Parenting

Anak Adalah Bayangan Cermin Orangtua

Akhir-akhir ini jagad media sosial diramaikan dengan gambar-gambar anak sekolahan dengan pakaian seronok. Bukan model pakaian mini atau sebangsanya yang dikenakan. Namun baju seragam abu-abu (rok/bawahan) yang dirobek sedemikian rupa, sehingga tampaklah sebagian besar bagian kakinya. Ditambah dengan pose-pose menantang bak penari ular. Siapapun yang melihatnya, pastilah akan dibuat geleng-geleng kepala.

Mereka merayakan UN (Ujian Nasional) SMA yang baru diselesaikan (6/4) kemarin. Mencoret-coret seluruh baju seragam mereka, melakukan konvoi di jalanan, lalu entah apa lagi. Hingga sebuah berita yang cukup menohok pun menyeruak. Seorang siswi di Medan, mengeluarkan sumpah serapah saat konvoi kendaraannya dihentikan oleh seorang Polwan. Tak cukup sampai di situ. Dengan membawa nama seorang perwira tinggi kepolisian, siswi tersebut malah mengancam sang Polwan.

2 kejadian di atas adalah realitas sosial yang kini terjadi di masyarakat kita. Kemudian berbagai macam tanggapan bermunculan menyaksikan fenomena tersebut. Pro dan kontra pun terjadi. Ada pihak yang menyalahkan orangtua, karena ketidakbecusannya mendidik anak. Ada pihak yang menyalahkan sekolah karena membiarkan kejadian (konvoi) tersebut berlangsung. Ada pihak yang menyalahkan kementerian pendidikan dan kebudayaan karena ‘gagal’ mengawal kurikulum sekolah yang menanamkan pendidikan moral. Masih banyak lagi komentar yang ujungnya adalah ‘tak akan ada asap, kalau tak ada api’.

Bagi penulis yang memiliki beberapa orang anak, ini menjadi tambahan peringatan. Memang tak mudah untuk mendidik anak di era digital seperti saat ini. Ketika arus informasi yang begitu liberal tersaji. Ketika kemajuan iptek yang tak lagi bisa kita bendung. Ketika mendidik dan mengajar anak tak lagi bisa saklek seperti zaman Siti Nurbaya.

Kebiasaan membaca orangtua akan ditiru anak

Kebiasaan membaca orangtua akan ditiru anak

Membentuk pribadi dan karakter anak untuk bisa menjadi pribadi yang bertanggungjawab dibutuhkan berlaksa energi. Terutama energi untuk membentuk pribadi kita sebagai orangtua yang bisa menjadi panutan bagi anak-anak kita. Mengubah cara pikir bukanlah hal mudah, bukan? Tetapi hal ini harus kita lakukan. Sebab orangtua adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anak. Lewat sikap, tindak-tanduk, dan norma-norma yang dibentuk di dalam keluarga itulah yang akan memberikan pondasi mental kepada anak.

Sebuah contoh yang sering disampaikan oleh para juru dakwah. Kita menyuruh anak kita untuk pergi shalat berjamaah di masjid. Namun di saat itu pula kita begitu asyiknya menikmati tayangan televisi. Halo…benar tidak model yang kita tampilkan itu? Lalu apa yang ada di benak anak jika kita berperilaku demikian?

Pasti si anak akan protes, “Bapak saja nonton tivi. Kok kita gak boleh ikutan nonton? Kan shalatnya bisa entar ikutan bapak?”

Nah, sudah benarkah cara kita untuk menyuruh anak shalat berjamaah di masjid? Jika hal ini berlangsung berulang-ulang, pastilah akan terjadi banyak penolakan anak terhadap perintah sang bapak. Jika pun si anak melakukan perintah sang bapak, tentu akan ‘jalan ke luar’ lain yang menjadi kompensasinya. Saat anak tidak berani menunjukkan sikap perlawanan di rumah, maka di luar rumah sikap perlawanan tersebut akan ditampakkan.

Betapa banyak kejadian yang sangat mengagetkan di media massa cetak maupun daring. Seorang anak pejabat terkenal tertangkap tangan sedang bertransaksi narkoba. Seorang anak tokoh adat setempat menjadi backing penjualan sepeda motor curian. Seorang anak jenderal memukul aparat keamanan dalam razia senjata tajam. Serta masih banyak kisah lain yang melibatkan anak-anak para mereka ‘yang terhormat’ dalam perbuatan kriminal.

Secara kasat mata tentu kita terheran-heran. Kita mengenal pejabat, tokoh adat, atau jenderal tersebut sebagai orang yang baik. Keluarganya terkenal harmonis, bahkan jarang terdengar isu-isu yang miring. Namun begitu muncul kasus ke permukaan, media-media pun saling berlomba untuk mengupas ‘sisi buruk’ dari keluarga tersebut. Maka satu persatu bangunan moral yang dibangun oleh keluarga tersebut seolah runtuh.

Ini semua menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa ada pelajaran dalam setiap peristiwa. Jangan mudah untuk menunjuk kesalahan pada orang per orang jika kita tak tahu benar duduk masalahnya. Memperbaiki diri dari keluarga, akan menyelamatkan anak-anak kita dari efek negatif kemajuan iptek dan keterbukaan informasi dan sosial. Menanamkan nilai moral yang baik mari kita mulai dari diri kita. Sehingga kita bisa menjadi cermin utuh bagi anak-anak kita. Menjadikan mereka generasi emas bagi bangsa dan negara di masa depan.

 

*Editor: Indoblognet

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Good morning, sahabat Indoblognet 😁 Jangan lupa siapkan amunisi (sarapan) terbaikmu pagi ini, supaya aktivitasmu kuat dan semangat 💪🏃
.
Guys, tau gak siiih, postingan yang mengandung unsur pertanyaan, lebih besar kemungkinannya untuk direspon dibandingkan postingan non question, lho 😄
.
Hihi, iya juga sih, kita seringkali "tergelitik" untuk ikut menjawab pertanyaan yang diajukan, ya 😂 Apalagi kalau pertanyaannya memang "mancing" banget 😅
.
Jadi, salah satu tips nih guys, kalau kamu pingin bikin postingan yang lebih direspon, buatlah postingan question posts 😉
.
#mbcommunication #indoblognet #morning #tuesday #instagram #instadaily #viral #followme #tips

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top