Entrepreneur

Dari Dependen ke Independen dengan Berwirausaha

Sebuah negara disebut maju jika wirausahanya 2 persen dari jumlah penduduk. Sementara berdasarkan  statistik, wirausaha Indonesia  1,6 persen. Ketika krisis ekonomi terjadi tahun 1998 konglomerasi bertumbangan. Namun usaha mikro tetap bertahan.

Ingin mendapat uang jajan lebih mendorong Kartika Setiawan memulai usaha kue kering (kuker) pada 2011. Saat itu Kartika adalah mahasiswa baru di sebuah universitas di Medan.   Berbekal resep orangtua yang banyak disukai orang, Kartika menjalankan bisnisnya. Selain itu  modal Rp 5 juta yang dimilikinya digunakan untuk membeli oven, peralatan kue, dan bahan-bahan kuker. “Kami pindah karena rumah  induk  dijadikan pabrik kuker,” kata Kartika yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi publik dengan tema “Menentukan Arah Kewirausahaan” di  Galeri Indonesia Wow, Smesco pada 2 Maret 2016.

Resep yang diajarkan ibunya selanjutnya dimodifikasi oleh Kartika setelah  melihat model kuker cantik di Youtube. Awalnya ia menjual kuker ke tetangga. Dalam perjalanannya, Kartika mengenal Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang kemudian memberinya  bantuan dana. Kartika bersyukur bantuan dana itu menjadikan usahanya  berkembang sampai sekarang. Dari bisnisnya itu  ia  bisa membiayai kehidupannya dan adik-adik  serta membeli kendaraan. Kartika menyampaikan omset usahanya sebulan Rp 350 juta dengan 15 karyawan. “Semakin banyak pesanan, semakin banyak karyawan,” tutur Kartika.

Kartika mengakui pesanan kuker bergantung hari-hari besar, seperti Imlek, Idul Fitri, hingga Idul Adha. Pengusaha di Medan jarang menjual kuker saat  Imlek dan Idul Adha karena tidak tahu pasarnya. Untuk itu  ia menawarkan kukernya ke toko di  Banda Aceh. Di sana  Idul Adha lebih meriah dibanding Idul Fitri. Usia muda dan semangat dinilai Kartika menjadi alasan pemilik toko bersedia memasarkan kuker buatannya. Sebab biasanya kaum ibu yang menawarkan kuker ke toko-toko. Peluang lain yang digarap Kartika adalah mengajak teman-temannya keturunan Chinese menjual kukernya. “Orang Chinese jarang ambil kuker, biasanya kue basah,” kata Kartika yang bermimpi  toko kukernya tersebar di seluruh  Indonesia.

(ki-ka) Muhammad Ali dari Humas Kementerian Koperasi dan UKM, wirausaha tata rias dari Denpasar Dewa Ayu, wirausaha kue kering dari Medan Kartika Setiawan, moderator diskusi Dedy Gumelar, Executive Director&CEO IPMI International Business School Jimmy M. Rifai Gani, Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso BS, dan wirausaha sablon dari Makassar Masdir (Sumber foto: Indoblognet)

(ki-ka) Muhammad Ali dari Humas Kementerian Koperasi dan UKM, wirausaha tata rias dari Denpasar Dewa Ayu, wirausaha kue kering dari Medan Kartika Setiawan, moderator diskusi Dedy Gumelar, Executive Director&CEO IPMI International Business School Jimmy M. Rifai Gani, Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso BS, dan wirausaha sablon dari Makassar Masdir (Sumber foto: Indoblognet)

Pada diskusi publik itu juga dihadirkan peserta magang wirausaha, yaitu Masdir dari Makassar dan Dewa Ayu dari Denpasar. Masdir mengawali usaha sablon pada akhir 2012. Modal Rp 800 ribu digunakan untuk membeli alat sablon. Sebelumnya mahasiswa jurusan Teknik Kimia itu berjualan pulsa tapi ditutup. Pasalnya banyak teman tidak membayar. Masdir menjalankan usahanya secara  online. Ia menampilkan foto di website. Jika ada pembeli yang berminat, ia akan melakukan pemesanan di Jakarta. Di tiga bulan perjalanan usahanya, Masdir pernah  tertipu dengan nilai order Rp 4 juta. Hal itu mengecewakannya.  Namun  tanggung jawab kepada konsumen membuatnya terus bertahan.

