Mengenal 4 Agama Lokal di Indonesia

  • Bagikan

Di Indonesia terdapat 6 agama yang diakui oleh Negara, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu. Namun, jika ditelisik lebih jauh, di Indonesia juga memiliki agama lokal atau biasa disebut dengan Pengahayat Kepercayaan.

Beruntung bisa mengenal agama lokal melalui Festival Kebhinekaan yang memang memiliki tujuan untuk merawat kebhinekaan dan menyebarkan sikap toleransi lintas agama, khususnya pada generasi milenial.

Tahun ini merupakan tahun kelima Festival Kebhinekaan diselenggarakan, biasanya diadakan pemutaran film, diskusi lintas agama, pameran seni, pameran foto, mengunjungi rumah ibadah dan masih banyak lagi. Namun, karena adanya pandemi, maka acara dilakukan secara virtual, tapi ada hikmahnya lho, jika acara diselenggarakan secara offline, peserta dan narasumber hanya sekitaran Jabodetabek, jika virtual, narasumber dan pesertanya lebih bisa menjangkau lebih luas karena berasal dari luar daerah.

Rangkaian Festival ini dimulai pada tanggal 22 – 28 Februari 2022, beragam acara yang bisa diikuti, seperti Millenial Talks (Diskusi agama oleh generasi milenial), Tur virtual live dari rumah ibadah, Pameran foto dan diskusi, inspiring talks, dan Refleksi Lintas Iman.

Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa telah diakui secara sah oleh negara berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pada Pasal 28E ayat 2, dan Pasal 29 ayat 2.

Selain itu, diakui juga ada dalam Undang-Undang Administrasi Kependudukan, yaitu UU Nomor. 23 Tahun 2006 dan Undang – Undang Nomor. 24 Tahun 2013. terdapat pula pedoman pembinaan lembaga kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan lembaga adat, yang tertuang pada Permendikbud no 77 tahun 2013.

Dengan demikian, pencantuman kolom Agama di KTP ditulis dengan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Untuk perkawinan disahkan oleh pemuka penghayat dan dicatatkan di negara di bawah Disdukcapil.

Dikutip dari penjelasan Kak Bayu, penghayat kepercayaan Budaya Bangsa, Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan Pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keyakinan yang diwujudkan dengan perilaku dan peribadatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta pengalaman budi luhur yang ajarannya bersumber dari kearifan lokal bangsa Indonesia.

Mengenal Agama-agama Lokal dan Nusantara

Sependek pengetahuan, ada ratusan kepercayaan lokal yang tersebar di Nusantara, pada kesempatan ini, mengenal 4 Agama lokal, yaitu Budaya Bangsa, Budi Daya, Sapta Darma, dan Adat Musi.

Budaya Bangsa.

Pada awalnya dinamai Kawruh Naluri (KWN), pencetusnya adalah RM. Hadi Kusumo / Purbo Mas Kalam / Ki Bagus Hadi Kusumo. Beliau pada masa penjajahan juga ikut menentang pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1920-1933, wafat pada tahun 1942.

Tahun 1950 putra Ki Bagus bernama Ki Nurhadi, meneruskan KWN dan mengalami perkembangan seperti membentuk wadah bernama yayasan Setiyaki, desain dan denah tempat peribadatan. Pada peristiwa 1965 warga KWN mengalam dampak, dan sepeninggal Ki Nurhadi pada tahun 1980 dikordinir sementara oleh Kiaswo.

Pada saat sepeninggal Ki Nurhadi, beberapa daerah memisahkan diri dan mendirikan kelompok sendiri. Pada tahun 1988 putra Ki Nurhadi yaitu Adji Tjaroko mengkordinir anggota yang masih bertahan, dan pada akhirnya pada tahun 2007 kelompok perorangan ini didaftarkan secara resmi dengan nama “Paguyuban Budaya Bangsa”.

Sesanti dan Panca Bhakti :

Panca Bhakti :
1. Bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Bakti kepada orang tua.
3. Bakti kepada guru / leluhur.
4. Bakti kepada pemerintah.
5. Bakti kepada sesama hidup.

Sesanti :
1. Patuh dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Netepi kodrat Tuhan.
3. Memayu hayuning bawana.
4. Berbudi luhur.
5. Hidup bergotong royong.
6. Adil – jujur.
7. Sepi ing pamrih rame ing gawe.

