Fotografi

Belajar Fotografi Yuk, bersama Fotografer Ternama Ferry Ardianto

Mengembangkan imajinasi dan berlatih adalah hal mutlak yang harus dimiliki seorang fotografer. Dengan demikian terciptalah foto yang mampu menggugah orang.

Pada  19 April 2016 diadakan Digipreneurday  di SME Tower dengan mengangkat tema Exploring the Power of Content yang dapat menentukan konsep di era digital yang kini semakin masif pertumbuhannya. Acara yang dihadiri oleh blogger, netizen, dan fotografer tersebut merupakan bagian dari program sosialiasasi dan promosi produk UKM dari paviliun daerah  di SMESCO RumahKU. Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerjasama SMESCO dengan MB Communication.

Pembicara yang dihadirkan adalah  orang-orang kreatif di industri digital, khususnya promosi dan marketing yang saat ini memegang peranan penting untuk melesatkan produk-produk UKM ke mancanegara. Selain itu kegiatan ini merupakan sebuah upaya untuk mempercepat karya pengrajin ke kancah pemasaran global.

Sesi pertama kegiatan tersebut menampilkan seorang fotografer senior Ferry Ardianto yang mengulas pembuatan foto produk yang lebih menarik. Selama  30 tahun Ferry berkecimpung sebagai  fotografer untuk produk komersial. Di era digital semua ada dalam genggaman. Contoh paling mudah adalah HP yang memiliki beragam aplikasi, yang rata-rata orang memilikinya. UKM berpeluang  besar  mempromosikan produk  di dunia digital. Cakupannya tidak hanya  Indonesia, juga  seluruh dunia. Foto yang dipasang segera tersebar ke penjuru dunia. Promosi tersebut  tidak lepas dari content, gambar visual, dan desain.

Ferry menyampaikan dirinya sempat mengalami dua dekade dalam fotografi, yakni analog dan digital. Perkembangan digital dalam fotografi sangat pesat. Di satu sisi  mendukung para penggemar fotografi untuk  belajar memotret. Di sisi lain  membantu blogger dan netizen mengkomunikasikan gambar-gambarnya. Bukan hanya di lingkup  nasional, juga internasional hanya dalam hitungan detik. Bagi Ferry, pekerjaan  sebagai fotografer sangat menguntungkan. “Namun yang lebih bermanfaat untuk kalian yang memiliki blog atau website adalah  mempromosikan diri atau produk langsung ke mancanegara dalam hitungan detik,” ujar Ferry yang mengajar di Darwis Triadi School of Photography dan Universitas Trisakti ini.

Menurut Ferry, membuat foto saat ini mudah sekali. Bahkan orang awam pun bisa melakukannya. Dibandingkan zaman dulu yang masih menggunakan analog. Perlu memasang film, harus memotret dengan teknik, hingga cuci dan cetak foto. Saat Ferry menekuni bidang fotografi secara profesional,  belum banyak tempat kursus  fotografi. Ia harus  belajar sendiri pada saat itu. Sebagai praktisi, Ferry senang  karena banyak orang  menyukai apa yang disukainya. Fotografi mengundang banyak sekali penggemar baru, sebab fotografi saat ini dapat dipelajari dengan cepat, mudah, dan murah.  Penggemar fotografi berkembang sangat pesat dan pedagang pun diuntungkan.

Ferry memberi perhatian pada sisi apresiasi. Semakin banyak orang  menggemari fotografi, semakin mudah mereka menyandang predikat sebagai fotografer. Namun apresiasinya turun. Di tempat kursus peserta lebih banyak diarahkan untuk menghasilkan gambar yang bagus. Pasalnya di sana mereka hanya diajarkan  teknis. Berbeda dengan  di perguruan tinggi yang lebih banyak belajar tentang proses  menghasilkan gambar yang baik. Tidak hanya bagus, juga baik. Ferry mencontohkan mahasiswanya di Universitas Trisakti yang belajar fotografi selama  dua semester. Mereka bisa  menghasilkan gambar bagus. “Namun mereka  harus lebih mendalami untuk  menghasilkan gambar yang baik,” kata Ferry.

Dalam pandangan Ferry, teknis membuat foto yang bagus dan menarik itu bisa dipelajari dengan cepat dan mudah. Cara penggunaan kamera ada di manual book. Namun siapapun itu yang senang memotret, apapun tujuannya, punya semacam goal untuk bisa membuat  foto yang menggugah, membuat orang ingin tahu, dan pesannya sampai.

