Berbagi Kasih Sayang

Menjadi Relawan, Mendewasakan Aku

Keperdulian terhadap sesama jarang sekali ditemui di zaman sekarang ini. Sebuah jalan ternyata membuat saya jadi perduli sehingga membuat diri ini berkurang bahkan hilang perasaan ingin bunuh diri yang dulu sering muncul.

Jalan itu adalah dengan menjadi relawan. Bukan bermaksud pamer, karena saya hanya ingin berbagi karena saya merasa bahagia dengan berbagi.

Awal saya mengenal dunia kerelawanan adalah pada tahun 2005 oleh bekas sahabat. Dari situ, saya suka membagikan informasi-informasi mengenai Acikita Foundation tanpa disuruh.

2007-2008 saya menjadi relawan di Panti Wisma Tunaganda untuk mengisi waktu luang, disana saya memandikan anak-anak berkebutuhan khusus, membedakinya, memakaikan baju, menemaninya belajar di ruangan. Anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya karena merasa malu.

Kemudian, 2008, saya masuk ke jaringan relawan 1001 buku. Disitu, tenaga saya berguna. Saya membantu memilihkan buku buku mana yang layak dibaca oleh anak-anak kecil, yang tidak ada unsur porno, dan juga tidak ada unsur kekerasan; selain itu, saya pernah mengecapkan buku buku sebagai tanda bahwa buku tersebut adalah pemberian dari 1001 buku.

2009, saya menjadi relawan air mata gaza dengan meminta uang sambil berjalan-jalan di koridor kampus, tempat nongkrong yakni di bawah pohon rindang dimana itu adalah program yang diadakan oleh Badan Eksektif mahasiswa untuk membantu Palestina pada waktu itu.

2012, saya nyasar ke Kartunet, kemudian membagikan informasi mengenai disabilitas mental dimana dalam UU yang termasuk dalam disabilitas tidak hanya fisik, tapi juga ada disabilitas mental dan juga perpaduan.

Di tahun tidak jauh dari 2012, saya masuk ke grup facebook komunitas perduli schizophrenia setelah direkomendasikan oleh dosen profesi karena saya mengalami halusinasi suara dan kebetulan memang masuk salah satu tujuannya adalah membantu orang seperti seseorang yang terdiagnosa schizophrenia.

Saya jadi tersentuh, ternyata baik tunanetra, maupun penyandang schizophrenia memiliki kesamaan yakni didiskriminasi dalam pekerjaan.

Selain itu, saya menyayangi teman-teman dengan mendengarkan curahan hati mereka sambil terkadang memberikan masukan dan saran walaupun sering kali saya hanya bisa membantu menjadi pendengar setianya saja.

Namun, saya akan merahasiakan apa yang mereka tulis di status facebook, di sms, di komentar di facebook, tulisan-tulisan di grup ataupun pribadi untuk menjaga efek psikologi dan fisik dari adu domba serta melatih diri untuk merahasiakan sesuatu karena dalam kode etik Psikologi ada tu yang namanya menjaga kerahasiaan klien dan dalam agama ada yang namanya amanah dan dilarang untuk adu domba.

Selain itu, saya juga sayang sama orang tua. Salah satu bentuknya adalah mencoba memberikan pengertian untuk tidak ke orang pintar lagi termasuk orang-orang yang berkedok ustad. Soalnya, saya sudah membuktikan ada seorang ustadzah mengatakan saya terkena tumor di kepala dimana di keluarga hanya saya yang terkena, namun pada kenyataannya adalah hasil medis dari melakukan CT Scan kemarin di RS. Fatmawati membuktikan bahwa tidak ada tumor di kepala.

Pada tahun berapa gitu, saya masuk ke grup facebook IT Center for the blind karena ingin membagikan informasi dan juga membantu apabila ada yang kurang mengerti mengenai teknologi baik di PC/HP Android dimana. Jadi, pada saat ada yang bertanya, maka yang saya mengerti akan dicoba dijawab tanpa mengharapkan imbalan apapun, sayapun tidak pernah menginginkan popularitas/terkenal. Selain IT Center for the blind, saya juga masuk ke IT Nusantara.

Setelah mendengar dari dosen bahwa bapak … Nugroho yang masuk grup bipolar hanya karena membaca jadi menghakimi dirinya terkena bipolar, saya jadi tergerak dan menambah niat untuk mencegah orang-orang di grup-grup facebook disabilitas mental supaya orang yang bertanya “Apakah aku terkena?” dengan menjawab, “Bertanyalah ke psikolog klinis dan psikiater”.

Hal ini karena untuk menegakkan diagnose gila/terganggu jiwa/disabilitas mental butuh proses panjang dan tidak bisa sembarangan main tembak, dan tidak ada orang yang mau menjadi disabilitas.

Namun, saya mengalami kesedihan disaat papa berkata kalau saat menjadi relawan ESQ hanya merepotkan saja dengan menambah pekerjaan dengan menuntun saya kemana-mana. Itu karena saya belum hafal tempatnya jadi dituntun dulu. Dan kenapa apa yang saya kerjakan tidak diceritakan? Kenapa hanya fokus pada merepotkan, kesalahan dan kekurangan?

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan. Semua ini membuat saya merasa bahagia. Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa menjadi relawan membuat umur menjadi lebih panjang. Semoga kisah saya bisa membuat yang lain jadi ikut merasakan dan menjadi perduli dengan sesama.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Desain website yang menarik memang bikin pengunjung web jadi lebih betah sih, ya 😁 Makanya sebagian orang memilih untuk "bye-bye" saat berkunjung ke web yang desainnya "malesin" alias gak bikin pengunjung nyaman. Kalian gimana? 😀
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #desainweb #layout #website

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top