Laku spiritual Penghayat Paguyuban Budaya Bangsa (PBB) :

• Hening antara pukul 21.00-24.00
• Anggota PBB berpuasa setiap weton/hari lahirnya selama 3 hari (sebelum hari H, saat hari H, dan setelah hari H).
• Anggota PBB berpuasa pada bulan besar selama 30 hari.
• Puasa tambahan pada hari lahir keluarganya (saat perlu).
• Laku manembah anggota Paguyuban Budaya Bangsa ada 5 yaitu Sembah jiwa, Sembah raga, Sembah rasa, Sembah cipta, Sembah karsa.

Sanggar Budaya Bangsa
Sanggar Budaya Bangsa

Beruntung sekali, mendapatkan tour secara virtual untuk mengenal tempat peribadatan yang dijelaskan secara rinci oleh Kak Bayu. Untuk peribadatan, PBB memiliki sanggar sebagai tempat sembahyang (semedi). Hening dilakukan antara pukul 21.00-24.00. Ketika memasuki sanggar, akan melewati pintu masuk yang gelap simbol setiap manusia akan melewati ujian hidup, sebelum memasuki ruang utama, terdapat cermin di ruang depan sebagai simbol introspeksi diri. Di ruang utama difungsikan sebagai ruang semedi, wanita dan pria di tempat yang sama.

Untuk proses hening bisa memilih posisi yang nyaman, boleh bersila, yang terpenting jangan bersentuhan agar proses hening tidak terganggu karena sentuhan, setelah proses hening selesai, keluar ke pintu yang berbeda dari pintu masuk, di pintu luar terdapat lampu sebagai simbol setelah hening kita akan mendapatkan pencerahan.

Di Paguyuban Budaya Bangsa, manusia memiliki 3 titik penting dalam hidup, yaitu :

1. Kelahiran : Jabang bayi sudah memiliki Urip sejak dalam rahim ibunya. Ketika lahir sukma merasuk dan tangisan pertama menandakan anak manusia yang terlahir sudah memiliki cipta, rasa, dan karsa.

2. Perkawinan : Menyatukan dua anak manusia untuk melanjutkan keturunan. Perkawinan di PBB sama seperti penghayat yang lain, disahkan oleh pemuka penghayat dan dicatatkan di negara di bawah Disdukcapil.

3. Kematian : waktu dimana Urip kembali kepada Sang Pencipta, setiap Sukma mempertanggung jawabkan laku selama hidupnya. Kematian hanya penanda bahwa tugas di kehidupan sekarang sudah selesai dan Urip menunggu untuk dilahirkan kembali dengan raga lain.

Budi Daya.

Sebelum memasuki penjelasan tentang Budi Daya, Kak Wildhan memberikan sedikit pemahaman tentang salam. “Rahayu” merupakan salam nasional bagi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Rahayu itu sendiri artinya mendoakan keselamatan.

Budi Daya memiliki makna;
Budi : Gerak raga halus (keinginan/tekad) yang baik.
Daya : Gerak badan kasar (jasmani) yang digerakkan oleh gerak badan halus (Budi).

Budi Daya merupakan organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sumber ajarannya kearifan lokal daerah masing-masing dan ajaran Mei Kartawinata.

Ajaran yang sudah ada dari leluhur dan sudah dijalankan sejak dulu, Mei Kartawinata mengajak untuk melaksanakan kembali ajaran leluhur bangsanya sendiri. Pada tanggal 17 September 1927 beliau memperoleh pencerahan (wangsit) di tepi sungai Cileulely, Subang.

Organisasi Budi Daya memiliki Sesanti yaitu “Sepi ing pamrih rame ing gawe, memayu hayuning bawana”, dan “ tak ada kenyataan yang melebihi perbuatan (Satya Nasti Dharma”.

Lain halnya seperti 6 agama yang sudah kita kenal, di Budi Daya tidak memiliki kitab namun memiliki buku hasil karya manusia yang isi tentang ajaran dan tuntunan hidup menuju jalan keselamatan. Tidak memiliki nabi, karena manusia yang diturunkan di bumi merupakan utusan langsung Tuhan Yang Maha Esa.

Bale pasewakan
Bale pasewakan

 

Ritual Sembahyang.

Organisasi Budi Daya tidak memiliki tempat ibadah atau bangunan khusus untuk sembahyang. Karena memiliki konsep jika tubuh adalah sarana dan prasarana kita untuk berdoa, tanpa tubuh ini maka manusia tidak akan mungkin bisa berdoa.

Maka, berdoa bisa dilakukan dimana saja, yang terpenting bukan tempat berdoa tapi kesadaran diri untuk berdoa (tanpa paksaan). namun, organisasi ini memiliki tempat saresehan (tempat berkumpul dan berdiskusi sesama warga kepercayaan Budi Daya yang bernama Bale Pasewakan.