Ferry mengisahkan dirinya yang bekerja sebagai fotografer komersial. Sebagian besar pekerjaan dilakukan  di studio. Tugasnya adalah mengkomunikasikan produk dari produsen kepada konsumen serta menstimulasi  orang untuk  menggunakan produk yang difoto. Tidak hanya menempa dari segi  teknis, juga cara berkomunikasi dengan orang melalui gambar. “Di era digital, kesempatan saya memotret apa yang saya suka lebih terbuka peluangnya karena  lebih banyak waktu untuk jalan-jalan,”ujar Ferry, yang merupakan lulusan Ekonomi Universitas Padjajaran.

Beragam produk UKM dari paviliun daerah di SMESCO RumahKU yang menjadi objek lomba foto produk.

Beragam produk UKM dari paviliun daerah di SMESCO RumahKU yang menjadi objek lomba foto produk.

Pengalaman Emosional

Ferry mengaku  suka bercerita lewat gambar, pergi ke tempat yang belum pernah didatangi, dan senang bertemu orang baru untuk menunjukkan fotonya yang  berkesan.

Esensi fotografi adalah menyampaikan dan  menstimulasi cerita  ke orang supaya mereka turut  merasakan apa yang kita alami.

Terkait kegiatan yang diselenggarakan, tujuannya adalah menghasilkan gambar yang bercerita. Kita mau cerita ke konsumen bahwa produk dalam foto itu  layak dibeli. Menurut Ferry, gambar itu seni. Entah dibuat dengan pensil, kuas, atau kamera. Fotografi adalah seni berkomunikasi melalui gambar. “Bagaimana kita membuat orang menyimak apa yang kita sampaikan itu adalah seni,” kata Ferry.

Untuk apa kita memotret? Pertama, sekadar mendokumentasikan. Banyak orang melakukan hal itu. Fery mencontohkan dirinya yang jatuh cinta pada fotografi karena ayahnya yang  menunjukkan  foto keluarga, seperti kakek dan paman. Saat itu Ferry yang duduk di bangku SD senang sekali, seperti membaca sejarah. Pengalaman itu membuatnya senang memotret. Banyak hal yang bisa didokumentasikan, antara lain  sejarah atau perjalanan waktu. Kedua, mempromosikan di bidang komersial.

Dunia fotografi bisa dimasuki dari dua sisi, yakni medium dan konten. Ferry mengkhawatirkan sebagian orang yang selalu bertanya, memotret dengan  kamera apa, harga berapa, atau lensa apa. Jarang orang masuk ke fotografi dari konten, foto seperti apa yang bisa dibicarakan orang. Kalau cerita dari gambar itu bisa sampai ke orang bukan dipengaruhi kamera. “Yang bisa menghasilkan gambar itu kita,” tutur Ferry.

Ide di kepala kita tidak bisa dicontek orang. Ada dua hal yang membedakan saat berkomunikasi lewat gambar, kita belajar fotografi ini untuk membuat foto bagus atau foto baik. Foto yang bagus itu mudah dibuat. Kamera sekarang sudah menjamin. Memotret itu seperti membaca. Gambar yang bagus itu memiliki komposisi baik atau exposure yang tepat. Dalam fotografi ada  tanda gambarnya, yaitu komposisi, warna, angle, hingga detail. Foto pemandangan dibuat black and white padahal warnanya bagus, itu tanda gambar. Warnanya dihilangkan fotografer supaya lebih dramatis. Gambar yang bagus itu terkait teknik seperti diafragma. Selain itu gambar yang bagus itu tajam yang ditunjang oleh autofocus. Gambar yang bagus juga memiliki komposisi yang menarik. “Itu semua bisa dipelajari,” kata Ferry.

Gambar yang baik itu tercahayai dengan baik. Cahaya itu bisa dideteksi. Setiap posisi matahari akan menghasilkan efek yang berbeda untuk cerita kita. Hal itu menentukan  kapan kita harus memotret. Gambar yang baik itu memiliki komposisi baik,  elemen dasar yang bisa memposisikan cerita ke dalam sebuah frame yang terbatas. Gambar yang baik itu menggugah rasa, ada sentuhannya. Apa yang orang lihat sama dengan ketika kita memotretnya. Gambar yang baik itu ada ceritanya,  membuat orang  penasaran. “Maka tidak cukup kita membuat gambar yang hanya bagus, tapi harus juga gambar yang baik supaya orang  tertarik,” kata Ferry.

Ferry menyampaikan kurang suka dengan orang yang menanyakan bagaimana cara menghasilkan foto. Ia lebih suka ditanya  perihal mengapa mengambil foto itu. Sebab gambar yang baik itu mengundang persepsi.

