Indo Blog Net

Inspirasi

Cara Mengolah Pasir Bangunan untuk Media Tanam Kaktus

koleksi kaktus kaktusqulucu

Sebagai tanaman yang menghuni daerah gersang, kaktus sebenarnya bukanlah tanaman yang ringkih dan manja. Ia mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan tidak menuntut perhatian khusus untuk perawatannya. Cukup diletakkan di suhu ruang yang tidak lembab, dan memungkinkan sinar matahari masuk, kaktus mampu bertahan. Disiramnya pun tidak harus setiap hari. Cukup 1 sampai 2 kali seminggu saja atau saat kendisi media tanam benar-benar mengering.

Makanya, banyak petani kaktus yang tidak terlalu mengistimewakan penggunaan media tanam kaktus seperti halnya tanaman hias yang biasanya agak rewel terhadap media tanam yang digunakan.

Pasir Malang, pumice, akadama, cocopeat… yang pada umumnya digunakan sebagai media tanam wajib oleh sejumlah pehobi kaktus dan sukulen, rupanya tidak banyak digunakan oleh petani kaktus yang saya temui di Lembang, Cianjur  dan Sumatera.

Alasannya, media tanam tersebut tergolong mahal, mewah, dan sulit diperoleh di daerah mereka. Seandainya pun mereka mau membeli, biasanya lewat marketplace atau online yang ongkirnya bisa melebihi harga pasir malang, pumice, akadama, cocopeat.

Saya yang tinggal di daerah Cibubur juga cukup kesulitan mendapatkannya. Sampai suatu ketika,   saya meminta uni pedagang grosir pot dan tanaman hias di Ciangasana-Gunung Putri agar menyediakannya.

Kurang lebih 2 mingguan saya bisa mendapatkan pasir Malang seharga Rp 15 ribu dengan ukuran 10 kg. Di luar toko Uni, Laura Nursery, pasir malang dijual lebih mahal, berkisar 20 ribu hingga Rp25 ribu.

Sampai saat ini Laura Nursery belum bisa memenuhi permintaan saya untuk pumice, akadama dan cocopeat. Mungkin karena permintaan terhadap media tanam kaktus tersebut sedikit pembelinya, jadi tidak disediakan.

Baca juga:9 jenis kaktus  yang mudah dirawat oleh pemula

Akhirnya saya mencoba membeli pumice di salah satu anggota Komunitas Kaktus dan Sukulen Indonesia. Harga yang sangat merogoh kocek saya hehe. Untuk ukuran 10 kilo, ditawarkan seharga 125 ribu, Akadama 2 kg  60 ribu dan ongkir Rp 27.500 antuk 12 kilo dari daerah Bogor.

Dibandingkan dengan harga di marketplace, pumice dan akadama yang ditawarkan penjual dari komunitas cukup murah.

Makanya saya beranikan membelinya. Karena, saya ingin sekali bisa menumbuhsuburkan kaktus yang saya budidayakan dengan cara momotong bagian induknya dan menancapkannya di tanah.

pasir bangunan media tanam kaktus

Menurut pendapat dari para pemain kaktus dan ajaran Mbah Google, jika  akar ingin cepat tumbuh setelah dipotong, disarankan agar ditanam dengan media tanam campuran  campuran pumice, akadama, cocopeat dan sekam bakar.

Belakangan ini saya suka membeli kaktus dari seorang petani kaktus asal Lembang, Atep namanya. Sebelum mengenal Kang Atep dari komunitas kaktus dan sukulen Indonesia, saya kerap membeli kaktus dan sukulen di marketplace yang biasanya ditawarkan borongan paket 20 kaktus seharga berkisar 100 hingga 150 ribu.

Kalau penjualnya baik pelayanannya, saya mendapatkan kaktus yang bagus, segar dan bertubuh pekar. Jika pas bertemu dengan pedagang yang tidak terlalu memperhatikan kualitas produk, ya…. saya harus terima kenyataan, kualitasnya ala kadarnya. Dan, kebanyakan diberikan jenis sukulen yang lumayan agak ekstra dalam perawatannya.

Sejak saya memantapkan untuk berbisnis kaktus, souvenir kaktus untuk hadiah dan acara-acara spesial (bisa lihat di IG @kaktusQulucu), saya mulai selektif membeli kaktus untuk dijual kembali dalam kemasan gift yang menarik. Bertemulah saya dengan Kang Atep ini.

Harga jual Kang Atep semula jika saya bandingkan dengan sejumlah penjual sekilas cukup lumayan jika untuk dijual kembali. Tetapi setelah ngobrol santai, tawar-tawaran,  Kang Atep rupanya tak segan memberikan diskon kapada seller seperti saya.  Kalau beli banyak, lumayan juga selisihnya.

kaktus es cream

Salah satu koleksi kaktus di @kaktusqulucu

Ada harga ada kualitas, begitu kata penjual yang ingin tetap menjual kualitas daripada banting harga ala seller marketplace. Alhamdulilah kaktus jualannya Kang Atep ini bagus-bagus, kekar, segar, dan besar.

Jadi, worth it sebenarnya harga yang ditawarkan Kang Atep. Kaktus Mickey Mouse dan Kaktus Zebra yang saya beli dari Kang Ate besar-besar, berbeda jauh dengan yang saya beli dari penjual yang juga jadi petani asal Pekanbaru.

Kata Kang Atep, bisa jadi beda jenis, meski dari segi penampakan, bagaikan kembar siam.

Karena banyak customer saya yang menanyakan tentang media tanam dan perawatan kaktus, bergurulah saya dengan Kang Atep via WhatsApp. Kang Atep juga tidak sayang ilmu.