Berdoa dengan cara kefokusan dengan cara hening, tenang, wening. Organisasi ini memiliki hari besar, yaitu :

• 1 Sura : Diperingati setiap perubahan tahun (Tahun baru penanggalan kalender Sunda) Saka.
• Pangeling-ngeling pamendak Mei Kartawinata. Diperingati setiap tahun pada tanggal 16-17 September.
• Pangeling-ngeling kalahiran Mei Kartawinata. Diperrinagti setiap tahun tanggal 1 Mei.

Penjelasan semakin menarik ketika Kak Wildhan bercerita tentang Makna Pupuh :
Contohlah air, karena dari awal perjalanan hidupnya tidak pernah berhenti memberikan manfaat pada semua. Manusia, hewan, dan tumbuhan semua dilaluinya dan diberikan kehidupan tanpa pamrih dan perhitungan. Walaupun air selama perjalanan hidupnya melalui gunung tinggi, bukit terjal, bebatuan tajam, dikotori, dan sebagainya.

Tapi air tidak pernah berhenti mengalir memberikan tolongnya kepada mereka yang membutuhkan, malah air semakin lama semakin besar memberi hingga akhirnya nanti air menyatu kembali ke laur lepas yang luas dan kembali bersih.
Kan manusia itu lebih tinggi derajatnya, masa kalah oleh air – Mei Kartawinata.

Sapta Darma

Sapta Darma merupakan ajaran ketuhanan yang mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan, berdampingan dengan nilai kemanusiaan dan ajaran tentang alam semesta. Untuk menciptakan kesmpurnaan hidup di dunia dan alam langgeng.

Penerima wahyu ajaran ini merupakan Panuntun Agung Bapa Sri Gutama, kemudian sepeninggal beliau, diteruskan oleh Tuntunan Agung Ibu Sri Pawenang yang memiliki tugas untuk mengembangkan ajaran.

Sesanti
Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma, kudu sumunar pindha baskara.
Dimana saja, kepada siapa saja, warga Sapta Darma harus bersinar laksana surya.

Yang menarik dalam Sapta Darma ini melarang warganya untuk percaya klenik ataupun hal mistik.

Ritual Sembahyang di Kepercayaan Sapta Darma
Ritual Sembahyang di Kepercayaan Sapta Darma

 

Cara sembahyang.
Kak Nindya memberikan gambaran cara sembahyang, di dalam kepercayaan Sapta Darma dikenal sebagai sujud, sehari minimal sekali, tidak dibatasi oleh waktu karena setiap orang memiliki waktu yang berbeda untuk heningnya. Dalam ritual sujud, dilakukan 3 kali bungkuk. Posisi antara wanita dan pria berbeda, jika pria bersila, sedangkan wanita posisinya yaitu kedua kaki dilipat ke belakang.

Sapta Darma juga memiliki bangunan yaitu sanggar. Sanggar Candi Sapta Rengga merupakan sanggar pusat kegiatan kerohanian Sapta Darma di Yogyakarta.

Tempat peribadatan kepercayaan Sapta Darma
Tempat peribadatan kepercayaan Sapta Darma

Sapta Darma tidak memiliki kitab, tapi memiliki Wewarah tujuh :

• Satu : Setia tuhu kepada Allah Hyang Maha Agung. Maha Rohkim, Maha Adil, Maha Wasesa dan Maha Langgeng.
• Dua : Dengan jujur dan suci hati harus setia serta menjalankan perundang-undangan Negaranya.
• Tiga : Turut serta menyingsingkan lengan baju menegaskan berdirinya Nusa dan Bangsanya.
• Empat : Menolong kepada siapa saja yang perlu, tanpa mengharapkan suatu balasan, melainkan berdasarkan rasa cinta kasih.
• Lima : Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri.
• Enam : Sikap dalam hidup bermayarakat, kekeluargaan harus susila beserta halusnya budi pekerti. Selalu menjadi penunjuk jalan dan membantu orang lain.
• Tujuh : Yakin bahwa keadaan dunia itu tiada abadi melainkan selalu berubah-ubah (anyakra manggilingan).

Adat Musi – Talaud.

Sampai juga nih di sesi terakhir mengenal penghayat kepercayaan, Kak Femmy menjelaskan tentang Adat Musi – Talaud, berawal dari sekelompok umat Tuhan yang mengkuduskan dan memelihara Sabat Tuhan Allah dan menurut segala firmanNya yang diturunkan oleh Tuhan Allah sendiri kepada Bawangin, nama Bawangin memiliki makna Pembawa Damai.

