lomba blog zakiah hijab

Belajar Menjadi Ibu Idaman

Dulu, waktu saya masih kecil, saya sempat memiliki pikiran, enaknya menjadi ibu. Hanya di rumah, tidak usah mengerjakan PR yang sulit, tiap hari berangkat ke sekolah, lalu pusing dengan karakter teman yang beraneka ragam.

Saat remaja, saya mulai sering berbeda pendapat dengan ibu. Khususnya masalah selera. Saya ingin pakai baju model A, ibu memilihkan model B. Saya kecewa. Saya ingin begini, ibu menyuruh begitu, saya kecewa tapi tidak sanggup membantah apapun yang ibu perintah.

Hingga akhirnya saya menikah, lalu menjadi seorang ibu. Isya, putra pertama kami, adalah cucu pertama untuk bapak dan ibu saya. Saat saya melahirkan, ibu mendampingi dari awal hingga akhir. Seusai melahirkan, ibu khususnya sangat membantu saya dalam mengurus bayi. Dari situ saya melihat totalitas ibu merawat saya dari kecil hingga saya menjadi orang tua. Sayapun melihat ibu dari sisi yang berbeda. Saya begitu bersyukur memiliki ibu seperti beliau, yang memiliki cinta tak bertepi, dan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi cobaan hidup, alhamdulillah, bapak dan ibu masih sehat hingga saat ini. Saya pun mulai mengerti, apapun yang orang tua lakukan, adalah untuk kebaikan anak. Mungkin saat itu anak belum memahami perjuangan orang tua, namun ada titik dimana anak akan menyadari betapa orang tua begitu mencintai dan melakukan apapun untuk kebaikan mereka.

Seorang anak yang terlahir ke dunia, tidak dapat memilih siapa ibunya. Jika bisa tentu setiap anak akan memilih lahir dari rahim ibu yang sholehah, berperilaku baik, penyayang, dan sederet kebaikan lainnya. Sayangnya anak tidak bisa memilih siapa ibunya.

Sang ibu, juga tidak bisa memilih apakah anak yang lahir nanti perempuan/laki-laki, sehat/sakit, namun sepanjang kehamilan, ibu yang baik pasti akan mendoakan semoga anak yang terlahir nanti menjadi anak idaman, yang sholeh/sholehah, baik, cerdas, penurut, sukses hidupnya, dan sederet doa-doa dan pengharapan untuk kebaikan si anak. Sayangnya, justru si ibu kadang sibuk memikirkan bagaimana mencetak anak idaman lalu lupa apakah dirinya pantas mendapat predikat ibu idaman. *tunjuk diri sendiri

Membaca biografi para ulama, ilmuwan, dan tokoh besar dunia, saya belajar bahwa anak yang hebat lahir dari ibu bapak yang hebat. anak yang berilmu, lahir dari orang tua yang cinta ilmu. Anak yang rajin beribadah lahir dari orang tua yang dekat dengan Allah SWT. Mendidik anak ibarat menanam, apa yang di tanam itulah yang dituai. Dan dalam proses ‘menanam’ ini ibu memiliki peran penting. Karena ibu yang mengandung. Dimana kehamilan adalah sekolah yang pertama. Lalu bagaimana adab ibu dalam menyusui dan merawat anak sejak kecil juga berpengaruh terhadap masa depannya sehingga ibu adalah sekolah anak yang pertama (al umm madrasatul ula).

Lalu, apa kiat menjadi ibu idaman?

