Blogging

Benang Merah antara Doa Pejabat Negara dan Emas Tontowi-Liliyana

17 Agustus berlalu sudah meski serangkaian acara dan lomba memperingatinya masih menggema. Sebagai rakyat biasa saya hanya bisa mengamati dan menikmati kemudian membayangkan saat-saat para pejuang mengorbankan tenaga, harta benda bahkan jiwa mereka demi kemerdekaan Indonesia. Lalu melihat pada kondisi bumi pertiwi saat ini, melihat pada diri sendiri, menanyakan apa yang telah saya sumbangkan untuk negeri?

Beberapa hari belakangan saya dibuat terbengong-bengong dengan konstelasi politik yang memanas. Kadang saya berpikir apakah demikian politik itu adanya, harus senantiasa membara? Saya hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan perseteruan antara kepala daerah yang terpisah jarak ratusan kilometer di pulau Jawa. Entah bagaimana asal mula perseteruan ini terjadi, adu mulut lewat media tanpa padahal keduanya tidak dipertemukan di arena debat terbuka. Saya jadi terpancing mencari kambing hitam. Siapa lagi kalau bukan Pilkada yang selalu piawai menciptakan suasana panas membara.

Ketika konflik kedua pejabat ini mereda (setidaknya di mata saya). Lagi-lagi saya dibuat bengong. Kali ini masalah doa. Bolehlah saya tulis sebagai : perang doa. Doa yang dibacakan salah seorang anggota majelis di sebuah sidang resmi kenegaraan. Doa yang mendadak viral karena membelah Indonesia menjadi dua kubu. Kubu yang menganggap bahwa doa tersebut adalah fakta dan patut menjadi bahan mawas diri pemerintah saat ini serta kubu yang menganggap bahwa si pembaca doa sekedar mencari sensasi, bahwa doanya hanya sebuah manuver kampanye politik terselubung. Media sosial kembali ramai memperdebatkan hal-hal yang dianggap seru untuk diperdebatkan, kali ini tentang doa yang menggemparkan Indonesia. Hingga berselang hari kemudian mata saya dibuat berkaca-kaca oleh doa yang dibawakan menteri agama ketika menonton tayangan televisi upacara bendera memperingati 71 tahun Indonesia merdeka di Istana Negara. Teks doa tersebut tak kalah viral beredar di media sosial bahkan sebagian sempat mengupload dokumennya (ini juga menjadi pemikiran saya, siapa kira-kira yang mengupload pertama kali dokumen resmi kenegaraan seperti ini?).

Doa

Paragraf kedua dan ketiga doa pak menteri mencuri hati saya sebagai anak negeri.
“Ya Allah, Tuhan Maha Pemersatu,
Jadikanlah peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan
Sebagai momentum merekatkan persatuan dan kesatuan
Jauhkanlah kami dari perselisihan, permusuhan, dan perpecahan.

Kuatkanlah ikatan di antara bangsa kami agar saling menyemai kedamaian, saling menjaga kerukunan, saling menyokong kemajuan.
Eratkan tali silaturrahim antarkami agar senantiasa saling memelihara persaudaraan
Sekaligus saling mengingatkan dalam kebaikan.
‘Ya Allah, Tuhan Maha Pemberi
Engkau telah memberkati kami kemerdekaan yang amat berarti.
Bimbinglah kami agar mampu merawat kemerdekaan dengan sepenuh hati
Jernihkanlah pikiran dan hati kami untuk memahami makna sejati
Bahwa memerdekakan manusia adalah memanusiakan manusia itu sendiri
Mampukanlah kami untuk mengisi kemerdekaan ini
Dengan kekuatan iman dan kemuliaan akhlak terpuji
Dengan kerja nyata mewujudkan kesejahteraan yang merata di seluruh negeri.

