Menulis Yuk

Berani Dulu, Grammar Belakangan

Berani dulu, grammar belakangan. Itulah salah satu  kunci agar kita pede bercakap-cakap dalam bahasa asing.

Sosok tua itu dengan tekun membaca surat demi surat yang bertumpuk di mejanya. Cara membacanya tak sesuai dengan aturan. Matanya terlihat mencureng (apa ya bahasa Indonesianya “mencureng” itu?) begitu dekat dengan surat yang dibaca. “Pak, kenapa sih nggak pakai kacamata saja,” tanya saya suatu ketika. PNS yang gemar berseragam putih-biru itu hanya tertawa.

Pak Slamet, jabatannya adalah Spri atau Staf Pribadi Dirkersin (Direktur Kerjasama Internasional) Dalam struktur organisasi Dephan jabatan strukturalnya pasti ada. Pak Slamet usianya lebih tua beberapa tahun dari saya. Konon, beliau sudah menginthili lebih dari 5 orang direktur, termasuk saya. Ini menunjukkan bahwa Pak Slamet dipercaya sekaligus disukai oleh para pejabat sebelumnya. Dan, mungkin juga disukai oleh para istri karena Pak Slamet bisa “ngemong” suaminya, haha..

Beberapa jam setelah saya resmi duduk di kursi jabatan Dirkersin, Pak Slamet menghadap dan langsung berkata, “Pak, kalau Bapak akan mencari spri yang lain silakan, saya siap untuk diganti.” Saya tatap wajahnya sejenak untuk menerka apa maksud ucapannya. Karena sudah mengetahui kemampuannya dalam bekerja maka saya tetap mempertahankan posisinya. Namun demikian, saya tentu juga ingin menjajaki hatinya, jangan-jangan Pak Slamet sudah bosan menduduki jabatan yang itu-itu saja dalam kurun waktu sekian lama. Ataukah beliau ingin pindah ke bagian lain?

“Lho, jangan-jangan Pak Slamet yang nggak mau ikut saya atau sudah bosan menjadi Spri bertahun-tahun.” Ternyata, Pak Slamet masih suka di jabatan itu dan tetap mau membantu saya. Deal, Pak Slamet tetap menjadi Spri selama saya menjadi Dirkersin.

Direktorat tempat saya bertugas membidangi kerja sama luar negeri. Dalam kegiatan sehari-hari kami sering berhubungan dengan para atase pertahanan (athan) negara sahabat. Di sinilah timbul keheranan saya, bagaimana Pak Slamet menerima telepon dari athan atau staf kedutaan negara-negara sahabat. Belum tentu mereka semuanya bisa berbahasa Indonesia. Sesuai kebiasaan, teleponyang berasal dari luar kantor selalu melalui staf pribadi. Tentu ada kecualinya yaitu atasan yang sudah mengetahui nomor telepon atau handphone saya biasanya langsung.

“Pak, kalau menerima telepon dari athan pake bahasa apa?” tanya saya pada satu saat.

“Ya sebisa-bisa saya saja, Pak,” jawabnya lugu sambil tertawa.

Dari situ timbul keinginan saya untuk mengetahui bagaimana cara Pak Slamet menerima telepon dari athan negara sahabat.

Ketika ada kesempatan keluar kantor saya menelepon beliau dari Cilangkap, “Good morning, may I speak to General Cholik, please.” Ada jawaban langsung dari Pak Slamet, “From, you name?” Ohhh, hebat, hebat, hebat. Pak Slamet hebat, tak peduli soal grammar yang penting tujuan tercapai. Saya pun menjawab sambil tertawa ngakak, “Cholik, Pakde, gimana nggak ada apa-apa di kantor, nggak ada yang nyari?” Pak Slamet menjawab, “Mboten wonten, Pak, namung wonten undangan rapat saking Deplu benjang enjing.” Nah, lho, dari bahasa Inggris langsung beralih ke bahasa Jawa. Pak Slamet memberitahu bahwa tidak ada orang yang mencari saya, hanya ada satu undangan dari Deplu.