Persiapan sebelum mengambil foto sebagai berikut, pertama, persiapkan diri  untuk bercerita. Tas  dari rotan misalnya  kalau diceritakan ke orang itu luar biasa. Ferry mengaku senang memotret di Indonesia yang sangat kaya. Indonesia punya banyak  kebisaan yang harus diceritakan ke orang. Tidak hanya produk akhir, juga proses pembuatannya. Kedua,  meresapi pengalaman emosional. Ferry mengaku  sulit memotret kalau belum mengalami pengalaman emosional.

Terkait hal itu Ferry mengisahkan pengalamannya yang pernah mengadakan  survei di suku Dayak Iban, Kalimantan Barat. Ia sampai  di sana malam hari dan hanya  bertemu orang-orang. Karena niatnya survei saja, Ferry membawa kamera kecil untuk dokumentasi. Saat bangun ia membuka jendela. Luar biasa! Akhirnya Ferry memutuskan tinggal selama  dua bulan. Pengalaman emosional itu menjadi sesuatu yang penting. Kalau menurut kita bagus, orang lain juga harus bilang bagus. Ketiga, pilih objek gambar pasti. Seperti kerajinan tangan yang begitu indah, objek apa yang ingin ditampilkan. Hal mendasar dalam fotografi adalah imajinasi yang menumbuhkan ide. “Hal yang paling menyenangkan dari menjadi fotografer itu melamun,” tutur Ferry.

Peserta Digipreneurday antusias mengikuti lomba foto produk

Peserta Digipreneurday antusias mengikuti lomba foto produk

Konsep

Menurut Ferry, hal paling sulit yang diajarkan kepada mahasiswa adalah menjadi kreatif serta menghasilkan foto yang punya sentuhan dan cerita. Ada dua bentuk cerita, yaitu esai foto atau photostory. Esai foto intinya mengajak orang untuk  punya pikiran yang sama serta mengundang orang untuk memberi wawasan atau ide kepada orang. Contohnya, foto yang membuat orang Jakarta tidak membuang sampah.  Sementara contoh photostory adalah cerita tentang seseorang yang bisa menyekolahkan anak dari memungut sampah. Sebab ada  tokoh di situ. Ferry lebih suka membuat esai foto, karena menggugah orang untuk mengikuti apa yang kita rasakan atau  sampaikan.

Satu hal yang harus dimiliki adalah konsep. Konsep itu yang membedakan satu foto dengan foto lain.  Konsep ini menjadi hal penting yang dikedepankan dan disusun di awal. Untuk mendapatkan konsep butuh waktu yang tidak sedikit. Mengukur apakah foto yang kita hasilkan menggugah orang sesuai dengan tujuan yang direncanakan itu  sulit seandainya kita tidak membagikan foto itu. Sebagai fotografer, kita tahu pesan ini sampai atau tidak dari sharing foto kita. Itulah pentingnya dukungan website atau wifi untuk kemudahan  menyiarkan foto. Apalagi dengan  media sosial yang bisa dijadikan sarana pertama untuk membuka diri, bercerita, dan menggugah orang.

Belakangan ini Ferry sedang belajar street photography, suatu genre fotografi yang bisa melatih kita berkonsep dengan singkat dan tiba-tiba. Padahal Ferry terbiasa menyusun konsep sebelum berangkat memotret. Supaya tahu apa yang difoto saat keluar. Selama 30 tahun ia ditempa menciptakan sebuah gambar dengan konsep dari biro iklan. Street photography itu  melatih kita berkonsep secara spontan ketika melihat sesuatu di depan kita. Selain konsep, yang perlu dipahami adalah lighting atau pencahayaan. Kamera itu hanya bisa bekerja kalau ada cahaya. Paling penting adalah meletakkan lighting yang membuat foto itu hidup.

Di fotografi ada tiga posisi lighting yang akan menentukan kualitas foto nantinya. Sumber  cahaya itu diletakkan di samping kamera, atau  di sisi objek, atau di belakang objek. Masing-masing akan memberikan hasil yang berbeda.  Trik fotografi yang paling utama adalah  menempatkan sumber cahaya terhadap objeknya. Karena hal itu yang akan menentukan cerita. Kalau kamu sering motret dapat dibayangkan dalam  kondisi lighting tertentu, hasil fotonya seperti apa. “Sulit kalau kita ada dalam kondisi sumber cahaya yang tidak bisa diubah posisinya,” kata Ferry.

Ferry mengalami fase belajar fotografi secara otodidak. Oleh karena itu ia menempa dirinya menitipkan rasa kepada foto yang dihasilkan. Kalau orang melihat foto kita dan mengatakan biasa saja artinya pesan kita tidak sampai. Sebaiknya kita mengerti untuk apa kita memotret. Bahwa kita memotret dan  belum puas itu wajar. Semua orang mengalaminya. Kadang-kadang orang yang Ferry potret diminta pindah ke beberapa tempat untuk mencapai apa yang mau ia sampaikan ke orang. Imajinasi bisa terwujud dengan bantuan cahaya karena kamera bekerja dengan bantuan cahaya. Ferry menceritakan saat bersama suku Dayak Iban, ia memotret seorang ibu yang bekerja di hutan. Saat pagi foto yang dihasilkan tidak menarik karena tertutup dedaunan, tidak ada sinar. Esoknya tidak bagus juga. Kemudian Ferry datang pada sore hari. Cahayanya bagus sekali. “Saya mengulang berkali-kali hanya untuk memenuhi kebutuhan menyampaikan pesan,” kata Ferry.

Peserta Digipreneurday menikmati santap siang ditemani lagu-lagu dari Kazan Band

Peserta Digipreneurday menikmati santap siang ditemani lagu-lagu dari Kazan Band

Menggugah

Fotografer itu mengeksplor timing, cahaya, sampai angle untuk menghasilkan gambar yang diinginkan. Ferry menyampaikan pengalamannya yang pernah memotret di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang dalam rangka pameran. Konsep Ferry adalah menceritakan suatu tempat yang tidak boleh dimasuki orang, yaitu penjara. Ketika pameran, hadirin yang mengisi  buku tamu menulis  tidak suka dengan foto Ferry. Menurut mereka foto yang ditampilkan menampakkan rasa tertekan. Ferry menganggap pesannya kepada masyarakat agar tidak masuk penjara sampai. Ketika ditanya, apakah Ferry pernah gagal memvisualkan konsep. Ia menjawab pernah dan sering. Hal itu dialami semua orang. Jangan malu. Ferry mengaku  sering tidak jadi memotret karena konsepnya sulit diceritakan ke orang. Jika gagal memvisualkan konsep, jabarkan lagi. “Jangan berhenti di satu titik,” tutur Ferry.

Suatu hari klien Ferry mengatakan seorang dokter membutuhkan bantuannya untuk membuat  presentasi. Dokter itu punya yayasan bernama Children’s Heart Correction Fund. Ia  hendak mencari dana untuk membantu bayi dari keluarga tidak mampu. Dengan demikian mereka bisa operasi jantung mengingat  biaya yang mahal. Berapa hari kemudian Ferry bertemu  dr. Yusuf Rahmat, satu diantara enam dokter di Indonesia yang mampu mengoperasi jantung bayi. Beliau menyerahkan setumpuk foto. Melihat foto itu, Ferry bertanya apakah bisa memotret  secara langsung. Sebab ia butuh pengalaman emosional. “Saya mau cerita dr. Yusuf yang memerlukan dana begitu banyak  membiayai operasi ini untuk anak-anak.  Saya harus ajak orang bersama-sama dr. Yusuf membiayai anak-anak,” ujar Ferry.

Selanjutnya Ferry mengikuti dr. Yusuf ke bangsal. Beliau memperkenalkannya  kepada anak-anak yang menunggu dioperasi. Setelah membersihkan badan beliau masuk ke ruang operasi. Seorang anak dioperasi pukul 06.00-16.00. Ferry duduk di samping mesin. Foto yang dibuat menghasilkan  presentasi selama 2,5 menit. Dr. Yusuf membawanya ke UNICEF, WHO, dan lain-lain guna mencari bantuan untuk  operasi jantung bayi di Indonesia. Beberapa bulan kemudian dr.  Yusuf menemui Ferry. Beliau menanyakan berapa biaya yang harus dibayar sebagai jasa memotret. “Saya bilang saya bukan dokter, tidak punya uang, hanya bisa motret. Kalau foto ini bisa membantu anak-anak untuk operasi,  tidak ternilai harganya untuk saya. Kita  bisa menolong sesama  asal tahu cara menyampaikannya. Semua orang bisa melakukan itu. Saya berhasil  menggugah orang. Itulah kekuatan foto,” ujar Ferry.

