Inspirasi

“Ayah Melakukannya karena Ayah Menyayangi Kalian..”

Ayahku? Menurut orang lain bisa jadi tak ada hal yang terlalu istimewa tentangnya. Ia hanya pria biasa yang mengawali hari dengan menghadap Tuhan lalu meneruskannya dengan melakukan olahraga ringan—mengumpulkan pakaian kotor, menimba air, dan membantu ibuku mencuci pakaian. Usai itu ia tak bisa leha-leha, ada kegiatan lain yang menunggunya yaitu memasak untuk seluruh keluarga sementara ibu sibuk menjemur pakaian, mencuci piring, dan beres-beres rumah.

Selepas sarapan, aku bersiap pergi sekolah. Tak seperti anak-anak lain di TK yang diantar ibunya, aku justru berbeda. Kesibukan Ibuku sebagai pegawai di salah satu kantor pemerintah membuatnya tak bisa melakukan hal itu sesering yang ia inginkan. Kadang-kadang saja ia mengantarku, selebihnya Ayahku-lah yang menangani tugas tersebut. Jangan tanya Ayah mengantar dengan mobil merek apa. Sebab yang dibawa Ayah hanya sepeda onthel biasa— merek Phoenix warna hijau tua yang digunakan kemana-mana.

Selesai itu, Ayah akan bergegas pulang dan menyibukkan diri di kantonya yang tak bernama. Terletak seratus meter dari jalan raya, kantor itu tak memiliki papan nama sebagai penanda. Tapi kita bisa tahu kalau itu tempatnya bekerja hanya dengan melihat sebuah mesin jahit terpampang di balik sebuah jendela rumah bernomor 93. Ya, ayahku adalah seorang penjahit yang memanfaatkan sudut kecil di ruang tamu kami untuk bekerja.

 

sewing-machine-1369658_1280

Pukul sepuluh biasanya segala keruwetan kerjanya harus diusaikan. Mau tidak mau, bisa tidak bisa. Sebab ia memiliki dua kewajiban yang harus ditunaikan disaat bersamaan yaitu belanja ke pasar dan menjemputku dari sekolah. Tak berhenti sampai disitu, setibanya di rumah Ayah harus memasak, lalu menyuapiku makan sembari bertanya ini-itu soal pelajaran di sekolah, hingga menemaniku tidur siang.

Tahun berganti, adik-adikku lahir dan kesibukan Ayah semakin menjadi. Tak hanya harus fokus bekerja dan mengasuhku saja, ia juga dituntut memberikan perhatian pada kedua adik kecilku. Tentu saja tak mudah bekerja sambil mengasuh balita di saat bersamaan. Terlebih saat mereka rewel, entah karena sakit atau sekadar minta perhatian. Masih belum cukup dengan semua itu, ayah harus melakoni beragam pekerjaan. Ia harus rela jadi kuda-kudaan, guru keterampilan, pendongeng, penyanyi profesional, perawat, penasehat, tukang seka ingus sekaligus teman bermain congklak, gundu, dan layang-layang, serta lain-lainnya sesuai keperluan.

Banyak benar tugas ayah, kan? Jika ada yang bertanya apakah ayah tidak merasa repot dengan segala keruwetan itu? Oh, tentunya. Tapi, seumur hidup tak pernah kudengar ayah mengeluh. Ia melakukan semua itu sebiasa ia menimba di sumur belakang. Dilakukannya dengan riang.

Banyak orang bilang, apa yang ayahku lakukan diluar kelaziman. Yang lainnya mengatakan pilihannya membantu melakukan pekerjaan rumah tangga di luar kepantasan.

“Bukankah itu semua tugas seorang perempuan?” gugat seseorang.

Ayahku tak pernah memikirkan hal itu terlampau dalam. Buat apa pusing mikirin apa kata orang, begitu menurut hematnya.

“Pria harusnya mencari uang, bukan malah dibebani tugas rumah tangga dan mengasuh anak!” ungkap orang lain di waktu yang berbeda.

Ayah mengabaikannya. Ia tidak merasa sedih atau terhina. Yang ia lakukan adalah melakukan semua rutinitas harian itu seperti biasa. Tidak terganggu sama sekali meski diserang omongan dari mana-mana.

Suatu hari saat saat usiaku remaja, aku pun bertanya, ”Ayah, kenapa engkau melakukan itu semua? Apa ayah tidak malu?”

Ayahku tersenyum lalu berkata, ” Malu? Untuk apa? Ayah melakukannya karena menyayangi kalian. Kau, adik-adikmu, ibumu. Semua. Apa kau tahu? Tanpa ayah sesungguhnya ibu bisa melakukan semuanya. Tetapi, ayah paham bahwa ibu memiliki keterbatasan. Tangan ibu hanya dua, badan ibu hanya satu. Apa jadinya jika ia melakukan semua pekerjaan itu, baik di rumah atau di kantor, tanpa dibantu? Ibu akan kelelahan dan justru tidak bisa mengerjakan semuanya, kan?”

“Tapi, yah..orang lain yang mengalami situasi seperti ayah pasti lebih suka menitipkan anak-anaknya ke orangtua mereka dan memilih fokus bekerja saja. Kenapa ayah tidak?”

“Ayah dan ibu tidak ingin merepotkan mereka. Sudah cukup mereka merawat kami sedari kecil. Lagipula untuk apa membebani orang lain jika kami bisa melakukannya sendiri. Kuncinya hanya satu, kerjasama. Jika itu dilakukan, semua urusan rumah tangga bisa teratasi semua, tanpa perlu melibatkan orang lain”.

Aku tercenung mendengar kata-katanya. Diam-diam aku bangga memiliki ayah seperti beliau. Ayahku bukan pria paling istimewa. Masih banyak ayah-ayah lain yang lebih hebat dibanding dirinya, tetapi bersamanya aku belajar arti kata perkasa. Perkasa tidak melulu soal memiliki tubuh berotot kawat dan bertulang besi, jago bela diri serta sakti mandraguna. Seorang pria perkasa justru tidak segan menyingsingkan lengan membantu istri mengasuh anak atau menuntaskan pekerjaan rumah tangga tanpa merasa itu bisa menurunkan harga dirinya. Satu saja bahan bakar pendorongnya, kasih sayang luar biasa!

 

 

Source image: unsplash.com, pixabay.com

Editor: Indoblognet

afin yulia

Afin Yulia
Blogger, crafter, writer
Penulis novel Sweet Sour Love, From Spring to Winter

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Instagram lahir di Tahun 2010 sebagai media komunikasi melalui gambar. Bisa dibilang inovasi Instagram saat itu sangat "fresh". Karena ternyata menyampaikan pesan (berbagi kisah) melalui gambar lebih mengasyikkan kan, yaaa? 😁😁😁
.
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #instagram #sosialmedia #fotografi

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top