin mengajaknya menikah. Darni menolak halus dengan berbagai alasan. Bukan tak ingin, tapi Darni masih trauma dengan tipu daya laki-laki yang pernah dialaminya. Wanita yang dulu lugu dan sekarang menjadi perokok berat serta suka nyabu itu takut jika laki-laki datang hanya untuk memanfaatkan kecantikan dan dompetnya belaka. Maklum, Darni sudah menjadi mami bagi puluhan wanita yang ingin mendapatkan harta dengan jalan ongkang-ongkang belaka.

***

Tekad Darni sudah bulat untuk segera meninggalkan lokalisasi yang sudah dihuni puluhan tahun lamanya.

Besok pagi Darni dan penghuni lokalisasi lainnya akan mengikuti sosialisasi yang diselenggarakan oleh wakil dari pemerintah kota. Marni sadar, apapun kemasannya, intinya hanya satu, lokalisasi dan penghuninya akan digusur. Walaupun kompensasi yang akan diterima dianggap belum memadai, tetapi Darni tetap akan mengubah kehidupannya agar lebih sehat dan bermartabat. Beberapa waktu yang lalu memang ada sekelompok orang yang mempengaruhi agar Darni tak menutup wismanya.

“Saya minta Mbak Darni jangan hengkang dari sini,” kata laki-laki bertampang sangar yang menemuinya.

“Nggak bisa, Dik,” jawab Darni dengan wajah sendu. “Saya sudah tua dan selayaknya memberi contoh kepada yang muda-muda dalam menaati peraturan pemerintah”.

Laki-laki itu meludah. ”Kalau begitu Mbak Darni nggak solider sama teman-teman yang lain donk”.

“Bukan solider atau tidak, tapi saya meyakini bahwa lambat laun mereka juga harus hengkang dari sini. Keputusan pemerintah kota tampaknya juga sudah final dan didukung oleh banyak pihak. Melawan pemerintah sama saja dengan bunuh diri karena mereka berada di pihak yang benar”.

“Benar dari Hongkong. Mematikan sandang pangan warga kok dianggap benar”. Laki-laki ini tampaknya mulai emosi.

“Jika dilihat dari sisi itu sepertinya benar. Tetapi saya mulai menyadari bahwa inilah pintu yang dibukakan Allah agar kita melangkah ke luar dan kembali ke jalan yang diridhoi-Nya”.

 “Yo wis jika itu yang Mbak Darni pilih. Tapi jika terjadi apa-apa dengan sampeyan saya nggak bertanggung jawab”. Laki-laki itu meninggalkan Darni.

***

Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi. Darni beranjak dari pembaringannya dan bergegas mengambil air wudhu. Masih cukup waktu untuk melaksanakan Shalat Taubat sebagaimana dianjurkan oleh Ustadz Muhsin dalam tausiahnya beberapa minggu yang lalu.

“Insya Allah dengan Shalat Taubat nasuha semua dosa akan diampuni asal kalian benar-benar memohon ampun kepada Allah disertai rasa penyesalan atas  segala perbuatan dan dosa yang telah dilakukan. Selain itu kalian juga harus berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa besar lagi”.

Air mata Darni mengalir deras sepanjang shalatnya. Teringat perbuatan dosa yang telah dilakoni puluhan tahun lamanya. Lengkingan suara tawa ketika dia melayani laki-laki hidung belang dan bayangan istri dan anak yang dengan setia menunggu suami pulang muncul silih berganti. Hati Darni tersayat-sayat karena merasa hidup dalam kehinaan. Darni telah menjual martabatnya untuk mendapatkan martabak. Bayangan ayah dan ibunya menerima segepok uang, yang dengan wajah gembira memuji dirinya sebagai anak yang berbakti kepada orangtua membuatnya remuk-redam. Air mata Darni mengalir semakin deras karena merasa telah memberi makan kepada orangtua dengan uang haram. Dalam sujudnya Darni menumpahkan segala penyesalan atas semua perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Janji untuk tidak mengulangi lagi serta permohonan ampun dipanjatkan dengan penuh harap.

***

Jam 9 pagi semua penghuni lokalisasi berangkat menuju gedung pertemuan untuk mendengarkan sosialisasi penutupan lokalisasi. Gelak tawa gadis belia dan separuh baya terdengar nyaring. Namun tak sedikit di antara mereka yang berwajah mendung, murung, memikirkan nasib selanjutnya.

Sampai sosialisasi selesai tak ada satupun di antara penghuni lokalisasi yang menyadari bahwa ada satu orang yang tak hadir di sana. Darni.

Raganya yang terbalut mukena masih berada di atas sajadah. Diam, bisu, membeku karena nyawanya telah terpisah. Darni telah kembali kepada Sang Pencipta langit dan bumi.

Image source: pixabay.com

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Awal bulan lalu MB Communication - Indoblognet hadir dalam acara Superkids Colouring Competition K-Kids Omega dari @klink_indonesia_official
di Pontianak

Akan hadir lagi nih di Kota Bandar Lampung dengan kegiatan yang serupa.

Selamat kepada Mitra  Blogger Lampung yang  terpilih ! Ditunggu konfirmasi kehadirannya.

Video created by @miramiut
dan @ranselbabam

#KlinkKKidsOmega
#KlinkKidsColoringCompetition
#KlinkSolusiHidupmu
#KlinkMember15olusi
#KlinkIndonesia

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top