Agama

Memuliakan Tamu Itu Termasuk Sunnah

Adab menerima tamu

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang manusia  bergaul dengan manusia yang lainnya. Hubungan antar manusia ini bisa terjadi di rumah, kantor, tempat ibadah, dan atau di tempat umum. Tak heran jika suatu waktu mereka akan kedatangan tamu baik tetangga dekat, orangtua, atasan, bawahan, kerabat, atau sahabatnya. Bahkan tak jarang pula tamu tersebut adalah orang yang belum pernah dikenal atau diketahui sebelumnya.

Maksud kedatangan tamu juga bermacam-macam. Ada tamu yang ingin bersilaturahmi, sekadar melihat keadaan atau hanya ingin ngobrol belaka. Tak sedikit pula tamu yang membawa misi, tugas, atau keperluan khusus. Penagih hutang, peminta sumbangan, sales promotion people, aparat penegak hukum, petugas sensus penduduk, panitia pendaftar pemilih juga pernah berkunjung ke rumah warga. Di luar yang telah disebutkan, juga ada orang yang datang ke rumah yang sering disebut sebagai ‘tamu tak diundang’.

Terhadap para tamu yang datang ke rumah, sikap pemilik rumah juga beraneka ragam. Ada tuan atau nyonya rumah yang menyambut tamunya dengan suka cita dan penuh keramahan, wajar, biasa-biasa saja, dan ada pula yang merasa kurang senang disertai dengan sikap curiga. Sikap pemilik rumah ini bisa dilihat antara lain dari roman muka dan tingkah lakunya. Unsur kedekatan, kenal atau tidak kenal, dan kondisi hubungan  antara pemilik rumah dengan tamu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sikap pemilik rumah. Tuan atau nyonya rumah pada umumnya akan bersikap baik jika yang datang berkunjung adalah orang yang sudah dikenalnya, dan hubungan di antara keduanya juga terjalin dengan baik pula. Jika tamu yang datang itu kemudian ternyata merepotkan, maka itu adalah hal yang lain lagi.

Pada event tertentu tamu yang datang ke rumah jumlahnya cukup banyak. Misalnya ketika tuan rumah menyelenggarakan hajat mengkhitankan anak atau menikahkan putra-putri mereka. Dalam tradisi bangsa Indonesia, selain undangan resmi, para kerabat biasanya datang beberapa hari sebelum hajatan di mulai. Mereka ini bukan hanya sekadar menghadiri acaranya, tetapi juga membantu tuan rumah, baik berupa materi, tenaga, atau pikirannya. Hal yang sama juga terjadi pada ‘hari baik’, misalnya saat Idul Fitri atau Idul Adha. Kerabat, sahabat, dan tetangga datang silih berganti.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umat beliau untuk memuliakan tamunya. Hal ini sesuai sabda beliau yang artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamunya”. [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Memuliakan tamu sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam tersebut sebaiknya dilakukan secara wajar, tidak berlebihan, dan tidak memaksakan diri. Sikap yang ramah, wajah yang cerah, senyum mengembang, dan tutur kata yang baik sudah merupakan salah satu cara memuliakan tamu. Walaupun nyonya rumah agak kurang suka terhadap sales promotion people yang sering muncul di rumah, sebaiknya tetap disambut dengan wajah ramah. Ucapan: ”Maaf ya Mbak, saya sudah mempunyai produk yang Mbak tawarkan. Terima kasih,” itu sudah menunjukkan bahwa nyonya rumah adalah orang yang baik.

Menyiapkan jamuan juga termasuk perbuatan memuliakan tamu. Sekali lagi, tidak perlu mengada-ada atau memaksakan diri. Jika sedang tanggal tua dan di rumah juga tidak tersedia makanan dan minuman maka air putih juga sudah cukup. Jika yang datang tamu jauh dan kebetulan di rumah ada persediaan makanan tentu akan lebih elok jika nyonya atau tuan rumah menyajikan makanan dan minuman yang baik. Emak suka menegur saya jika tamu jauh tidak diajak makan siang. “Tamu jauh kok dibiarkan pulang tanpa dikasih makan,” begitu tegur Emak.

