Fiksi

Cinta Tak Berbatas Waktu

Sinar mentari menjilat pagi, sisa embun masih terperangkap di dedaunan berkilau ditimpa sang surya yang mulai bertahta. Di sudut kota kecil di selatan ibu kota provinsi klinik Dokter Damar mulai dijubeli pasien yang siap berkeluh kesah tentang derita. Penduduk di sini lebih suka berobat ke klinik dokter rupawan dan ramah itu meski sang dokter baru beberapa pekan pindah ke kota yang terkenal dengan panorama alamnya yang indah. Di kota kecil nan rupawan, orang menyebutnya surga dunia. Kota yang memiliki pantai kecil nan menawan sekaligus indahnya pegunungan di sisi berseberangan. Satu hal yang menjadi misteri Dokter Damar tak mengizinkan seorangpun mengunjungi tempat tinggalnya, meski ada beberapa orang yang sempat berpapasan di pagar rumah sebelum berangkat kerja.

Dokter Damar mapan dan rupawan, mengapa memilih tak segera berpasangan ?” iseng seorang pasien terakhir membuka percakapan
“Lho kata siapa saya bujangan Pak” Damar tertawa lebar sebelum melanjutkan percakapan
“Saya mempunyai istri jelita yang menanti saya di rumah”
“Ooooo tapi kok tak pernah terlihat menemani dokter di sini ya ?”
Itulah Pak, fisik istri saya terlalu lemah, tubuhnya tak bisa menahan sinar matahari terlalu lama sementara angin malam juga tak bagus untuk paru-parunya, rumah adalah tempat paling aman dan nyaman baginya”
“Hmmm Dokter cinta sekali pada sang istri ya….”
“Jembatan hati kami dibangun dengan pondasi atas nama Illahi, orang menyebut cinta itu membutakan bagi saya justru cinta menerangi dunia membuat kita tegar berdiri meski gelombang dan badai menantang”
“Wah Dokter puitis juga”
“Ah Bapak bisa saja, Aksara, istri saya yang memercikkan rasa mencintai sastra”
Damar membuang pandang melalu kisi-kisi jendela dan bergumam dalam lirih terdengar
“Damar dan Aksara bersinergi dalam pusaran energi, bersemayam dalam palung kerinduan. Aksara mungkin tak terbaca bagi dunia jika Damar tak menyinarinya namun Aksara telah menempatkan dirinya sedemikan rupa agar tereja menjadi sebuah makna D-a-m-a-r”.
Si pasien tertegun, detak jarum jam dinding menghias sepi
“Eeeeh Dok mengapa Dokter pindah ke desa ini, di sini sepi jauh dari hiburan dan gemerlap duniawi. Dokter aneh ah. Orang desa berduyun-duyun ke kota seperti laron mengelilingi lampu neon dokter dan istri malah menyepi”
“Ooh itu ada alasannya pak. Di sini kami pertama kali bertemu saat masih kuliah dulu, Di sini pula kami berniat mengakhiri waktu”
“Nostalgia nih Dok”
“Yaa saat masih kuliah di ibu kota provinsi, kami sering jalan-jalan kemari berwisata kuliner sambil menikmati panorama alam yang indah tiada duanya, di kota besar ada sih banyak warung menjual kuliner yang sama tapi rasanya beda Pak”
“Wah kalau begitu kapan-kapan pak Dokter dan nyonya bertandanglah ke rumah saya, kebetulan tetangga saya kuliner khas daerah yang top banget dah”
“Lain kali ya Pak, saya senang berbincang dengan Bapak, sayangnya hari mulai senja saya harus pulang” Damar menutup pembicaraan dengan tersenyum sopan.

*******
Rumah yang selalu dirindukan ketika sibuk bekerja di kliniknya. Damar bergegas membuka pintu dan menyapa.
Sayang, aku datang seperti biasa aku membawakan menu favoritmu”
“Kau yang terindah hadir dalam hidupku” suara lemah terdengar. Wajah jelita pucat pasi menyambutnya di kursi malas.
“Hari ini klinik ramai sekali tetapi aku selalu pulang tepat waktu untukmu”
“Aku mencintaimu” suara lemah itu kembali terdengar dengan nafas tertahan
“Aku juga mencintaimu” Damar menekan dadanya dan membisikkan puisi

“Cinta laksana kibas
Sayap meretas
Bebas…
Luas….
Menembus batas”

Kemudian berbaring di sisi Aksara.

House

Beberapa hari kemudian Damar tak nampak mengunjungi klinik, warga merindu dan resah.
“Apakah Dokter Damar sakit ?”
“Atau keluar kota ?”
“Mungkin mengobati istrinya”
Bisik-bisik mereka.
“Lebih baik kita pergi ke rumahnya”

**********
Sepi, muram menyambut beberapa warga yang bertandang ke rumah Dokter Damar. Rumah kayu dengan nuansa warna tanah tampak bermuram durja. Seolah lama tak tersentuh penghuninya. Aroma aneh dari dalam menguar membuat penasaran penduduk yang berkerumun di sekitarnya.
Salah seorang memberanikan membuka pintu yang tak terkunci.
“Kau yang terindah hadir dalam hidupku”
“Aku mencintaimu”
Suara lemah wanita berulang-ulang menggema dari tape recorder tua.
Dokter Damar ditemukan terbaring tak bernyawa di sisi jenazah istrinya yang telah diawetkan entah berapa lama.

Image source: pixabay.com

 

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Desain website yang menarik memang bikin pengunjung web jadi lebih betah sih, ya 😁 Makanya sebagian orang memilih untuk "bye-bye" saat berkunjung ke web yang desainnya "malesin" alias gak bikin pengunjung nyaman. Kalian gimana? 😀
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #desainweb #layout #website

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top