Tahun 2000 Ferry bersama fotografer lain ingin mengadakan pameran. Dasar konsep yang ia ambil  adalah menceritakan kepada orang lain mengenai hal yang  belum diketahui. Sehari-hari dari rumahnya di Pondok Kelapa menuju studionya di Tebet, Ferry melewati Stasiun Jatinegara, Pasar Jatinegara, termasuk LP Cipinang. Saat ke Stasiun Jatinegara, Ferry melihat tempat itu sudah ramai. Artinya banyak orang tahu, tidak seru. Sama halnya dengan Pasar Jatinegara. Kemudian Ferry melewati penjara. Ia penasaran. Ferry bertanya ke temannya, apa yang muncul dalam benak mereka saat mendengar kata penjara. Kekerasan, pembunuhan. “Saya tidak mau cerita sesuatu yang sudah jadi ekspektasi orang,” kata Ferry.

Selanjutnya Ferry mengurus  ijin. Baginya penjara Cipinang adalah  dunia lain. Selama tiga bulan Ferry belum menemukan konsep. Sementara  pameran semakin dekat. Hingga Ferry ditegur oleh seorang kakek, narapidana selama 32 tahun yang  menanti hukuman mati. Mereka mengobrol bersama. Dari obrolan itu terungkap selama ini narapidana tidak ada masalah dengan koran atau TV. Sepi adalah rasa yang memenjarakan narapidana. Rindu keluarga adalah perasaan yang menyiksa dalam penjara. Hal itu yang ditampilkan Ferry dalam fotonya. Saat pameran seorang  sutradara film dokumenter dari Kanada melihat foto Ferry. Ia ingin memfilmkan foto itu dalam film pendek berjudul  Ten Minutes before Die. Film berdurasi lima menit itu diikutsertakan dalam festival film pendek di Eropa dan mendapat banyak  penghargaan.

Kisah lain yang disampaikan Ferry saat ia berlibur ke Bali. Ketika makan seafood di Jimbaran, Ferry iseng bertanya kepada pelayan, seafood ini diperoleh dari mana. Pelayan itu mengatakan  Kampung  Kedonganan, kampung nelayan yang menyuplai ke hampir semua restoran seafood di Bali. Ferry lalu datang ke kampung itu. Ia melihat nelayan yang pulang dari laut disambut anaknya. Ferry juga pernah merekam kisah seorang pandai besi bernama Pande  Mudra, pembuat keris di Bali yang mewarisi keahlian dari orangtuanya. Ia  membuat keris  secara tradisional dengan metode yang digunakan 200 tahun yang lalu. Saat ini Mudra  adalah salah satu empu keris di Bali yang membuat keris untuk raja di Bali. Salah satu keahliannya adalah meracik keris dengan sempurna sehingga  bisa berdiri.

Pengalaman Ferry lainnya bersama suku  Dayak Iban saat ia disambut ketua adat. Pertanyaan pertamanya adalah agama. Begitu mengetahui Ferry adalah seorang muslim, ia segera menemui pemilik rumah panjang tempat Ferry akan menginap.  Ketua adat memberitahu bahwa Ferry tidak makan babi sebab sehari-hari suku Dayak Iban makan babi. Tak hanya itu, ia meminta ibu itu menyiapkan tempat shalat untuk Ferry.

Di akhir diskusi Ferry menyampaikan hal terkait persiapan sebelum melakukan perjalanan, sebagai berikut: ketahui sebanyak mungkin daerah tujuan, survei kecil, serta persiapkan diri berkomunikasi dengan masyarakat setempat karena ini penting sekali untuk diterima orang. Saat memotret jangan pikir alat apa yang ada di tangan. Penggemar fotografi jangan terkendala dengan alat. “Saya saja merasa aneh jika tidak membawa DLSR saat memotret,” kata  Ferry.

 

Editor: Indoblognet

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai, sahabat Indoblognet 😁 Selamat beraktivitas dan menjalani hari penuh berkah, aamiin
.
Sahabat, tau gak kalian, kalau saat ini menulis content yang hanya berupa tulisan rasanya jadi kurang menarik, khususnya untuk konten sosmed ya guys 😀 Karena saat ini konten yang menarik perhatian  audiens adalah konten yang dikemas dalam bentuk infografik (yaitu konten dalam bentuk visual: tabel, gambar, animasi, dll)
.
Berdasarkan survey, konten infografik mendapatkan like dan share yang lebih banyak 3X lipat dibandingkan konten yang hanya berupa tulisan 😉 Nah, yuk ah belajar meningkatkan kualitas kontenmu dengan mencoba berbagai bentuk infografik 😀
.
#indoblognet #mbcommunication #infografik #konten #tipscontent #trending #popularpost #viralcontent #socialmedia

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top