  1. Mengenalkan akidah kepada anak sejak dini

Siapa yang tak ingin memiliki anak sholeh? Anak yang sholeh adalah anak yang taat pada Allah, menempatkan dunia dan akhirat pada porsinya, dan berbakti pada orang tuanya. Siapa yang tak mengenal Imam Syafii. Beliau mempelajari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun, dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun, Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah. Siapa yang tak mengenal Uwais al-Qarni yang yang terkenal sebagai penghuni langit karena bakti pada ibunya.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz Dzariyat ayat 56]

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.  At Tahrim:6)

Seorang ibu haruslah mengenalkan kecintaan pada Allah SWT sedini mungkin, sejak dalam ndungan lalu saat proses tumbuh kembang anak. Anak juga perlu mengenal rukun Iman dan rukun Islam sejak dini, misalnya pengenalan ibdadah puasa di bulan ramadhan ini, dan membayar zakat sebelum puasa. Sejak kecil, anak-anak juga penting diperkenalkan shalat agar tiba waktunya nanti anak sudah bisa shalat dengan baik dan benar.

cilik-sholat

Perintahkanlah kepada anak kalian untuk shalat saat mereka berusia 7 tahun, dan pukullah (jika mereka tidak mau shalat) di usia 10 tahun.” (HR. Abu Dawud)

Dalam membentuk akidah anak, penting juga bagi ibu untuk bekerjasama dengan ayah selaku ‘kepala sekolah’ agar kompak dalam menanamkan pendidikan karakter kepada anak. Dan agar tidak memberi pemahaman yang salah, tentu ibu sebagai guru harus terus belajar dan tidak henti mencari ilmu pada sumber yang tepat untuk diajarkan kembali pada anak.

2. Mendidik anak sesuai usia

Anak adalah majikan selama tujuh tahun, hamba selama tujuh tahun berikutnya, dan menjadi menteri selama tujuh tahun berikutnya. Bila pada usia 21 tahun menunjukkan sifat yang baik maka ia adalah anak yang baik. Kalau tidak, maka tinggalkanlah ia, karena berarti kamu telah melemparkan tanggung jawabmu kepada Allah (al-Hadist)

Maksud dari hadist ini adalah, usia 0-7 tahun, peran seorang ibu sangatlah penting. Dimana hubungan emosional ibu dan bayi lebih kuat dibanding ayah. Ibu yang dengan kesabaran, ketelatenan merawat, mengasuh si kecil dari bayi mungil hingga  menjadi tumbuh menjadi anak yang sehat dan aktif. Anak bak spon yang menyerap apa yang ada disekelilingnya. Jika lingkungannya baik maka baik pula pengaruh yang ia terima. Ibnu Jauzi berkata:

Pembentukan yang utama ialah waktu kecil, maka apabila seorang anak dibiarkan melakukan suatu yang kurang baik dan kemudian telah menjadi kebiasaannya, maka akan sukarlah untuk meluruskannya. Artinya bahwa pendidikan budi pekerti dimulai dari rumah dalam keluarga sejak kecil, dan jangan dibiarkan anak-anak tanpa pendidikan. Jika anak dibiarkan saja tanpa diperhatikan dan tidak dibimbing, ia akan melakukan kebiasaan yang kurang baik, dan kelak akan sukar baginya untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.

3. Mendidik anak dengan cinta

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Mencium seorang anak adalah rah mat” Dan Rasulullah Saw berpendapat bahwa orang yang tidak pernah mencium anaknya adalah tanda bahwa rahmat Allah telah dicabut darinya.

Sebagai ibu rumah tangga yang setiap hari berinteraksi dengan anak, saya pernah bertanya pada Isya dan Himda, apa yang tidak mereka sukai dari saya. Ternyata jawabannya singkat. Mereka tidak ingin ibunya marah. Meski mereka tahu ibunya marah karena mereka salah. Anak-anak memiliki jiwa yang suci. Mereka ingin dunia yang ceria dan penuh warna, tidak suka ada marah-marah dan suasana yang tidak menyenangkan di rumah. Mereka suka diperlakukan dengan baik, dipeluk cium dengan kasih sayang, belajar sambil dipangku, menemani mereka sebelum tidur, dan juga siap diajak mereka bermain kapan saja. Meski saat itu saya tengah lelah luar biasa. Saat saya merasa lelah, saya berusaha menyemangati diri sendiri, bahwa mereka adalah titipan Allah yang harus dijaga, bahwa masa-masa ini, masa saat anak-anak masih kecil memang masa-masa yang melelahkan baik fisik maupun emosi. Masa-masa yang menuntut kesabaran namun suatu saat nanti akan sangat saya rindukan. Saat mereka besar nanti tentu saya sangat rindu saat mereka dalam kandungan lalu lahir dan bertumbuh menjadi anak-anak dan pribadi yang mandiri. Suami saya selalu memberi semangat bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan kita tuai nanti. Jika kita perlakukan anak dengan cinta maka mereka pun akan mencintai kita.

