Berbagi Kasih Sayang

Berbagi dengan Benda Bekas di Sekeliling Kita

Botol plastik atau botol kaca, panci yang kupingnya telah copot, dan tumpukan koran bekas bagi kita mungkin benda yang tak ada harganya. Begitu pula dengan pakaian yang masih bagus tapi sudah tidak muat. Barang-barang yang seolah tidak ada nilainya ini rupanya sangat diperlukan oleh mereka yang tak beruntung.

Saat ini kondisi perekonomian sedang mengalami kelesuan. Masyarakat semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Sebagian di antaranya tak menyerah dan bekerja apa saja, termasuk menjadi pemulung dan pengumpul barang bekas atau loakan.

Saya melihat di lingkungan tempat tinggal jumlah pemulung dan pengumpul barang bekas semakin bertambah. Yang mengejutkan dan membuat saya terharu ketika melihat seorang Ibu dengan bayinya mengaduk-aduk tong sampah, mengumpulkan barang seperti botol dan kertas. Ibu tersebut sepertinya baru dan terpaksa menjadi pemulung untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ketika saya kembali ke halaman sambil membawa kardus-kardus, Ibu pemulung tersebut sudah menghilang.

Meskipun sama-sama mengumpulkan berbagai jenis benda yang bisa didaur ulang, pemulung dan pengumpul barang bekas atau tukang loak memiliki perbedaan. Jika saya melihatnya, tukang loak berada di atas pemulung.

Tukang loak masih memiliki modal berupa gerobak beroda untuk membawa barang yang hendak mereka bawa ke pengepul atau mereka perbaiki untuk dijual kembali. Sedangkan pemulung hanya memanggul karung atau keranjang besar terbuat dari anyaman rotan.

Tukang loak biasanya berkeliling dengan menawarkan jasa mereka. “Barang bekas…barang bekasnya Pak/Bu?”

Mereka menerima benda bekas apa saja. Tumpukan koran, buku, botol, pakaian, panci, benda elektronik yang rusak termasuk kursi dan furnitur lainnya. Mereka juga mau membeli benda-benda rongsokan tersebut dari kita dengan harga yang rendah tentunya.

Jika pengumpul benda rongsokan menunjukkan keberadaannya, maka pemulung biasanya bekerja senyap. Mereka mengumpulkan kertas, kardus dan botol plastik dengan tak segan-segan membongkar tumpukan sampah di keranjang sampah. Biasanya mereka datang pagi hari, namun ada kalanya baru malam hari ketika sebagian warga telah beristirahat mereka bekerja. Oleh karena hanya bermodal karung dan kegigihan, siapa saja bisa menjadi pemulung. Yang membuat sedih saya beberapa kali melihat ibu-ibu dan anak-anak yang berjuang untuk hidup menjadi pemulung.

Interaksi saya dengan tukang loak terjadi ketika saya selesai beres-beres dan memutuskan untuk membuang beberapa benda elektronik seperti kipas angin dan rice cooker yang rusak. Saya memanggil tukang loak yang lewat dan ia nampak senang melihat benda yang saya berikan.

Yang membuat saya tertegun ia menanyakan berapa yang harus ia bayarkan ke saya untuk dua benda tersebut. Ya sebenarnya tukang loak bersedia membayar untuk barang bekas yang kita berikan. Oleh karena niat saya hanya memberi, maka saya jawab agar barang tersebut dibawa saja, tidak perlu diganti dengan uang. Saya terharu sekaligus tidak enak hati ketika tukang loak itu terus berterima kasih.

Interaksi berikutnya saya lakukan dengan pemulung. Saya memperhatikan ada seorang pemulung yang rajin bertandang ke gang kami sekitar pukul 06.00 pagi. Ketika ia hendak membuka tutup tong sampah, saya memanggilnya dan menyerahkan satu kardus besar berisi tumpulan koran dan juga botol plastik. Ia tersenyum menyambut pemberian saya yang bagi saya tak bernilai ini.

Pemulung Turut Membantu Program Daur Ulang Plastik

Pemulung Turut Membantu Program Daur Ulang Plastik

Panci Bekas dan Botol Beling Akan Diterima dengan Senang Hati oleh Pemulung dan Tulang Loak

Panci Bekas dan Botol Beling Akan Diterima dengan Senang Hati oleh Pemulung dan Tulang Loak

Sejak itu saya memiliki kebiasaan baru memisahkan sampah kering seperti kertas, botol plastik, dan kemasan makanan dalam bentuk karton dalam sebuah kardus atau plastik besar. Jika wadah sudah penuh maka saya letakkan di atas tempat sampah atau di depan halaman, terpisah dari sampah basah dalam tong sampah. Sengaja saya tempatkan pagi-pagi agar diambil oleh para pemulung yang bagi saya nasibnya lebih kurang beruntung daripada tukang loak.

Tumpukan Koran juga Bisa Dibagikan

Tumpukan Koran juga Bisa Dibagikan

Pakaian-pakaian suami dan punya saya yang sudah jarang dipakai saya kumpulkan dalam satu wadah setelah saya cuci dan setrika. Selain ke pemulung atau tukang loak, pakaian bekas ini terkadang juga saya berikan ke tukang sol sepatu. Mereka menerimanya dengan senang hati karena mereka jarang memperhatikan kebutuhan sandang tersebut karena lebih berfokus untuk memenuhi kebutuhan perut terlebih dahulu.

Di sini yang saya garis bawahi berbagi ke sesama tidak harus dalam wujud uang. Kita tidak perlu menunggu ada rejeki lebih atau saat status sudah kaya raya. Kita bisa memulainya dengan yang ada di rumah. Sesuatu yang ada di sekitar kita dan seperti tak bernilai ternyata masih diperlukan oleh kalangan lainnya untuk menyambung hidup. Kita terbantu dengan rumah bersih dan rapi dan lingkungan alam terbantu dengan adanya ‘staf khusus’ daur ulang.

Puspa

Saya suka membaca dan menulis apa saja.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Desain website yang menarik memang bikin pengunjung web jadi lebih betah sih, ya 😁 Makanya sebagian orang memilih untuk "bye-bye" saat berkunjung ke web yang desainnya "malesin" alias gak bikin pengunjung nyaman. Kalian gimana? 😀
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #desainweb #layout #website

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top