Hingga Masdir mengikuti program magang wirausaha yang diadakan Kementerian Koperasi dan UKM. Ia mengaku  banyak belajar, khususnya mengenai manajemen dan  marketing. Setelah tiga tahun omset usahanya berkali lipat dari sebelumnya. Kini Masdir memiliki dua cabang toko di Makassar dengan enam karyawan. “Semangat berwirausaha anak-anak muda di Makassar itu tinggi tapi masih labil. Maka harus diarahkan oleh pemerintah melalui program-programnya agar mereka  fokus berbisnis,” ujar Masdir yang mengajak semua peserta diskusi publik selalu terus belajar dengan mengikuti seminar untuk upgrade pengetahuan dan menambah soft skill.

Selanjutnya Ayu memperkenalkan dirinya yang berasal dari  Bangli, Bali. Selain seorang  pengusaha rias, Ayu juga menjalankan usaha sebagai instruktur dan pengusaha ternak. Bermodal  nekad dan ketidaktahuan akan  wirausaha memberanikan dirinya merantau ke Denpasar tahun 2014. Walaupun tidak diijinkan orangtua, perempuan kelahiran  1992 itu terus melangkah. Sesampainya di Denpasar, Ayu tidak tahu pekerjaan apa yang bisa dilakukan. Sementara pendidikan terakhirnya  SMA. Ayu ingat  hobinya merias. Selanjutnya Ayu mendatangi Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung. “Saya bertanya ke Ibu Agung, berapa biaya kursus. Katanya Rp 9 juta,” tutur Ayu.

Ayu mengisahkan dirinya setiap hari tak lelah menghubungi Ibu Agung menanyakan  kursus gratis. Hingga beliau memberitahu program magang wirausaha dari Kementerian Koperasi dan UKM. Selama  25 hari Ayu bersama tiga orang lainnya belajar merias. Ia yakin untuk mendapatkan hasil yang berbeda tentu harus menjalankan hal yang berbeda. Untuk itu Ayu membantu Ibu Agung merias termasuk  hari Sabtu dan Minggu saat program magang libur. Selesai magang pada Mei 2015 Ibu Agung menawarinya menjadi instruktur. Ayu berpikir jika masih menjadi instruktur tata rias artinya ia masih bekerja dengan orang. “Saya terpikir memberikan  privat,” kata Ayu.

Awalnya tidak mudah mengumpulkan warga satu banjar untuk diberikan pelatihan tata rias. Ayu menggratiskan pelatihan itu. Dari seluruh peserta ada  10 orang yang berminat belajar privat dengan biaya Rp 250 ribu per dua  jam. Mimpi memiliki  LKP mendorong Ayu menempuh kuliah  jenjang S1 di jurusan sosial politik. Karena tata rias di Bali itu musiman, Ayu memback up dengan membangun usaha ternak di kampung yang dikelola orangtuanya. Hasil ternak itu selanjutnya dipasarkan ke  sejumlah restoran. “Saya mendirikan usaha itu supaya saya tidak ditelepon orangtua karena ada uang di rumah,” tutur Ayu.

Disruptive Innovation

Pada kesempatan itu pembicara lain memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan tema diskusi.  Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso BS menjelaskan, setiap mengadakan pelatihan kewirausahaan pihaknya selalu bekerjasama dengan perguruan tinggi dan para stakeholder lainnya seperti LSM maupun lembaga lain yang berkompeten. Mengapa demikian? Pertama, Kementerian Koperasi dan UKM  sadar bahwa pendidikan kewirausahaan tidak bisa dilakukan  sendiri. Kekuatan  wirausaha bisa mempercepat laju perekonomian, terlebih pemerataan. Kedua, Kementerian Koperasi dan UKM  mendidik keluarga petani. Pertimbangannya, jika panen gagal petani tidak bisa menyekolahkan anaknya. Akan berbeda halnya jika membangun keluarga petani. “Jadi petani bisa fokus di pertanian dan keluarganya dilatih keterampilan yang mereka kuasai,” kata Prakoso.