Pasir Bangunan Media Taman Kaktus dan Sukulen

Ternyata rahasia tumbuh subur kaktus Kang Atep karena menggunakan olahan kotoran ayam, kuda, pasir bangunan, dan sekam bakar. Alasannya tidak menggunakan pasir malang, lantaran harga yang lumayan menguras kantong. Konsekuensinya, harga jual jadi tinggi.

Wahhh cukup terkesima juga saya mendengar penjelasan Kang Atep. Soalnya, saya juga pernah menggunakan pasir bangunan, malah bikin kaktus dan sukulen saya kurus dan tidak berkembang. Bahkan ada yang busuk graftingnya,

Padahal saya  sudah mencampurkan dengan pupuk kandang dan kompos. Hasilnya tidak sesuai harapan. Akhirnya saya memilih pasir malang yang dicampur dengan sekam bakar, sekam mentah dan pupuk kandang.

Soal penggunaaan pupuk kadang,  ternyata ga boleh sembarangan. Karena pupuk kandang mengandung bakteri patogen yang alih-alih membuat subur, malah sebaliknya, mati. Waduhhh… bisa jadi nih penyebab tanaman kaktus saya membusuk akarnya, karena penggunaan dan pemilihan pupuk yang kurang tepat.

“Siapkan saja masing-masing sekarung kotoran ayam, kotaran kuda, pasir bangunan, dan sekam bakar. Kemudian diungkep alias tutup rapat selama kurang lebih dua minggu.  Setelah itu baru bisa digunakan untuk media tanam,” papar Kang Atep.

Lantas bagaimana dengan bakteri patogen yang biasanya menghuni kotoran hewan ? Kang Atep bilang, bisa   menggunakan rizotin dan untuk penyuburnya disarankan menggunakan Fungisida  Score.

Fungisida Score berguna untuk mencegah dan menghambat jamur melakukan penetrasi ke semua bagian tanaman dengan cara menjadikan tanaman bersifat racun. Score 250 EC dapat digunakan pada tanaman buah, mangga, apel dan jeruk bali yang sering terserang jamur phytophora.  Ia juga bisa digunakan pada tanaman kacang untuk mendapatkan hasil panen meningskat.

Oh ya selain pasir bangunan, bisa juga digunakan pasir sungai. Hindari penggunaan pasir pantai ya, karena memiliki kadar garam yang tinggi, tidak baik untuk pertumbumbuhan tanaman.

Baca juga: Mengenal Kaktus Mickey Mouse dan Cara Merawatnya

Penting dipahami, sistem perakaran tanaman memang dipengaruhi oleh kondisi tanah atau media tanam, disamping faktor suhu, aerasi, ketersediaan air dan unsur hara. Semakin banyak praktek, insting kita terhadap pertumbuhan akar dan tanaman akan terasah juga.

Setiap tanaman unik, mäsk berjenis sama. Makanya di sini, kita harus bisa fleksibel dan menyesuaikan dengan karakter tanaman yang kita hadapi.

Cara Membersihkan Pasir Bangunan Sebelum Digunakan Sebagai Media Tanam

Sebelum digunakan sebagai  media tanam, sebaiknya pasir bangunan dibersihkan terlebih dahulu. Berikut cara membersihkan pasir bangunan.

1 Pengayakan Pasir

Pasir diayak (spring) sampai halus.

2 Pencucian pasir

Setelah diayak, kemudian dicuci sampai bersih. Caranya seperti mencuci beras dengan air yang mengalir. Ciri pasir yang sudah bersih, air yang digunakan untuk mencuci pasir tidak keruh.

3 Perebusan Pasir

Cara berikutnya adalah perebusan pasir, setelah pasir dicuci jangan lupa membuang air sisa pencucian terlebih dahulu. Setelah dibuang masukkan pasir tadi kedalam drum, jika tidak ada drum dapat menggunakan tempat perebusan lain yang sesuai. Rebus sampai mendidih sambil diaduk-aduk.

4 Pasir Disangrai

Setelah pasir dan air rebusan terpisah, masukkan (pasir) kembali ke dalam drum atau tempat penyangraian menggunakan bara api. Untuk memperoleh media tanam pasir yang steril, pada saat menyangrai aduk-aduk dan bolak-balikan pasir menggunakan pengaduk hingga pasir menjadi kering.

Ciri-ciri pasir kering atau bisa dibilang sudah steril yaitu apabila sudah terjadi perubuhan warna pasir menjadi putih kering dari awalnya basah karena proses perebusan.

5 Hindarkan dari Sinar Matahari Langsung

Simpan pasir yang sudah disangrai pada tempat yang terhindar dari terik matahari langsung, diamkan selama satu hari sebelum digunakan untuk media tanam.

Sterilisasi pasir bangunan ini cukup repot ya. Saya belum pernah sampai melakukan sterilisasi ini. Semoga ke dépannya bisa menerapkan supaya hasil tanamannya benar-benar bisa tumbuh sesuai harapan.

Untuk pasir yang direbus dan disangrai idealnya memang seperti itu. Tapi jika tidak memungkinkan, tahap itu bisa ditiadakan. Yang terpenting pasirnya diayak sehingga benar-benar halus.

Tetap semangat bertanam kaktus dan sukulen ya. Kamu bisa memberikan hadiah spesial untuk sahabatmu dengan kaktus. Cek koleksi KaktusQulucu ya sobat.

kartina Ika Sari
Bagikan Jika Bermanfaat

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

Instagram has returned invalid data.

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top
$(".comment-click-14297").on("click", function(){ $(".com-click-id-14297").show(); $(".disqus-thread-14297").show(); $(".com-but-14297").hide(); }); // Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });