Menulis Yuk

Apa Kabar Kartini Masa Kini?

Jika Kartini masih hidup, mungkin beliau merasa gamang, antara bangga dan bersedih melihat kaumnya saat ini. Emansipasi wanita yang diperjuangkannya telah mewujud nyata. Pendidikan dan pekerjaan terbuka bagi semua kalangan, tidak memandang lelaki dan perempuan. Sayangnya semangat emansipasi seolah hanya terbatas pada pencapaian: materi dan pendidikan tinggi. Tak jarang karena merasa mampu mencari nafkah sendiri, wanita seolah menjadi lupa diri, berani menentang suami hingga menantang bercerai dan pernikahan pun diakhiri. Pada akhirnya anak yang menjadi korban, kehilangan kasih sayang ibu dan ayah sebagai sumber kebahagiaan.

Emansipasi seolah sekadar nilai raport, seberapa tinggi pendidikan yang dicapai seorang perempuan, seberapa sukses jalan karir yang berhasil dirintis. Padahal jika dirunut kembali Raden Ajeng Kartini menggelorakan semangat kesetaraan agar perempuan mendapatkan hak untuk maju dan berkembang. Kartini muda mendobrak pemikiran bahwa tugas wanita tak hanya berkisar kasur, dapur dan sumur. Artinya hanya berkewajiban melayani suami, menyediakan masakan bagi keluarga dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga. Tidak ada yang salah dengan tugas dan kewajiban perempuan di zamannya, hanya Kartini berontak terhadap pandangan masyarakat bahwa dengan tugas dan kewajiban tersebut maka perempuan pun tidak perlu mendapat kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Di zaman Kartini, kalangan buta huruf didominasi wanita. Selain keterbatasan di zaman penjajahan hal tersebut dipengaruhi pandangan masyarakat Jawa yang menuntut perempuan untuk tinggal di rumah. Maka Kartini pun tergerak untuk membuka sekolah wanita pertama yang berlokasi di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang.

Semangat emansipasi RA Kartini seolah tergerus oleh waktu. Jika RA Kartini menyuarakan kesetaraan gender dengan memperjuangkan pentingnya pendidikan bagi perempuan, maka Kartini masa kini seolah sibuk dengan diri sendiri, termasuk saya pribadi. Wanita-wanita yang peduli dengan sesama, berbagi pengetahuan dan mendedikasikan ilmunya demi kesejahteraan orang banyak tanpa pamrih dapat dihitung dengan jari. Padahal setiap perempuan memiliki ciri khas, kapabilitas dan kemampuan yang spesifik. Andai setiap kelebihan tersebut diolah secara optimal dan terwujud dalam sumbangsih bagi sesama, tak dapat dibayangkan betapa besar kemajuan yang akan diraih bagi kesejahteraan negeri. Kebebasan berbicara, berpendapat, didorong kemajuan teknologi, menjadikan perempuan zaman sekarang dengan mudah menyuarakan opini baik dalam bentuk tulisan di media massa, komen dan posting di jejaring sosial atau menulis artikel dalam blog pribadi. Sayangnya kebebasan beropini tak disadari seringkali lebih mementingkan “menang” dalam berargumentasi daripada berbagi pengetahuan atau saling menginspirasi. Perdebatan Mom’s War antara ibu pekerja dan ibu rumah tangga yang tinggal di rumah, lebih baik persalinan alami atau Sectio Caesaria hingga adu argumentasi di ranah politik menjelang Pilpres, Pilkada dan Pemilu atau perdebatan paling mutakhir yang cukup aneh: “lebih baik mana si pembalap F1 Rio Haryanto dan Musa sang Juara 3 Musabaqoh Hafidz Quran Internasional?”

Sejujurnya saya menulis artikel ini karena kegelisahan pada diri sendiri. Di usia saya yang sudah kepala empat ini saya merasa jauh dari semangat Kartini. Di bandingkan Kartini yang di usia muda telah berbuat banyak bagi sesama, saya merasa langkah saya stagnan dan belum membawa cukup manfaat bagi umat manusia. Saya masih sering menghabiskan waktu sia-sia belaka. Bagaimana nggak sia-sia, kalau kerjaan saya mantengin perdebatan seru di jejaring sosial dan kadang ikutan Baper meski nggak ikutan komen. Kira-kira termasuk sia-sia nggak kalau saya lebih suka bermimpi ingin begini dan begitu tapi tak kunjung punya langkah nyata untuk mewujudkannya. Saya khawatir kelak saat menghadap Sang Maha Kuasa dan harus mempertanggungjawabkan perilaku di dunia ternyata tak ada sebiji sawipun amalan saya yang bermanfaat bagi sesama. Padahal jika bisa mengoptimalkan akun media sosial mungkin saya tak menghabiskan waktu dengan menyampah di timeline, dan menghindari posting yang memantik perdebatan. Betapa saya iri melihat sosok-sosok wanita tangguh yang mampu memprakarsai saluran air bersih di sudut pelosok nusantara dengan “membelah bukit”, perempuan-perempuan yang berinisiatif membuka “bank sampah” dan mengelola sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk mengurangi polusi, wanita-wanita yang aktif dalam memberdayakan rumah singgah bagi anak-anak jalanan menjadi sekolah dan kursus ketrampilan, wanita-wanita yang bersedia mengajar di pedalaman tanpa insentif khusus selain gaji yang jauh dari kata layak.

Kadang saya bertanya pada diri sendiri, apa kabar Kartini Masa Kini? Ah semoga saja saya tak terlalu mengecewakan Kartini di alam abadi, sosok wanita yang memperjuangkan kesetaraan tanpa mengingkari kodrat sebagai wanita dan ibu dan berpulang setelah melahirkan sang jabang bayi.

 

Source image: albumarium.com

Editor: Indoblognet

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top