Menulis Yuk

“Caketum Bertumpuk Dosa, Hanya Ada di Golkar!”

setya novanto

Hmm…celotehan mahasiswa FISIP UNUD tampak begitu emosional. Dari raut wajahnya, terlihat sekali dia geram dengan situasi Munaslub Golkar yang tengah berlangsung di Nusa Dua, 14 – 17 Mei 2016. Apalagi ketika kuliah politik ini menyerempet tentang Golkar, ia tak antusias. Tangannya sibuk mencorat-coret kertas bukunya. Saya tersenyum melihat kekesalan anak muda berkulit gelap itu. Mungkin kalau saya seusianya, bisa jadi saya ikut esmosi.

Di tengah kesibukan harian saya sebagai ibu rumah tangga dan sesekali menulis tentang pariwisata,  sebuah gairah baru saya menulis tentang politik. Sebenarnya saya malas juga membahas politik. Apalagi tentang Golkar..hmmm bikin mata sepet.  Sementara di luar sana, bendera kuning dan spanduk bertampang Setya Novanto nangkring innocent, bikin mual sangat. Yang membuat saya penasaran akhirnya datang ke diskusi ini karena Mas Dimas Oky Nugroho, yang saya tahu dia adalah calon walikota Depok. Maklum, nafsu kedaerahan saya muncul, ketika orang nyebut Depok. Secara, saya kelahiran Depok, yang tinggal berpuluh tahun di Bali karena menikah. Tanpa berontak lagi, begitu teman mengundang saya, langsung saya samperin ahhaha.

Ya tak dinyana, diskusi yang saya kira cukup membosankan mahasiswa yang tidak suka politik, rupanya seru juga. Sampai-sampai Mas Dimas agak kewalahan  menjawab satu-satu pertanyaan yang diajukan kepadanya. Karena nggak ada waktu, atau gimana saya kurang tahu, dosen yang dijadwalkan menjadi pembicara, ternyata tidak jadi. So, hanya Mas Dimas, yang show sendiri. Pembahasan dia lumayan dalam dan berbobot. Saya suka otaknya, pinter. Hmm..rada bodoh kalau PDIP menyingkirkan Mas Dimas dari tampuk calon walikota Depok. Itu sih yang sekelebatan saya dengar dari media.  Dasar lagi-lagi politik ! Memang bikin laper saya…mo makan terus heheh.

Mendengar anak anak muda berkomentar cukup kritis dalam acara diskusi mahasiswa yang digelar di Fakultas Ilmu Politik FISIP UNUD Denpasar Jumat 13 mei 2916 lalu, rasanya seperti mendapat angin segar di tengah hawa panas lantaran menipisnya kepercayaan rakyat akan parpol yang diharap bisa menelorkan pemimpin besar kebanggaan bangsa.

Gimana gak menipis, semua orang tahu sebagian besar koruptor koruptor kakap yang merampok jatah rejeki rakyat itu berasal dari parpol. Menjadi politikus yang digadang gadang sejatinya untuk menjaga kepentingan dan kesejahteraan rakyat, nyatanya lebih banyak hanya memuluskan kepentingan pribadi dan golongan saja.

diskusi politik

Mahasiswa FISIP UNUD tengah bertanya kepada Dimas Oky Nugroho

Saat anak muda di jaman milenium ini sudah preketek dengan urusan SARA dalam urusan memilih pemimpin, yang penting 3 lu,  lu lempeng, lu lurus bersih, lu ngurusin rakyat.  Ngga dipungkiri, nyata adanya, banyak orang parpol, baik  yang duduk di gedung dewan maupun yang berada di luar lingkaran Senayan berbicara lantang ngurusi “asesoris-asesoris” yang sangat sangat tidak penting yang malah bakal memecah belah masyarakat yang sejak kecil hidup dalam kebhinekaan.

Di satu sisi, saya melihat atmosfer demokrasi saat ini  setapak dua tapak mulai berujud nyata dan berada di jalur semestinya sebagai demokrasi yang pernah dipelajari di bangku bangku sekolah, bahwa demokrasi itu menjadi sebuah wadah masyarakat untuk memilih seseorang untuk mengatur urusan mereka. Dan dalam demokrasi sejatinya memang pimpinan bukanlah orang yang mereka benci dan peraturan seharusnya memang bukan yang mereka tidak kehendaki, semuanya demi kepentingan rakyat dan rakyat berhak meminta pertanggunganjawaban jika memang tidak sesuai.

