Indo Blog Net

Lingkungan

Bunga Edelweiss Melambangkan Cinta yang Abadi

Masih teringat saat SMA dulu, begitu terkenalnya bunga edelweiss ini. Dan perempuan-perempuan akan merasa bangga kalau mendapatkan bunga ini dari teman cowoknya yang pulang dari mendaki. Salah satu temanku mendapatkan ini dari teman prianya yang memang suka dengan temanku ini. Dan pacarnya ini memang suka mendaki gunung sebagai hobinya.

Bunga Edelweiss Melambangkan Cinta yang Abadi?

Katanya bunga  ini melambangkan cintanya akan abadi dengan teman prianya. Betulkah? Ternyata lain, faktanya temanku ini berjodoh dengan pria yang lain, pria yang memberikan bunga edelweiss ini hanya cinta monyetnya saja.

Jadi ini hanya sekedar mitos saja. Mitos yang seringnya dipercaya banyak orang. Buktinya masih saja banyak orang mengambil bunga ini untuk diberikan ke orang lain. Bunga ini juga dikenal dengan bunga abadi walau alasannya belum jelas benar.

Di dalam bunga ini terdapat hormon etilen, yaitu hormon yang menekan agar bunganya tidak bisa gugur dan bisa mekar selama 10 tahun. Hebat bukan? Dan bila dipetik bunganya tidak akan pernah berubah  bentuk dan warnanya selama disimpan di tempat yang kering.

Tumbuhan ini semakin langka karena banyak pendaki yang mengambilnya, sehingga di beberapa tempat pendakian yang ada tanaman ini selalu merazia kalau ada yang mengambil bunga ini.

Sekilas Tentang Bungan Edelweiss

Edelweiss Jawa atau Anaphalis javanica atau juga dikenal dengan sebutan bunga sendoro adalah tanaman endemik zona alpina/montana di beberapa pegunungan Nusantara. Tingginya bisa mencapai 8 meter dan batangnya bisa sebesar kaki manusia.

Edelweiss ini merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan dapat bertahan hidup di atas tanah yang tandus. Hal ini disebabkan tanaman ini mampu membentuk mikroriza dengan jamur tanah yang bisa memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efesiensi dalam mencari zat hara.

Bunga ini muncul di bulan April sampai Agustus dan sangat disukai oleh serangga. Waktu mekar terbaiknya saat bulan Juli sampai Agustus. Tenpat terbaik untuk melihat edelweiss ini di Tegal Alun (gunung Papandayan), alun-alun Surya Kencana (gunung Gede), alun-alun Mandalawangi (gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (gunung Rinjani).

Tanaman edelweiss ini memiliki daun dan bunga yang ditutupi dengan bulu-bulu putih yang nampak seperti wool. Daunnya berbentuk seperti lidah tombak dengan tangkai bunga antara 3-40 cm  Bunga edelweiss ini memiliki 5-6 kepala bunga yang berwarna kuning dengan ukuran yang sangat kecil sekitar 5 mm.

Kepala bunga ini dikelilingi daun-daun muda yang berbentuk seperti bintang. Bunga-bunganya tersusun dalam kuntum dan pertumbuhan dan perkembangan petalnya terpusat dan dilingkari dengan bractea. Akar tanaman edelweiss  mampu bersimbiosis dengan jamur.

Tanaman ini termasuk tanaman perdu dan merambat, tapi ada juga yang bersifat epifit. Jika tanaman ini dibiarkan tumbuh dengan batang yang kokoh biasanya menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik.

Tanaman ini sudah menjadi tanaman yang langka, dan keserakahan dari para pendaki yang selalu mengambil bunga-bunga ini dalam jumlah yang banyak teruitama yang berada di jalan setapak.

Edelweis jawa ini oleh warga Bromo dijual dengan terlebih dahulu diberi warna. Juga di dataran Dieng ada bunga ini diperjualbelikan. Tetapi tanaman ini hasil budidaya. Bunga hasil budidaya ini lebih gemuk dan subur. Dan bila kita membelinya dan menyimpannya, saat musim hujan akan mengembang dan saat kemarau akan menyusut.

Nah, mitos yang menyatakan kalau memberikan bunga ini cintanya akan abadi adalah hanya mitos saja.

Jadi tak perlulah kita mengambil bunga ini untuk diberikan pada kekasih hati. Biarkan bunga ini ada pada tempatnya. Biarlah keindahannya hanya kita pandang saja dan menikmati keindahannya. Paling untuk membuktikan kita sudah sampai puncak dan sudah melihat bunga ini cukup diabadikan lewat foto-foto.

Jadi janganlah merusak alam yang sudah diberi keindahan alami dengan bunga-bunag edelweiss ini. Biarkanlah mereka cantik alami.

Sumber gambar : https://www.idntimes.com

Hastira

Seorang pengajar penyuka aksara. Suka merangkai kata dalam bentuk puisi dan fiksi. Dan suka dengan dunia anak-anak dengan banyak membuat cerita anak
Bagikan Jika Bermanfaat

Komentar

To Top