Fiksi

Buka Puasa Bersama Polisi

Sebuah tumpeng nasi kuning sudah siap di meja makan. Mersi ingin berbuka puasa sambil merayakan hari pernikahan ke-25 secara sederhana bersama suami dan anak serta menantunya. Tak ada kue ulang tahun atau lilin, hanya tumpeng mini dengan lauk sederhana. Selama ini mereka memang belum pernah merayakan hari ulang tahun pernikahan. “Ah kayak selebritis saja, Jeng pakai merayakan ulang pernikahan. Setiap hari saya sudah berdoa agar pernikahan kita langgeng, lestari dan kita bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.” Itu yang selalu diucapkan suami setiap Mersi ingin menanyakan acara ulang tahun pernikahannya.

Mersi menyadari kondisi ekonominya. Meskipun Pristo bekerja di sebuah perusahaan BUMN namun suaminya hanyalah pegawai rendahan. Tanpa melupakan rasa syukur, gaji yang diterima Pristo memang pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan sebulan dan membiayai pendidikan Ranti, anak gadis satu-satunya. Kini Mersi dan Pristo sudah agak bisa bernafas lega setelah Ranti diwisuda. Gadis santun dan sederhana itu telah menikah dengan seorang bintara polisi.

Suara adzan berkumandang dari masjid yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya. Kepulangan Pristo masih dua jam lagi. Pagi tadi suaminya memang bilang akan pulang terlambat karena dia mendapat tugas membaca do’a pada acara ulang tahun perusahaan. “Paling cepat jam tujuh acara baru selesai karena ada acara bukber, Jeng,” ujar Pristo sesaat sebelum berangkat ke kantor.

Usai shalat Ashar Mersi mengenakan busana muslim yang agak bagus. Dia ingin menyambut kedatangan suaminya dengan pakaian terbaik yang dia miliki. Baju gamis bingkisan dari Ranti pada Lebaran tahun lalu memang jarang dipakai. “Baju pemberianmu hanya Ibu pakai kalau bepergian saja biar awet,” kata Mersi menjawab pertanyaan Ranti setiap melihat baju gamis masih tertumpuk rapi di alamari pakaian.

Mersi menuju meja makan. Dibukanya tudung saji. “Mudah-mudahan Mas Pristo belum makan.” Wanita sederhana itu tersenyum melihat nasi kuning, enam potong ayam goreng, kering tempe, dan abon yang sudah siap. Lauk ini memang kesukaan suaminya. “Asal ada nasi panas, kering tempe, dan abon saya bisa nggak ingat lagi sama mertua ,” ujar Pristo suatu hari.

Mersi merasa bersyukur karena Tuhan telah memilihkan jodoh yang tepat untuknya. Meskipun Pristo bukan tipe laki-laki yang romantis namun kesederhanaan, kesopanan, dan keshalihannya mampu meluluhkan hati Mersi, anak kepala desa yang cukup berada. Ayah Mersi yang semula kurang suka terhadap Pristo yang hanya seorang satpam akhirnya bisa menerimanya setelah Ranti lahir. “Pak, apakah kebahagiaan anak tak bisa mengalahkan gengsimu?” ujar ibu yang mendukung pernikahan Mersi dengan Pristo. Meskipun hidup mereka tak berkecukupan Pristo melarang Mersi minta ini-itu kepada orangtuanya. “Apakah Diajeng belum puas merepotkan orangtua yang sudah melahirkan dan merawat sejak kecil?” Begitu Pristo selalu menasihati Mersi setiap dirinya ingin minta bantuan orangtua.

Tok..tok..tok. Ketukan pintu membuarkan lamunan Mersi. “Kok Mas Pristo sudah pulang, katanya ada acara di kantor,” batin Mersi sambil bergegas menuju ruang depan. Dengan sukacita dibukanya pintu. Mersi kaget. Dua orang laki-laki berbadan tegap dan berkumis menghormat kepadanya.

