Menulis Yuk

4 Permata di Belu, NTT yang Belum Terkelola

Dilansir dari setkab.go.id, Kabupaten Belu merupakan salah satu dari 17 daerah tertinggal di NTT. Penetapan ini didasarkan pada kriteria yang meliputi perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasaran, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas, dan karakteristik daerah. Akan tetapi, bukan berarti Belu tak memiliki permata yang indah. Permata-permata ini tengah menunggu digali dan dipoles agar bersinar. Mau tahu apa saja itu?

Pertama, Air Terjun Mauhalek

image source : http://tourism.nttprov.go.id/objek/266-air_terjun_mauhalek

image source : http://tourism.nttprov.go.id/objek/266-air_terjun_mauhalek

Terletak di kecamatan Lasiolat air terjun ini masih alami. Melewati persawahan yang indah lalu dilanjukan dengan undak-undakan yang lumayan melelahkan, kami turun menuju air terjun perawan ini. Tapi, saya tak sampai turun karena harus menuruni tebing yang curam. Memang tidak terlampau tinggi, tapi cukup merepotkan kalau tidak hati-hati. Jika tergelincir, syuut…batu padas di tepi sungailah yang akan menerima tubuh kita.

Buat mata awam air terjun ini biasa saja. Terlampau sederhana. Tetapi, buat orang yang tahu bahwa air terjun pendek ini memiliki daya jual, jelas berbeda. Sungguh, kalau ada yang memolesnya, akan ada banyak pengunjung tersedot kemari. Sayang, polesannya kurang. Tempat ganti bajunya ala kadar. Sudah kotor dan pintunya sudah rusak pula. Tempat makan dan minum juga tidak ada. Sepertinya kalau kemari harus membawa makan dan minum sendiri agar tidak kelaparan. Andaikan ditata lebih baik, disediakan fasilitas yang baik, tempat itu akan luar biasa!

Kedua, Bunga Gamal yang Tumbuh Dimana-mana

image source : http://baltyra.com/tag/dwi-setijo-widodo/

image source : http://baltyra.com/tag/dwi-setijo-widodo/

Bak sakura di Jepang, bunga gamal di Belu juga terlihat luar biasa ketika berkembang. Tumbuh di segala medan, tanaman ini memang paling kerap ditemukan sepanjang jalan. Tidak perlu ditanam secara khusus. Menurut seorang teman jurnalis dari Kompas Teve Kupang, Kalix Teus, tinggal dilempar saja sudah tumbuh sendiri. Biasanya jika bunga berkembang, daunnya menghilang. Tinggal bunga-bunganya saja yang tumbuh di ujung-ujung dahan. Dan itu sangat menawan.

Kalau saja ada satu orang (yang cukup gila) muncul dengan ide membuat festival bunga gamal bak festival bunga sakura di Jepang, ini pasti bisa jadi destinasi wisata yang mencengangkan. Jika ini dijual ke luar negeri, dikemas dalam acara yang rapi, bukan tak mungkin membawa efek baik bagi kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste ini.

Ketiga, Pantai Pasir Putih

image source : http://tourism.nttprov.go.id/objek/235-pantai_pasir_putih

image source : http://tourism.nttprov.go.id/objek/235-pantai_pasir_putih

Terletak di Atapupu, pantai ini belum alami. Pasirnya putih, membentang dari ujung ke ujung. Ditingkahi oleh pepohonan hijau di tepi pantai dan pohon bakau di tepi pantai. Pada hari-hari tertentu tempat ini mungkin ramai. Tapi, waktu kami datang hari Sabtu itu pantai ini sangat sepi. Pengunjungnya tak banyak. Hanya rombongan kami dan beberapa orang saja. Jadi serasa pantai itu milik sendiri. Berbeda dengan di Jawa, yang pantainya sudah disesaki manusia terutama bila akhir pekan tiba. Meski ada pondok-pondok terbuka untuk istirahat tapi kurang terpelihara. Begitu juga fasilitas permainan anaknya. Disini pengunjung yang bosan berenang, bisa menyewa perahu untuk berkeliling sekitar pantai. Bayarannya kalau tidak salah Rp 5.000,00 per orang. Satu sampan diisi kurang lebih delapan orang.

