Berbagi Kasih Sayang

Berbagi Kasih Sayang dengan Anjing Tetangga

anjing sedang makan

Sebagai seorang muslim yang dididik di dalam keluarga muslim taat, anjing adalah binatang yang harus dijauhi karena najis. Air liurnya itu tidak boleh sampai mengenai pakaian apalagi anggota badan. Ribet membersihkan najisnya. Cuci pakai air 6 kali, lalu pakai tanah 1 kali. Secara tidak sadar, saya dan sebagian besar umat Islam, “membenci” anjing. Hal itu juga sering menjadi tertawaan umat beragama lain. Anjing kok dimusuhi… anjing kok dibenci….

Saya pernah trauma dikejar anjing sewaktu berangkat ke sekolah. Di tengah sawah, ada anjing menggonggongi saya. Anjing gembala. Dia sedang menunggui kerbau-kerbau tuannya. Saya berjalan dengan cepat, eh dia mengejar. Hasilnya, saya tercebur ke sawah. Majikannya pun muncul. Tak ada ucapan maaf melihat seorang gadis berpakaian SMP yang mau berangkat ke sekolah, tercebur ke sawah gara-gara gonggongan anjingnya. Saya jadi makin sebal dengan anjing beserta pemiliknya.

Ironis, saya menikah dan pindah ke rumah suami. Siapa yang sangka ternyata saya hanya punya satu tetangga, nonmuslim, dan punya… beberapa anjing! Baca ulang ya, “beberapa” bukan hanya satu. Anjing-anjing itu menggonggongi kami dengan ganas seolah kami mau mencuri. Selama satu tahun menempati rumah suami saya, saya hanya keluar rumah sekali saja setiap pagi, yaitu saat mau membeli sayur mayur. Itupun dengan membawa batu besar untuk menghalau anjing-anjing. Bayangkan. SATU TAHUN!

Setiap mau keluar rumah, saya harus mengacungkan batu atau berjongkok bila anjing-anjing itu akan mengejar. Saya juga mendengarkan keluhan para tetangga mengenai anjing-anjing itu, tapi tak ada yang mau menegur pemiliknya karena membiarkan anjing-anjingnya berkeliaran. Kurir-kurir paket pun tak ada yang mau mampir ke rumah. Semuanya hanya menitipkan paket di rumah tetangga. Ada yang terang-terangan mengatakan kepada saya, “kok Ibu mau sih tinggal di rumah dekat anjing? Itu kan najis, Bu…. Tetangga saya yang pakaiannya seperti Ibu, nggak bakal mau tinggal dekat anjing-anjing.”

Kurir paket itu memandangi pakaian saya yang tertutup rapat dari atas sampai bawah. Jilbab instan lebar, gamis lebar, kaus kaki. Hm, ya dari pandangan mata sekilas, saya seperti seorang muslim taat (padahal itu masih perlu diaminkan). Pakaian belum tentu merefleksikan seseorang. Tapi, saya memang terpaksa tinggal di rumah itu karena tak ada alternatif lain. Kalau mau dijual, siapa yang mau membeli? Rumah-rumah di sebelah saya juga masih banyak yang kosong. Apalagi begitu tahu kami bertetangga dengan anjing-anjing, mereka pasti kabur.

Ketika rumah kami belum dipagar, anjing-anjing itu pernah masuk ke rumah dan mencoba memanjat jendela. Saya langsung menelepon suami dan suami menelepon ke tetangga yang juga sedang bekerja di kantor. Saya memang tidak punya nomor telepon tetangga. Suami yang punya. Tetangga saya itu baru saja ditinggal meninggal oleh istrinya. Saya tidak bisa berbincang-bincang dengan istrinya, terlebih mengadukan perilaku anjing-anjingnya. Belakangan saya tahu, anjing-anjing itu kelaparan. Herannya, tetangga saya masih terus menerima anjing yang dibuang.

Anjing-anjing itu memang berfungsi untuk menjaga peternakan ayam dan entog yang dimiliki tetangga saya. Kasihan juga sih, walaupun jarang diberi makan, anjing-anjing itu tetap setia. Mereka rajin menunggui rumah tetangga, bahkan duduk-duduk di depan rumah saya. Setelah bertahun-tahun berakrab ria dengan anjing, saya tidak takut lagi. Mereka juga sudah mengenal saya. Kalau digonggongi atau mau dikejar, ya jongkok saja. Atau sekadar diseru, “hush.. hush..” mereka juga akan pergi.

Pernah saya berpikir, jika seorang muslim tidak boleh berdekatan dengan anjing, lalu untuk apa anjing diciptakan? Anjing juga ciptaan Allah. Makhluk hidup juga. Ya,memang ada binatang yang tidak boleh kita dekati karena membahayakan. Misalnya, buaya, ular, harimau buas, dan sebagainya. Tetapi, anjing adalah makhluk yang bisa bersahabat dengan manusia. Selain bahwa mereka itu najis, apa lagi? Rasanya tidak mengapa bersahabat dengan mereka asal tidak terkena najisnya.
Anjing-anjing itu terlihat kelaparan, sedangkan di rumah saya ada banyak makanan sisa. Namanya juga anak-anak, kalau makan sering tidak habis. Saya pun terbiasa melempar makanan itu ke luar rumah dan diperebutkan oleh anjing-anjing. Sejak itu, kalau saya mau ke luar rumah, anjing-anjing pasti menggonggong. Bukan mau mengganggu, tapi berharap saya melemparkan makanan. Satu lagi, sebagai rumah yang hanya punya satu tetangga, tempat tinggal saya ini memungkinkan untuk dijadikan sasaran rampok.

Di komplek perumahan tempat tinggal saya, sudah tak terhitung rumah yang dimasuki maling. Motor, sepeda, laptop, hape, semua raib. Sampai kami harus membayar satpam, itupun masih ada yang kecolongan. Rumah saya? Alhamdulillaaaah…. Saya pernah beberapa kali lupa mengunci pintu, bahkan pintunya terbuka lebar saat saya tinggal lama ke luar. Semua harta benda masih aman. Selain penjagaan Allah, beberapa anjing juga duduk di depan pagar rumah saya. Jadi, tidak ada salahnya bukan kalau saya berbagi kasih sayang dengan anjing-anjing itu?

Latest posts by leylaimtichanah (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Seorang pebisnis harus pandai menganalisa pesaing mereka, khususnya yang berada pada niche yang sama. Belajarlah dari kesuksesan termasuk dari kegagalan mereka
.
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #analisamarketing #competitor #business #tipsbisnis #trendingpost

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top