Tempat ritual Adat Musi
Tempat ritual Adat Musi

Ajaran-ajaran Penghayat Adat Musi.
• Ajarlah manusia di atas dunia tentang kerajaan Allah dengan segala kebenaranNya.
• Sucikanlah hari sabtu karena itu adalah Hari Sabat Tuban Allah.

Amanah leluhur
• Paramisi simiute miu matauttu apa, olaengkamia runia maringi mitou rumanta maele, maiwalo.
• Parrimadda massuannu buah-buah, Pirarabbi maollaa Amppungu pemerintah.

Ajaran Tuhan telah di tanganmu, amalkan dan wujudkan dalam kehidupan dunia, mendengar atau datang melekat dan bertanya.
Rajin menanam buah-buahan dikemudian hari, menjadi pusat perhatian pemerintah.

Ritual dasar Adat Musi.
• Mawu Naolaa, Mawu ualuadda, Harraho Naukassa, yang artinya Tuhan pencipta langit dan bumi laut dan segala isinya, Tuhan pelindung, penjaga, pemelihara, Roh Suci.

• Tidak menyangkal Tuhan saat berkelimpahan dan tidak menghujat Tuhan diwaktu berkekurangan.

Perkawinan di Adat Musi – Talaud, terdapat 3 ritual yaitu peminangan, kawin famili dan pemberkatan perkawinan.

Terdapat 3 Makna Ritual Perkawinan :
1. Ketuhanan : Ditanamnya nilai-nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
2. Sesama : Hubungan sesama manusia, keluarga sosial masyarakat, Agama/kepercayaan, Pemerintah, Bangsa dan Negara.
3. Norma : Terpenuhinya ketentuan, Norma hukum dan perundang-undangan.

Rumah adat, rumah tinggal atau rumah kediaman masyarakat hukum adat sebagai tempat mentaati segala macam norma hukum dan perundang-undangan juga tempat memuji dan memuliakan Tuhan di kampung di muka bumi. Terlindungnya tubuh dari hujan dan panas serta selamatnya jiwa dari bahaya dan bencana.

Membangkitkan Toleransi Lintas Agama.

Selain mempresentasikan tentang kepercayaan yang dianutnya, salah satu pembicara yaitu Kak Nindya juga berbagi pengalaman ketika Penghayat Kepercayaan masih belum diakui oleh Negara. Kak Nindya memiliki pengalaman yang tidak terlupakan hingga saat ini, bukan pengalaman yang membuat dendam atau hal negatif lainnya, namun terjadi pergolakan batin.

Biasanya siswa SD kalau ditanya apa pelajaran yang tidak disukai, mungkin banyak yang menjawab pelajaran Matematika. Lain halnya dengan Kak Nindya, ia paling benci pelajaran agama karena ia dipaksa untuk memeluk salah satu agama. Di rumah, ia seutuhnya sebagai Penghayat Kepercayaan Sapta Darma, namun di luar rumah ia dipaksa sebagai penganut agama lain.

Hingga pada salah satu kejadian, ia disuruh oleh gurunya untuk membacakan kitab, namun Kak Nindya tidak bisa membaca kitab yang dimaksud. Karena terlalu lama, gurunya melontarkan ucapan jika kak Nindya pasti di rumah nggak pernah baca kitab. Dari situlah terjadi pergolakan batin yang tidak bisa ia ekspresikan dengan bebas.

Dengan adanya keputusan MK, harapannya generasi muda bisa dengan bebas menunjukkan identitas diri, dan masyarakat luas bisa saling menghargai setiap perbedaan.

Kak Bayu menambahkan dengan sebuah qoute yang menarik,

“It is not our differences that divide us. it is our inability to recognize accept and celebrate those differences”. – Audrey Lorde.

Festival Kebhinekaan bertujuan untuk Merayakan Keberagaman dan Memperkuat Toleransi Lintas Iman, melalui kegiatan Seni, Dialog dan Wisata. Festival Kebhinekaan 5 tahun ini berlangsung tanggal 22-28 Februari dan berlangsung secara Virtual via Zoom , YouTube dan Instagram Live stream.

Seluruh rangkaian acara Festival Kebhinekaan 5 bisa disaksikan kembali kapan saja di YouTube Channel Festival Kebhinekaan www.YouTube.com/c/festivalkebhinekaan

Mengikuti rangkaian Festival Kebhinekaan mampu membangkitkan toleransi lintas agama dan budaya. Indonesia itu indah dan kuat dengan segala keberagamannya yang tidak dimiliki oleh Negara lain, maka perlu untuk merawat Ibu Pertiwi agar tetap menjadi rumah bagi kita semua.

 

Penulis : Sari Widiarti

  • Bagikan