Agama

Balada YTH (Yang Ter-Hormat)

MUMPUNG masih Ramadhan, saya hendak mengajak Anda sedikit berbincang tentang sesuatu yang berkaitan dengan agama.  Sudah pasti yang saya maksudkan Agama Islam sebab saya toh seorang Muslim. Karena pemeluk agama Islam, saya berhak dong untuk ngomong/berpendapat tentang keislaman. Atau, tentang sesuatu yang berkaitan dengan Islam. Iya kan? Sudah pasti sejauh kapasitas saya selaku orang awam, bukan ulama.

Oh, ya. Pada awal kalimat saya katakan “mumpung Ramadhan”.  Nah, lho. Mohon jangan disalah pahami ya kalimat pembuka tersebut. Tentu saja saya bilang “mumpung Ramadhan” bukan berarti kalau Ramahdan telah berlalu, maka kita tak boleh lagi berbincang-bincang tentang keislaman. Heh! Tentu saja tidak begitu.

Yang mungkin menjadi pertanyaan besar di benak Anda, mengapa dalam dua paragraf pembuka di atas saya terlihat ketakutan? Mengapa belum-belum saya sudah memohon-mohon pengertian? Mengapa pula sejak awal saya mesti merasa perlu untuk “membela diri”? Untuk menjelaskan bahwa saya ini orang awam, bukan ulama?

Huft! Jawabnya tegas. Sebab saya memang merasa ketakutan. Ketakutan? Ya. Saya ketakutan dan sedikit merasa trauma. Takut ditegur oleh saudara-saudara seagama yang keislamannya jauh lebih pekat daripada saya. Takut disalah pahami bahwa saya ini berbuat makar terhadap agama yang saya cintai. Padahal demi Allah SWT dan Rasul-Nya, sekuat tenaga saya berusaha maksimal untuk bisa menjadi seorang Muslim yang baik dan benar.

Yeah.. Semua bermula dari obrolan saya dengan seorang kawan lama via BBM. Ketakutan saya, trauma yang mendera saya, kegundahan saya sebab mendadak merasa jadi pecundang agama, berawal dari teguran si kawan lama saya itu. Kronologinya begini. Pagi itu entah mengapa saya ingin menyapanya. Maka saya kirim pesan sapaan kepadanya:

Hai? YTH Jeng X, apa kabar?

Pesan saya dibalas seperti ini:

Alhamdulillah, baik. Yang biasa saja. Jangan pakai yang terhormat..

Saya balas lagi:

Oke siap, bos. Kalau begitu saya ulang, ya. ‘Kan tidak boleh YTH.  Saya ganti, deh. YTC Jeng X, apa kabar? Hehehe (tentu saja saya menuliskan semua pesan itu dengan riang gembira). Tanpa pretensi apa pun kecuali mengajak bercengkerama seorang kawan lama yang kini jadi PNS berpangkat tinggi. Sebab pangkat tingginya inilah, di awal tadi ia saya sebut YTH..)

Tak diduga tak dinyana, inilah balasan pesan darinya:

Jangan suka latah pakai yang terhormat, yang tercinta, yang ter-… yang ter-… lainnya! Hanya Allah SWT yang berhak pakai yang ter-…. Hati-hati kamu! Kesempurnaan hanya milik Allah SWT . Tak ada yang lebih ter- daripada Allah SWT.

DEG! Seketika saya merasa hati ini terpatahkan. Mendadak saya merasa sedih, terluka, dan merasa jadi makhluk-Nya yang tak tahu diri. Saya juga merasa sangat malu atas tegurannya. Meskipun sebenarnya, saya pun merasa tak salah ucap/salah ketik.

Sungguh, membaca pesan tegurannya itu saya tak tahu harus membalas apa. Maka hingga hari ini, saya tak pernah lagi mengirim pesan apa pun via BBM kepadanya. Saya trauma. Kalau tiba-tiba diksi yang saya pilih dianggapnya melecehkan Allah lagi, bagaimana? Saya kan bisa malu dua kali.

Sebab merasa semuanya baik-baik saja, hingga hari ini kerap kali saya baca ulang rangkaian obrolan kami yang berujung terlukanya hati saya. Sebagai editor bahasa, terkhusus bahasa Indonesia, saya tak menemukan kerancuan makna di situ. Apalagi makna yang mengarah bahwa saya menomorsekiankan-Nya.

Apa boleh buat? Saya menyapanya YTH (yang terhormat) menirukan kata pembuka sebuah surat dinas resmi. Tujuan saya untuk menggodanya sebab dia seorang kepala bagian di kantornya. Lalu saya sebut dia YTC (yang tercinta) sebab saya mencintainya sebagai kawan baik. Ini pun dengan nada bercanda.

Tapi ternyata, oh, rupanya. Demikian serius dia menanggapi candaan saya. Dia koreksi candaan saya dari sudut pandang agama dengan cara yang naif. Yang justru bikin saya merasa jadi seorang pendosa. Astaghfirullah. Saya yakin kalau Tuhan pasti paham dengan candaan saya. Lagi pula, ketika mengucapkan YTH ataupun YTC pun saya tak punya pikiran sedikit pun untuk menyekutukan-Nya.  Terlalu, deh.

Saya tahu banyak orang yang sejenis dengan kawan lama saya itu. Duh! Bikin obrolan jadi tak asyik. Mengeluarkan kesan bahwa ketakwaan kepada-Nya berakibat seseorang tak lagi punya selera humor. Padahal, Tuhan itu tidak katrok. Saya yakin itu.

 

 

Image source:

Editor: Indoblognet

Agustina Soebachman

Perempuan biasa saja. Namun, berusaha aktif membaca dan menulis demi perbaikan diri.

Latest posts by Agustina Soebachman (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Seorang pebisnis harus pandai menganalisa pesaing mereka, khususnya yang berada pada niche yang sama. Belajarlah dari kesuksesan termasuk dari kegagalan mereka
.
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #analisamarketing #competitor #business #tipsbisnis #trendingpost

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top