Aspek budaya dan sosial mempengaruhi tumbuhnya wirausaha

Aspek budaya dan sosial mempengaruhi tumbuhnya wirausaha

Prakoso menyampaikan, program yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan UKM bergantung kebutuhan, misalnya keterampilan, kewirausahaan, finance, hingga pemasaran.  Seseorang berusaha tidak melulu persoalan modal, juga mentalitas dan keinginan untuk maju. Namun  tidak  bisa mengharapkan semua orang punya mentalitas itu. Untuk itu pemerintah harus hadir, salah satunya dengan kredit yang murah dan  tanpa agunan.

Aspek budaya dan sosial bisa mempengaruhi tumbuhnya wirausaha. Mengapa orang Padang terkenal sebagai pedagang? Karena nalurinya demikian, ada warisan dari ibunya yang dipegang. “Persoalan di Indonesia adalah  mental inferior, bukan superior. Karena sejarahnya bangsa kita itu bekas jajahan. Rasa takut, rendah diri adalah musuh. Saya tidak biasa jualan karena ibu saya pegawai, itu musuh Anda,” ujar Prakoso.

Blogger berperan dalam penyebarluasan informasi kewirausahaan kepada masyarakat (Sumber foto: Humas Kementerian Koperasi dan UKM)

Blogger berperan dalam penyebarluasan informasi kewirausahaan kepada masyarakat (Sumber foto: Humas Kementerian Koperasi dan UKM)

Berikutnya Executive Director&CEO IPMI International Business School Jimmy M. Rifai Gani mengisahkan perjalanannya merintis bisnis sejak duduk di bangku SMA, lebih dari 25 tahun yang lalu. Jimmy  fokus membangun bisnis lebih dari 13 tahun silam sejak mendirikan perusahaan yang berkembang cukup pesat sampai saat ini. Pengalaman  jatuh bangun itu membuatnya  kuat. Hingga pada 2009 Jimmy memutuskan menakhodai Sarinah. Ia memberikan  kesempatan kepada yang lebih muda untuk mengembangkan perusahaan itu menjadi luar biasa. Jabatan baru itu mengarahkannya  berkecimpung di dunia retail dengan membina ribuan  UKM. Kini mereka menjadi lebih hebat dari Sarinah, seperti pengusaha dari Yogyakarta yang mengekspor produk ke belasan negara. “Saya berusaha mengembangkan UKM menjadi lebih maju. Di tingkat kebijakan banyak yang harus diperbaiki,” tutur Jimmy, MURI Record Holder for Youngest CEO of State-Owned Enterprises.

Selanjutnya Jimmy memperoleh beasiswa Master of Public Administration dari Harvard University. Tujuannya  mentransformasi diri dan berbagi sepulangnya menuntut ilmu. Jimmy bersyukur atas  rejeki, karier yang tinggi, dan profesionalitas yang mumpuni. Kini Jimmy membantu  anak-anak muda menjadi pengusaha yang luar biasa.

Jimmy menjelaskan, disruptive innovation, konsep yang diperkenalkan Professor Clayton M. Christensen. Inti disruptive innovation adalah user friendly dan low cost. Konsep tersebut  belum  populer di Indonesia. Salah satu yang menerapkan ajaran dosen di Harvard University itu adalah Nadiem Makarim. Pengaplikasian disruptive innovation adalah inovasi yang  mengganggu bagaimana bisnis dilakukan saat ini. Contohnya di bidang transportasi. Tiga tahun lalu masyarakat mengenal transportasi yang aman dan agak mahal, yaitu taksi. Sementara mereka  butuh transportasi yang aman, nyaman, dan harganya lebih terjangkau.