Ketika Dimas Oky Nugroho menggelontorkan isu fenomena caketum Golkar yang mengundang polemik, tanpa canggung lagi anak anak muda berkomentar soal “keanehan-keanehan” politik tanah air yang tengah panas panasnya jadi bahan pemberitaan. Reformasi Golkar setengah hati, seakan menjadi kode “membendera kuningkan” partai bermassa gemuk itu. Hampir sebagian besar Caketum bertumpuk dosa di KPK, kok..masih bisa nyalon. Malah berada di atas angin. Ga usah diperkarakan juga…sudah ketahuan, duit yang berbicara. Loh kok saya jadi ikutan gemes nih.

caketum golkar

Caketum Golkar, didominasi calon yang cacat hukum. Sumber foto : lensaindonesia.com

Dimas Oky Nugroho yang juga konsultan politik  Akar Rumput Strategic Consulting/ARSC) mengamini dan mengangguk-angguk saja ketika mahasiswa FISIP UNUD nyinyir soal caketum Golkar. Katanya,  seorang pemimpin memang harus bersih dari skandal apapun, jujur, ikhlas berkorban dengan masyarakat.

“Saya heran kok bisa bisanya partai Golkar membolehkan calon dengan track record yang dipenuhi sejumlah kasus ikut bersaing dalam bursa caketum,” ujar seorang mahasiswa.

Padahal sejatinya politisi harus meyakinkan publik akan pentingnya partai politik yang kuat, sehat dan disukai public dengan politisinya yang mumpuni. Generasi muda Indonesia contoh politisi berkualitas, yang tak cuma memiliki pengetahuan di bidang politik, namun juga karakter yang baik.

Harapan untuk memiliki politisi yang “sehat” bisa jadi di masa depan akan memupus jargon jargon negatif tentang politik seperti “politik itu kotor”, urusannya duit melulu dan lain lain. Dan bukan mustahil harapan pemikir pemikir Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles yang menganggap politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat terbaik akan kita capai. Bahkan pemikir pemikir meski jadul tetapi buah pikirannya masih berguna hingga saat ini itu meletakkan politik di tempat terhormat, sementara saat ini masih banyak orang “alergi” mendengar kata politik apalagi politikus.

Menurut Dimas Oky Nugroho, dalam kaitannya dengan tema diskusi  “Transformasi Golkar dan Penguatan Demokrasi dan Stabilitas Politik di Indonesia ”, ada 2 pilihannya, sekedar beradaptasi atau bertransformasi.

“Kalau beradaptasi hanya ganti baju agar terlihat sejalan dengan pemerintah tapi intinya tetap sama dengan yang dulu, tetapi kalau mau bertransformasi menjadi lebih baik, maka harus memilih pemimpin yang baik. Untuk itu,  harus dibangun infrastruktur Golkar yang lebih sehat,,” ungkap Dimas. Lagipula sayang sekali jika salah memilih.

Dalam tubuh Golkar sebenarnya semua bagus, ideologi jelas,  teknokrat ada, materi ada tapi jika konten atau prilaku polotikusnya negatif maka akan terjadi pembusukan di dalam.

Golkar di peta politik Indonesia memang bisa dibilang memiliki prestasi tersendiri. Setelah berbagai masalah yang dicatat sejarah politik Indonesia termasuk upaya pembubaran di awal reformasi ternyata ini tetap eksis. Eksistensinya bukan tanpa kendala, karena persoalan selalu muncul semisal konflik internal dan dualisme kepemimpinan.

airlangga hartarto

Airlangga Hartarto, caketum yang ‘belum” ada catatan di KPK. Sumber foto aktual.com

Politisi yang mumpuni adalah yang sesuai perubahan jaman, punya skill, mampu memberi solusi dan jangan hanya intrik kanan kiri saja, lanjut Dimas. Dan hasil pemilihan ini akan menentukan konstelasi politik 2016 dan akan menentukan juga akses ke 2019. “Sayang sekali jika salah memilih pemimpin karena partai Golkar punya basis besar dan pemerintah tentu layak menganggap Golkar penting dengan sejumlah alasan disamping karena tugas negara melakukan arbitrase jalan tengah sementara tugas parpol edukasi dan melakukan sosialisasi politik yang benar sesuai konstitusi,” Imbuhnya.  Ditambah lagi sepatutnya seorang pemimpin membawa virtue atau kebajikan, tidak bawa duit karena pemimpin yang membawa virtue akan mengabdi kepada rakyat dengan pengabdian yang benar dan ikhlas.