Ketika saya berkunjung ke rumah sahabat se kampung yang saat itu menempati kawasan transmigrasi di daerah Samarinda, Kalimantan juga disuguhi makan siang plus oleh-oleh hasil bumi mereka. Sahabat saya wanti-wanti berpesan agar saya dan istri tidak pulang dulu”. Jangan pulang dulu. Emak sedang menyiapkan makan siang. Kalau sampeyan pulang nanti saya yang dimarahi Emak,” begitu tuturnya.

Soal jamuan untuk tamu ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad, beliau bersabda yang artinya: “Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menjamu tamu”.

Saling basa-basi

Entah ini kebiasaan orang Indonesia atau juga kebiasaan bangsa lainnya. Dalam menerima tamu sering keluar ucapan basi-basi yang dilontarkan oleh tuan rumah maupun tamunya. Ada yang menampakkan wajah serius dan ada pula yang nadanya bercanda.

Setelah berbincang agak lama nyoya rumah berkata: ”Wah, bagaimana ini. Tamunya hanya disuguhi air putih saja”. Padahal di atas meja juga tersedia aneka makanan ringan. Tamunya juga langsung ikut berbasa-basi: ”Halah Mbakyu ini kayak dengan siapa saja. Jadi merepotkan, nih,” padahal sudah makan 3 potong lemper.

Emak juga sering berbasa-basi jika kedatangan tamu jauh. Ini terjadi ketika saya menikahkan Enny, anak sulung saya. Kepada tamu yang berpamitan pulang Emak berkata: “Lho kok tergesa-gesa, mbok bermalam di sini saja”. Mendengar tawaran Emak tersebut saya berbisik kepada beliau: ”Emak kok nawari tamu untuk bermalam. Kan kamarnya sudah penuh”. Sambil tersenyum beliau menjawab: ”Ah itu kan hanya abang-abang lambe, basa-basi saja”. Ha, ha, ha…lha kalau tamunya menerima tawaran Emak bagaimana, tuh.

Memuliakan tamu dengan ikhlas

Memuliakan tamu dan menjamunya harus dilakukan dengan ikhlas dan dengan niat untuk ibadah. Itulah sebabnya jangan mengada-mengada atau memaksakan diri jika kondisinya memang tidak memungkinkan. Berbelanja dengan cara berhutang agar bisa menyediakan hidangan guna menimbulkan kesan baik kepada tamunya hendaknya dihindari. Pemaksaan diri bisa menimbulkan perasaan kurang enak, menggerutu, mengomel, atau malahan membicarakan tamu yang sudah pulang. “Kalau bertamu mbok tahu diri. Datang tanggal tua, mengajak anak-cucu segala. Mana mereka masih sedang doyan-doyannya makan pula”. Jika terjadi hal yang demikian maka bukan pahala yang akan diterima tetapi malah kerugian yang akan didapatkan.

Memuliakan tamu adalah perbuatan terpuji sepanjang dilakukan dengan ikhlas walaupun hanya bertutur kata yang baik dan penuh keramah-tamahan.

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Alhamdulillaah, Jum'at Mubarak 😍 Hari yang paling baik untuk melakukan amal kebaikan, termasuk beraktivitas yang bernilai ibadah 😉
.
Guys, ngomong-ngomong soal website nih ya, udah mobile responsive (mobile friendly) belum sih websitemu? 😎 Soalnya ini penting banget lho untuk diperhatikan
.
Berdasarkan survey, website yang gak mobile responsive bakal bikin pengunjung "gak jadi" mengunjungi websitemu 😆 Ya iyalahhh malesin kan ya kalau harus ribet dengan tampilan web saat kamu buka lewat hp 😅 Sementara saat ini, kebanyakan user menggunakan hp untuk mengakses internet, termasuk untuk membuka web..
.
Tuh guys, kalau kamu gak pengen web-mu sepi pengunjung gara-gara gak mobile responsive, buruan deh di upgrade supaya lebih mobile responsive 😁
.
#indoblognet #mbcommunication #jumatberkah #jumatmubarak #followme #tips #viral #website #survey

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top