Hobi

Cholida Eviana Taufan: Menjadi Crafter karena Ketidaksengajaan

Berawal dari Kecelakaan

Crafter. Tak pernah terbayang oleh Cholida Eviana Taufan (Evi), untuk menggeluti profesi ini. Lulus dari SMAN 2 Genteng ia justru menempuh pendidikan di AKPAR Bali. Akan tetapi impiannya untuk bekerja di bidang pariwisata harus terhenti menjelang semester empat, tahun 2004. Kala itu ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulangnya patah dan harus melakoni operasi pemasangan pen di kaki.

Tak seperti orang lain yang baik-baik saja setelah operasi pemasangan pen, Evi sebaliknya. Tubuhnya menolak pen yang terbuat dari logam dan memicu reaksi alergi. Paska operasi, jahitannya tak kunjung kering, bahkan bernanah. Dengan kondisi semacam itu Evi praktis tak bisa pergi kemana-mana. Bahkan kuliahnya pun terpaksa berhenti. Akan tetapi bukan Evi namanya jika hanya duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun. Selain menggambar, ia juga mengisi waktu dengan memberikan les bahasa Inggris untuk anak-anak di seputaran rumahnya.

“Tak semata untuk mengusir kebosanan, saya memberi les gratis niatnya untuk berbagi,” ungkapnya.

Tahun 2007-2010 kegiatan itu terhenti. Penyebabnya karena ia harus bolak-balik mendatangi sebuah RS di Solo untuk memperbaiki kondisi tulangnya yang mengalami pengeroposan. Melelahkan mengingat jarak Glenmore (Banyuwangi) ke Solo sangat jauh. Akan tetapi, Evi yang bertekad kuat untuk sembuh menjalaninya dengan sabar. Semua kesulitan itu tidak menjadikannya lemah dan putus harapan.

Tahun 2010, Evi yang jenuh karena tak memiliki kegiatan selain berada di rumah mulai mencari kesibukan. Melihat kerajinan kain flanel buatan Vidya Malang, Evi terpacu untuk membuatnya sendiri. Berbekal satu jarum, benang, kain flanel, dan keterampilan menjahit tangan yang ala kadar, wanita yang semasa remaja tomboy ini belajar membuat kerajinan dari flanel. Tanpa guru, ia belajar otodidak lewat google menggunakan ponsel jadul yang sinyalnya kerap timbul tenggelam. Tak sia-sia, dari sini Evi berhasil membuat gantungan kunci bentuk bintang dan hati, yang kemudian diberikan pada saudara dan sepupunya.

Dari bentuk-bentuk sederhana berbahan flanel, Evi juga belajar membuat kerajinan dari kain perca. Memanfaatkan banyak perca batik dan tempat shampoo bekas, Evi membuat miniatur vespa, kendaraan kecintaannya. Meski belum sempurna benar, ternyata hasil kreasi Evi ini dilirik orang. Tak kurang dari 12 buah miniatur dipesan orang dari Solo. Ia mengaku, diawal-awal mendapat pesanan itu yang paling memusingkan adalah packing saat pengiriman. Packing yang kurang baik jelas mempengaruhi mutu produk ketika sampai di tangan konsumen. Tapi, seiring waktu hal tersebut mampu dipecahkan.

Karena unik, vespa yang dibuat Evi mulai memiliki penggemar sendiri. Banyak reseller yang antri untuk bisa menjual produknya. Tidak seperti sebelumnya, Evi menggunakan kain flanel untuk kreasi vespanya. Meski dibandrol dengan harga lumayan mahal, Rp 50.000,00 per buah, tak menyurutkan minat orang. Kuncinya adalah proses pembuatan yang detail dan tidak asal-asalan sehingga kualitas produk terjaga. Karena alasan itu pula, Evi mengakui kerap tak bisa memenuhi banyaknya pesananan. Dalam sebulan ia mengaku hanya mampu membuat 6 buah miniatur vespa karena kerumitannya.

Beralih ke Kerajinan Kain Velboa

Bosan dengan kerajinan flanel, Evi beranjak ke bahan dasar lainnya—velboa. Sama seperti sebelumnya saat mencoba membuat kerajinan dari flanel, Evi juga tidak memiliki dasar menjahit dengan mesin. Namun, perempuan satu ini memang gemar tantangan. Justru ketidakbisaan itu mendorongnya untuk belajar keras menggunakan mesin jahit. Dari situlah akhirnya Evi berkreasi membuat boneka sayuran, seperti wortel dan lainnya.

Karena pesanan berdatangan, Evi memutuskan untuk merekrut seorang penjahit. Bersama pekerjanya inilah Evi berkreasi membuat beragam boneka sayur. Tak melulu wortel, Evi juga membuat boneka berbentuk terong, jagung, pisang, jeruk, dan kiwi dengan ukuran beragam. Yang terkecil berukuran 25 cm, yang terbesar 100 cm.

boneka wortel, jeruk, dan jagung dari kain velboa

boneka wortel, jeruk, dan jagung dari kain velboa

“Dari ketiga boneka buah itu, jagung yang paling menyita waktu. Bulir-bulirnya harus dijahit satu-satu,” katanya.
Tak heran bila kemudian boneka jagungnya dijual lebih mahal. Untuk ukuran 55 cm harganya mencapai Rp 85.000,00.
Tak hanya berkreasi membuat boneka buah, Evi juga sempat mendapat pesanan unik. Seorang mahasiswa yang tengah belajar di Malaysia memintanya untuk membuat bantal berbentuk Raflesia cantleyi. Tantangan bagi Evi agar bantal buatannya ini menyerupai bentuk aslinya. Meski begitu, Evi tak surut langkah. Justru kesulitan itu memicunya untuk memenuhi harapan pemesannya.

raflesia cantleyi

Hanya saja persaingan dalam usaha memang tak bisa dipungkiri. Ketika produk boneka sayur dan buah Evi booming tahun 2015, bermunculan produk-produk sejenis yang dikeluarkan oleh pemodal besar. Karena produksi masal, tentu saja harganya jauh lebih murah. Hal ini tentu saja menguntungkan konsumen. Tetapi, tidak untuk pengusaha kecil seperti Evi. Inilah yang kemudian membuat Evi berpikir ulang, untuk membuat usaha lain, yang masih sejalur dengan kegemarannya membuat kerajinan. Usaha lain yang bisa menyerap tenaga kerja banyak dan masa produksi yang lebih singkat.