 Saat ini anak anak muda sudah terdidik dan mempunyai kesadaran akan ketidakadilan yang terjadi. Mereka tidak mempedulikan latar belakang pemimpin seperti agama dan ras yang penting berintegritas, jujur, bersih dan tidak korupsi. Untuk itu pada kepemimpinan baru pasca Aburizal Bakri, pemerintah merangkul Golkar agar tidak ribut di dalam dan pelan pelan mencoba mengkonsolidasikannya.

dimas oky nugroho

Dimas Oky Nugroho, analis politik Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) saat memberikan kuliah umum di FISIP UNUD (13/5).

Nampaknya memang momentum Golkar berbenah adalah saat ini. Munaslub bulan Mei 2016 di Bali akan menjadi titik balik Golkar untuk transformasi. Meski begitu tampaknya banyak faktor yang bakal menentukan siapa yang terpilih menjadi pemimpin Golkar nantinya. IIronisnya, media sepertinya membesar nama-nama yang terkenal dosanya, digadang-ganag bakal unggul, Setya Novanto dan Ade Komarudin, diantaranya yang katanya unggul. Hmm garuk kepala yang tidak gatel saya. Nama lainnya, seperti Airlangga Hartarto, Syahrul Yasin Limpo, Mahyudin dan Aziz Syamsudin sepertinya hanya membaui saja.

Dari bocoran survey internal yang disebutkan, bahwa ada sejumlah kriteria atau faktor yang mempengaruhi siapa yang bakal terpilih menjadi ketua.   Pertama, faktor “Apa Kata Aburizal Bakri”  mencapai 51%, faktor yang bisa merangkul banyak pihak, perhatian kepada daerah, faktor komunikasi dengan pemerintah pusat plus faktor bersih serta blessing Presiden Jokowi yang mencapai 20% lebih.

“Faktor Presiden Jokowi hampir 20% lebih dalam survey kami, mereka membutuhkan blessing Jokowi, itu namanya soft power Presiden Jokowi. Meski siapa yang diinginkan Presiden Jokowi masih misteri tetapi kuncinya tentu Presiden menginginkan pemimpin yang bersih, bisa bekerja sama dengan pemerintah karena Presiden ingin menata Indonesia dan tidak mau gaduh, beliau ingin gotong royong dan bekerja sama. Selain itu menurut saya Presiden juga menginginkan yang attitudenya bagus karena ingin membangun keteladanan.” kata Dimas.

 Tak hanya Presiden Jokowi saja yang mengharap pemimpin baru Golkar yang bersih dengan attitude baik, para generasi muda, generasi millennia pun terlihat memiliki gairah baru dan berharap banyak memiliki negara besar dengan kekuatan partai politik yang peduli rakyat. Salah satunya saya ini heheh..mulai peduli juga. Bukankah para pemikir dunia telah mengatakan bahwa politik itu, notabene sebuah usaha untuk mewujudkan masyarakat terbaik. Untuk mewujudkannya tentu butuh banyak unsur baik pula, termasuk pribadi pribadi yang benar-benar baik dalam artian universal. Ya, semoga aja sih….Hmmm ‘harapan” yang sebenarnya…membuat saya ilfil melihat kondisi Golkar saat ini.

nila sofianty

Ibu rumah tangga, penulis, kontributor majalah Venue, tinggal di Denpasar.

Latest posts by nila sofianty (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Kabar bahagia nih khususnya bagi warga Tangerang Selatan dan sekitarnya. Sekarang ga susah lagi mencari kebutuhan oleh-oleh haji dan perlengkapan muslim, @bursa.sajadah sudah ada di BSD loh. Tepatnya di Ruko Tol Boulevard C No. 11-12. Jalan Pelayangan BSD, Tangerang Selatan.

Alhamdulillah Bursa Sajadah sejak didirikan tahun 1998, terus berekspansi. Bursa Sajadah di BSD ini merupakan cabang ke-9, setelah di  Bandung, Bekasi, Bogor, Jakarta, Malang, Solo dan Surabaya.

Tuk yang mau belanja2 kebutuhan lebaran atau ingin memberikan sesuatu yang spesial tuk orang2 tersayang, selagi masih grand opening di BSD, siapa tahu dapat harga yang spesial :) Tuk rekan2 blogger terpilih di wilayah Tangsel, kita nanti bersilaturahmi ya di Grand Opening Bursa Sajadah BSD, Kamis, 1 Juni 2017.  #BursaSajadah #bursasajadahBSD #skvgroup #Tangerangselatan

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top