Maka tahun 2011 Nadiem meluncurkan Gojek. Ia mendestruksi cara bisnis yang sudah ada. Sekarang orang berlomba-lomba memasang apps di ponselnya dan memesan apapun.  Sama halnya dengan yang terjadi di Malaysia,   Grab. Mereka menggunakan konsep itu untuk menghadirkan layanan dengan harga yang jauh lebih murah. Berkaitan dengan hal tersebut, Jimmy menyampaikan ada tiga trend di ASEAN, yakni  globalization, urbanization, dan digitization. Ini adalah peluang untuk  UKM. Globalization adalah  peluang UKM  masuk ke dalam global value chain (rantai pasokan dunia). Jimmy mencontohkan Kebab Turki Baba Rafi yang memiliki 1.000 outlet hingga Malaysia dan Singapura. Bukan karena kerja sendiri, melainkan  memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berusaha.

Terkait urbanization, Jimmy menyatakan  50% orang Indonesia kini tinggal di kota. Hal tersebut dapat  mengubah lifestyle (gaya hidup). Digitization mempengaruhi perilaku masyarakat. Mereka ingin semuanya instan,  tidak mau berlama-lama antri. Maka ecommerce akan terus maju. Fashion adalah gaya hidup. Masyarakat dengan kemampuan ekonomi lebih akan menyumbang. Mereka membawa pakaian dan membagikan kepada sanak saudara di kampung halaman. Startup sangat dimungkinkan dengan konsep digitization. Sekarang tidak harus mengeluarkan miliaran rupiah untuk membangun bisnis, cukup buka akun di Bukalapak atau Lazada. Bagaimana UKM  memanfaatkan peluang yang luar biasa itu dan mengambil manfaat darinya? “Jumlah nomor telepon lebih besar dari populasi Indonesia. Peluangnya adalah banyak orang memanfaatkan smartphone,” kata Jimmy.

Jimmy menceritakan saat kuliah di Harvard University tiga tahun yang lalu, membangun  perusahaan harus punya kantong yang tebal. Di Amerika Serikat ada yang disebut angel investing. Sepuluh orang berkumpul dan masing-masing mengeluarkan uang. Selanjutnya mereka mencari anak muda dengan karakter untuk diberikan modal mendirikan startup. Setiap hari ia bekerja keras bagaimana menggandakan modal itu. Jika ia berhasil menciptakan sesuatu, akan disuntikkan tambahan modal. Angel investing mulai masuk ke Indonesia. Tujuannya adalah menciptakan disruptive innovation untuk menggoyang pasar. “Pengusaha yang dicari harus memiliki integrity, mentality dan kerja keras,” tutur Jimmy.

Sinergi

Pada pembukaan diskusi publik, Presiden Direktur SMESCO Ahmad Zabadi menjelaskan, creative space Smesco  diperuntukkan bagi event terbuka, terutama workshop, seminar, dan unjuk aksi berbagai kemajuan yang diperoleh pelaku  UKM  maupun aktivis gerakan koperasi dan UKM itu sendiri. Selain itu tempat bertemunya berbagai stakeholder koperasi dan UKM. Aktivitas itu tidak selalu diikuti pengusaha, juga social entrepreneur, blogger, dan wartawan. Media atau fasilitas itu juga  diperuntukkan bagi tempat bertumbuhnya berbagai pihak yang berkaitan dengan koperasi dan UKM, khususnya kegiatan promosi dan pemasaran. “Tempat ini mengalami perubahan. Soft launching dilakukan pada 22 Oktober 2015 dan launching 24 Januari 2016 yang diawali dengan creativity day yang kami lakukan tiap bulan. Kemarin kami menggelar Soul of Bandung,” ujar Ahmad.