Membuat Tas Menjadi Pilihan Evi Sebagai Usaha Barunya

Setelah menimbang, mulai tahun 2016 Evi memutuskan untuk membuat tas sebagai usaha baru. Selain proses pembuatan tas tidak serumit kerajinan flanel dan velboa yang ia geluti sebelumnya—ketersediaan bahan, serapan tenaga kerja, dan waktu pembuatan yang lebih pendek menjadi alasan lainnya. Bahan-bahan pembuatan tas lebih mudah ditemukan di daerah Glenmore dan sekitarnya. Tidak harus membeli secara online atau pergi ke kota tetangga, seperti Jember, untuk mendapatkannya.

tas polkadot dengan hiasan kucing lucu ini digemari

tas polkadot dengan hiasan kucing lucu ini digemari

Untuk produk tasnya, masing-masing item hanya dibuat beberapa saja. Tidak diproduksi secara masal. Niat Evi, dengan begitu setiap pembeli bisa merasa ke-exclusive-an tas buatannya. Dalam sebulan ia mengaku bisa mengeluarkan tiga puluh koleksi tas yang langsung diborong oleh reseller-nya.

Tak hanya memproduksi tas berdasarkan desain sendiri, Evi juga menerima pesanan dari orang lain. Biasanya orang-orang ini sudah memiliki desain berikut bahan dan aksesoris yang diinginkan. Akan tetapi Evi menolak keras jika si pemesan memintanya menjiplak desain tas tertentu meski bayarannya mahal.

“Setiap desain itu memiliki hak cipta. Nah, itu yang saya tidak ingin melanggarnya,” demikian ia berujar ketika ditanya alasan penolakannya.

Kendala Selaku Pengusaha Kecil

Layaknya usaha lainnya, menjadi pembuat produk kerajinan tangan (crafter) juga memiliki kendala tersendiri. Menurut Evi, iklim kerajinan buatan tangan di Indonesia tak sebaik di luar negeri. Penghargaan yang kurang membuat orang-orang di Indonesia kerap menyepelekan barang-barang buatan tangan. Kerap Evi mendapati orang mengeluh ketika melihat bandrol harganya yang cukup mahal. Berbeda dengan di luar negeri. Barang-barang buatan tangan justru dihargai. Mereka rela membayar mahal, karena paham bahwa barang-barang tersebut memerlukan proses panjang. Menggunakan tenaga manusia pula.

Problem lainnya adalah ketersediaan bahan. Ia mengisahkan, dulu sebelum kerajinan flanel menjamur, ia harus membeli bahan jauh-jauh ke Jember. Begitu juga untuk boneka velboa-nya. Jika tidak ada di tempat tersebut, alternatif lainnya adalah membeli secara online. Masalahnya waktu pengiriman paling cepat ke kotanya adalah tiga hari. Tentu saja ini menyulitkan Evi untuk memproduksi barang-barang kerajinannya secara kontinyu. Hal ini rupanya juga dialami saat membuat tas. Bahan-bahan tertentu yang tidak bisa didapatkan di Genteng, terpaksa harus dibeli secara online.

Kendala utama adalah ketersediaan modal. Bagi pengusaha kecil seperti Evi, modal menjadi batu sandungan untuk mengembangkan usaha. Kerap ia harus memendam hasrat untuk memperbesar usaha karena kekurangan modal. Namun, Evi tak pernah lelah berdoa. Perempuan berjilbab satu ini yakin, kelak ia bisa meraih cita-citanya. Menjadi pengusaha tas yang bisa menyerap banyak tenaga kerja di sekitarnya.

 

 

 

afin yulia

Afin Yulia
Blogger, crafter, writer
Penulis novel Sweet Sour Love, From Spring to Winter

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Kabar bahagia nih khususnya bagi warga Tangerang Selatan dan sekitarnya. Sekarang ga susah lagi mencari kebutuhan oleh-oleh haji dan perlengkapan muslim, @bursa.sajadah sudah ada di BSD loh. Tepatnya di Ruko Tol Boulevard C No. 11-12. Jalan Pelayangan BSD, Tangerang Selatan.

Alhamdulillah Bursa Sajadah sejak didirikan tahun 1998, terus berekspansi. Bursa Sajadah di BSD ini merupakan cabang ke-9, setelah di  Bandung, Bekasi, Bogor, Jakarta, Malang, Solo dan Surabaya.

Tuk yang mau belanja2 kebutuhan lebaran atau ingin memberikan sesuatu yang spesial tuk orang2 tersayang, selagi masih grand opening di BSD, siapa tahu dapat harga yang spesial :) Tuk rekan2 blogger terpilih di wilayah Tangsel, kita nanti bersilaturahmi ya di Grand Opening Bursa Sajadah BSD, Kamis, 1 Juni 2017.  #BursaSajadah #bursasajadahBSD #skvgroup #Tangerangselatan

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top