“Selamat siang, Bu. Maaf mengganggu.Apakah ini kediaman Pak Pristo?”

“Selamat siang. Iya benar, ada apa ya, Pak?” Mersi memegang dadanya. Hatinya merasa tak enak. Meskipun sering melihat menantunya berpakaian seragam tetapi kali ini hatinya merasa deg-degan juga.

 “Kami dari kepolisian  mendapat perintah dari atasan untuk menjemput Ibu. Inspektur Suzana ingin minta keterangan dari Ibu tentang keterlibatan Pak Pristo dalam perkara penimbunan bahan bakar.” Mersi terperangah, tak percaya dengan apa yang dikatakan petugas berseragam itu. “Subhanallah. Tak mungkin suami saya melakukan perbuatan sekotor itu,” kata Mersi. Airmatanya mengalir deras.

“Silakan mengikuti kami. Nanti Ibu bisa menjelaskannya kepada atasan kami di kantor.”

Dengan lesu Mersi mengikuti polisi yang membawanya ke sebuah sedan putih yang diparkir di depan rumah. Lampu panjang berwarna biru di atas sedan polisi berkelap-kelip seolah mengejeknya. Mersi menundukkan kepala. Dia merasa malu melihat beberapa orang tetangga berkerumun di sekitar jalan dekat rumah. “Begini mungkin rasanya menjadi isteri seorang penjahat,” batin Mersi.

Mobil sedan bergerak perlahan diikuti pandangan mata tetangganya. “Bagaimana keadaan suami saya, Pak?” Mersi mulai membuka mulut setelah bisa menguasai keadaan.

“Beliau baik-baik saja,” jawab seorang petugas yang duduk di sampingnya.

“Suami saya nggak ditahan kan?” Mersi yang sering melihat tayangan televisi yang memperlihatkan tersangka yang tangannya diborgol langsung membayangkan suaminya.

“Tadi sih belum, Bu. Semua akan tergantung dari hasil pemeriksaan kepada Pak Pristo dan para saksi, termasuk keterangan yang ibu berikan.”

Mersi menghela nafas. Dia ingat nasi tumpeng nasi kuning yang berada di atas meja. “Pak, bisa enggak kita kembali ke rumah lagi.”

“Untuk apa, Bu?”

“Saya ingin membawa tumpeng nasi kuning untuk suami saya. Dia pasti belum makan,” jawab Mersi sambil terisak.

“Soal makan Pak Pristo jangan khawatir, Bu. Kantor pasti sudah menyiapkan.”

“Tapi tumpeng itu sangat berarti bagi kami, Pak.”

“Maksud Ibu?”

“Hari ini kami ingin merayakan hari ulang tahun perak pernikahan. Saya sudah menyiapkan tumpeng  nasi kuning untuk berbuka puasa bersama suami dan anak serta menantu saya. Kalau bisa antarkan saya kembali ke rumah untuk mengambilnya.”

“Wah maaf, Bu. Kami harus segera membawa Ibu menghadap Inspektur.”

Beberapa kali Mersi mengulangi permintaannya tetapi petugas itu bergeming. Mersi pasrah. Bayangan suaminya yang tertunduk lesu di depan petugas menyelinap dalam pikirannya. Mersi menyesali tindakan Pristo yang tak terpuji itu. Rasa bangga atas akhlak terpuji yang ditunjukkan laki-laki yang dicintai selama ini mulai rontok. Tutur  kata yang sopan, kesederhanaan, kelemah-lembutan, dan kesetiaan yang ditunjukkan Pristo selama ini rupanya hanya sebuah sandiwara untuk menutupi perilaku yang sebenarnya. Mersi segera menepis anggapan itu. Masih ada keyakinan bahwa petugas telah salah tangkap.