3. Mendoakan tanpa henti

Saya sempat tercekat saat membaca status Ibu Sri widiyastuti di timeline FB.

Saat berbuka puasa bersama di kantor suami, saya mendapatkan kawan baru, yaitu istri-istri staf di sana. Ada satu orang yang langsung akrab dengan saya. Ibu ini masih muda dengan anak tiga orang.

Anak yang sulung naik kelas 3 SMP di SMP 1 Bogor. Anak yang berprestasi. Saat shalat maghrib saya shalat dengan anak itu. Kemudian setelah selesai shalat wajib, dia melaksanakan shalat sunnah. Pemandangan yang baru bagi saya, karena anak-anak saya pun jarang melaksanakannya.

Saat mengantri makan, ada seorang ibu yang meminta tips keberhasilan sang ibu mendidik anaknya hingga berprestasi. Saya di sebelahnya diam-diam menyimak dengan khusyu’.

“Enggak ga ada yang istimewa sih mbak. Anak saya belajar sama dengan teman-temannya yang lain. Cuma yang saya ingat, setiap sehabis shalat, saya selalu berdoa kepada Allah begini,

Ya Allah, saya ridlo kepada suami saya (nyebut namanya), saya ridlo kepada anak saya ….., saya ridlo kepada anak saya …, saya ridlo kepada anak saya …., saya ridlo menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya. Mudahkan segala urusan saya dalam menjalankannya.”

Begitu katanya. Simple tapi cukup membuat saya terhenyak. Apalagi tambahan kata-katanya,

“Ridlo orang tua kan ridlo Allah ya. Jadi saya praktikan itu.”

Ya Allah … terkadang kita banyak menuntut kepada anak-anak, harus ini, harus itu, agar aak-anak mendapat ridlo kita. Terkadang kita meminta anak-anak ingat bahwa di tangan orang tualah ridlo itu berada. Tapi kita lupa untuk menunjukan keridloan kita atas anak-anak kita. Atas suami kita. Atas segala yang Allah karuniakan selama ini.

Kita lebih banyak menuntut daripada memberi. Malam itu dan malam-malam berikutnya, saya pun mempraktikan doa teman baru saya itu. Alhamdulillah, terasa berbeda sekali.

doa

Saya kadang merasakan hal yang sama, banyak membaca ilmu parenting, berusaha melakukan yang terbaik untuk anak hingga kadang lupa bahwa doa adalah senjata kaum muslim. Ada waktu-waktu mustajabnya doa, dan anak-anak sangat membutuhkannya. Mereka membutuhkan perlindungan Allah baik saat orang tuanya masih disisinya maupun tidak, Allah lah yang melapangkan jalan untuk mereka, Allah yang menjadikan mereka mudah belajar ilmu, dan Allah lah tempat kita kembali. Menjadi ibu membuat saya makin mencintai ibu, menjadi ibu membuat saya merasa sangat bersyukur.

Ah, lomba ini membuat saya banyak belajar dan menyadari betapa sebagai ibu saya masih banyak kekurangan, saya masih harus banyak belajar untuk menjadi ibu idaman dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak karena Allah.

 

Latest posts by siti latifah (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Seorang pebisnis harus pandai menganalisa pesaing mereka, khususnya yang berada pada niche yang sama. Belajarlah dari kesuksesan termasuk dari kegagalan mereka
.
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #analisamarketing #competitor #business #tipsbisnis #trendingpost

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top