Masalahnya, hanya tak ada penjual makanan disini. Jika tak ingin lapar atau haus, tak ada jalan lain selain membawa bekal. Tetapi, buat orang jauh seperti kami tentu merepotkan. Lebih enak kalau tinggal datang dan beli makanan atau minuman di tempat. Lebih simple, tidak berat. Tapi ada untungnya juga sih, tak ada penjual makanan dan minuman disana. Pantainya tetap terjaga. Tidak banyak sampah yang mengurangi kecantikannya. Pantai lain yang masih segaris dengan pantai Pasir Putih memang ada, tapi kami pilih pulang ke Atambua. Pergi berbelanja.

Keempat, Oleh-Oleh Khas Atambua

image source : http://wisata.nttprov.go.id/index.php/2014-01-20-04-39-05/tenun-ikat/68-tenun-ikat-belu-dan-malaka

image source : http://wisata.nttprov.go.id/index.php/2014-01-20-04-39-05/tenun-ikat/68-tenun-ikat-belu-dan-malaka

Pasar yang kami tuju itu terletak di tengah kota Atambua. Lalu lintas tidak terlampau ramai jalanan ketika kami tiba. Setelah turun dari mobil, kami segera menuju ke bagian dalam pasar. Berbondong-bondong mencari oleh-oleh khas Atambua. Yang pertama kali dituju adalah kain tenunnya. Cantik-cantik. Harga sebuah syal yang selebar dua buah telapak tangan diharga Rp 30.000,00. Saya tak terlampau tertarik, maklum bukan fashionista. Kalau beli bingung juga harus dipakai kemana. Kalau kainnya lebih lebar mungkin beli untuk jilbab. Tapi, karena kecil ya sudahlah. Padahal cantik-cantik semua.

Sayangnya, sulit sekali mencari makanan kecil khas Belu. Hampir semua makanan yang ada sudah ada di Jawa. Jadi tak ada yang menarik buat saya. Saya tak tahu, apakah tak ada yang membuatnya ataukah sebaliknya. Ada yang membuat tapi tak diminati, hingga toko-toko pun akhirnya tak mau menjual. Sementara beli kerajinan anyamannya repot juga bawanya. Tas ransel saya tidak cukup jika dijejali benda-benda itu. Lagipula kalau dipaksa dimasukkan pasti rusak bentuknya. So, saya pulang dengan tangan hampa.

Aih, kalau saja permata-permata itu dikembangkan dengan baik, pasti bisa mendatangkan pendapatan bagi daerah. Pantai Pasir Putih dikelola profesional, dilengkapi sarana penunjang. Mungkin penginapan, tempat makan, atau toko souvenir sekalian. Diadakan festival disana, sehingga banyak orang berminat datang. Tidak hanya penduduk sekitar tapi juga orang-orang dari luar. Kainnya mungkin bisa disulap jadi bahan kerajinan lain yang lebih ciamik. Baju dengan desain masa kini, tas-tas wanita dengan desain elegan. Tidak hanya berupa lembaran kain saja. Sayang, kalau akhirnya yang memanfaatkan justru orang dari luar. Makanan khasnya, entah apa, diproduksi dan dikemas dengan baik. Ditaruh di toko khusus oleh-oleh yang dikelola dibangun oleh pemerintah, sehingga orang yang belanja tak perlu susah. Bahkan pasar Atambua pun jika dikelola baik bisa juga sih jadi tempat wisata. Para pelancong bisa datang kemari dan melihat kondisi pasarnya dalam kondisi yang teratur dan rapi.

Nah, kata siapa Belu itu tak memiliki sesuatu yang istimewa. Meski minim sumber daya alam, tapi masih banyak hal lain yang jika dimanfaatkan secara maksimal mendatangkan pendapatan. Hal yang tersebut diatas itu baru sebagian kecil saja, setahu saya masih banyak tempat-tempat menarik yang menunggu untuk diangkat agar gaungnya tersampai keluar.

 

 

 

afin yulia

Afin Yulia
Blogger, crafter, writer
Penulis novel Sweet Sour Love, From Spring to Winter

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • @Regranned from @polytron.communityid -  Yeay! Workshop Polytron Community ID:'Explore Indonesia & Grow your Social Media with Prime 7 #BREAKRESISTANT' bersama Ashari Yudha, Traveller Blogger @catatanbackpacker baru saja selesai. Terima kasih untuk teman-teman di Bekasi yang sudah berkenan hadir dan belajar. Sampai jumpa di kota lain!

#Prime7 #BREAKRESISTANT #PrimeSeries #Polytron #PolytronIndo #PolytronSmartphone

PolytronPrime.com - #regrann

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top