Mobil polisi melambat dan berhenti di sebuah rumah. Mersi turun di kawal petugas. Terlihat beberapa orang sedang duduk di teras rumah mungil. Lagi-lagi Mersi melihat beberapa orang mulai berkerumunan menyaksikan kehadirannya yang dikawal polisi.

“Silahkan masuk, Bu,” perintah polisi yang mengawalnya. Mata Mersi memandang nanar suaminya yang sedang duduk dengan kepala menunduk. Tanpa menghiraukan petugas dan dua orang yang duduk dekat suaminya Mersi menubruk dan memeluk Pristo. “Apa yang kamu lakukan, Mas?” Mersi tak kuasa menahan tangisnya. Dipukulnya dada suaminya berkali-kali.

Pristo kaget. Ditatapnya wajah Mersi dengan heran.

“Ada apa, Jeng? Mengapa menyusul kemari? Siapa yang mengantarkanmu?” Tangis Mersi semakin keras.

“Ibu Rikmo Sadepo saja yang menjelaskan,” kata petugas polisi yang mengawal sambil menunjuk seorang wanita cantik yang duduk di depan Pristo.

“Pak Pristo dan Ibu. Saya mewakili Direktur Logistik mengucapkan selamat kepada Bapak. Pada hari ulang perusahaan tahun yang ke-25 ini Bapak dinobatkan sebagai Karyawan Teladan. Selain itu Bapak telah menunjukkan prestasi luar biasa. Berkat laporan Bapak lah kasus penimbunan ribuan ton bahan bakar bisa kami bongkar. “ Wanita cantik itu kemudian menyerahkan sebuah amplop besar kepada Pristo. Mersi tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun. Pikirannya masih kacau atas apa yang menimpa suaminya. “Dalam amplop itu ada sertikat hak milik. Pimpinan perusahaan memberikan hadiah sebuah rumah mungil untuk tempat tinggal Bapak dan Ibu.”

Pristo menerima kunci rumah. “Tapi…tapi…bagaimana isteri saya mengetahui hal ini, Ibu?” tanya Pristo setelah mengucapkan terima kasih.

Belum sempat Ibu Rikmo Sadepo menjelaskan, seorang wanita muda dan seorang polisi datang.

“Surpraissssssssss,” teriak mereka sambil meletakkan tumpeng nasi kuning.

Pristo kaget melihat kedatangan anak dan menantunya. Mersi juga terpana melihat nasi tumpeng dalam ukuran besar.

“Mas Didik yang merencanakan semua ini, Pak, Bu,” ujar Ranti sambil memeluk kedua orangtuanya. Brigadir Kepala Didik, suami Ranti ikut tersenyum bahagia. “Maafkan saya, Bapak, Ibu.”

“Nah, Bu Mersi, jadi kan makan nasi kuning bersama suami, anak, dan menantu tercinta,” ujar polisi berkumis tebal yang mengemudikan mobil polisi dengan lampu biru berkelap-kelip. Mersi tak kuasa menahan tangisnya. Dicubitnya Pak Polisi bernama Rasidho itu dengan gemas, “Polisi nakal..nakal..nakal!”

Image source: pixabay.com

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Good morning, sahabat Indoblognet 😁 Jangan lupa siapkan amunisi (sarapan) terbaikmu pagi ini, supaya aktivitasmu kuat dan semangat 💪🏃
.
Guys, tau gak siiih, postingan yang mengandung unsur pertanyaan, lebih besar kemungkinannya untuk direspon dibandingkan postingan non question, lho 😄
.
Hihi, iya juga sih, kita seringkali "tergelitik" untuk ikut menjawab pertanyaan yang diajukan, ya 😂 Apalagi kalau pertanyaannya memang "mancing" banget 😅
.
Jadi, salah satu tips nih guys, kalau kamu pingin bikin postingan yang lebih direspon, buatlah postingan question posts 😉
.
#mbcommunication #indoblognet #morning #tuesday #instagram #instadaily #viral #followme #tips

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top