Doa yang menyeruak jauh ke dalam sanubari, menggugah di tengah memanasnya suasana politik dalam negeri. Lalu terjadilah “perang” antara pendukung doa, antara doa anggota parlemen dan pak menteri. Maka saya pun hanya mengelus dada. Kira-kira kapan ya para pecinta debat itu duduk sama-sama minum kopi susu dan tak perlu memperdebatkan segala sesuatu, cukup ngobrol santai lalu bersalaman karena toh mereka tak pernah berseteru.

Hingga kemudian sebuah kado manis untuk Indonesia raya dipersembahkan pasangan ganda campuran Tontowi dan Liliyana.
Diam-diam saya menyimpan tanya dalam hati, inikah jawaban Tuhan atas doa pak menteri? Sebuah perjuangan meraih medali emas yang dramatis dan berhias angka-angka magis : 17 shuttle cock yang dibombardir mereka berdua dalam perjuangan 45 menit seolah menjadi simbol angka keramat perayaan kemerdekaan Indonesia.
Emas yang dipersembahkan pasangan yang disebut-sebut sebagian orang mewakili Indonesia karena kebhinekaan dan tunggal Ikanya. Tontowi bersujud syukur dan menengadahkan tangan sebagai bentuk rasa syukur, Tontowi yang konon mulai cinta kepada bulutangkis sejak menuntut ilmu di pondok pesantren. Bersanding dengan Liliyana yang menorehkan lambang salib di dada ketika momentum kemenangan tiba.

Saya tak ingin larut mengira-ngira apa kehendak Yang Maha Kuasa. Hanya saja momentum kemenangan Tontowi-Liliyana kali ini terasa sangat istimewa. Seakan menjadi kado bagi 71 tahun Indonesia merdeka. Seolah sebagai penyejuk di tengah kondisi bangsa yang sedang membara. Seolah muncul sebagai pemersatu di tengah gejolak tentang “siapa aku dan siapa kamu”. Yang jelas mereka berdua mewakili tentang apa yang disebut perjuangan. Mereka seolah ingin berpesan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk mengisi kemerdekaan, tetaplah saling menghormati dan bekerja sama demi kejayaan negeri demi harumnya nama ibu pertiwi.

 

 

 

Image source: Reuter dan Media Sosial

 

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • @Regrann from @scoty_and -  Alhamdulillah dapat cashback 1 juta dari @cgv.id
@ifisinema
Dan @mygenerationfilm salah satu dari 50 orang loh. --------.
Memang salut dengan mbak @upirocks sebagai sutradara, semua pandangan negatif orang - orang mulai dari cover hingga trailer film terbantahkan dengan menonton langsung @mygenerationfilm
.
Film besutan @ifisinema dan ditayangkan @CGV.ID Transmart Pekanbaru ini memang layak ditonton. Semua yg diungkapkan melalui film ini..
nyata. Potret kehidupan, tingkah laku anak muda zaman now memang berbeda dari zaman saya dulu. Lebih kompleks lebih hati - hati.
.
Selain itu film ini juga mengajarkan orang tua untuk lebih memperhatikan anak anaknya. Orang tua yang terlalu sibuk bekerja, terlalu memaksakan kehendak pada anak hingga kecurigaan yg tak ada habisnya. Semua di rangkum dalam film ini.

Bahkan di film ini, sisi persahabatannya lebih erat. Lebih lekat..
Pesan moral yg tentu saja sangat baik. Semua ada sebab dan akibat.
.
Walau saya belum memiliki momongan, namun film ini mampu memberikan pencerahan dalam menyingkapi membesarkan dan mendidik anak nanti. Sehingga bisa lebih baik dan lebih bahagia. Yap.. mencegah lebih baik dari pada mengobati.
.
Jadi saya sarankan kamu nonton film #mygenerationfilm ini agar setidaknya kamu bisa paham bahwa seorang anak juga ingin didengar pendapatnya. Btw film ini ada bagian lucunya jg haha, dan yg lebih lucu.. saya sendiri kayanya yg berumur diatas 30 di studio tadi. Lainnya anak muda semua.

#MyGenerationCGV50juta #SeruBarengCGV #yuknontonsatusekolah #cgvtransmartpekanbaru  #myGeneration #cgvpekanbaru

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top