Pak Slamet memang berasal dari Ngawi, Jawa Timur. Tak heran jika beliau sering menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan pribadi dengan saya. Tiap siang Pak Slamet selalu bertanya dengan kalimat yang sama, “Bapak ngersaaken dahar punapa?” Pak Slamet menanyakan menu makan siang saya.

Keunikan Pak Slamet yang lain adalah kecepatan memberikan nomor telepon pejabat maupun instansi yang saya minta. Jika Pak Slamet tidak masuk kantor, saya terus terang kelabakan. Anggota yang menggantikan sementara tidak secepat Pak Slamet dalam hal memberikan data yang saya minta. Pak Slamet juga tahu dengan cepat di mana sebuah surat itu berada.

Pak Slamet juga yang menyeleksi tamu mana yang bisa langsung bertemu saya dan siapa yang memerlukan klarifikasi terlebih dulu. Ada kalanya pak Slamet terlalu ketat dalam menyeleksi tamu. Sahabat atau famili saya ada yang komplain karena dipersulit menemui saya. Untung saya segera tanggap. Jika tidak, pasti saya dikira “kacang yang lupa akan kulitnya”.

Pak Slamet Wongso, demikian nama lengkapnya, adalah seorang spri yang lugu, sederhana, dan profesional di bidangnya. Beliau boleh dibilang tak terlalu peduli dengan aksesoris. Sesuai golongan kepangkatannya beliau seharusnya memakai baju seragam safari abu-abu. Tapi, Pak Slamet tetap setia memakai seragam putih-biru, bak seragam anak SMP.

Loyalitas beliau juga jempolan. Walau jam kantor sudah usai Pak Slamet tak segera pulang walau ada mobil jemputan. Jika tak ada hal yang penting sekali saya terpaksa mengusirnya. “Pak Slamet pulang saja. Nanti kemalaman loch. “Karena mobil jemputan sudah tidak ada maka saya selipkan ongkos untuk naik angkutan umum.

Cerita ini merupakan salah satu wujud penghargaan saya kepada Pak Slamet. Tentu tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada para staf lain yang juga ikut menyukseskan tugas saya. Hingga saat ini kami masih sering saling berkirim SMS menjelang lebaran.

Hikmah dari cerita saya di atas adalah: Ilmu pengetahuan dan ketrampilan memang penting dalam suatu pekerjaan tetapi integritas tetap menjadi primadona.

Terima kasih, Pak Slamet, sudah ngemong saya hampir dua tahun lamanya.

Image source: pixabay.com

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Bagikan Jika Bermanfaat

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Are You PROMOTING Your CONTENT?? 🤓
.
Guys, in the content marketing world, creating and publishing content are only the first steps toward a successful campaign
.
Often, the most important piece is also the most overlooked: CONTENT PROMOTION 😍
.
Content promotion is the process of sharing your content across multiple online channels to maximize the visibility of your work, and in many cases, repeating that distribution on regular intervals to increase your effectiveness even further
.
Why Content Promotion Is NECESSARY?
.
⏺ Maximize visibility

Distributing your content maximizes its potential VISIBILITY. If your content sits without being promoted, it’s unlikely that people will find it on their own. Promoting it means more people will see it, right? 😜
.
⏺ Self-sustain a content feed

When sharing a mix of newer and older content, you’ll have a self-sustaining “feed” of CONTENT UPDATES that you can use to keep your social channels active with content
.
That way, even if you go a few weeks without producing new content, you’ll have something to share with your social audience 😁
.
⏺ Rejuvenate interest in older works

You can also use your ongoing distribution efforts to attract attention for your older pieces of content. This allows your best content to keep getting ATTENTION
.
Credit: forbes.com
.
📧 For business inquiries please email us to mitrabranding@indoblognet.com
.
#mbcsosmedcontent #mbcommunication #indoblognet #brandingagency #digitalagency #marketingagency #digitalpromotion #jasaseo #seocoaching

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top