Creative space Smesco menjadi tempat bertemunya berbagai stakeholder koperasi dan UKM

Creative space Smesco menjadi tempat bertemunya berbagai stakeholder koperasi dan UKM

Creativity day dan event-event lain sepanjang tahun 2016 ini diselenggarakan  secara tematik untuk mendukung upaya mempromosikan  produk koperasi dan UKM. Tak hanya itu, di Smesco juga telah berdiri coworking space dan makers space sebagai akselerasi tumbuhnya entrepreneur dan startup. Startup bisa berkantor di coworking space. Bahkan bisa mengagendakan pertemuan strategis startup dan UKM  dengan mitra bisnisnya. Sementara itu di makers space diadakan pelatihan tiga kali seminggu, antara lain pembuatan tas, boneka, hingga seprai. Namun masih terkendala peralatan. “Kami akan melengkapi dengan beberapa peralatan pendukung supaya startup meningkatkan kualitas produknya dengan  didampingi  expert di bidangnya masing-masing,” ujar Ahmad.

Produk yang dipamerkan di creative space Smesco

Produk yang dipamerkan di creative space Smesco

Perlu dipikirkan aspek sumber daya manusia, akses pembiayaan, dan  akses pasar yang harus dibuka. Sebenarnya banyak anak Indonesia yang hebat. Pemerintah sebagai regulator harus melihat dengan jernih dan cermat untuk memberikan peluang kepada kaum muda. Moderator diskusi Dedy Gumelar menyampaikan, jangan menggantungkan nasib  kepada presiden semata. Kita harus mandiri sebagai masyarakat agar bisa membantu pemerintah dan negara. Paling tidak mengurangi pengangguran lima orang saja yang mempunyai  anak. Bukan hanya pemerataan atau pertumbuhan, juga berbasis keadilan. “Napoleon Bonaparte mengatakan, kalau kita mau menang dalam peperangan harus bersaing dengan mentalitas dan karakter dalam jiwa kita. Kalau karakter Indonesia hilang, jangan mimpi bersaing dengan MEA,” ujar Dedy.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kementerian Koperasi dan UKM telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dalam bentuk integrasi bank sampah dengan kampung UKM digital lingkungan hidup. Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Puspayoga mengatakan, sinergi  dengan Kementerian LHK sangat strategis agar pengembangan bank sampah berjalan lebih optimal dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.  Kementerian Koperasi dan UKM akan memfasilitasi kebutuhan UKM bank sampah dan kampung UKM digital, dari pelatihan lembaga, administrasi dan manajemen, hingga permodalan. Dengan demikian bank sampah bisa produktif dan terus berkembang di seluruh daerah.

Program social technopreneur sangat penting direalisasikan dengan tujuan menyelesaikan masalah sosial melalui  pengembangan usaha berbasis teknologi. Salah satu caranya adalah mendorong pengelolaan bank sampah hingga menghasilkan produk daur ulang yang memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian pelaku usaha tidak hanya mengutamakan keuntungan,  juga didorong menyelesaikan masalah sosial seperti pengelolaan sampah. Ke depan pengembangan usaha berbasis  teknologi harus diperkuat sehingga mengarah ke industrialisasi. Hal tersebut sejalan dengan Nawacita butir keenam dan ketujuh Kementerian Koperasi dan UKM yang berbunyi meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional dan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Bisnis merupakan kombinasi knowledge, skill, pembiayaan, dan network

Bisnis merupakan kombinasi knowledge, skill, pembiayaan, dan network

Jimmy melihat proses menuju sukses penuh dengan perjuangan. Kesulitan adalah  pembelajaran yang akan mengantarkan seseorang menuju kesuksesan yang lebih besar. Sudah tidak jamannya mengerjakan semuanya sendiri. Jimmy mencontohkan Nadiem yang  ahli di bidang manajemen menggandeng Kevin Aluwi yang mengurusi finance di Gojek. Alhasil Gojek berhasil. Jimmy juga menyampaikan  ada yang disebut knowledge company atau knowledge economy. Bagaimana perusahaan menguasai pengetahuan yang luar biasa. Ia menyarankan Ayu suatu saat membuka franchise dari usaha  meriasnya. Sebab bisnis itu merupakan kombinasi knowledge, skill, pembiayaan, dan network. “Pengusaha itu ada keterbatasan. Ketika kita memuliakan orang lain, kita pun dimuliakan, ” tutur Jimmy.

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top